
“Lho, kok disingkirin?”
Shena menggelengkan kepalanya sambil terus menahan napas. Shena sengaja menyingkirkan piring berisi ayam goreng yang terhidang di meja makan saat Ia dan Dio hendak makan pizza.
“Kamu kayaknya lagi musuhan sama ayam goreng ya? Kok tiba-tiba dorong ayam gorengnya ke aku?”
“Nggak apa-apa, pengen lega aja depannya aku,”
Shena pikir akan hilang rasa mualnya akibat ada ayam gorneg di depan mata, ternyata tidak juga padahal sudah Ia dorong ke dekat Dio. Akhirnya Ia putuskan untuk mengajak Dio makan di kamar saja.
“Makan di kamar yuk,”
“Hah? Kok tumben? Biasanya juga mau makan di meja makan,”
“Nggak mau, di kamar aja yuk sekarang,”
“Alasannya apa?”
“Pengen aja di kamar, di balkon gitu, Dio,”
Akhirnya Dio mengangguk. Walaupun permintaan istrinya terkesan aneh tapi Ia turuti. Sekarang ini kalau tidak memenuhi permintaan Shena rasanya tidak tega dan tidak tenang.
Akhirnya mereka membawa pizza bagian mereka ke kamar. Setelah masuk kamar, barulah Shena bisa menghela napas lega. Akhirnya Ia tidak melihat ayam goreng lagi. Ia tidak mual lagi. Beruntungnya Dio tidak memaksa makan di meja makan walaupun sebenarnya Shena tahu Dio sudah siap sekali untuk mulai makan. Akan tetapi Dio mau-mau saja pindah tempat.
Mereka ke balkon kamar. Sudah ada puzza dan es campur. Benar-benar perpaduan yang pas untuk dio yang sejak siang sudah menginginkan makanan dan minuman itu.
“Kita kenapa tiba-tiba pindah ke balkon, Shen?”
“Nggak apa-apa, emang kenapa?”
“Aneh aja gitu. Tiba-tiba kamu ngajakin pindah,”
“Pengen di balkon, enak ‘kan angin malam di balkon sambil makan pizza dan es,”
“Semoga kamu nggak mual ya,”
“Malah di meja makan aku mual, Dio. Gara-gara liat ayam goreng dan aroma ayam goreng. Aneh banget, padahal biasanya aku suka banget sama ayam goreng. Kok sekarang malah kebalikannya ya? Benar-benar aneh selera makan aku selama hamil,”
Shena hanya bisa berbicara di dalam hati saja. Ia belum bisa jujur dengan kondisinya sendiri karena kandungannya belum disampaikan juga kepada Dio.
“Untung aja es nya masih ada ya, Shen,”
“Iya, emang rezeki kita karena benar-benar biat kita aja itu sisanya,”
Dio terkekeh melihat di sudut bibir Shena terdapat noda dari saos pizza. Ia langsung membersihkan menggunakan punggung jarinya.
“Semangat banget makannya,”
“Iya dong, enak abisnya,”
“Kamu suka?”
“Suka, malah suka banget,”
“Udah lapar ya?”
“Iya,”
“Besok kita staycation yuk,”
Shena langsung terbatuk mendengar ucapan suaminya yang tiba-tiba mengajaknya untuk staycation.
“Hati-hati dong, Shen
Dio mengusap punggung istrinya dengan kembut karena Shena masih batuk setelah mendengar ucapannya.
“Kamu harusnya hati-hati, batuk pas makan itu ‘kan sakit banget,”
”Aku cuma kaget aja tiba-tiba kamu ngajakin aku staycation. Emang dalam rangka apa?”
