
“Mba nggak apa-apa ‘kan?”
Shena menggelengkan kepalanya dengan wajah yang masih menggambarkan ketegangan setelah hampir diserang dengan ombak yang tiba-tiba datang ketika Ia sedang berjongkok memainkan pasir. Ombak itu sampai membuat Ia hampir tenggelam. Ketakutannya masih ada walaupun sekarang Ia sudah aman.
“Lain kali jangan terlalu ke pinggir, Mba. Kemarin juga ada yang hampir tenggelam karena ombak nggak bisa ketebak. Kalau yang kaget ‘kan bisa panik terus kebawa,”
“SHENA hampir kebawa ombak?” Dio baru bisa mencerna apa yang baru saja terjadi pada istrinya.
Orang-orang yang mengerubungi Shena langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Dio.
“Iya, hampir aja kebawa,”
“Makasih udah dibantu,”
“Mas siapanya si Mba?”
“Saya suaminya,”
“Duh, untung aja istrinya nggak kenapa-napa,”
“Emang Mas nya kemana? Lain kali hati-hati ya, Mas. Kalau Mba nggak bisa renang apalagi, kalau bisa jangan dibiarin terlalu ke tengah,”
Dio menatap istrinya dengan wajah datar tapi tatapannya tajam. Karena Shena, sekarang Ia dipandang negatif oleh orang-orang itu. Ia baru juga ke kmaar mandi sebentar, tiba-tiba melihat Shena dikerubungi oleh orang-orang.
“Kami permisi,”
Lima orang itu bergegas pergi meninggalkan Shena dan Dio yang segera meremas bahu Shena dengan rahang mengetat.
“Udah aku bilang tadi, kamu harus hati-hati! Bisa paham peringatan aku nggak sih? Hah? Pikiran kamu dibuka nggak? Telinga kamu dengar nggak?”
Shena yang seharusnya ditenangkan setelah hampir mengalami musibah, saat ini malah dihantam dengan kemarahan Dio yang terkejut karena ternyata istrinya tidak mendengar peringatannya tadi, makanya sampai hampir terbawa arus.
“Makanya jangan sok-sokan kamu mau main sama air, akhirnya hampir tenggelam ‘kan,” omel Dio karena khawatir.
“Jangan ngomel dulu, aku masih panik,” jawab Shena denganw ajah yang pucat.
“Ya gimana aku nggak ngomel? Kamu nggak bisa jaga diri padahal udah aku kasih tau tadi supaya hati-hati! Akhirnya aku yang jelek di mata orang, mereka ngira aku nggak becus jagain kamu,”
“Aku minta maaf. Tadi aku terlalu asyik main pasir terus tiba-tiba ombak datang gitu aja. Kejadian terlalu mendadak, tapi Alhamdulillah aku baik-baik aja,”
“Ya udah bangun! Balik ke tempat duduk tadi,”
Shena sudah dibawa agak menjauh dari bibir pantai, dan sekarang suaminya menyuruh Ia untuk beranjak kembali ke kursi dimana mereka duduk tadi.
Shena langsung beranjak berdiri dan bergegas ke kursi mengikuti Dio yang masih kesal sekali karena istrinya berbuat ulah tadi.
“Aku minta maaf ya, Mas,”
“Kenapa kamu minta maaf?” Tanya Dio.
“Ya karena aku bikin kamu kaget, bikin kamu kesal. Aku nggak bisa jaga diri aku. Jadi aku minta maaf ya,”
“Kamu tuh emang suka keras kepala. Harusnya tetap aja duduk di sini sama aku, ngapain kamu harus ke sana segala? Akhirnya hampir aja celaka. Kalau kamu celaka, pulang-pulang aku cuma bawa nama kamu aja, dan aku pasti disalahin,”
Shena menahan perih. Jadi Dio bukannya khawatir melainkan takut Ia pulang hanya membawa nama dan Ia tidak mau dianggap salah oleh yang lain.
“Ya udah pulang aja. Aku mau istirahat,”
Shena terbatuk-batuk usai berkata seperti itu. Dio langsung menatapnya dengan kedua alis yang naik.
“Kenapa kamu?” Tanya Dio seraya menatap istrinya penasaran.
