Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 72


__ADS_3

“Bue, hati-hati ya, semoga kamu dan Papa sampai di rumah dengan keadaan sehat dan selamat, aamiin,”


“Aamiin, makasih ya doanya. Kamu baik-baik di rumah sama Mama ya. Nanti aku bakal sering kasih kabar ke kamu, Shen, supaya kamu nggak khawatir,”


“Okay aku tunggu,”


Shena menganggukkan kepala sambil tersenyum hangat. Ia akan selalu menantikan kabar dari suaminya yang tampan itu.


Hari ini adalah hari keberangkatan Dio dan Papanya ke Lombok untuk menyelesaikan utusan pekerjaan. Dio yang mendampingi Papanya. Kali ini cukup berat radanya harus meninggalkan Shena. Tapi apa boleh dikata. Dio punya tanggung jawab pekerjaan dengan Papanya. Ia diberikan uang, dan Ia harus ada kontribusi.


Lagipula Shena selalu meyakinkan dirinya bahwa Shena akan baik-baik saja di rumah. Entah kenapa Dio berat seklai harus pergi, padahal dulu kalau mau pergi tidak ada rasa berat sedikit pun untuk meninggalkan Shena. Dio rasa, ini ada hubungannya dengan rasa cinta yang sudah Ia miliki untuk Shena. Ia jadi ingin dekat dengan Shena, memastikan Shena baik-baik saja, dan tidak ingin sedetikpun melewatkan momen bersama Shena.


“Pokoknya kamu tenang aja, Dio. Shena aman kok sama Mama, kamu jangan khawatir ya, Nak,”


“Iya makasih banyak ya, Ma,”


“Sama-sama. Kamu di sana juga baik-baik sama Papa ya, sering kabarin kami yang di rumah,”

__ADS_1


“Siap, Ma,”


Shena dan Ardina mengantarkan Dio dam juga Papanya sampai di bandara. Setelah sesi pamit berakhir, barulah Dio dan Sakti bergegas melangkahkan kaki mereka menuju burung besi yang akan membawa mereka meninggalkan ibukota.


Ardina tersneyum menatap menantunya dari samping, kemudiam Ia mengusap punggung Shena yang maish menatap ke depan, dimana suaminya semakin menjauh.


“Sedih ya? nanti juga sering dikabarin kok, Sayang. Kita berdoa aja smeoga mereka berdua sampai di rumah dengan keadaan sehat selamat dan kita bisa kumpul lagi deh,”


“Aamiin,”


Mereka berjalan menuju mobil. Sampai di mobil, Shena malah mual. Padahal sebelumnya Ia tidak merasakan mual sedikitpun.


“Duh, Ma. Aku mau ke kamar mandi sebentar boleh nggak, Ma?” Tanya Shena sambil membuka pintu mobil. Belum dapat izin tapi Ia sudah tidak kuat lagi di dalam mobil.


“Iya boleh, Sayang. Ayo Mama temenin,”


“Nggak usah, Ma. Aku sendiri aja, sebentar ya, Ma,”

__ADS_1


“Oh gitu, iya okay,”


Shena langsung bergegas cepat menuju kamar mandi meninggalkan Ardina yang kebingungan. Ia cukup terkejut karena tiba-tiba menantunya pamit mau ke kamar mandid an kelihatan tergesa-gesa.


“Udah kebelet banget kayaknya,” gumam Ardina yang tidak tahu kalau sebenarnya yang membuat sang menantu tergesa-gesa itu adalah keinginannya untuk memgeluarkan isi perut. Shena tidak kuat menahan ya.


Ardina menunggu di dalam mobil dan ketika ponsel Shena yang tertinggal berdering, Ardina langsung meraihnya. Ada panggilan masuk dari anaknya yang segera Ia jawab.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, aku belum masuj pesawat, Shean mana, Ma?“


“Shena lagi ke kamar mandi, kenapa telepon Shena?”


“Nggak apa-apa, iseng aja,”


“Heleh bilang aja kamu udah kangen sama dia,” goda Ardina yang mengundang tawa Dio. Dio tidak mengelak karena memang itu kenyataannya. Baru juga pisah kurang lebih lima menit tapi Ia sudah merindukan Shena hingga akhirnya memutuskan untuk menghubungi Shena yang ternyata sedang bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2