Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 86


__ADS_3

“Makannya santai aja, Shen, sampai celemotan gini,”


Shena meringis malu ketika suaminya membersihkan sudut bibirnya yang sedikit kotor karena es krim.


“Ya namanya juga anak kecil berkedok dewasa ya,”


Dio terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Kemudian Ia kulum jarinya yang tadi Ia gunakan untuk membersihkan es krim di sudut bibir sang istri.


“Itu ‘kan dari bibir aku, ngapain masuk ke mulut kamu?”


“Nggak apa-apa, halal,”


“Ih jangan, itu bekas istri tau. Ntar aku dosa lagi,”


“Orang gue yang mau kok, rasanya, jadi tambah manis ya?”


“Hah? Masa sih?” Tanya Shena dengan wajah polosnya. Dio terkekeh dan menganggukkan kepala.


“Beneran?”


“Iya beneran lah, masa bohong?”


“Kok bisa?”


“Ya karena bibir lo kali ya, jadi rasanya makin manis,”


“Ya elah, bisa aja,”


Dio terbahak karena mendengar Shena bicara seperti itu sambil merotasikan bola matanya jengah.


“Tapi beneran lho, rasanya makin manis,”


“Ah udahlah, aku paling nggak bisa dengar kamu ngomong gitu,”


“Kenapa? Mual ya?”


“Nggak, aneh aja gitu,”


“Orang gue serius kok, rasa es krimnya jadi lebih manis ya mungkin karena dari bibir lo,”


“Udah stop jangan ngomong yang aneh-aneh ih, aku nggak mau dengar,”


“Ya emang kenapa sih? harusnya senang kalau gue ngomong yang manis-manis,”


“Iya senang sih tapi aneh aja,“


Dio tersenyum mengamati istrinya yang sumringah sekali hari ini. Dibelikan es krim saja kelihatan bahagia sekali. Diajak ke timezone juga bahagia.


“Bahagia lo itu sederhana banget ya, Shen,”


“Iya, kamu baru sadar ya?”


“Iya gue baru sadar, selama ini gue terlalu nutup mata.


“Maafin gue ya, baru sempat bikin lo bahagia sekarang. Selama ini yang gue lakuin tuh cuma bikin lo sedih aja. Gue benar-benar minta maaf sama lo,” ujar Dio sembari mengusap punggung tangan istrinya yang ada di atas meja.


Shena tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu Ia menggenggam tangan Dio dengan lembut.


“Kamu kok minta maaf sih? Jangan gitu lah, kamu nggak salah kok. Yang penting ‘kan sekarang kita udah baik-baik aja,”


“Dulu yang bisa gue lakuin cuma bikin lo sakit hati, kecewa, sedih, tapi sekarang gue mau bikin lo bahagia, Shen. Semoga bisa,”


“Aku juga banyak kurangnya, pasti pernah bikin kamu nggak bahagia. Maafin aku juga ya, jadi kita sama-sama minta maaf nih ceritanya,”


“Lo sih nggak salah, lo malah perempuan terbaik yang pernah gue temuin. Lo istimewa, Shen. Gue nggak bersyukur milikin lo, tapi sekarang gue udah belajar untuk bersyukur. Apalagi yang gue cari? Nggak ada. Ini kalau dalam hal pendamping hidup ya. Gue rasa lo aja udah lebih dari cukup. Cuma selama ini gue nggak sadar,” ujar Dio seraya tersenyum menatap istrinya yangs aat ini lanjut menikmati es krim lagi.


“Lo kayaknya tergila-gila banget sama es krim,”


“Iya emang dari sulu tergila-gila sama es krim, kalau minum es krim tuh nggak bisa kalem, selalu semangat,”


“Nggak apa-apa, malah gue seneng ngeliat lo lahap, soalnya selama ini gue tuh hampir nggak pernah liat lo lahap makan sesuatu,”


“Ah masa sih? Perasaan aku kalau makan lahap terus deh,”


“Nggak, kayaknya gue hampir nggak pernah ngeliat lo makan lahap, gue juga bingung kenapa,”


“Kamu kebetulan ngeliatnya yang kurang lahap,”


“Nggak lah, irang gue sering makan sama lo kok, apalagi belakangan ini ‘kan gue udah makan di rumah mulu,”


“Tapi aku lahap terus, Dio,”


“Ya tapi nggak selahap minum es krim ini,”


“Karena es krim jarang, jadi sekalinya ketemu kelihatannya lebih lahap, begitu kali ya,”


“Oh iya bener juga lo,”


“Iya makanya jangan bilang nggak lahap, orang lahap kok, tapi kalau minum es krim lebih lahap karena emang jarang ketemu es krim,”


“Ini kita jadi makan ramen, Shen?”


“Jadi dong, kamu nggak keberatan ‘kan?”


“Nggak lah, masa gue keberatan,” jawab Dio sambil tersenyum menaik turunkan alisnya. Shena mengajaknya makan pizza di Italia atau kebab di Turki rasanya Dio tidak akan keberatan. Ia menganggap apapun kebaikan yang Ia lakukan saat ini untuk Shena itu sebagai penebusan atas dosa-dosanya yang terdahulu pada Shena.


“Dio aku punya pertanyaan yang random untuk kamu,” ujar Shena seraya menatap suaminya dengan serius.


“Random tapi mukanya serius, gimana sih?”


“Ya ini random tapi—penting,”


“Oh okah apa pertanyaan lo?”


“Kalau aku pengen makan rendang di Padang langsung, kamu keberatan atau nggak?”


Dio tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Yang benar saja. Makan rendang di Padang langsung tidak ada berat-beratnya untuk Dio. Malah nanti akan Ia anggap sebagai liburan.


“Ya nggak lah,”


“Hah? Seriusan kamu?”


“Iya gue nggak keberatan tuh,”


“Tapi ‘kan— itu jauh banget dari Jakarta,”


“Ya jangankan Padang Jakarta, Jakarta Italia aja gue jabanin, hitung-hitung liburan, ya nggak?”


Dio menaik turunkan alisnya sambil menatap sang istri yang kebingungan. Padang saja sudah kejauhan menurut Shena, ini Dio malah membahas Italia.


“Kok makin jauh ke Itali? Smang mau ngapain ke sana?”


“Ya misalnya lo mau makan pizza langsung di sana, ayo aja gue nggak keberatan,”


“Ih yang bener aja kamu, itu ‘kan jauh banget tau,”


“Iya gue tau emang itu jauh, Shen,”


“Ya terus kenapa kamu nggak keberatan kalau misal aku minta ke sana? Itu ‘kan jauh banget,”


“Ya nggak apa-apa hitung-hitung liburan lah, gue seneng liburan apalagi sama lo,”


“Abis duit ke sana cuma karena mau makan pizza,”


“Nggak apa-apa dong, bikin senang hati lo, Shen,”


“Hmm ini serius kalau misalnya tiba-tiba aku pengen makan rendang di Padang langsung, kamu nggak keberatan?”


“Iya beneran masa gue bohong sih?”


“Ya ampun itu ‘kan jauh banget,”


“Udah gue bilang tadi, hitung-hitung kita liburan, Shen. Emang kapan lo mau ke padang?”


“Hah? Nggak? Ini tuh cuma nanya aja, Dio. Aku nggak serius, kamu anggap serius omongan aku?”


“Iya gue kira serius,”


“Hahahaha polos banget,”


“Tapi kalau serius juga nggak apa-apa kok, Shen. Gue temenin lo ke sana, pokoknya lo mau kemana pun gue temenin, pasti gue temenin okay?”


“Iya okay,”


“Jadi kalau misalnya lo mau beli makanan di suatu tempat, lo jangan sungkan ngomong sama gue biar kita bareng-bareng ke tempat itu okay?”


“Siap, Pak bos,”


“Hitung-hitung kita liburan, eh honeymoon deh biar kedengeran lebih mesra gitu ‘kan,”


Shena terkekeh, sepertinya kalau mereka liburan lagi sebutannya bukan honeymoon melainkan babymoon karena Shena sudah membawa manusia kecil di dalam perutnya.


“Tapi ya kalau misalnya lo beneran mau makan di suatu tempat yang lumayan jauh, lo kayak ibu hamil yang lagi ngidam aja, Shen,”


“Kenapa? Kamu nggak suka nurutin ngidam aku?”


“Hah? Gimana-gimana?”


Shena langsung terdiam, Ia baru saja bicara yang menjurus ke arah kehamilannya dan Dio dibuat bingung makanya Ia bertanya lagi supaya paham.


“Nggak,”


“Lah tadi ngomong apaan?”


“Nggak ngomong apa-apa deh perasaan, kamu salah dengar kali,”


“Tadi kayaknya lo ngomong soal ngidam gitu, emang lo lagi ngidam, Shen?”


“Ya—ya—-nggak sih,”


“Lah terus?”


“Aku cuma nanya aja soalnya aku penasaran sama jawaban kamu. Kalau misal aku beneran ngidam nih pengsn makan sesuatu di tempat yang jaraknya lumayan jauh atau bahkan jauh banget, kamu beneran mau nurutin atau nggak? Aku cuma mau dengar jawaban kamu aja,”


“Nggak ngidam pun gue turutin apalagi ngidam, ya pasti gue turutin lah,” jawab Dio dengan gegas dan itu mengundang senyum Shena terbit.


“Beneran?” Tanya Shena pada suaminya yang langsung menganggukkan kepala.


“Beneran lah,”


“Walaupun kamu capek, kamu habis uang, kamu bakal tetap nurutin kemauan aku?”


“Iya tetap, karena gue pengen banget bikin lo senang, sebagai penebusan dosa gue yang waktu itu pernah jahat banget sama lo. Gue tau maafnya gue tuh nggak cukup makanya gue pengen bikin lo senang, Shen,”


Shena tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Hatinya menghangat dan matanya berkaca. Dio tulus sekali kelihatannya. Dari cara Dio menatap, Dio bicara, dan kini menggenggam tangannya, Dio kelihatan benar-benar tulus ingin membahagiakannya dan juga menebus kesalahan yang pernah Dio lakukan di awal pernikahan mereka.


“Gue pernah buang makanan yang lo bikin, gue pernah nyuruh lo tidur di kamar tamu, gue pernah pake baju lain padahal lo udah pikirin baku buat gue, bekal yang pernah lo taruh di tas gue malah gue buang. Gue benar-benar minta maaf ya untuk semuanya, Shen. Gue nyesal pernah nyakitin lo sedalam itu, gue bener-bener nyesel, maafin gue ya,”


“Iya aku maafin kok. Yang udah lalu jangan dibahas lagi. Es krim aku udah habis nih, kita makan ramen yuk,”


Dio mengangguk, es krim miliknya tidak habis dan hendak Ia buang namun Shena melarangnya.


“Ih kenapa nggak kasih ke aku aja sih? Aku ‘kan suka, malah mau dibuang,”


“Ya ngapain lo mau bekas gue?”