“Kayak ada air yang masuk ke hidung, rasanya nggak enak,”
“Ya pastilah, orang hampir tenggelam kok,”
“Bukan tenggelam, hampir kebawa ombak,”
“Ya sama aja, intinya kamu hampir hilang tadi,”
“Ayo pulang, kepala aku pusing nih tiba-tiba, sama aku juga masih panik,”
Dio beranjak meninggalkan kursi dan langsung berjalan mendahului Shena. Istrinya itu memanggil Dio yang membuat lelaki itu akhirnya menghentikan langkahnya.
“Kenapa? Katanya tadi mau istirahat, ya udah ayo buruan,” ajak Dio pada istrinya yang malah diam berdiri di belakangnya.
“Kamu jangan jalan cepat-cepat dong, pelan aja. Aku pengen jalan bareng kamu, Dio,” ujar Shena yang tahu kalau suaminya masih kesal akibat Ia yang tidak hati-hati tadi.
“Ya ampun, udah kayak mau study tour aja jalan harus sama-sama,”
“Aku pengen bareng sama kamu jalannya, Mas. Jangan terlalu cepat jalannya, dan jangan cuma jalan sendiri aja,”
“Ya udah ayo,”
Akhirnya Dio menghampiri Shena dan langsung meraih bahu Shena kemudian mengajaknya berjalan.
“Nah gini ‘kan lebih baik, daripada jalan sendiri-sendiri padahal suami istri. Kesannya kayak orang nggak kenal ‘kan,”
“Aku sebenarnya males rangkul kamu kayak gini, kayak orang yang susah jalan aja kamu. Padahal istri aku bisa mandiri jalan sendiri,”
“Tapi kepala aku nih pusing jadi pengen ada yang rangkul atau pegangin tangan aku gitu. Emang kenapa sih malas rangkul aku? Nggak mau merasa malu atau gimana?”
“Habis ini kamu harus istirahat ya. Nggak usah banyak tingkah lagi lah, Shen. Besok kita udah mau pulang. Kita harus sehat supaya besok bisa pulang sesuai rencana,”
Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, Dio justru berpesan pada istrinya agar istirahat karena esok mereka harus pulang.
“Udah tiga hari ya? Kok cepat sih?”
“Lama! Menurut aku lama banget tiga hari, kayak udah seminggu kita di sini. Pengen ngajak kamu ke luar negeri bisa nggak ya?”
“Iya kali seminggu, tanpa sadar udah seminggu. Kita terlalu asyik liburan, nggak usah mikirin liburan kemana-mana lagi, Mas,”
“Emang kita apaan yang bisa skip waktu tau-tau udah setahun kemudian, atau ribuan tahun kemudian,”
Shena tertawa mendengar ucapan suaminya. Ia meraih tangan Dio yang melingkari bahunya kemudian Ia genggam erat.
“Habis ini kamu harus istirahat, Shen,”
“Iya aku tau, kamu udah ngomong itu berapa kali, Mas,”
“Apa masih pusing, Shen?”
Shena menganggukkan kepalanya. Selain itu, tenggorokannya dan hidungnya juga gatal setelah kejadian tadi padahal sebelumnya tidak sama sekali, tadinya Ia baik-baik saja.
“Kenapa kamu tiba-tiba pusing? Apa kamu sakit?”
“Nggak tau, pokoknya habis kejadian tadi jadi ngerasa beda. Kepala aku pusing, terus hidung sama tenggorokan aku masa gatal gitu,”
“Kemasukan air kali,”
“Ya mungkin,”
“Makanya lain kali nggak usahlah bertingkah, pikirin keselamatan kamu! Sebelumnya udah aku ingetin supaya hati-hati eh nggak taunya malah hampir kebawa arus,”
“Ya udah jangan dibahas terus, aku ‘kan sedih jadinya. Kamu ngomel mulu deh, nggak ada nenangin aku,”
“Ya ngapain nenangin kamu? Itu salah kamu sendiri! Makanya jangan sok-sokan main air pantai,”
“Aku pikir lebih baik aku main daripada cuma duduk aja. Rasanya ada yang kurang kalau nggak nyentuh air pantai sama pasir,”
“Sampai kamar minum obat pusing mau nggak?” Tanya Dio yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Shena.
“Terus kamu mau sampai kapan pusing begitu?”