“Kita belum pernah pergi berdua yang bsnar-benar kemauan kita berdua. Waktu itu sempat pergi berdua sebutannya sih bulan madu tapi ‘kan kayak bukan bulan madu dan itu pun disuruhs ama orangtua kita. Iya ‘kan? Jadi sekarang aku pengen ajak kamu staycation berdua sekarang dan ini benar-benar kemauan kita berdua,”
“Kalau aku sih pergi berdua kapanpun sama kamu selalu aku mau kok, nggak aku anggap paksaan,”
“Ya tapi beda cerita sama gue, Shen. Gue ‘kan merasa terpaksa terus kalau elrgis ama lo, entah itu yang sbeutannya bulan madu atau yang pergi tujuannya liburan biasa aja,”
“Ya udah terserah kamu. Kamu mau ngajak aku kemana?” Tanya Shena pada suaminya itu. Shena senang diajak liburan berdua olehs uaminya dan Ia penasaran ingin diajak kemana.
“Ya…menurut kamu kemana?”
“Nggak tau, aku bingung,”
“Hotel mana aja ya?”
”Iya terserah kamu,”
“Hotel daerah Jawa barat aja ya?”
Shena menganggukkan kepalanya. Ia diajak kemanapun juga senang. Selagi berdua dengan suami.
Setelah menikmati pizza dan es campur yang nikmatnya luar biasa, mereka masih duduk-duduk dulu di balkon sambil menunggu makanan yang di perut turun dulu.
“Shen, siap-siapnya besok aja jangan malam ini, kita berangkat sore aja gimana?”
“Iya boleh biar santai aja, jadinya buru-buru kalau kita berangkat pagi,”
“Nah itu dia,”
“Eh tapi kita belum bilang Mama Papa, terus gimana dong?”
Dio tersenyum mendengar ucapan istrinya. Kenapa terlihat cemas belum dpaat izin dari krnagtua tapi sudha punya rencana?
Mereka sudah menikah, justru orangtua mereka senang kalau mereka ingin menghabiskan waktu bersama.
“Ya terus kenapa?”
“Kita belum minta izin, boleh nggak ya kira-kira,”
Dio tertawa mendengar ucapan Shena dan tawanya Dio itu membuat Shena bingung. “Kok ketawa sih kamu?”
“Ya kamu aneh, makanya aku ketawa. Pasti boleh lah. Masa iya nggak dibolehin? Kita ‘kan mau pergi staycation di hotel nih, status kita udha suami istri masa iya dilarang? Nggak mungkin, jadi kamu tenanga ja. Pasti lrangtua kita bolehin. Kamu pikir kita ini masih bocah gitu? Kalau maish SMA mau staycation berdua di hotel ya udah pasti nggak boleh. Selagi belum nikah, berduaan di tempat tertutup itu nggak dibenarkan. Tapi kalau udha nikah boleh-boleh aja. Mau berduaan di tempat tertutup kek, terbuka kek, ya suka-suka aja. ‘Kan udah nikah,”
“Iya sih, bener juga ya kamu,”
“Kamu aneh-aneh aja. Mas atakut nggak diizinin sama orangtua? Nggak mungkinlah,”
Dio terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Ia merasa aneh karena istrinya itu cemas tak dapat izin, mana mungkin orangtua mereka tidka memberi izin. Kecuali kalau mereka belum menikah, sangat wajar dilarang. Setelah menikah tak ada alasan untuk melarang.
Dio akan membooking kamar melalui aplikasi online namun mendapat larangan dari Shena. “Besok aja, kita belum ngomong sama Mama Papa masa udah booking sih?”
“Ya nggak apa-apa lah,”
“Ntar kalau ada halangan apa gitu, sayang uangnya karena kita nggak jadi berangkat,”
“Bayar di sana ‘kan bisa deh kayaknya, Shen,”
“Oalah ya udah,”
“Kamu kenapa tiba-tiba kepikiran mau ngajakin aku staycation, Dio?” Tanya Shena pada suaminya yang sednag sibuk dnegan ponsel.
“Nggak tau kenapa tiba-tiba kepikiran aja dna kebetulan besok ‘kan nggak ngampus,”
“Kamu nggak kerja emangnya? Nanti Papa nggak ada yang bantuin, gimana dong?”
“Papa ngerti orang cuma dua malam aja kok,”
“Oh kita dua malam di sana? Emang nggak terllau lama ya itu?”