“Nggak apa-apa dong, bekas suami sendiri ini, ya wajar, kecuali bekas suami orang tuh baru nggak boleh,”


“Heh! Bawa-bawa suami orang, awas lo ya,”


Shena terkekeh melihat tatapan tajam suaminya. Shena langsung mencubit lengan Dio sambil mendinginkan suasana yang semula agak memanas karena Dio tak suka dnegan celotehannya yang padahal niat untuk bercanda.


“Aku bercanda, jangan dimasukin ke hati lah,”


“Ya lagian nggak lucu amat sih,”


“Ya udah aku minta maaf kalau nggak lucu,”


“Gue cemburu ya, Shen. Jangan ngomong yang lain kalau lagi sama gue,”


“Okay baik, Pak bos, eh tapi barusan kamu bilang apa? Kamu cemburu?”


Dio menganggukkan kepalanya. Sekarang Ia tidak ragu lagi menyampaikan perasaannya. Ia cemburu jadi Ia mengutarakannya.


“Cie yang ngaku cemburu,” goda Shena sambil menjawil dagu suaminya. Es krim sisa suaminya sudah berhasil Ia habiskan sekarang Ia membuang cup nya di tempat sampah dan mereka melanjutkan perjalanan ke tempat makan ramen.


“Iya ngaku lah ngapain ditutup-tutupin lagi,”


Setelah tiba di restoran Jepang, mereka langsung menempati salah satu meja atas pilihannya Shena sendiri. Setelah duduk, tiba-tiba Dio meraih tangan Shena dan berdehem hendak mengutarakan sesuatu dan Shena bingung dibuatnya.


“Kamu—kenapa? Mau—ngapain?”


“Cuma mau ngobrol, kenapa tegang banget sih? Kayak lagi mau akad nikah aja. Kita udah ngelewatin itu, Shen jadi lo jangan tegang-tegang,”


Shena terkekeh mengalihkan rasa gugupnya karena Dio tiba-tiba meraih tangannya dan menatapnya dengan serius.


“Hmm kamu mau ngomong sesuatu ya kayaknya?”


“Iya,”


“Mau ngomong apa? Kayaknya penting ya, Dik?” Tanya Shena dengan ragu-ragu, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Dio.


“Okay kamu mau ngobrolin apa, Dio?”


“Aku cinta sama kamu,”


Shena meneguk saliva nya susah payah ketika mendengar pernyataan itu terlontar dari mulut suaminya.


“Kamu lagi ngomong serius ya ini?”


“Ya masa gue ngomong bercanda sih, Shen,”


“Kamu nyatain cinta jadi aku—“


“Nggak percaya nih? Aku cinta sama kamu, tapi kamu nggak percaya ya?”


“Sejak kapan, Dio?” Tanya Shena.


“Hmm sejak—gue juga nggak tau sejak kapan. Intinya gue cinta sama lo, gue takut kehilangan lo, dan gue mau bahagiain lo, Shen. Gue tau lo pasti bosan dengar kata maaf dari gue tapi gue nggak pernah bosan minta maaf sama lo. Maaf untuk semua kesalahan gue di masa lalu, sekarang kita mulai semuanya dari awal ya? Gue mohon kasih kesempatan untuk gue memperbaiki semuanya, kasih kesempatan untuk gue bikin lo bahagia, Shen,”


Shena mengangguk dengan mata berlinang. Karena tidak mau dilihat orang lain menangis, dengan cepat Shena menghapus air matanya. Ia terharu melihat kesungguhan di mata Dio ketika mengutarakan keinginannya barusan.


“Iya, aku mau mulai semuanya dari awal sama kamu, Dio. Aku kasih kamu kesempatan,”


Dio langsung tersenyum sumringah mendengar perkataan istrinya. Ia langsung merangkul wajah sang istri kemudian bertanya “Beneran ‘kan?” Tanya Dio yang langsung dijawab dengan anggukan oleh istrinya itu.


“Makasih ya,”


Dio beranjak ingin memeluk istrinya yang duduk di depannya, mereka dipisahkan oleh meja, tapi karena larangan sang istri akhirnya Dio tidak jadi melakukannya.


“Ini di tempat umum jangan peluk aku sembarangan ah,”


“Ya udah deh di rumah aja nanti,” ujar Dio dengan wajah murung, Ia setengah tidak ikhlas dilarang memeluk istrinya. Yang mengeluarkan larangan juga Shena sendiri.


“Eh aku mau tanya soal yang tadi. Boleh nggak?”


“Tanya soal apa, Sayang?”


Shena menahan senyum salah tingkah ketika dipanggil dengan sebutan ‘sayang’ oleh Dio. Seharusnya detak jantungnya biasa saja tidak perlu ribut seperti ini, hanya karena dipanggil mesra oleh sang suami. Sebenarnya wajar kalau dipanggil ‘sayang’ oleh suami. Tapi karena memang tidak biasa mendengar jadi salah tingkah sendiri.


“Tanya apa? Kok malah diam?”


“Aku mau tanya, kamu beneran bakal nurutin kemauan aku kalau misalnya aku mau ke suatu tempat untuk nyobain makanan?”


“Iya beneran, yah ampun nggak percaya banget. Mau aku buktiin sekarang? Hmm?”


“Hmm jangan deh,”


“Lah terus?”


“Aneh aja gitu kok kamu mau nurutin kemauan aku? Okay lah kalau kamu bilang mau bikin aku senang tapi ‘kan rugi buat kamu,”


“Kok rugi? Nggak ada kata rugi kalau buat istri. Kamu pikir aku nggak serius gitu?”


“Hehehe okay aku kira kamu bercanda. Abisnya aneh aja gitu, kok kamu mau pergi ke tempat jauh demi nurutin kemauan aku? Padahal ‘kan kamu bisa nolak harusnya


“Ya karena gue pengen bikin lo senang. ‘Kan tadi udah gue jawab begitu, Shena,”


“Tapi jangan deh, nanti kamu nyesal lho,”


“Hah? Kok nyesal?”


“Iya nyesal, habis uang, habis tenaga demi nurutin mau aku yang aneh, timbang makan rendang aja harus ke Padang,”


“Lho nggak apa-apa. Walaupun nggak ngidam, aku tetap bakal nurutin, apalagi kalau ngidam kasian lah anak kita kalau nggak diturutin. Tapi kamu sekarang belum hamil ‘kan? Belum ngidam ‘kan?”


”Belum,” jawab Shena sambil tersenyum getir.


“Mau lagi ngidam atau nggak, pokoknya kalau kamu lagi kepengen sesuatu kamu jangan sungkan ngomong ke aku ya,”


“Okay,”


“Bakal aku turutin,”


“Makasih ya,”


“Sama-sama, aku senang aku bisa jadi sedikit berguna buat kamu. Disaat kamu punya keinginan dan kamu ngomong ke aku, aku bakal berusaha untuk nurutin. Nah kalau berhasil, aku sedikit berguna jadi suami,”


“Ih kok sedikit? Ya nggak sedikit dong. Kamu itu berguna banget untuk aku,”


“Masa sih?”


“Iyalah,”


“Cium dulu dong kalau begitu,”


“Hadeh! Jangan mulai deh,”


Dio tertawa karena Shena melotot ke arahnya. “Kamu jangan galak-galak gitu dong, aku jadi takut tau,”


“Ya makanya jangan aneh-aneh deh, orang lagi di tempat makan juga masih bisa ya nagih ciuman,”


“Ya udah deh ntar di rumah aja, boleh ‘kan?”


“Nggak tau ah, otaknya kesitu mulu deh,”


“Ya ampun emang otak gue ke situ mulu apa? Enak aja, gue otaknya kasih bener kok, Shen, nggak ke **** mulu—-“


“Ssstt! Jangan ngomong aneh-aneh bisa nggak sih? Aku nggak ngomong itu ya, maksud aku tuh otak kamu mikirin ciuman mulu, bukan itu!”


Beruntungnya Dio bicara pelan kalau tidak, bisa malu sekali mereka. Terutama Shena yang takut orang berpikir otak suaminya jorok alias kotor membahas hal seperti itu di tempat umum.


“Maaf-maaf, tapi nggak ada yang dengar kok, Shen. Kamu tenang aja,” ujar Dio sambil terkekeh.


“Ya udah ayo buruan diabisin tuh,”


Mereka makan dengan tenang, tak ada obrolan lagi, tapi di pertengahan makan, tiba-tiba Dio mengangkat topik pembicaraan.


“Jadi kamu mau kemana?” Tanya Dio pada istrinya yang langsung bingung ketika ditanya ingin kemana.


“Maksud kamu?”


“Jadi kamu mau kemana, Shentik alias Shena cantik,”


“Aku nggak kemana-mana lah, smang kamu pikir aku bakal kemana coba?”


“Ya ‘kan tadi kita udah bahas jalan-jalan sesuai dengan request kamu, nah sekarang tujuan kamu mau kemana?”


“Belum kepikiran,”


“Yah, kirain udah kepikiran mau kemana nya, Shen,”


“Belum ah, aku bingung,”


“Ya udah cari-cari referensi dulu yang seru buat liburan berdua,”


“Nggak berdua, tapi bertiga, Dio,“ batin Shena dan tangannya spontan mengusap perutnya dengan lembut.


“Ke Padang untuk makan rendang asli sana boleh juga tuh, Shen,”


“Iya tapi kapan ya?”


“Mau pulang gue dari Lombok nggak?”


“Hah? Seriusan?”


“Iya serius kalau lo mau. Besok ‘kan gue berangkat ke Lombok mudah-mudaha aja balik cepat terus kita langsung ke Padang deh gimana?”


“Hmm ntar-ntar aja deh kamu ‘kan lagi mau pergi sama Papa,”


“Iya abis dari Lombok aja gimana?”


“Liat keadaan nanti aja,”


Sejujurnya Shena belum berani membawa kandungannya pergi jauh-jauh dulu. Ia belum meminta pendapat dari dokter, jadi belum bisa menjawab pertanyaan Dio sekarang.


Dio padahal sudah semangat sekali mau mengajak istrinya itu jalan-jalan selepas Ia berangkat ke Lombok bersama Papanya karena urusan pekerjaan.


“Ya udah ntar dibahas lagi deh. Sekarang suapin aku dong, mau nggak?”


“Hah? Kamu minta suapin sama aku? Yakin? Emang nggak malu apa? Kamu ‘kan uda dewasa kenapa minta disuapin?”


“Ya emang nggak boleh gitu?”


“Boleh-boleh, okay aku suapin ya,”


Shena penuhi saja permintaan suaminya itu. Tidak biasanya Dio minta disuapi tapi apa boleh buat. Menyenangkan hati suami pahalanya besar jadi Shena lakukan sekarang juga. Ia menyuapi suaminya itu.


Dio langsung kelihatan senang sekali dan Ia meraih mangkuk istrinya yang langsung membuat sang istri bingung “Itu mau diapain?”


