Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 36


__ADS_3

“Akhirnya kamu pulang juga,”


Shena senang sekali ketika suaminya pulang. Ia tidak bisa tidur kalau Dio belum sampai di rumah. Sampai pukul dua belas malam, Dio belum pulang-pulang juga dan Shena semakin disergap dengan rasa khawatir.


“Ini baru jam dua belas lewat, gue lumayan sering kok pulang tengah malam gini, ya walaupun nggak sering-sering banget sih sebenarnya. Semenjak nikah sama lo aja gue jadi nggak pulang tengah malam lagi, diomelin nyokap pasti jadi gue males,”


Shena terkekeh mendengar ucapan suaminya. Ternyata dengan kehadiran dirinya, Dio jadi merasa ruang geraknya terbatas. Shena yang merasa bersalah, langsung meraih kedua tangan suaminya dan menggenggam dengan lembut.


“Aku minta maaf ya. Maaf udah bikin kamu jadi nggak bebas,”


“Tapi emang sebenarnya dulu sebelum ada lo, gue suka diomelin juga sih kalau gue pulang malam. Makanya gue males kalau ketauan pulang malam, apalagi setelah ada lo pasti nyokap tambah marah. Gue nggak mau pusing diomelin sama nyokap bokap, terutama nyokap yang cerewet banget,”


“Dio, jangan ngomong begitu. Mama Papa punya alasan marahin kamu kalau pulang terlambat apalagi sampai tengah malam. Mereka khawatir,”

__ADS_1


“Ya tapi ‘kan gue anak laki-laki,“


“Tetap aja, yang namanya anak, pasti selalu bikin orangtua khawatir kalau udah pulang malam,”


Dio berdecak sambil melepaskan genggaman tangan Shena yang langsung tertegun. “Jangan pegang-pegang tangan gue deh, lo mau modus ya? Aneh, biasanya juga cowok yang modus, kok ini elo?”


“Maaf, aku nggak sengaja pegang tangan kamu,”


“Nggak apa-apa, gue mau mandi, lo kenapa nggak tidur? Lo nungguin gue?”


“Kenapa malah nunggu gue? Harusnya lo tidur aja lah,”


“Mana bisa aku tidur? Aku nggak bakal tenang kalau kamu belum sampai rumah,”

__ADS_1


Dio terkekeh, sudah Ia duga alasan Shena belum tidur adalah karena dirinya belum sampai di rumah. Kebiasaan Shena selama menjadi istrinya memang begitu.


“Maaf ya gue pulang malam banget kali ini,”


“Iya nggak apa-apa. Eh tapi kamu abis minum ya? Keliatan beda lho matanya, dan aroma mulut kamu juga—hmm aku nggak suka bau minuman itu,” ujar Shena seraya menatap suaminya sambil mengernyitkan hidung.


Sebenarnya sejak tadi Shena sudah mendapatkan aroma yang tak biasa dari mulut suaminya, ditambah lagi sorot mata Dio yang kosong tidak fokus membuat Shena jadi ounya dugaan kuat kalau suaminya itu baru menenggak minuman alkohol.


“Iya gue abis minum, tapi gue nggak mabok kok, cuma agak pusing aja sih, sama lemes,”


“Sama aja kamu minum, dan kalau aku boleh jujur aku nggak suka. Lain kali jangan ya. Apalagi kamu ‘kan harus pulang ke rumah bawa kendaraan sendiri. Aku takut kamu kenapa-napa. Ini untungnya kamu sampai di rumah dengan keadaan baik-baik aja,”


Dio menganggukkan kepalanya, dan Ia akan melangkah ke kamar mandi namun Shena menahan lengannya.

__ADS_1


“Kalau ada sesuatu yang ganggu pikiran kamu, jangan segan untuk cerita ke aku ya, aku siap kok jadi pendengar yang baik buat kamu. Jangan ceritanya ke orang lain, atau kamu lampiasin dengan cara kayak begini. Bahaya juga buat kamu,”


Shena menduga Dio minum malam ini karena ada satu dan lain hal yang mengganggu pikirannya, dan Dio bingung ingin melampiaskannya kepada siapa, akhirnya Dio pergi ke kafe bersama teman-temannya untuk menikmati minuman dengan kadar alkohol.


__ADS_2