“Emang lama? Menurut aku nggak sih,”
“Ya udah terserah kamu, berarti dua malam ya? Besok jangan lupa diomongin sama Mama Papa,”
Dio menganggukkan kepalanya. Setelah itu Ia meletakkan ponselnya di atas meja yang berhadapan dnegan kursi balkon.
“Tidur yuk,”
“Aku belum ngantuk, lagian baru juga makan, masa iya udah tidur aja?
“Main game yuk, mau nggak?” Tanya Shena pada suaminya yang langsung mengernyitkan kening.
“Mau main game apa, Shen?”
“Ular tangga,”
Tawa Dio pecah seketika. Yang benar saja, sudah dewasa masih bermain ular tangga. Shena masih punya sisi kekanakan yang lumayan terlihat ternyata.
“Kamu yakin ngajakin aku main ular tangga? Kita ‘kan udah dewasa,”
“Ya emang main ular tangga cuma untuk anak kecil aja? ‘Kan nggak, Dio,”
“Astaga, kamu kayak bocah deh. Padahal kamu udha bis abikin bocah,”
“Heh sstt! Kamu ngomong apa sih?”
Dio langsung mengulum bibirnya. Ia dianggap salah telah bicara seperti itu. Dan langsung mendapat peringatan dari istrinya yang berdesis sambil melotot tajam.
“Tapi apa yang aku omongin barusan emang benar ‘kan? Kenapa sih kamu malah negur aku?”
“Ya salah, kamu nggak seharusnya ngomong begitu tau,”
“Lho, salahnya dimana?”
“Ya harusnya jangan ngomong kayak gutu, nggak baik, nggak sopan,”
“Orang nggak ada yang dengar juga selain kamu sama aku kok. Lagian nih ya, apa uang aku omongin ‘kan emang benar, seratus persen fakta. Kamu itu kayak bocah apdahal udah bis abikim bocah,”
“Bukan bisa lagi, emang udah ada di rahim aku sekarang, Dio,” barin Shena sambil menyentuh perutnya sebentar.
“Kamu nggak suka kalau aku kayak bocah?”
“Kata siapa? Ya suka-suka aja lah,”
“Ya udah ayo main ular tangga,”
“Ya okay-okay aku ikut maunya kamu aja deh,”
“Beneran?”
“Iya, sekarang kalau nggak nurutin maunya kamu, aku merasa bersalah, lagian nggak tega nolaknya,”
“Kenapa emang? Waktu itu perasaan biasa-biasa aja nolak permintaan aku, kamu tega-tega aja,”
“Iya gue juga nggak tau kenapa. Tapi bukannya bagus ya? Daripada gue bodo amatan kayak waktu itu, nggak mau tau gimana perasaan lo, suka-suka hati gue untuk nolak permintaan lo,”
“Iya aku senang kamu yang kayak gini pastinya, makasih ya. Sekarang kita mulai game nya di handphone aku aja,” ujar Shena seraya mengambil ponselnya di dalam kamar, kemudian Ia kembali lagi ke balkon.
“Shen, ganti handphone ya?”
“Hah, nggak kok ini handphone lama, dari sebslum nikah juga handphone aku udah ini, masa kamu nggak sadar sih? Ya ampun saking cueknya, saking nggak pedulinya sama aku kali ya jadi hanphone aku aja kamu nggak pernah kenal?”
“Iya emang gue dulu bodo amat sama lo, nggak peduli sama lo, cuek banget, tapu gue tau handphone yang biasa lo pakai,”
__ADS_1
“Nah ya udah, terus kenapa ngiranya aku ganti handphone?”
“Shena, yang barusan itu bukan pertanyaan,”
Dio meraih tangan istrinya kemudian Ia genggam dengan erat. Shena bingung dengan maksud ucapan suaminya. “Terus apa dong kalau bukan pertanyaan?”