“Aku suapin kamu,”


“Ih nggak usah, aku makan sendiri aja nggak apa-apa,”


“Lah gimana caranya kamu makan sendiri kalau kamu aja lagi suapin aku kayak begini?”


“Ya gampang tinggal suap-suapan bergantian aja,” ujar Shena dengan santainya. Ia tidak mau merepotkan suaminya itu. Jadi biar Ia makan sendiri aja.


“Aku makan sendiri aja Dio,”


Dio bersikeras ingin saling menyuapi dengan istrinya. Namun sang istri menolaknya dan itu membuat Ia berdecak kesal.


“Nggak mau disuapin sama aku jadi ceritanya?”


“Ya ngapain main suap-suapan? Udah kayak anak-anak aja,”


“Lah emang yang boleh saling nyuapin itu cuma anak kecil doang ya? Tapi orangtua juga sering lho,”


“Iya tapi nggak usah ya aku takut ada yang ngeliat ke arah sini,”


“Lah kalaupun ada yang ngeliatin kita emang kenapa? Nggak apa-apa dong, nggak ada salahnya, kita ‘kan pasangan suami istri yang lagi dimabuk cinta,”


“Ya ampun lebay ah,”


Dio terkekeh dan Ia tidak peduli dibilang lebay. Ia kedipkan salah satu matanya ke arah Shena yang langsung geleng-geleng kepala.


“Udah cukup, aku makan sendiri sekarang,”


“Lho kok udahan?”


“Makan kamu jadi keganggu, Shen aku makan sendiri aja sekarang,” ujar Dio seraya meraih mangkuknya dan mulai makan sendiri lagi. Yang tadi hanya selingan supaya suasana makan bersama istrinya tidak membosankan. Tapi Ia tidak tega karena Shena jadi terganggu makannya sebab harus menyuapi dua mulut yang pertama mulut Dio suaminya dan yang kedua mulut Shena sendiri.


“Abis kita makan, apa kita bakal pulang, Dio?”


“Terserah kamu, apa kamu mau keliling dulu?”


“Hmm? Keliling?”


“Iya barangkali kamu mau keliling,”


“Nggak deh, kita langsung pulang aja,” jawab Shena atas pertanyaan sang suami.


“Beneran nih?”


“Iya beneran, aku mau langsung pulang aja, kamu ‘kan harus istirahat cukup lho, soalnya kamu mau pergi ke Lombok,”


“Ah nggak masalah,”


“Ih jangan ngomong gitu tau, kamu harus istirahat cukup karena mau pergi jauh. Jadi nggak kurang istirahat juga,”


“Iya, Nyonya,”


Selepas mereka makan bersama, mereka benar-benar bergegas pulang ke rumah. Shena tidak tertarik kemana-mana lagi begitupun dengan Dio yang ikut saja apa maunya Shena. Sampai di rumah suasana sunyi menyambut mereka yang menebak kalau orang rumah di kamar masing-masing.


Tiba di kamar, Shena langsung ingin bergegas ke kamar mandi buang air kecil, sementara Dio duduk di sofa kamar menunggu istrinya, Ia ingin bergantian masuk kamar mandi.


Setelah Shena keluar dari kamar mandi barulah Dio yang masuk kamar mandi, Shena gunakan kesempatan untuk membuat susu kehamilan, selagi suaminya di dalam kamar mandi.


Shena mengambil susu kehamilan yang Ia simpan diam-diam di dalam laci tanpa sepengetahuan Dio. Kemudian Ia tuang di dalam gelas, tinggal Ia tuang dengan air panas.


“Shena,”


Shena panik karena Ia sedang menyimpan susu dan tiba-tiba Dio sudah keluar dari kamar mandi. Tapi Ia berhasil menetralisir rasa paniknya itu hingga susu berhasil Ia simpan di dalam laci dan suaminya berdiri di sebelahnya.


“Kamu ngapain, Shen?”


“Hmm? Nggak,”


“Ini apa?” Tanya Dio pada Shena seraya mengambil gelas yang sudah Shena isi dengan susu hamil.


“Aku mau bikin susu,”


“Oh, sini aku yang tuang air panas, tambah gula nggak nih?”


“Nggak usah, aku aja,”


“Aku aja, Shen,”


“Aku aja, kamu mending istirahat deh,”


“Hmm ya udah deh,”


Shena bergegas menghampiri dispenser kamar namun Ia ingat air nya habis dan belum diisi. Akhirnya terpaksa Ia harus melawan rasa malasnya untuk bergegas ke lantai bawah mengambil air panas.


“Mau kemana, Shen?”


“Air abis,”


“Ya udah sini makanya aku yang buat,”


“Nggak apa-apa aku turun aja,”

__ADS_1


Sesaat setelah Shena meninggalkan kamar Dio menghembuskan napas kasar. “Sengaja gue nggak mau buat dia capek, gue aja yang ngambil air eh dia malah nggak mau,” gumam Dio.


Dio menyusul istrinya ke dapur tanpa sepengetahuan Shena sendiri. Di dapur istrinya bertemu dengan sang mama, Ardina.


“Sayang, mau buat susu?”


“Iya, Ma,”


“Itu susu buat kamu atau Dio?”


“Aku, Ma,”


“Oh gitu, tadi gimana jaal!-jalannya sama Dio?”


“Menyenangkan banget, Ma. Dio nurutin semua kemauan aku. Dari mulai ke tinezone, beli es krim, terus makan ramen, pokoknya Dio nurutin semuanya deh. Dio nggak marah-marah, dia baik banget tadi, lembut juga,”


“Ya syukurlah kalau Dio nggak hobi marah-marah lagi ya, akhirnya dia berubah juga,”


“Iya, Ma,” ujar Shena seraya tersenyum.


Tanpa sadar yang mereka bicarakan itu ada di pintu masuk dapur mendengarkan obrolan mereka.


“Besok dia mau pergi jadi hari ini katanya waktu dia buat aku,” ucap Shena menyampaikan apa yang disampaikan suaminya tadi.


Hari ini adalah waktu untuk Shena karena esok hari Dio akan pergi ke Lombok bersama Papanya


“Iya Dio besok mau eprgi sama Papa, ya bagus dia manjain kamu dulu sebelum pisah bentar ‘kan,”


“Hehehe iya, Ma. Aku merasa dimanja banget. Aku bersyukur Dio jauh lebih baik sekarang,”


Susu Shena telah jadi setelah Ia tuang dengan air panas. Shena langsung mengaduknya hingga tercampur rata kemudian Ia memperhatikan Ibu mertuanya yang sedang membaca resep.


“Mama mau bikin apa? Itu lagi baca resep apa?”


“Nggak tau, Mama masih bingung mau bikin apa untuk makan malam ntar, Sayang,”


“Nanti aku aja yang masak, Ma. Mama katanya mau ada acara ‘kan sama papa?”


“Iya kondangan ke acara nikah anak teman Papa,”


“Nah ya udah biar aku aja yang masak Mama nggak usah pusing-pusing,”


“Mending kamu istirshat deh, abis main soalnya. Nanti kecapekan, gih istirahat dulu,”


“Tapi aku aja yang masal, aku habisin susu aku bentar,


“Eh nggak masak dulu, ntar aja masak. Kamu istirahat aja di kamar dulu,”


“Nggak ah nanti Mama amsal,”


Ardina terkekeh karena menantunya takut sekali Ia yang masak padahal tidak masalah baginya. Ia tidak merasa direpotkan.


“Nggak-nggak Mama cuma mau baca resep aja ini, nggak masam kok, kamu tenang aja. Udah sana kamu istirahat dulu,”


“Iya aku ke kamar bentar, mama nggak usah mikirin mau masak biar aku aja,”


“Iya, Sayang, dah masuk kamar aja kamu, istirahat dulu, jangan capek-capek nanti sakit lagi,”


Ardina mendorong pelan bahu Shena supaya segera naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. Tidak sengaja Shena bertemu dengan Dio yang berada di depan pintu masuk dapur.


“Eh kamu kok ada di sini?” Tanya Shena dengan bingung.


“Yee nguping ni anak,” ujar Ardina yang mengundang tawa Dio.


“Mama sama Shena ngobrolin apa sih?”


“Halah pura-pura nggak dengar,”


“Hahahaha bercanda deh, aku dengar Mama sama Shena ngomongin aku tadi. Ngomongin aku eh aku nya denger,”


“Ya nggak apa-apa, orang juga nggak ngomongin yang jelek-jelek. Mama sama Shena senang kamu udah berubah jauh lebih baik, nggak kayak dio yang dulu lagi,”


“Hehehe karena aku nggak mau sia-siain Shena lagi, Ma,”


“Ya udah bagus. Sekarang bawa istri kamu istirahat gih,”


“Siap, Ibu ratu,”


Dio langsung merangkul bahu Shena. Ardina tidak mau Shena itu kelelahan dan akhirnya sakit lagi nanti, mengingat kalau Ia perhatikan daya tahan tubuhnya Shena itu suka lemah belakangan ini.


“Kamu tumben buat susu,” ujar Dio pada istrinya.


“Ya ‘kan aku punya susu bubuk, jadi aku buat lah kebetulan lagi pengen, kenapa? Kamu mau juga?” Tawar Shena seraya mengangkat gelasnya dan tidak disangka oleh Shena, Dio mau.


“Duh gimana ya kalau Dio mau minum susu buatan aku ini? Masalahnya ini tuh susu untuk ibu hamil. Emang nggak apa-apa ya kalau misalnya ini diminum sama Dio?” Batin Shena dengan cemas.


“Beneran mau? Aku buatin dulu ya,”


“Mau yang buatan kamu sekarang aja,”


“Hah? Yang ada di tangan aku ini?”


“Iya betul,”


“Aku buatin aja susu cokelat kamu, gimana?”


“Nggak usah, yang kamu pegang sekarang aja,”


“Ini nggak apa-apa atau bahaya sih kalau misal diminum sama Dio? Ih aku nggak pernah lagi tau hal-hal kayak gini, ntar kalau misalnya dia hamil gimana? Ah nggak mungkin lah. Dia ‘kan cowok. Masa iya dia hamil. Paling cuma sakit perut doang kali ya? Jangan deh, kasian Dio,” batin Shena.


“Eh eh eh Dio!”


Shena kaget ketika tiba-tiba suaminya merebut gelas yang Ia pegang dan langsung menyeruput. Shena terperangah kaget, sekaligus panik. Apa tidak masalah kalau misalnya Dio minum itu? Bahaya tidak? Karena itu susu untuk wanita hamil, kalau Dio kenapa-napa bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan itu langsung berputar di kepala Shena pasca Dio meneguk sekali susu hamilnya setelah itu Dio kembalikan gelas itu ke tangan istrinya.


“Ih kamu kenapa main ambil aja sih, ini ‘kan punya aku tau


“Enak kok, walaupun rasanya—“


“Gimana rasanya?”