“Ya paling ini karena tadi sempat tegang aja, dan kaget juga hampir kebawa ombak tapi untungnya aku ditarik sama orang,”
“Ya, dan orang-orang itu anggap aku nggak bisa jaga kamu, padahal itu kesalahan kamu sendiri. Dan sebelumnya juga aku sebagai suami udah ngingetin,”
“Mereka nggak anggap kamu nggak bisa jaga aku kok, jangan ngomong kayak begitu. Mereka udah baik tau,”
“Orang jelas-jelas mereka bilang lain kali aku harus jaga kamu, jangan biarin terlalu dekat pantai. Aku ‘kan gerah dengar nasehat kayak gitu. Aku paling nggak suka diajarin hal-hal kecil kayak gitu,”
“Tapi ada benarnya juga ‘kan? Kamu emang nggak jagain aku, tapi sempat sibuk sama handphone,” ujar Shena seraya terkekeh pelan. Dari tadi Dio menyalahkannya terus, sekarang Ia membalikkan situasi dan Dio langsung tidak terima bahkan melepaskan rangkulannya.
__ADS_1
“Oh jadi sekarang kamu nyalahin aku? Iya?”
“Aku nggak nyalahin kamu, Mas. Tapi aku ngomongin fakta, kenyataannya emang gitu ‘kan? Aku tadi sempat liat kamu sibuk aja sama handphone, padahal aku tuh maunya main air sama pasir sama kamu. Kita ‘kan jarang-jarang ke pantai, sekalinya ke pantai aku pengen benar-benar ngerasain air pantai sama pasirnya,”
“Ya udah anggaplah yang tadi tuh pelajaran,”
Mereka tiba di penginapan dan Shena segera masuk kamar mandi untuk membasuh seluruh badannya dan mengganti pakaian supaya bisa istirahat dengan nyaman. Beruntungnya jarak antara penginapan dengan pantai tak begitu jauh jadi mereka tidak menghabiskan waktu terlalu lama untuk kembali ke penginapan.
“Padahal aku pengen nikmatin sunset di sana tapi ya udahlah belum waktunya,”
Gerutuan Dio terdengar di telinga Shena yang sedang mandi. Ia merasa bersalah sudah membuat Dio kecewa sebab tidak jadi menikmati sunset di pantai.
“Ya udah apa kita balik aja lagi?”
“Yang bener aja lah kamu, Shen. Pikirin aja istirahat, ngapain balik ke sana?”
“Aku nggak tega kamu jadi kecewa gara-gara kita pulang dan nggak jadi liat sunset. Karena aku hampir kebawa ombak pantai, eh kamu jadi gagal liat sunset deh, sebenarnya aku juga pengen sih,”
“Ya udah lain kali aja, masih banyak waktu. Mudah-mudahan bisa balik ke sini dan liat sunset si pantai. Aku kalau ke Bali biasanya nggak pernah lewatin momen liat sunset di pantai sih, tapi kali ini nggak apa-apa belum ada kesempatan,”
“Emang kita bakal ke sini lagi, Mas?” Tanya Shena.
“Ya siapa tau,”
“Kamu mau ajakin aku liburan lagi?”
“Nggak tau,”
Shena mendengus ketika mendengar jawaban suaminya. Tidak tahu katanya padahal Ia sangat berharap Dio menjawab ‘iya aku bakal ajak kamu liburan ke Bali lagi supaya kita bisa sama-sama liat sunset’ eh nggak taunya dia malah bilang nggak tau. Ih kesel banget aku. Kayaknya Mas emang nggak ada niat mau ngajakin aku liburan lagi deh. Duh sedih banget. Apa ini liburan pertama dan terakhir? Kok Mas jahat sih?”
“Iya nanti aku aajlin ke sini lagi,”
Shena sudah terlanjur kesal jadi Ia diam saja.
“Shen, kok diam? Buruan mandinya. Aku juga mau masuk lho,”
“Iya sebentar,”
Shena sedang sibuk membatin makanya Ia berhenti mandi. Karena tak mendengar suara aktivitas di dalam kamar mandi, Dio langsung menegur Shena agar mempercepat mandinya.