“Aku lagi nawarin kamu ganti handphone mau ya? Gitu maksud aku lho, bukan aku nanya kamu ganti handphone atau nggak,”
“Oh ngomongnya bikin aku bingung, aku pikir kamu nanya handphone aku ganti ya? Ternyata itu nawarin aku untuk ganti handphone. Nggak usah ah, aku ras ahandohone aku ini masih layak banget, aku belinya juga belum lama kok, sebelum nikah sama kamu,”
“Iya sih modelnya juga masih yang baru, cuma ganti aja biar sama kayak aku, mau ya? Besok kita beli,”
“Nggak usah, Dio. Ngapain, ngabisin uang aja deh. Ini handphone aku maish bagus banget kok. Jangan diganti duku. Sayang kalau diganti. Ini dibeliin Papa aku,”
“Ya jangan dibuang lah, disimpan aja tapi aku beliin yang baru,”
“Nggak usah deh kapan-kapan aja. Udah cukup pakai ini dulu,”
Dio menghela napas pelan. Ia kecewa karena istrinya menolak padahal Ia ingin iatrinya mempunya handphone yang sama dengan handphone miliknya.
“Ah walaupun dia nolak, mau tetap gue beliin yang baru ah. Kalau udah gue beliin pasti sia nggak akan bisa nolak lagi,” batin Dio sambil tersenyum.
“Nggak usah beliin handphone stau apapun yang nggak aku minta, Dio. Kalau aku nggak minta tandanya aku belum butuh jadi mggak usah dibeliin,”
“Kalau nungguin kamu minta nggak bakal minta-minta. Sampai lebaran gajah kayaknya nggak bakal minta,”
“Ya ‘kan aku punya uang dari kamu masa masih minta? Hehehe,”
“Eh nggak apa-apa, nggak ada larangan kok. Kadang ‘kan ada yang pengen dibeliin sama suaminya meskipun pegang uang. Apalagi kalau misalnya uang kurang—“
“Nggak, kamu selalu kasih aku uang lebih dari cukup biarpun kamu jdues juga hahaha,”
“Ya usah lah kalau kamu nggak kau aku beliin handphone. Padahal mumpung aku baik nggak pelit lho,”
“Kamu emang baik kok aslinya, dulu lagi penyesuaian aja sama aku, dan kamu nggak pelit kok aku tau itu,”
Sambil beemain ular tangga mereka mengobrol sampai tidak sadar kalau waktu audah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
“Eh udah jam segini, Shen. Tidur yuk, kamu nggak boleh kurang-kurang tidur, nanti sakit lagi,”
“Yah padahal aku belum—“
“Belum apa? Tidur ayok, jangan tidur terlalu malam nggak bagus buat kamu,”
“Buat kamu juga lah,”
“Kalau aku sih udah biasa ya tidur malam, nggak apa-apa ya walaupun besoknya bangun kesiangan sih,“
“Kamu ngomongin aku jago banget ntar sakit lah, ntar inilah padahal kamu sendiri juga suka tidur malam,”
“Aku sakit nggak apa-apa, kalau kamu kangan deh,”
“Ih nggak ada yang boleh sakit tau!”
Dio mengulurkan tangannya hendak menggenggam tangan istrinya itu. Shena langsung menerima ukuran tangan suaminya.
Satu tangan Dik gunakan untuk membawa gelas bekas mereka minum es campur dan Shena membawa sisa pizza yang tidak habis oleh mereka.
“Itu pizza dioanasin aja besok ya, Shen. Aku mau sarapan itu aja,”
“Emang nggak apa-apa makan pizza pagi-pagi?”
“Ya nggak apa-apa lah, emang kenapa?”
“Hmm nggak apa-apa deh hehehe,”
“Tapi besok aku niatnya mau buat bubur ketan hitam sama kacang hijau, kamu nggak mau ya?”
“Eh serius? Ya mau lah, aku mau banget. Beneran nih?”
Shena nenganggukkan kepalanya. Ia sudah niat untuk membuat bubur hijau dan ketan hitam untuk menu sarapan besok.
“Nggak jadi sarapan pakai pizza nih?”
”Jadi, selagi bisa masuk ke perut bakal aku makan semua hahaha,”
“Mudah-mudahan pizza nya masih enak ya samlai besok, sayang kalau udah nggak enak jadi terpaksa kebuang,”
“Ya kalau emang nggak enak lagi harus dibuang, Shen. Jangan sayang-sayang, kamu cukup sayang sama aku aja?”
“Lah?”