“Rasa—vanilla,”


“Ya emang vanilla, terus menurut kamu gimana rasanya? Kamu mau mual?”


“Nggak sih, enak-enak aja rasanya walaupun agak asing aja di lidah aku entah kenapa, tapi enak kok, hampir sama aja kayaknya, sama susu yang biasa aku minum, tapi tetap andalan aku susu cokelat, kamu kenapa sih beli vanila?”


“Ya adanya ini, aku ketemunya rasa vanilla jadi ya udah aku ambil ini. Daripada nggak sama sekali,” batin Shena.


Waktu itu Shena pulang kuliah langsung beli susu untuk dirinya sendiri tanpa sepengetahuan Dio. Jadi Ia ke supermarket sendirian tanpa ditemani oleh suaminya itu


Setelah sampai kamar Ia langsung simpan di dalam lacinya supaya aman, dan sejauh ini aman karena Dio memang jarang membuka laci di nakas di sebelah kepalanya dimana Ia biasa tidur.


“Mau lagi dong,” uahr Dio seraya menengadahkan tangannya ingin meminta susu hamil milik Shena lagi namun Shena menggelengkan kepalanya dan menjauhkan gelasnya dari jangkauan Dio.


“Dasar pelit,” ujar Dio.


“Biarin, bukannya bikin sendiri sana yang rasa cokelat kenapa malah minta sama aku sih?”


“Mau yang punya kamu, orang rasa susunya enak tuh,”


“Nggak mau ah, jangan ambil punya aku, bikin sendiri aja, atau aku yang bikin ya,”


“Nggak mau, aku maunya punya kamu aja,”


“Ih jangan, aku buatin aja deh, bentar!”


Shena langsung menghabiskan susunya dengan sekejap. Ia tidak mengizinkan suaminya itu untuk meminum susu buatannya lagi karena itu susu untuk dirinya yang sedang hamil tapi anehnya Dio suka.


Shena hanya berharap suaminya baik-baik saja setelah minum susu itu. Sebab Shena belum pernah tau pengalaman laki-laki minum susu hamil.


Setelah Shena menghabiskan susu buatannya Shena langsung bergegas ke dapur lagi membuat susu untuk suaminya itu. Sepanjang Ia membuat susu, Ia kepikiran dengan Dio yang tadi sempat menyeruput susu miliknya. Ia berharap Dio tidak sakit perut saja.


“Tapi kalau dipikir-pikir, susu itu ‘kan aman untuk ibu hamil, yang sensitif banget, ya kayaknya aman juga sih untuk cowok, lagian Dio minum cuma dikit,” batin Shena.


“Si Dio emangnya nggak bisa buat sendiri apa, Shen? Kok kamu yang mondar-mandir sih?”


“Nggak apa-apa, Ma. Daripada dia minta susu punya aku ‘kan,”


“Lah, minta-minta, bukannya bikin sendiri,”


Shena terkekeh mendengar ibu mertuanya menggerutu. Ia tidak masalah harus bolak balik dapur hanya untuk membuat susu lagi yang kali ini untuk suaminya yang baru saja menikmati susu.


“Nggak apa-apa, Mama sayang,”


Setelah berhasil membuat satu gelas susu untuk suaminya Shena langsung ke kamar lagi dan memberikan susu buatannya itu untuk Dio yang saat ini hendak membuka laci dimana Shena menyimpan susu hamilnya. Shena yang melihat itu panik dan langsung memanggil Dio.


“Eh Dio dio! Kamu mau ngapain?” Tanya Shena pada suaminya yang akhirnya tak jadi membuka laci karena mendengar suara istrinya memanggil dari depan kamar. Suara Shena yang lumayan keras karena panik tentunya membuat Dio lumayan terkejut.


“Eh, Sayang, ini aku mau nyari minyak kayuputih dimana ya?”


“Hah? Kayuputih bukan disitu,”


“Ya abisnya nggak ada di meja rias ‘kan biasanya di situ,”


“Ya udah sini aku yang nyari, nih susu punya kamu,” ujar Shena pada suaminya seraya menghampiri sang suami. Ia menggantikan suaminya mencari minyak kayuputih setelah Ia serahkan susu buatannya itu kepasa Dio dan Ia menyuduh Ido untuk minum sambil duduk.


“Biar aku aja yang nyari deh, orang buman disitu kok, kamu kurang teliti kali nyari nya,” ujar Shena.


“Ya udah dimana coba? Orang biasanya—“


“Ya sabar nyari nya jangan buru-buru. Emang kamu butuh buat apa sih?”


“Buat dimainin,” jawab Dio dnegan asal.


“Ya buat gue pakel, Sayang,” jawab Dio.


“Udah sayang, pake lo lagi, aneh banget dengernya,”


“Hahahaha iya juga ya, masih belum biasa gue manggil sayang,”


Shena mencari kayuputih di meja rias dan ternyata ketemu. Ia langsung memberikannya kepada sang suami.


“Nah ini apa? Nyari nggak hati-hati sih,”


“Oh iya hehehe makaish ya,”


“Sama-sama, butuh bantuan aku untuk balurin?”


“Boleh-boleh, tolong balur di leher belakang aku ya,”


“Emang kenapa leher kamu?”


“Agak gatal, sama pegal,”


“Oh karena temenin aku main di timezone kali nih,”


“Ya elah nggak ada hubungannya, emang lagi pegal aja,”


“Ya tumben kamu pegal, gatal juga lagi,”


“Wajar lah, namanya juga badan, kadang ada sakit. ‘Kan kita bukan robot,”


“Ya emang siapa juga yang bilang kamu robot, Ganteng,”


“Hahaha ya makanya itu, Cantik. Kamu jangan merasa bersalah gitu. Ini bukan karena abis temenin kamu main, emang leher aku aku lagi pengen pegal dan gatal aja kali,”


Setelah membalur minyak kayu putih di leher suaminya Shena langsung menghela napas lega. Beruntungnya Dio belum sempat membuka laci dimana Ia menyimpan lima kotak susu untuk ibu hamil. Kalau Dio keburu membuka laci dan dia melihat semua itu, bisa gawat.


Dio akan sangat terkejut mengetahuinya. Dia pasti sudah bisa menebak susu ibu hamil itu punya Shena. Karena yang menghuni kamar itu hanya Dio dan Shena, di rumah ini juga tidak ada wanita yang kemungkinan sedang hamil kecuali Shena.


“Dih enak banget susu cokelat buatan kamu, Shen. Kenapa ya beda kalau aku buat sendiri?”


“Kamu emang manja,”


“Hehehe nggak apa-apa ‘kan sesekali aku manja sama istri sendiri?”


“Iya nggak apa-apa, aku nggak masalah kok ladenin suami aku yang lagi manja,”


“Aku mau tidur bentar ah, kepala aku agak pusing nih,”


Shena naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring dan diikuti oleh suaminya yang langsung mengusap kening istrinya itu.


“Kamu kecapekan kali ya?”


“Iya mungkin,”


“Ya udah istirahat deh, jangan ngapa-ngapain sulu. Aku takut kamu sakit,” ujar Dio.


Shena menganggukkan kepalanya dan coba memejamkan mata. Sekitar tiga puluh menit kemudian Shena tidur. Dio mempercepat proses tidur Shena karena mengusap kening Shena dengan lembut.


“Tidur nyenyak, Shenaku,” gumam Dio setelah itu meninggalkan satu kecupan di kening istrinya. Kemudian Dio beranjak meninggalkan kamar. Ia bosan di kamar dan tidak mengantuk, akhirnya Ia memilih untuk keluar dari kamar.


Ia ke dapur ternyata Mamanya sedang membaca buku resep, masih sama kegiatannya seperti sebelumnya. Ardina lagi senang melihat-lihat resep masakan, dan sekarang ini Ia sedang mencari referensi untuk memasak makan malam.


“Ma, ngapain?”


“Lagi iseng baca buku resep aja, kamu ngapain ke sini?”


“Mau ambil air putih, aku kayaknya mau renang aja deh,”


“Ih kok renang matahari masih agak pana sgino? Nyar sorean aja,”


“Aku bingung mau nhapain, jadi aku renang aja deh,”


“Istri kamu mana?”


“Shena tidur, Ma. Kepalanya pusing katanya barusan,”


“Ya Allah, tuh ‘kan kecapekan Shena. Tapi pas pergi sama kamu tadi Shena baik-baik aja ‘kan, Dio?”


“Ya udah jangan diganggu deh istirahatnya. Dia sekarang tuh daya tahan tubuhnya lemah ya? Gampang sakit. Jadi kasian Mama,”


“Iya aku juga mikir gitu, Ma,”


“Makanya kamu jagain Shen, jangan smapai dia kecapekan,”


“Iya, Ma,”


“Besok dan beberapa hari ke depan kamu ‘kan nggak ngawasin Shena ya, tapi kamu tenang aja, Mama yang bakal jagain Shena,”


“Okay makasih ya, Ma,”


“Sama-sama, Sayang,”


Dio mengambil air putih dingin setelah itu Ia bawa ke kolam renang. Ia langsung membuka bajunya kemudian menceburkan dirinya di dalam kolam renang dan sibuk berenang kesana kemari seorang diri.


Ardina menghampiri anaknya di kolam renang. Ternyata Dio benar-benar melaksanakan niatnya itu. “Udah dibilang sore aja renangnya, eh malah tetap berenang, bandel banget anak itu ya,”


Gumam Ardina sambil geleng-geleng kepala melihat putra semata wayangnya itu.


*******


Kurang lebih satu jam Shena terlelap, tiba-tiba Shena terbangun karena didesak dengan keinginan buang air kecil dan penyebab Ia bangun selain karena ingin buang air kecil adalah karena Ia tiba-tiba mimpi momen dimana Ia belum memberitahu Dio tentang kehamilannya. Shena tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Dulu aku setakut itu jujur sama Dio tentang kehamilan aku. Sekarang syukurnya Dio udah tau, dan Dio juga nerima. Bayangan aku ternyata nggak jadi kenyataan. Aku pikir dia bakal ngusir aku ternyata nggak. Aku pikir dia bakal nyuruh aku untuk musnahin anak kami ini, tapi ternyata itu semua nggak terjadi. Aku bisa-bisanya mikir kayak gitu hahaha. Gimana Dio nggak habis pikir,”


Shena mengusap perutnya dengan lembut dan mengajak anaknya itu bicara “Ternyata Papa kamu mau nerima, Nak. Kamu harus tau ya, Nak, Mama Papa nungguin kamu. Kami semua nggak sabar nunggu kamu hadir ke dunia,”


Setelah keluar dari kamar mandi, Ia baru sadar kalau suaminya tidak ada di dalam kamar. Tapi Shena melihat ponsel suaminya di nakas.