“Jangan lama ya, Shena. Aku udah mau bersih-bersih juga,”
“Iya aku tau, ini udah mau selesai,”
Shena menyudahi mandi dan segera mengenakan pakaiannya. Setelah itu Ia langsung keluar dari kamar mandi dengan penampilannya yang segar,
“Sana istirahat, kalau perlu minum obat pusing ya minum aja, tapi jangan deh. Kamu tidur aja, paling kalau udah tidur nggak pusing lagi. Itu karena kecapekan aja kali, sama tegang gara-gara tadi jadinya kayak gitu deh,”
Shena menganggukkan kepala. Tapi sebelum Ia menuruti apa kata suaminya untuk istirahat, Ia mengeringkan rambutnya yang basah dulu supaya tidur lebih nyaman.
“Shen, habis itu beres-beres ya, biar besok kita—“
“Udah, tadi pagi banget aku udah beberes sebelum kamu bangun,”
“Oh, ya baguslah. Aku nggak sabaran mau pulang. Udah bosen banget liburan di sini,”
“Ih aneh banget. Masa liburan bosan? Orang dimana-mana kalau liburan tuh nggak ada kata bosan,” sindir Shena yang bingung dengan suaminya.
Ia baru tahu, ada tipe manusia yang bosan liburan. Kalau Ia pribadi, tidak pernah bosan untuk liburan. Karena liburan itu menyenangkan dan menenangkan. Seharusnya Dio juga begitu apalagi selama ini Ia begitu sibuk.
“Baru kali ini aku nemu orang yang katanya bosan liburan terus. Kok beda banget sama aku ya? Aku mah kalau diajakin liburan terus mau, malah mau banget,” ujar Shena yang masih tak habis pikir dengan suaminya itu.
“Ya itu ‘kan kamu. Kita beda, Shen,”
“Tapi rata-rata orang tuh nggak ada yang bosan liburan, Mas. Kecuali kalau kerja, nah itu udah pasti bosan. Kamu aneh ya, liburan masa bosan aih? Kalau aku mah nggak ada cerita bosan apalagi kalau liburannya gratis. Huh nggak akan nolak, kalau yang pakai modal aja nggak bakal nolak, selagi ada waktunya, apa kabar kalau dibayarin? Tanpa ba bi bu aku cariin waktu yang pas secepatnya supaya bisa berangkat liburan tanpa pikir ini itu,”
“Dasar kaum gratisan,” ejek Dio smabil terkekeh.
“Aku ‘kan emang dari awal ngincernya mau liburan di luar sama kamu,”
“Lah, semua manusia senang kalau dikasih yang gratis, Mas VanGan. Mau kemanapun itu. Kamu nih aneh banget. Kamu nggak senang dikasih yang gratis? Liburan kita ini gratis lho. Kan mama yang bayarin,”
“Senang sih tapi nggak senang-senang banget,”
“Ya aku ‘kan ngomongnya cuma sama kamu aja, Shen, nggak sama mama,”
“Ya tapi hargai lah mama. Harusnya kamu bilang senang banget,”
“Nggak usah ngajarin aku deh, aku paling nggak suka kalau kamu udah ngajarin aku,” ujar Dio memperingatkan sang istrinya smabil Ia mandi. Shena menghembuskan napas kasar mendengar ucapan suaminya itu.
Shena sudah berbaring di tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya dari atas sampai bawah.
Ketika Dio keluar dari kamar mandi melihat istrinya menutupi seluruh badan dengan selimut, Dio langsung memanggil perempuan itu.
“Shen,”
“Hmm?”
Shen hanya menjawab dengan gumaman tanpa niat menurunkan selimut yang menutupi hingga ke wajahnya.
“Oh, aku pikir kamu udah tidur,”
“Emang kenapa? Kamu mau ngajakin aku apa lagi?”
Shena langsung menurunkan selimut kemudian menatap sang suami dengan senyum ceria. Ia bertanya seperti itu dan membuat suaminya bingung.
“Ngajakin kamu apa lagi? Kok pertanyaan kamu aneh banget sih? Kamu berharap aku ngajakin kamu ngelakuin apa? Hmm? Mesum? Hahahaha”
“Nggak, maksud aku, kamu mau ngajakin aku kemana gitu lho. Aku salah ngomong, jangan salah paham dulu,”
Shena tertawa melihat suaminya merotasikan bola matanya. Shena benar-benar salah bicara tapi tanggapan suaminya kelihatan serius.
“Kenapa kamu jadi mikir ke arah sana, Mas?”