Dio tertawa melihat wajah Shena yang bingung. Jarang Shena mendengar suaminya bicara seperti itu.
Mereka menyikat gigi dan juga mencuci muka. Setelah itu Shena menggunakan skincare malamnya, sementara suaminya sudah langsung mendarat di atas tempat tidur.
“Shen, sikat gigi sama cuci muka udah bareng barusan, yang belum pernah bareng apa ya?”
“Nggak tau, emang apa? Kalau makan udah seirng banget bareng Alhamdulillah kamu nggak pernah jajan lagi di kuar, udah makan masakan aku terus,”
“Ada yang belum pernah bareng, Shen,” ujar Dio sambil berbaring miring menatap istrinya yang masih duduk di hadapan cermin meja rias.
“Iya apa itu?”
“Mandi,”
“Heh?”
Shena spontan menoleh ke arah suaminya yang baru saja mengatakan kalau mereka belum pernah mandi bersama.
“Hahahaha biasa aja dong mukanya. Sampai melongo gitu kamu, mata kamu juga bulat banget jadinya, atu-ati gelinding tuh matanya,”
Wajar saja reaksinya seperti itu. Karena bisa-bisanya Dio kepikiran seperti itu disaat waktunya Ia tidur.
Shena mendadak ingin sengaja berlama-lama di depan cermin. Karena ada ras atakut malam ini Dio meminta sementara Ia sedang menghindari itu. Karena kehamilannya masih terbilang cukup muda. Shena lupa juga bertanya pada dokter apa diperbolehkan kalau masih awal seperti ini.
“Shen, masih lama?”
“Hmm? Emang kenapa?”
Shena semakin curiga ketika ditanya seperti itu oleh Dio. Biasanya ada yang diinginkan oleh Dio kalau Sio sudah dalam mode tak sabaran seperti ini.
“Emang kenapa?”
“Ya nggak apa-apa,”
“Kamu tidur duluan aja,”
“Hah? Kok gitu sih? Aku pengen barengan sama kamu tau,”
“Ya udah—hmm—tunggu aja,”
“Ya tunggu sampai kapan? Lo lama banget, make cairan apa itu di muka kayak dihayatin banget,”
“Hahaha bukan dihayati emang harus pelan-pelan biat teredap sempurna,”
“Ya elah udah kayak bintang iklan aja lo,”
“Hahaha kamu kenapa sih cerewet banget deh,”
Shena semakin tidak tenang. Ia semakin yakin kalau Dio ‘mau’ makanya sampai menunggu Ia selesai menggunakan skincare padahal Ia bisa tidur lebih dulu, biasanya kalau duaah mengantuk juga seperti itu. Tidak ada tunggu menunggu.
“Kamu udah ngantuk ‘kan pasti? Mending tidur duluan aja ujar Shena pada suaminya itu.
“Ntar aja ah,”
“Lho, emang kenapa?”
“Ya nggak apa-apa, bareng aja kita,”
“Waduh gimana ini?”
Shena melipat bibirnya ke dalam, detak jantungnya semakin tidak terkendalikan. “Suh, masalahnya boleh atau nggak ya? Aku takut, aku sih nggak ada niat nolak Dio cuma kalau membahayakan janin aku gimana? Lagian kalaupun boleh, aku kayaknya takut banget deh, soalnya usia dia maish kecil banget,” batin Shena.
“Shen, kok malah ngelamun? Kenapa? Ati-ati kesambet lho. Malah depanan sama kaca pula,”
“Ih jangan ngomong gitu dong,”
“Bercanda, Shen. Lagian ngapain coba diam aja nayap kaca? Mikirin apa lo? Hmm?”
“Nggak—nggak mikir apa-apa. Cuma capek aja,”
Shena menggunakan alasan itu saja, biar Dio paham. Sebelum Dik minta, Ia sudah cegat di awal dengan alasan bahwa Ia lelah.
“Ya udah kalau capek buruan lah pakai skin care itu. Lama banget lo,”
“Iya sabar
Shena tidak bisa lebih lama lagi di depan meja rias yang ada Dio curiga. Yang biasnaya tidak lama-lama menggunakan skuncare, kenapa malam ini jadi seperti disengaja supaya lama? Dio akan berpikir yang tidak-tidak nanti.