“Lah, Dio kemana ya?” Gumam Shena yang merasa bingung, padahal tadi suaminya ada di sebelahnya saat Ia akan tidur, tau-tau sekarang sudah pergi entah kemana.


Shena meraih ponsel suaminya yang tiba-tiba berkedip menandakan ada pesan masuk. Ternyata ada pesan dari teman kampusnya Dio. Shena tidak ingin membukanya karena tidak penasaran juga. Justru Ia malah salah fokus dengan wallpaper ponsel suaminya yang ternyata tidak dikunci.


“Ya ampun, wallpaper Dio foto aku. Sejak kapan dia pakai foto aku ya? Aku mau tanya langsung sama Dio ah,” ujar Shena seraya bergegas keluar dari kamar dengan membawa ponsel suaminya. Kalau ada bukti, Dio yang kemungkinan akan mengelak karena gengsi tentunya tidak akan bisa mengelak lagi karena sudah Ia berikan bukti.


“Hihi dia bakal bilang apa ya? Kayaknya nggak ngaku kalau aku nggak kasih buktinya,” batin Shena sambil senyum-senyum sendiri menuruni anak tangga.


Shena mengintip dari pintu masuk dapur barangkali suaminya ada di sana tapi ternyata cuma ada ibu mertuanya saja. Akhirnya Ia ke teras rumah barangkali suaminya di sana tapi ternyata tidak ada, Ia datang ke taman tidak ada juga, akhirnya Ia ke kolam renang barangkali saja suaminya di sana.


Ketika melihat suaminya ada di kolam renang sendirian, Shena tersenyum. Shena langsung mendekati kolam dan memanggil suaminya itu. Dio langsung berhenti ketika mendengar panggilan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah istrinya. Ia sudah hafal suara istrinya itu.


“Eh kamu kok udah bangun?” Tanya Dio seraya menghampiri istrinya yang sedang berdiri di teli kolam.


“Iya aku kebangun karena aku pengen pipis,” jawab Shena.


“Oalah, terus udah pipis?”


“Udahlah masa ditahan-tahan,”


“Kamu kenapa pegang telpon aku? Abis telepon siapa, Shen?”


“Oh ini, aku mau tanya sesuatu sama kamu,”


“Okay, mau tanya apa?” Tanya Dio seraya mengusap wajahnya dan Ia duduk mendongak menatap istrinya yang berdiri di tepi kolam sementara Ia masih ada di dalam kolam.


“Ini foto siapa?” Tanya Shena dengan wajah yang sengaja dibuat ketus supaya Dio panik sendiri. Dan apa yang Ia inginkan itu benar terjadi. Seketika wajah Dio panik.


“Aku nggak merasa nyimpan foto siapa-siapa deh,”


“Terus kenapa muka kamu panik?”


“Ya karena kamu salah paham, Sayang, makanya aku keliatan panik. Emang muka siapa sih? Kamu plis jangan salah paham dulu ya, aku tuh nggak tau foto siapa yang kamu liat di handphone aku tapi foto-foto mantan aku udah nggak ada kok, foto perempuan lain juga,” ujar Dio mengakui kalau di ponsel itu tidak ada foto perempuan lain.


“Nih liat sendiri!” Ujar Shena seraya mengarahkan layar ponsel kepada sang suami yang memicingkan matanya bahkan sampai lebih mendekat ke arah Shena supaya bisa lebih jelas mengenali foto perempuan yang sudah membuat Shena ketus seperti ini.


“Astaga, itu foto kamu,”


“Hahahaha ya emang foto kamu,”


“Ish kamu jahat amat sih. Aku pikir foto siapa tau,”


“Hahahaha cie panik,”


“Aku pikir foto siapa yang udah nangkring di handphone aku sampai bikin kamu salah paham kayak gini,”


“Aku sengaja bikin kamu panik hahahaha,”


“Jahat kamu ah,”


“Tapi kamu beneran nggak simpan foto perempuan lain di handphone kamu?”


“Nggak sama sekali, nggak ada foto siapa-siapa, kamu cek aja,”


“Nggak usah, aku percaya sama kamu. Lagian ya kalau misalnya kamu simpan foto perempuan lain juga nggak apa-apa kok,”


“Lho kok gitu sih? Kamu nggak cemburu gitu?” Tanya Dio dengan wajah yang kesal. Ia kesal karena istrinya malah kelihatan tak peduli kalau seandainya Ia menyimpan foto perempuan lain di ponselnya. Padahal Ia ingin istrinya cemburu karena itu tandanya Shena benar-benar mencintainya.


“Kalau nggak cemburu berarti kamu nggak cinta lagi ya sama aku?” Tanya Dil seraya beranjak meninggalkan kolam renang dan kini berhadapan dengan istrinya. Dengan badan yang maish basah kuyup Ia mengarahkan istrinya untuk lebih dekat dengannya, kedua tanganmya juga Ia gumakan untuk memeouk pinggang Shena.


“Ih kamu masih basah, baju aku ikutan basah deh,”


Saat Shena akan mundur menciptakan jarak, Dio menggelengkan kepala tidak mengizinkan. Kemudian Ia menatap Shena dengan sorot mata sedih.


“Apa kamu udah nggak cinta lagi sama aku?”


“Kata siapa?”


“Ya buktinya barusan kamu ngomong nggak apa-apa kalau misalnya aku simpam foto perempuan lain,”


“Ya makanya dengerin dulu aku ngomong sampai selesai,”


“Apa? Coba lanjutin ngomongnya kalau gitu,”


“Biarin aja kamu simpan foto perempuan lain di handphone kamu, aku doain handphone kamu rusak, terus semua data-datanya nggak bisa balik lagi aamiin,”


“Hahahaha, oh gitu,”


Pecah sudah tawa Dio. Jadi ternyata Shena sudah mempersiapkan harapan kalau-kalau Ia mendapati foto perempuan lain di ponsel suaminya.


“Itu tandanya kamu cemburu ‘kan?”


“Ya iyalah, siapa yang nggak cemburu kalau liat foto perempuan lain di handphone suami? Aku rasa semua istri di dunia ini bakal cemburu deh,”


“Ya bagus kalau gitu, tandanya kamu masih cinta sama aku,” ujar Dio sambil mencium bibir istrinya itu sekilas.


“Ih bibir kamu dingin banget, Dio,”


“Ya namanya juga abis berenang, Sayang,”


“Iya juga sih, okay sekarang aku mau nanya sesuatu sama kamu,”


“Tanya apa?”


“Sejak kapan kamu pakai foto aku untuk wallpaper?”


“Sejak—-sejak kapan ya? Hmm lupa sih aku,”


“Tapi ini ‘kan foto pas aku mandi bola ya?”


“Iya, lucu kan? Aku sengaja motret kamu diam-diam,”


“Ih romantis banget, kok aku nggak sadar ya,”


“Iyalah orang kamu fokus sama mandi bolanya, jadi kamu nggak sadar deh,”


“Hehehe makasih ya udah fotoin aku terus jadiin foto aku wallpaper,”


“Jangan bilang makasih ah, masa kayak gitu aja makasih,”


“Lho, aku emang harus bilang makasih ke kamu karena kamu tuh ternyata romantis juga. Udah ngambil foto aku diam-diam, terus kamu jadiin foto aku itu sebagai wallpaper handphone kamu,”


“Tujuannya supaya ingat aja gitu sama kamu, dan jadi kalau ada orang liat terutama perempuan yang mau caper ke aku, dia udah bisa tau nih kalau aku usah nggak sendiri lagi, buktinya wallpaper handphone foto perempuan, nyar kalau dia nanya aku jawab aja ini istri saya,”


“Hahahaha harus gitu ya?”


“Ya harus dong, biar kalau ada yang mau deketin mikiri ribuan kali dulu, soalnya saingan dia berat,”


“Aku saingannya?”


“Ya iyalah, emang siapa lagi istri aku? Cuma kamu aja jadi otomatis saingan cewek-cewek yang mau caper ke aku itu ya kamu, siangan mereka berat, jadi jangan macam-macam,”


“Halah bisa aja,”


“Ya udah nih aku balikin handphone kamu,”


“Jadi kamu nenteng handphone aku karena mau nanya soal ini aja, Shen?”


“Iya, aku soalnya tuh penasaran, kenapa kamu pakai wallpaper foto aku. Jujur alu nggak nyangka sih,”


“Lho, kenapa nggak nyangka? Ya harusnya kamu nyangka dong, aku ‘kan suami kamu jadi ya wajar-wajar aja aku pakai foto kamu untuk wallpaper handphone,”


“Ya tapi aku nggak mikir kamu bakal pakai foto aku, biasanya ‘kan cowok pakai foto pemandangan yang cantik, atau benda-benda mati gitu ‘kan? Nah ini kamu pakai foto aku,”


“Ya ngapain pakai foto wallpaper foto pemandangan yang cantik kalau istri aku lebih cantik? Dan buat apa juga pakai wallpaper foto beda mati? Jadi kurang menarik gitu untuk diliat, ya mending pakai foto kamu lah,”


“Hmm okay-okay makasih ya untuk fotonya, ntar kirim ke aku ya, aku suka juga nih sama hasil kamu fotoin aku tadi aps mandi bola di timezone,”


“Okay nanti aku kirim ke kamu ya, Sayang,”


“Makasih,”


“Sama-sama,”


“Nih handphone kamu, aku kembalikan ke tangan kamu,” ujar Shena sambil mengulurkan ponsel yang ada di tangannya kepada sang pemilik


“Pegang aja dulu sama kamu, aku masih basah kuyup gini, lagian aku mau lanjut berenang. Kamu temenin aku aja, duduk di situ,” ucap Dio sambil menunjuk kursi yang ada si tepi kolam di atasnya terdapat payung, dan juga ada meja bulat.


“Okay deh aku duduk di sana ya,”


Shena langsung mendekati kursi yang barusan ditunjuk oleh suaminya. Setelah itu Ia mengamati Dio yang aktif sekali di kolam renang.


Karena merasa bosan hanya memperhatikan Dio berenang, dan itu membuat Ia tergiur juga untuk berenang tapi Ia malas untuk basah-basahan akhirnya Ia bicara pada Dio.


“Dil, aku pinjam handphone kamu boleh nggak?”


“Boleh, pakai aja, Shen, ngapain harus izin segala sih,”


“Makasih ya,”


“Iya,”


Dio yang sempat berhenti berenang karena dipanggil istrinya tadi yang minta izin untuk pinjam ponselnya, sekarang kembali melanjutkan renangnya.


Shena membuka akun instagram sang suami yang tidak ada postingannya. Ia gulir beranda instagram suaminya itu dan menonton video-video lucu.


“Berandanya banyak video lucu hahahaha


Shena menonton satu persatu video dan itu berhasil membuatnya terhibur. Sepertinya sang suami sering juga menonton video yang menggelitik perut makanya tanpa Ia cari sudah ada di beranda.