“Mesum maksud kamu? Ya habisnya pertanyaan kamu tuh yang mancing aku untuk nanya kayak gitu,”
“Ya udah maaf, jangan sewot dong,”
“Aku ‘kan bingung kamu kenapa nanya mau ngapain?”
“Salah ngomong, maksud aku mau ngajakin aku kemana lagi?”
“Ya nggak ada lah. Kamu berharap aku ajakin kemana? Pantai lagi? Nggak beres otak kamu kalau masih mau ke sana. Udah tau hampir dapat musibah tadi,”
“Kirain mau ngajakin aku ke pantai lagi gitu. Aku sih nggak masalah,”
Dio menatap Shena dengan sinis. Bisa-bisanya Shena berharap diajak ke pantai lagi. Padahal baru saja dia hampir terseret ombak pantai.
“Mending tidur, Shen. Daripada ngoceh terus. Kepala kamu masih sakit ‘kan?”
“Iya masih, malah rasa-rasanya mau flu nih,”
“Ya ampun, kamu jangan sakit dong. Minum obat sana. Ntar jadinya nggak pulang gara-gara kamu sakit,” ucap Dio pada istrinya.
Shena sampai tersentak dan sempat membeku untuk beberapa saat karena penuturan suaminya itu. Ia juga sebenarnya tidak mau sakit, tapi kalau Tuhan sudah memberikannya sakit, Ia tidak bisa menolak karena itu sudah jalannya.
Lagipula kalau dipikir-pikir, Ia tak membuat Dio susah untuk saat ini. Tapi mulutnya Dio lumayan tajam juga menurutnya. Ia juga tidak mau menjadi penghalang mereka pulang. Itu tidak akan terjadi, karena Ia tahu suaminya ada pekerjaan.
“Emang aku nyusahin kamu? Nyusahin apa kalau boleh tau? Sekarang aku aja lagi tidur-tiduran nih, nyusahinnya gimana? Dan kapan aku nyusahin kamu? Kalaupun aku sakit dan belum bisa pulang sama kamu, ya udah kamu pulang sendiri aja sana. Aku di sini sendirian juga nggak apa-apa banget kok. Aku bisa ngurus diri aku sendiri,” ujar Shena dengan nada ketusnya. Supaya Dio, suaminya itu tahu bahwa Ia sakit hati dengan kata-kata Dio barusan.
“Ya terus kamu pikir aku bakal bisa pulang tanpa kamu gitu?”
“Bisa-bisa aja, harusnya nggak masalah ‘kan? Jadi aku di sini, dan kamu pulang sendiri. Nanti kalau keadaan aku udah baik-baik aja aku nyusul pulang ke Jakarta. Kamu nggak bisa pulang sendiri? Emang kenapa? Aku ‘kan nggak penting untuk kamu. Tanpa aku harusnya kamu bisa-bisa aja pulang sendiri,”
“Ya terus gimana tanggapan orangtua kita? Hmm? Kamu pikir mereka bakal mikir positif tentang aku kalau aku biarin kamu di sini sendirian dengan keadaan sakit? Hah?!”
Dio meradang ketika Shena mempersilahkan Ia pulang seorang diri ke Jakarta kalau memang Shena benar-benar sakit dan tidak bisa dulu menempuh perjalanan pulang ke ibukota.
Dio harus menghadapi suasana hati istrinya yang tiba-tiba buruk entah karena mendengar perkatananya yang mana.
“Ya udah kamu cari aja alasannya yang tepat apa biar mereka nggak marah ke kamu,” ujar Shena dengan ketus.
“Mereka nggak akan semudah itu percaya! Kamu nggak usah aneh-aneh lah! Makanya harus sehat! Aku udah mau pulang, paham?! Selain aku ada kerjaan, sebenarnya aku lebih pengen ngajak kamu ke luar”
__ADS_1
“Nggak usah marah-marah! Aku makin pusing tau nggak. Kamu bukannya bikin keadaan aku jadi membaik malah tambah sakit,”
Setelah mengatakan hal itu, Shena menarik selimut dengan kasar sehingga seluruh tubuhnya kembali tertutupi.
Dio mengetatkan rahangnya. Ia tidak senang melihat sikap Shena yang seperti ini. Benar-benar bukan Shena sekali.
“Kamu udah berani kasar sama aku ya, Shen. Ngomong yang baik sama aku!”
“Emang kamu udah bisa ngomong baik ke aku? Hmm? Sebelum protes, coba berkaca dulu. Udah sebaik apa kamu perlakukan aku? Kamu kalau ngomong ke aku bahkan lebih jahat lagi, kamu nggak nyadar?” Sahut Shena masih di dalam balutan selimutnya, enggan untuk menatap mata Dio yang Shena tebak pasti sudah tajam sekali menatap ke arahnya. Shena tidak mau peduli seperti apa tanggapan suaminya terhadap sahutan-sahutan yang terlontar dari mulutnya barusan. Seharusnya sebelum melakukan protes, atau merasa tidak suka, Dio bercermin dulu dan tanyakan pada dirinya sendiri sudah sebaik apa Ia memperlakukan istrinya? Sudah selembut apa Ia bicara dengan Shena? Apakah tidak pernah menyakiti hati Shena dengan kata-kata yang kasar? Kalau sudah bertanya seperti itu, Dio pasti akan menemukan jawabannya sendiri.
Beberapa detik tak ada lagi yang bersuara, tiba-tiba ada suara seusatu di nakas yang membuat Shena terkejut dan Ia langsung menjauhkan selimut yang menutupi wajah. Ia bingung melihat lampu tidur sedang bergerak, dan ada obat di dekat lampu tidur itu.
“Minum itu obatnya,” Suruh Dio dengan tegas tak ada lembutnya l. Shena salah paham dengannay. Padahal Ia hanya tidak ingin Shena sakit.
Shena akhirnya tahu penyebab Ia mendengar suara sesuatu di, dan lampu tidur yang bergerak. Rupanya karena Dio lumayan kasar meletakkan obat di nakas.
“Kamu benar-benar ya. Bisa nggak sih yang lembut sedikit? Kamu nggak ikhlas ngambilin obat untuk aku? Terus ngapain kamu ambil obat itu? Hah? Aku bisa kok ambil obat sendiri, nggak perlu kamu ngelakuin itu kalau sebenarnya kamu nggak ikhlas!”
“Minum obatnya! Nggak usah banyak omong,”
“Nggak usah peduli sama aku kalau bukan dari hati, paham?”
Dio menggertakkan gigi gerahamnya hingga beradu satu sama lain. Ia merasa sudah berbuat baik tapi sikap Shena malah seperti itu.
“Minum obat nggak usah banyak ngomong, aku pusing dengar celotehan kamu,”
“Aku nggak suka sikap kamu yang kayak begitu, Mas. Untuk apa kamu baik sama aku, perhatian sama aku, kalau kamu ngelakuin itu nggak dari hati? Bisa ‘kan serahin obatnya baik-baik ke aku? Nggak perlu kasar,”
“Aku udha baik-baik, kamu kenapa sih?”
“Nggak, Mas kasar,”
Dio mendengus, alih-alih meladeni Shena, Dio justru memilih ke balkon kamar mengabaikan yang namanya perdebatan.
Shena tidak bersedia minum obat karena menurutnya Ia hanya butuh istirahat saja, lagipula Ia masih panas karena perlakuan Dio tadi. Sangat menggambarkan bahwa Dio itu tidak ikhlas berbuat baik kepadanya. Meletakkan obat saja harus dilakukan dengan kasar. Padahal Ia sendiri pun tidak meminta Dio melakukannya. Dio punya inisiatif sendiri tapi sayang caranya salah.
Shena hanya minum air putih sedikit, setelah itu Ia berbaring lagi, membiarkan suaminya di balkon entah melakukan apa. Shena tahu suaminya memilih balkon untuk menjadi tempatnya berdiam sementara waktu sampai emosinya berkurang dan mereka tak lagi berdebat.
Shena menikmati kesendiriannya di atas tempat tidur sampai tidak sadar Ia malah terlelap dan ketika suaminya masuk ke kamar melihat obat tak diminum, Dio mengetatkan rahangnya lagi.
Dio menahan kesal pada perempuan yang tengah memejamkan matanya itu. Ia kesal sekali pada Shena yang tak mau mengonsumsi obat. Tadinya Dio pikir Shena tidak perlu obat, cukup istirahat saja. Tapi setelahnya Ia kembali berpikir bahwa kalau Shena dibiarkan saja pusing, dan bahkan merasa akan flu, Ia tidak bisa membiarkan Shena hanya sekedar istirahat tanpa minum obat. Karena Ia takut itu tidak bisa menjamin Shena sembuh, takutnya malah semakin parah. Maka dari itu Ia ambilkan obat tadi, namun sayangnya Shena tidak bersedia mengonsumsinya.