“Iseng buka DM ah,”


Shena gulir direct message instagram suaminya, hanya ada obrolan dengan teman laki-lakinya sebanyak tiga orang. Ia buka obrolan mereka ternyata itu adalah teman semasa Dio sekolah, mereka saling bertegur sapa, setelah itu tidak ada obrolan lagi. Salah satunya juga ada yang teman kuliah Dio karena membahas tugas kampus.


“Sepi banget kehidupan sosmednya Dio ya,” guman Shena.


Setelah itu Shena meninggalkan instagram, dan Ia melihat aplikasi apa saja yang ada di ponsel suaminya, ternyata didominasi oleh game.


“Hadeh, game mulu deh yang aku liat,” gumam Shena.


Setelah itu Shena buka whatsapp, Ia gulir asal tidak kau terlalu tau, Ia hanya iseng saja membuka whatsapp, kemudian Ia beralih membuka galeri. Begitu Ia buka ternyata banyak juga foto-fotonya.


“Astaga, Dio koleksi foto aku ya? Kok bisa sebanyak ini?” Tanya Shena dengan wajah terkejutnya.


“Sejak kapan dia suka ngambil foto aku diam-diam? Lumayan banyak juga lho ini dan anehnya aku nggak pernah sadar,” batin Shena yang entah kenapa merasa senang, dan hatinya menghangat. Suaminya benar-bsnar seperti pengagum rahasinya. Memotretnya banyak kemudian tersimpan rapi di galeri nya.


Setelah itu Shena keluar dari galeri, dan tiba-tiba suaminya menyentuh bahunya. Ia tentu langsung kaget. “Ih kamu kenapa sih bikin kaget aku! Bilang dong kalau misalnya mau datang,”


“Hahaha kaget emangnya?” tanya Dio sambil tertawa, dan setelah itu Ia duduk di hadapan sang istri.


“Ia aku kaget tau,”


“Iya deh maaf,”


“Kamu ngapain, Sayang?”


“Lagi iseng aja buka instagram kamu, buka whatsapp kamu, ternyata banyak game di handphone kamu dan kenapa ada banyak foto aku di handphone kamu? Hmm? Kamu kapan fotonya sih? Kok aku nggak pernah tau?”


Dio meneguk air minumnya dulu sebelum menjawab dengan santai. “Ya kamu liat aja sendiri itu kapan waktunya, ‘kan ada tanggal-tanggalnya, Sayang. Intinya sejak aku mulai kagum sama kamu, aku naksir kamu, aku mulai tertarik untuk foto-foto kamu tanpa kamu tau, terus kadang aku suka perhatiin deh,”


“Beneran?”


“Ya beneran lah masa bohongs ih? Kamu nggak percaya?”


“Ya—-percaya sih, cuma kok bisa jadi orang bucin gitu kamu? Merhatiin foto aku emang nggak mau muntah apa?”


“Eh sembarangan! Kenapa aku harus muntah coba?”


“Ya karena liat foto aku,”


“Dih, justru aku senang tau,”

__ADS_1


“Kenapa senang?”


“Ya senang lah, aku berhasil ambil foto kamu diam-diam tanpa kamu tau jadi aku bisa liatin deh foto kamu kalau aku lagi kosong waktunya. Kok jadi muntah sih?”


“Ya kamu ‘kan udah ngeliat aku mulu tiap hari di di rumah, di kampus juga gitu, terus masih suka ngeliatin foto aku? Emang nggak bosan apa? Nggak mau muntah ya?”


“Ngeliatin cewek cantik nggak ada bosannya apalagi mau muntah. Jangan ngomong gitu lah, aku nggak suka ah,”


Shena terkekeh dan mengusap pipi suaminya itu. Dio kelihatan tidak senang mendengar kata-katanya barusan. Tidak ada cerita bosan apalagi mau muntah lihat foto Shena. Kalau suku Shena bicara begitu mungkin tidak Dio bantah, kalau sekarang akan Dio bantah dengan tegas.


“Iya okay deh kalau gitu,”


“Aku kaget banget waktu liat foto aku banyak di handphone kamu,”


“Hahaha, kamu kaget?”


“Iyalah, aku pikir kamu nggak sekurang kerjaan itu motoin aku,”


“Aku bukan kurang kerjaan. Asal kamu tau ya, motoin kamu tuh keinginan dari hati aku, jadi ya udah aku lakuin aja lah,”


“Bahkan foto kamu aja kayaknya tadi nggak aku temuin deh, yang ada cuma foto aku, terus sama foto dari dokumen-dokumen gitu yang aku liat,”


“Iya emang galeri aku isinya kayak gitu hahaha,”


“Foto kamu, aku jarang foto, terus yang paling banyak ya dokumen tentang kuliah atau kerjaan,”


“Galeri laki-laki emang begitu ya?”


“Aku nggak tau ya kalau isi dari galeri orang lain tapi galeri aku sih kayak gitu aja isinya,”


“Nih handphone kamu aku kembalikan ya,”


“Udah lega g aja dulu, pinjam sepuas hati kamu,” ujar Dio seraya tersenyum menatap istrinya itu.


“Aku tadi sempat nonton video-video lucu di beranda instagram kamu lho, kamu sering juga ya nonton video lucu di beranda?”


“Sering banget kalau lagi butuh hiburan, bosan nggak tau mau ngapain ya udah nonton yang lucu-lucu aja, daripada nonton gosip,”


“Aku jadi suka juga deh nonton video lucu,”


“Ya udah nggak apa-apa tonton aja, Shen. Untuk hiburan biar nggak stres, sh ngomong-ngomong tadi ‘kan kamu bilang kalau kamu pusing, sekarang gimana? Masih pusing? Atau udah mendingan?”tanya Dio sambil memijat lembut kening Shena hingga membuat Shena memejam karena rasanya nyaman sekali dipijat oleh Dio. Shena tidak pernah membayangkan bisa mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya mengingat awal pernikahan mereka tidak baik-baik saja.


Sekarang tidak ada rasa selain bersyukur karena suaminya sudah bisa menghargai keberadaannya, tidak menganggap Ia sebagai musuh lagi yang hampir setiap hari diperlakukan kurang baik oleh suaminya sendiri.


“Tangan kamu dingin,”


“Kayaknya enak ya pijatan aku sampai merem-merem gitu?”


“Iya rasanya mau tidur lagi nih. Satu dua tiga aku tidur!”


Tiba-tiba Shena bersandiwara menjadi orang tidur, yang kepalanya jatuh ke bawah dan Dio tertawa melihat kelakuan istrinya itu.


“Kamu kenapa sih? Menghibur banget deh,”


“Hehe biar kamu ketawa. Udah ah jangan mijitin aku terus, kamu capek lho,”


“Nggak apa-apa olahraga tangan,”


“Ya tapi kamu pegal, kamu harus panjangin tangan kamu untuk bis apinat kepala aku karena posisi kamu duduk di dpean aku,”


“Nggak apa-apa, pijat istri dapat pahala ‘kan ya? Nah aku lagi berusaha ambil pahala itu,” ijar Dio sambil tersenyum menatap istrinya.


“Udah cukup, aku nggak pusing lagi kok,”


“Bentar!”


Dio tiba-tiba beranjak meninggalkan kursinya kemudian Ia berdiri di belakang Shena dan Ia memijat Shena lagi.


“Ya ampun sampai pindah tempat kamu,”


“Ya nggak apa-apa biar makin leluasa,”


“Ih udah, aku nggak pusing lagi kok,”


“Tapi kamu kelihatannya nikmatin pijatan aku banget ya?”


“Iyalah, nggak aku sia-siakan, tapi beneran deh pijatan kamu endul, tau endul nggak?”


“Enak,” jawab Dio yang langsung diangguki oleh istrinya.


“Iyap betul, pijatan kamu endul,”


“Apa sih bahasanya endal endul udah kayak apaan tau,”


“Hahahaha kenapa sih kamu? Aku seorang dengar itu dari teman-teman aku jadi aku kebawa deh,”


“Endul itu bahasa apaan sih?”


“Nggak tau cuma pelesetan dari kata enak aja, ih random ah obrolan kita. Kenapa jadi bahas endul coba?”


“Ya kamu yang mulai, Shen,”


Dio benar-benar memijat istrinya dengan lembut dan itu membuat Shena nyaman sekali hingga terbuai ingin lanjut tidur.


“Udah, aku mau masak nih,”


“Ntar aja,”


“Ih aku mau masak, awas ah,”


Shena akan beranjak meninggalkan kursi namun ditahan kedua bahunya oleh sang suami. Kepala Shena mendongak menatap suaminya yang berdiri di belakangnya dna kini menundukkan kepala hingga kening mereka bersatu.


“Nggak apa-apa sih aku pijat dulu bentar, jangan nolak kebaikan suami dong,”


“Aku aja pernah ‘kan minta tolong pijitin sama kamu,”


“Ih tapi itu jarang banget, terakhir kapan tuh,”


“Ya udah jadi nggak apa-apa dong kalau misalnya aku pijat kamu juga sekarang,”


Shena pasrah saja sekarang. Suaminya tidak mau Ia menghentikan pijatan. Bisa-bisa Ia tertidur sungguhan di kursi ini karena pijatan suaminya di kepala memang benar-benar membuatnya terbuai ingin tidur.


“Ini aku sampai kapan dipijatnya?”


“Sampai—-nggak tau sampai kapan,”


“Sampai kamu capek ya,”


“Kayaknya sih nggak bakal capek,”


“Ya udha nggak usah lagi deh, kamu kerjainan deh, nanti tangan kamu kram lho mijitin aku lama-lama,”


“Okay sebentar lagi ya, Nona. Kamu ceritanya klien aku ya,” ucapan Dio itu mengundang tawa Shena. Bagaimana Shena tidak tertawa kalau suaminya sekarang bersikap seolah-olah sedang melayaninya sebagai klien.


“Jadi ini kamu ceritanya buka jasa pijat dan aku pelanggan kamu gitu?”


“Iya bener,”


“Ya ampun, Dio,”


Shena tidak bisa menahan tawanya karena lelucon suaminya yang sedang alih profesi ceritanya.


“Kamu ada-ada aja,”


“Maksudnya bagaimana, Nona? Apa pijatan saya kurang endul?”


“Hahahaha endul juga yang disebut,”


“Bagaimana? Endul ya?”


“Endul banget, Mas, makasih ya,”


“Sama-sama, Nona,”


“Sekarang saya rasa sudah cukup ya, Mas. Saya mau masak dulu,”


“Kamu manggil aku Bang dong,”


“Eh kamu panggil aku kayak gitu lagi dong,” pinta Dio yang tiba-tiba rindu mendengar Shena memanggilnya dengan sebutan Mas seperti itu.


“Kamu emangnya mau aku panggil kayak gitu lagi? Bukannya waktu itu kamu nggak bolehin aku manggil Mas atau apapun itu selain nama ya? Karena kata kamu pernikahan kita bukan kayak pernikahan orang lain, kamu nggak perlu ikut-ikutan istri di luar sana yang manggil suaminya pakai sebutan kayak Mas, dan lain-lain,”


Tiba-tiba Dio berhenti memijat kepala istrinya itu. Kemudian Ia membuang napas panjang, dan menunduk mencium bibir sang istri yang masih mendongakkan kepalanya sehingga mudah bagi Dio untuk memijat kepalanya dna juga sekarang mencium kening ataupun bibirnya. Tinggal Ia menunduk dan menempelkan bibirnya pada target, dan Ia berhasil mengecup.


“Aku emang pernah sejahat itu sama kamu, bahkan soal panggilan pun, aku ngatur kamu segitunya. Maafin aku ya, Sayang,”


Shena tersenyum dan menarik lembut tangan suaminya supaya duduk berhadapan lagi dengannya, kemudian Ia menggenggam tangan Dio setelah Dio duduk.


“Kamu nggak usah minta maaf, barusan aku cuma mau mastiin aja, kamu beneran serius mau aku panggil kamu kayak gitu lagi? Soalnya waktu itu kamu pernah marahin dan aku nggak mau kejadian itu terulang lagi makanya aku nanya untuk sekedar memastikan aja sebenarnya,”


“Iya aku serius, aku pengen kamu manggil aku kayak gitu lagi, kalau dipanggil dengan sebutan itu nggak tau kenapa hati aku jadi hangat, terus aku merasa senang aja gitu, dulu sebenarnya juga gitu kok, cuma ketutup sama rasa benci aku ke kamu jadi apapun yang kamu lakuin, apapun yang keluar dari mulut kamu jadinya salah terus di mata aku. Aku minta maaf untuk semuanya ya, Shen. Maaf udah bikin kamu jadi merasa serba salah waktu itu dan makasih juga udah mau paham kalau aku butuh waktu untuk nerima kamu dan lupain masa lalu aku, makasih banyak untuk semuanya,”


“Iya, udah ah jangan mellow gitu dong mukanya,”


Shena mengusap rahang suaminya yang kelihatan murung, kedua matanya berkaca. Shsna langsung menggenggam kedua tangan suaminya lagi dengan erat.


“Okay mulai sekarang aku panggil kamu Mas Dik lagi, gimana?”


Dio tersenyum sumringah mendengar itu. Ia langsung mencium tangan Shena berulang kali dan itu membuat Shena tertawa.


“Makasih ya, aku senang banget dengarnya, sediusan,” ujar Dio setelah mencium tangan istrinya itu.


“Ya udah sekarang aku mau ke dapur dulu ya, kamu mau lanjut renang atau udahan?”


“Aku udah selesai,”


“Kamu lupa belum bawa handuk ya?”


“Astaga? Iya aku lupa, Shen,”


“Ya udah aku ambil dulu tunggu bentar, Mas


Shena langsung pergi meninggalkan Dio yang senyum-senyum sendiri mendengar istrinya memaggil Ia dengan sebutan yang dulu lagi, sama seperti awal mereka menikah.


Waktu itu Ia tidak suka sekali kalau Shena memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’ walaupun tidak bisa dipungkir ada rasa senang karena Ia merasa sangat dihargai dengan panggilan seperti itu, tapi karena Dio sering mendengar para istri di luar sana memanggil suaminya dengan sebutan serupa dan pernikahN mereka adalah pendikahan yang ‘normal’ sementRa pernikahannya dnegan Shena itu asbaliknya jadi Ia tidak senang ketika Shena menyamai padahal jelas-jelas beda.


Maka dari itu Ia marahi Shena dan Ia minta Shena untuk memanggil namanya saja tanpa ada sebutan apapun di depan atau dibelakang namanya. Itu menggambarkan betapa asingnya mereka, walaupun suami istri dan memang itulah yang diinginkan oleh Dio supaya Shena sadar diri.


“Nih handuk kamu, Mas,” ujar Shena sambil berjalan ke arahnya dengan membawa handuk.


“Bilas dulu ya sebelum masuk ke dalam,” ujar Shena seraya mengisyaratkan suaminya untuk membilas badannya terlebih dahulu di tempat pembilasan dan Dio menganggukkan kepalanya.


“Makasih ya,”


“Sama-sama, Mas. Aku mau ke dapur dulu,”


“Masak apa buat makan malam?”


“Itu kayaknya Mama udah mulai masak deh, Mas. Makanya aku mau bantuin. Mama udah aku bilangin biar aku aja yang masak sh malah Mama yang masak,”


“Ya mungkin Mama nggak mau kamu kecapekan kali,”


“Padahal niatnya smang abis tidur dulu baru masak,”


“Ya udah nggak apa-apa, ‘kan smang Mama yang nggak ngasih kamu masak, kamu disuruh istirahat,”


“Aku ke dapur dulu ya, Mas,”


“Okay, Sayang,”


Shena berjalan menuju dapur sementara suaminya ke tempat pembilasan untuk membilas badannya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.


*****


“Ma, ya ampun aku padahal udah niat abis tidur mau masak, tapi udah keburu Mama duluan yang masak,”


“Nggak apa-apa, Sayang,”


“Aku bantuin, Ma


“Ih nggak usah, kamu kok cepat banget sih tidurnya? Bukannya baru tidur ya kata Dio?”


“Iya tadi kebangun karena mau buang air kecil, Ma. Terus nggak tidur lagi deh.”


“Oh gitu, Dio udah selesai berenang?”


“Udah, Ma, lagi bilas tuh,”


“Mama mau masak apa, Ma?”


“Soto betawi sama perkedel kentang, Sayang,”


“Wow enak banget tuh,”


“Semoga kamu nafsu makannya nanti ya,”


“Pasti nafsu, Ma,”


“Udah saja ke kamar aja,”


“Mama gampang kok ini, bumbu soto udah jadi, tinggal celup-celup aja lagi,


“Aku buat perkedel kentangnya kalau gitu ya, Ma,”


“Duh anak ini kok bandel ya dikasih taunya, nggak usah, Sayangku, biar Mama aja, kamu nggak usah repot-repot,”


“Nggak repot kok, Ma, biar aku bantu ya, Ma,”


Shena tetap mau membantu ibu mertuanya itu. Ia yang mengambil alih perkedel kentang, sementara Ardina sedang menumis.


Mereka sering bekerja sama di dapur, biasanya bertiga dengan Bibi juga tapi Bibi sedang pulang menjenguk anaknya jadi kali ini hanya mereka berdua saja yang bekerja sama di dapur.


*******


Dio langsung masuk kamar mandi untuk menggunakan shampo, sabun, dan menyikat giginya setelah berenang. Setelah itu Ia keluar dari kamar mandi dengan penampilan segarnya. Ia langsung mengambil baju sendiri karena sepertinya Shena lupa menyiapkan baju dan Dio tidak mempermasalahkan itu.


Setelah berpakaian Dio mengeringkan rambutnya menggunakan handuk di depan cermin. Kemudian Ia menyisir rambutnya yang setengah basah itu. Tak lupa menggunakan minyak wangi. Ia harus tetap wangi meskipun di rumah saja.


“Dah ganteng, dah wangi, jadi Shena betah,” gumamnya smabil terkekeh.


Dio meraih remot televisi di nakas dan Ia tak sengaja melihat ponsel istrinya yang berkedip-kedip karena ada panggilan masuk. Dengan cepat Ia keriah ponsel istrinya itu dan membaca nama si penelpon.


Seketika rahangnya mengeras setelah tahu kalau Steve kembali menghubungi istrinya. “Ini si setipen maunya apa sih? Ganggu istri gue aja, gue blokir tau rasa lo ya!”


Dio langsung memblokir kontak Steve, beberapa hari diam tidak ada tanda-tanda kehidupan sekarang Steve menghubungi istrinya lagi.


“Hah rasain gue blokir nomor lo biar nggak bisa hubungin istri gue lagi mampus lo!”


Dio meletakkan ponsel sang istri di nakas lagi sambil bergumam “Semoga aja dia nggak hubungin Shena lagi, kalau dia masih nekat hubungin istri gue. Wah benar-benar cari masalah dia,” batin Dio.


Dio menghidupkan televisi dan Ia duduk di tepi tempat tidur mencari saluran televisi yang menarik untuk Ia tonton.


Kebanyakan acara infotainment dan Dio tidak tertarik sama sekali. “Sore-sore gini kok ada acara gosip sih?” Ia menggerutu sambil terus mengotak atik remot televisi.


Ketika berhasil menemukan acara pertandingan sepak bola, Ia langsung tersenyum sumringah padahal sebelumnya mudung karena seringnya dapat acara gosip yang tidak Ia sukai sama sekali. Makanya apa yang terjadi dalam dunia selebriti benar-benar tidak Ia ketahui sedikitpun.


Dio pindah posisi menjadi duduk bersandar di kepala ranjang menatap televisi dan setelah itu fokus menonton televisi. Sekitar satu jam Dio menonton televisi, tiba-tiba ada panggilan tapi bukan dari ponsel melainkan istrinya yang baru masuk ke dalam kamar.


“Mas,”


“Iya kenapa, Shen?”


“Aku ada sesuatu buat kamu,”


Dio mengernyitkan keningnya ketika sang istri masuk-masuk membawa sesuatu di tangannya dan raut wajah gembira Shena tidak bisa ditutupi.


“Kamu bawa apa itu?”


“Ini aku beli baju buat kamu di online,”


Shena membuka kemasan belanjaan online nya yang sudah datang. Setelah melihat baju pesanannya sudah ada di depan mata, Ia langsung menyerahkannya kepada Dio.


“Coba kamu dong yang buka ‘kan kamu yang beli, Sayang,”


“Okay coba ya kita buka,”


“Kamu beliin buat aku doang, Shen?”


“Iya aku sengaja beli buat kamu aja soalnya aku liat lucu dipakai sama kamu,”


Shena menunjukkan baju yang kemasannya sudah Ia buka kemudian Ia minta pendapat suaminya yang langsung tersenyum melihat gambar di kaos biru tua yang saat ini dipegang oleh sang istri.


“Ini beneran buat aku?”


“Iyalah beneran buat kamu, masa aku bohong sih,”


“Ya ampun, makasih ya,”


“Sama-sama, senang nggak?”


“Senang banget, tapi kok kamu kepikiran ngambil yang ganbar ini? Aku penasaran deh alasan kamu,” ujar Dio seraya meraih baju yang telah dibelikan oleh istrinya itu kemudian Ia tatap bordiran di kaos yang dibeli oleh sang istri.


Ada gambar seorang laki-laki dewasa yang sedang bertekuk lutut di hadapan seorang anak kecil perempuan. Shena tertarik membeli itu karena maknanya sampai sekali ke hatinya. Ia jadi teringat bagaimana papanya memperlakukan Ia bagai ratu. Ia berharap kalau anak mereka perempuan, Dio bisa memperlakukan anak mereka layaknya ratu juga.