“Shena harus minum obat biar jadi pulang ke Jakarta. Gue nggak kau dia kenapa-napa. Kalau dia skait otomatis gue fuma bisa kerja doang di Jakarta nggak jadi ngajak dia pergi kekuar,”
Dio mendekati Shena. Ia sengaja menurunkan selimut yang menutupi wajah istrinya itu kemudian Ia menepuk pelan pipi Shena yang sudah tertidur lelap.
“Minum obat! Kenapa kamu malah tidur sih?”
Shena berdecak karena Ia belum lama tertidur dan sudah ada yang mengganggu. Ia memalingkan wajahnya menghindari tangan Argantara yang menepuk pipinya berulang kali.
“Shena, bangun dulu. Kamu harus minum obat supaya nggak makin sakit. Masih pusing ‘kan? Apalagi kata kamu barusan, kayaknya kamu mau flu,”
“Ya udahlah, flu doang aku nggak akan bikin kamu repot, lagian tetap bisa pulang. Kecuali sakit parah, kalaupun flu aku bakal tetap pulang. Udah nggak usah ganggu aku lagi,” ujar perempuan itu dengan mata terpejam. Shena akhirnya tidak tidur lagi karena suaminya yang membuat Ia terjaga tapi Ia enggan membuka mata.
“Shena, minum obat dulu sana. Kamu aneh banget sih masa sakit nggak mau minum obat?”
“Aku mau istirahat aja, nanti juga baikan,”
“Ya jangan nunggu flu parah dulu baru mau minum obat, Shen,”
“Aku nggak mau minum obat, nanti-nanti aja, sekarang yang aku mau cuma tidur. Jadi tolong kamu jangan ganggu aku. Kamu kalau tidur nggak pernah aku ganggu ‘kan? Nah sekarang tolong kamu lakuin hal yang sama ke aku, jadi kita sama-sama saling menghargai,” ujar Shena dengan lugas. Ia mengakhiri pembicaraannya bersama sang suami.
Dio berdecak kesal. Ia kesal dengan Shena yang keras kepala. Sudah tahu sakit, bukannya minum obat malah tidur.
“Daripada sakit kamu tambah parah mendingan—“
“Aku mau tidur, jangan berisik tolong! Aku biasanya baikan kalau udah tidur,”
“Ya apa susahnya sih minum obat? hmm? Kok kayaknya susah banget nyuruh kamu minum obat?”
“Mungkin kamu aja yang baru sadar kalau aku emang agak susah minum obat apalagi kalau belum parah-parah banget. Apalagi aku cuma pusing, sama hidung aku rasanya mau flu aja. Bukan sakit berat kok, jadi kamu nggak perlu takut direpotin, dan besok kita bakal tetap pulang sesuai rencana,” ujar Shena pada suaminya itu. Shsna lagi-lagi menunda tidurnya karena Dio masih belum berhenti juga menyuruh Ia untuk minum obat.
“Shen minum obat! Ih mancing emosi aja,”
Shena diam, alih-alih menimpali ucapan suaminya itu. Ia tetap memejamkan mata, berusaha tak mau menanggapi ucapan suaminya lagi.
“Shen, kalau kamu sakit, kita nggak jadi pulang,”
“Orang udah dibilang tetap pulang sekalipun aku sakit. Aku ‘kan cuma pusing sama flu aja sakitnya, dia kenapa takut banget nggak jadi pulang sih?” Sahut Shena di dalam hatinya. Ia masih diam saja, karena kalau Ia bicara, Dio tak ada habisnya menyuruh Ia untuk segera mengonsumsi obat. Sementara Ia adalah tipe orang yang akan diam-diam saja tanpa obat selagi belum parah menurutnya.
“Ya udahlah terserah kamu mau gimana. Susah banget kamu dikasih taunya, aku sampai bosan. Terserah ya, kalau kamu sakit jangan rengek-rengek ke aku,”
“Emang aku pernah ngerengek? Yeu ngarang!” Tidak terima dengan perkataan Dio, Shena menggerutu dalam hati.
Dio menghembuskan napas kasar berusaha menghilangkan kekesalan yang menjalar di hatinya akibat Shena yang keras kepala.
“Adzan tuh, mau sholat bareng nggak?”
“Dia tau aku nggak tidur ya? Kok masih aja ngajakin ngomong?”
“Shen, nggak usah tidur dulu. Sholat maghrib bareng mau nggak? Kalau nggak mau ya udah,”
“Mau,”
Shena dengan cepat menjawab. Ia tidak akan menolak kalau diajak melaksanakan kewajiban bersama. Malah itu yang Ia suka. Tapi anehnya kali ini Dio yang berinisiatif mengajak Ia untuk sholat bersama, padahal biasanya Ia yang mengajak Dio untuk melaksanakan sholat berjamaah. Tapi Dio terlalu sering menolak dengan cara ketus atau galaknya.
Shena segera beranjak meninggalkan tempat tidur untuk melaksanakan ibadah lima waktunya bersama Dio yang tak biasanya punya ide lebih dulu mengajaknya sholat berjamaah.
“Habis ini pokoknya kamu harus minum obat,”
“Jadi kamu ngajakin aku sholat bareng karena sekalian mau nyuruh aku supaya minum obat?”
“Nggak ada hubungannya,”
“Ya ada lah, supaya aku tadi bangun dan minum obat ‘kan?”
“Lah, kamu kan punya kewajiban sholat makanya aku ajakin. Lagian aku tau kamu nggak tidur, makanya aku ajakin bareng,”
Mereka berdua melaksanakan sholat berjamaah dengan khusyuk dan Dio yang menjadi imamnya. Setelah sholat dan berdoa, Shena segera melipat sajadah dan mukena nya setelah itu naik lagi ke atas ranjang, sementara Dio bingung karena biasanya Shena yang melipat sajadahnya dan menyimpan di tempatnya.
“Kamu mau tidur?”
Shena mengangkat bahunya. Ia tidak tahu apa bisa kembali tidur atau tidak karena tadi sudah terlanjur dibangunkan oleh Dio. Ia sedikit kesal karena istirahatnya diganggu oleh sang suami, tapi di lain sisi Ia senang karena Ia bisa sholat dengan Dio tepat waktu.
“Sebelum tidur minum obat dulu sana,”
“Jangan paksa aku, bisa nggak?”
“Shena, aku baru kali ini ngadepi perempuan yang keras kepala banget padahal untuk kesehatan sendiri. Kamu satu-satunya. Kenapa sih susah banget diatur? Mantan-mantan aku nggak ada yang kayak kamu lho,”
“Ya ampun, belum puas ngomel-ngomel dari tadi, sekarang dia bandingin aku sama mantannya. Kayak nggak punya hati ya Dio ini,”
“Kenapa kamu liatin aku kayak gitu? Hmm?”
Seketika Dio sadar kalau Ia telah salah bicara.
“Aku lagi ngebatin, Mas. Kok bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu? Kamu kayak nggak ada hati nggak ada perasaan ya? Kamu sadar kalau barusan kamu udah banding-bandingin aku sama mantan kamu? Terus kamu pikir itu wajar ya? Udah tau ‘kan, manusia itu beda-beda? Kok masih aja aku dibandingin sama mantan kamu?”
“Aku nggak habis pikir aja sama kamu. Kok susah banget disuruh minum obat. Padahal aku nyuruh kamu minum obat supaya kamu sehat, supaya kita bisa pulang sesuai rencana besok. Aku nggak nyuruh kamu minum racun, Shen,”
“Aku merasa bakal baik-baik aja tanpa obat. Bisa berhenti bahas obat nggak sih? Nggak usah takut aku sakit, tenang aja kita tetap pulang kok, kamu ‘kan udah kangen banget,”
“Kangen apaan?”
Dio menatap istrinya dengan tatapan selidik.Ia tidak paham dengan perkataan istrinya itu.
“Ya kangen kerjaan lah, emang kangen apa?”
“Kerjaan aku emang banyak. Aku bukan kamu yang hidupnya santai-santai dan kuliah aja,”
“Sekarang kamu kayak ngejek aku gitu, mentang-mentang aku nggak sesibuk kamu?”
“Ya maksud aku nggak sesibuk aku. Kamu ‘kan nggak terikat sama kerjaan dan lain-lain sementara aku iya “
__ADS_1