“Soalnya aku suka sama gambarnya, lucu dan menurut aku berkesam banget,”


“Iya sih memang, kesannya nyampe ya. Ini gambar ayah sama anak perempuannya ‘kan?”


“Iya bener, aku beli itu sebenarnya juga karena teringat sama papa aku yang sikapnya tuh baik banget ke aku dan aku dianggap kayak ratu sama Papa aku,”


“Okay-okay aku paham sih makna nya apa. Tapi ‘kan—aku belum—aku belum punya anak, Shen. Dan kalaupun punya anak nih, emang anak aku perempuan?”


“Ya aku ‘kan jatuh cinta sama gambarnya ya. Jadi nggak apa-apa dong aku beli aja? Walaupun kita belum punya anak atau kalau nantinya anak kita bukan perempuan ya nggak masalah, baju ini ‘kan bagus, aku beli ya karena suka ganbarnya, makna, kesan nya tuh dapet banget di aku. Makanya aku beli deh,”


“Jangan-jangan ini pertanda kalau nanti aku bakal punya anak perempuan?”


Shena terdiam mendengar ucapan Dio yang sekarang senyum-senyum sendiri mengamati gambar di kaos pemberian sang istri.


“Jangan-jangan iya nih anak aku cewek nanti,”


“Anka kamu doang nih? Anak aku juga dong,”


“Iya maksud aku, anak kita. Kayaknya iya deh cewek makanya kamu kepikiran beli ini,”


“Nggak tau deh, tapi terlepas dari apapun itu intinya adalah aku senang sama gambarnya,” ujar Shena.


“Iya sama, aku juga senang, Sayang. Makasih ya udah dibeliin baju yang penuh kesan, penuh makna ini, aku senang banget,”


Dio langsung memeluk istrinya kemudian mencium puncak kepalanya betulang kali.


“Makasih ya, Sayang,”


“Iya sama-sama,”


“Semoga kamu suka ya,”


“Aku suka banget, aku mau langsung lake nih sekarang juga,”


“Eh jangan, nanti aja pakenya kalau udah aku cuci setrika, okay?”


“Emang kenapa kalau dipakai sekarang?”


“Ya nggak usah sekarang juga, Mas. Aku cuci dulu biar kamu pakainya nyaman, dan bersih nggak gatal, takutnya kotor,”


“Tapi ini bersih kok, aku juga nggak alergi baju baru alias harus cuci dulu baru pakai,”


“Udah pokoknya ini aku cuci dulu ya, Mas. Jangan bandel kalau dikasih tau, okay?”


“Hmm padahal aku mau pakai sekarang lho,”


Entah kenapa Dio antusias sekali ingin mengenakan baju pemberian istrinya saat ini juga.


“Nanti ya, aku cuci dulu, aku strika suku nah kalau udah, baru deh aku kaish ke kamu, Mas, okay?”


“Okay, aku nggak sabar pakainya karena dibeliin sama istri dan gambarnya bagus, ada maknanya gitu. Aku anggap itu harapan kamu ya, Shen, kamu berharap nanti kalau misalnya kita punya anak, apapun jenis kelaminnya, aku bisa memperlakukan mereka dengan baik, apalagi kalau anak perempuan,”


“Iya, aku berharapnya kayak gitu,”


“Okay, mudah-mudahan aku bisa penuhi harapan kamu itu ya, semoga aku nggak ngecewain anak kita nanti, nggak ngecewain kamu, nggak ngecewain penciptanya juga. Aku berharap bisa jadi figur ayah yang baik untuk anak kita kelak,”


“Aamiin,”


“Aku pasti nanti banyak kurangnya deh, aku minta maaf ya, Sayang. Aku bakal belajar terus pastinya,”


“Iya, aku juga banyak kurangnya nanti, emang kamu doang,” ujar Shena seraya terkekeh.


“Kita ‘kan masih sama-sama baru jadi orangtua,” ujar Shena.


Shena membuang bungkusan paketnya ke tempat sampah kemudian Ia meletakkan baju baru milik suaminya di tempat cucian setelah itu Ia mengulurkan tangan mengajak suaminya untuk beranjak keluar dari kamar.


“Sholat, udah maghrib,”


“Ayo,”


“Abis itu kita makan ya,”


“Makan dimana?” Tanya Dio pada istrinya.


“Di meja makan lah,”


“Aku pikir kamu ngajakin aku makan di luar,”


“Nggak, di rumah aja, Mama masak,”


“Masak apa tuh?”


“Ntar liat aja sendiri aku yakin kamu suka deh,” ujar Shena pada suaminya yang langsung tersenyum antusias.


“Masakan kamu sama Mama tuh nggak pernah gagal jadi nggak sabar deh pengen tau apa yang dimasak,”


“Ya makanya sekarang sholat dulu ayok,”


“Kaki aku kesemutan, makanya belum bangun nih,”


“Yah, terus gimana dong, Mas?”


“Ya tunggu bentar aja,”


“Aku ambil wudhu duluan boleh?”


“Boleh dong, Sayang,”


Shena menganggukkan kepala lantas bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu Ia menyiapkan peralatan sholat untuknya dan juga sang suami.


“Jangan dipaksa kalau masih kesemutan, Mas. ‘Kan jadi susah jalan aku sering begitu,”


“Iya tunggu bentar ya,”


Dio menunggu tidak sampai lima menit, setelah kakinya sudah baik-baik saja, rasa tidak nyamannya hilang, Ia langsung beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah itu Ia langsung mulai beribadah dengan istrinya sebagai makmum. Selepas menjalankan kewajiban sholat maghrib sebanyak tiga rakaat dan berdoa, Shena langsung mencium tangan suaminya dan suaminya mengecup keningnya.


“Shen, ntar kalau kamu nggak malas, kita jalan malam yuk,”


“Hah? Kamu mau jalan malam kemana? Besok ‘kan mau pergi ke Lombok,”


“Ya justru itu, makanya aku mau ngajak kamu jalan soalnya besok aku pergi,”


“Cuma pergi bentar aja kok, nggak usah murung gitu dong,”


“Ya gimana nggak murung, aku bakal ninggalin kamu, Shen,”


“Aku baik-baik aja di sini, Dio. Ya udah yuk kita ke ruang makan,”


Dio menganggukkan kepalanya, setelah melipat sajadah, kain panjang dan mukena yang mereka gunakan untuk sholat, mereka berdua langsung bergegas ke ruang makan.


“Dio, besok nggak jadi ke Lombok ya, tunda minggu depan,”


Baru tiba di ruang makan, Dio langsung dapat informasi dari papanya bahwa besok tidak jadi berangkat ke Lombok.


“Seriusan, Pa?”


“Iya, minggu depan,”


“Okay aku mau liburan ke luar negeri deh kalau gitu sama Shena ya, Pa, Ma?”


“Kemana?”


“Itali, mumpung ada waktu gitu,”


Shena membelalakkan kedua matanya kaget. Suaminya belum membahas apapun dengannya tiba-tiba punya rencana ke Italia.


“Yah Mama udah siapin liburan buat kalian ke Bali. Udahlah ke Bali aja dulu,”


“Hah? mama udah siapin liburan ke Bali?” Tanya Dio yang langsung diangguki oleh Mamanya.


“Iya Mama udah siapin semuanya kalian tinggal berangkat, ya sebagai pengganti kamu ke Lombok lah istilahnya,”


“Yah, Ma, kenapa nggak bilang-bilang dulu kalau mau nyiapin liburan ke Bali? Aku padahal mau ajak Shena ke luar negeri,”


“Dio, nggak boleh gitu, harus bersyukur dong dikasih liburan sama Mama,” bisik Shena.


Sekarang Shena langsung mendorong pipi suaminya dengan telunjuk setelah menceritakan bagaimana tidak terimanya Dio ketika diberikan liburan oleh mamanya.


Baru saja Shena diajak berlibur oleh Dio ke luar negeri tepatnya Italia seperti apa yang pernah mereka bahas beberapa waktu lalu, tapi Ia mengingatkan Dio bahwa Dio pernah menolak liburan dari mamanya. Pada akhirnya memang diterima hanya saja kelihatan kurang menikmati liburan.


“Ya itu karena aku udah bosan liburan di Indonesia mulu, Sayang. Aku pengennya ke luar negeri,”


“Ih kayak liburannya tiap hari aja. Nggak boleh ngomong gitu tau, kita itu harus bersyukur, Mas,”


“Iya-iya, aku bersyukur banget, Sayang, tapi aku tuh sebenarnya udah bosan kalau liburannya ke situ lagi, pengen ke tempat yang lebih jauh. Tapi kandungan kamu mungkin belum kuat kali ya, okay deh nggak apa-apa, kapan aja kamu dan anak kita siap,”


“Mas, aku pengen buat toko online gitu boleh nggak?”


“Nggak, ngapain sih? Kamu kecapekan nanti,”


Dio langsung tidak setuju mendengar keinginan sang istri. Shena diminta dokter untuk banyak istirahat. Tidak perlu ada kegiatan yang membuat lelah.


“Tapi aku pengen, Mas,”


“Jangan, Sayang,”


“Plis, nanti kalau misalnya kandungan aku udah kuat, boleh ya? Soalnya aku pengen banget ada kesibukan tapi yang nggak mengikat aku gitu lho, kalau punya usaha sendiri ‘kan lebih enak, aku nya nggak begitu kelelahan, nanti aku rekrut karyawan. ‘Kan aku udah pernah bahas sama Mas, kok tiba-tiba Mas nggak setuju sih? Bukannya udah sempat bilang iya?”


“Aku kayaknya berubah pikiran,”


“Ah jangan dong. Boleh ya? Plis banget, aku pengen buka toko online sendiri, Mas, sebenarnya aku pernah sih punya pengalaman kayak gitu, aku pernah punya toko online kecil-kecilan waktu itu dan udah sempat punya karyawan juga cuma berhenti karena niatnya emang di masa depan pengen mulai dengan jenis yang beda. Kalau waktu itu makanan sekarang pengen baju. Waktu itu aku berhenti karena emang makin hari makin sepi. Nanti kalau aku punya toko online lagi aku tinggal minta pegawai aku yang udah aku anggap keluarga aku sendiri untuk bangun usaha bareng-bareng lagi sama aku,”


Akhirnya Dio menganggukkan kepalanya setuju. Shena langsung bertepuk tangan riang. “Yeayyy makasih ya, Mas,”


“Sama-sama, tapi kalau udah kuat ya, udah gedean hamilnya Insya Allah udah kuat,”

__ADS_1


“Iya siap, Mas,”


Tiba-tiba obrolan mereka berhenti karena ada kabar mengejutkan dari Tania, istri Sehan yang mengalami keguguran. Yang menyampaikan itu adalah Ardina. Tentu saja mereka semua langsung bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk Tania.


__ADS_2