Shena menyudahi kegiatannya itu kemudian Ia beranjak meninggalkan kursi. Dan Ia berjalan menuju tenpat tidur dimana diaminya sudha bebearing dna tersenyum menyambutnya. Ia berbaring ragu-ragu, karena sangat gugup.
“Kenapa sih?”
Dio mendapati gerak-gerik istrinya yang aneh maka dari itu Ia bertanya. Karena Ia bingung istrinya itu seperti ragu mau tidur atau tidak.
“Ayo buruan tidur lah,”
Dio menarik tangan istrinya yang masih duduk menatapnya. Shena mengangkat alis dan Dio menganggukkan kepala.
“Ayo buruan tidur,”
“Tidur?”
“Iyalah tidur, masa mau yoga? Atau kamu emang mau yoga ya?”
“Nggak-nggak, aku mau—aku mau tidur aja soalnya aku udah ngantuk banget,”
“Nah ya udah ayo buruan tidur,”
Shena berbaring telentang sambil mengiggit bibirnya dan mati-matian mentralisir rasa gugupnya. Apalagi ketika Dio memeluknya dengan erat dan mencium tengkuknya.
“Katanya mau tidur,”
“Ya emang kenapa? Nggak holeh kalau aku peluk kamu?”
“Ya—boleh cuma—“
“Takut aku minta lebih? Ya kalau emang begitu kenapa? Nggak boleh ya,”
Dio berbaring telungkup dan mengangkat kepalanya dan tepat berada di atas kepala istrinya sehingga wajah mereka berdua berhadapan sekarang. Salah satu tangan Dio masih memeluk perut istrinya dan tangan satunya lagi Ia gunakan untuk menumpu beban tubuhnya sendiri.
“Aku mau nih, Shen,”
Shena langsung menjauhkan kepalanya dari jangkauan Dio ketika Dio hendak mendaratkan ciumannya. Karena perlakuan Shena itu, Dio bingung.
“Biasanya kamu nggak pernah gini,” ujar Dio.
“Aku ‘kan udah bilang, aku capek,”
“Hmm..kamu nolak ya?”
__ADS_1
“Aku capek,”
Dio terlihat kecewa namun Ia tersenyum. Walaupun sebenarnya Ia bingung kenaoa istrinya menolak padahal biasnaya delah apapun juga Shena tidak masalah Ia sentuh. Malam ini Ia bisa melihat berbeda. Disentuh sedikit saja, Shena seperti tidak nyaman. Dan ketika Ia minta dengan terang-terangan, Shena menolak dengan alasan lelah.
“Mungkin ini Shena benar-benar lagi capek banget. Ya udah biarin deh, gue harus paham,”
Barin Dio sambil menciptakan jarak dari istrinya. Ia tidak mungkin memaksa walaupun ingin. Selama ini Shena tidak menolak kalau Ia ingin, baru kali ini saja dan Ia harus paham karena Shena sudah menyampaikan penyebab Ia menolak malam ini.
“Dio, aku minta maaf ya,”
“Iya nggak apa-apa, santai aja. Gue paham kok,” ujar Dio sambil tersneyum menatap istrinya yang berbaring tepat di sebelah kirinya.
“Kamu marah?”
“Nggak lah, masa gue marah,”
“Aku minta maaf ya,”
“Iya, gue tadinya mau pakai pengaman malam ini, Shen. Ya jaga-jaga aja berhubung gue udha pernah bilang ‘kan sama lo kalau gue belum siap. Nah tapi gue baru ingat gue nggak punyanitu. Jadi ada positifnya juga sih lo nolak gue. Soalnya selama ini kita kalau ngelakuin nggak pernah pakai pengaman,” ujar Dio yang malah menyakiti hati Shena.
Ternyata Dio sudah punya niat bila hendak melakukan hubungan dengannya ingin menggunakan pengaman, karena sebesar itu rasa tidak siap Dio untuk punya anak.
“Aduh, kok sesak banget ya rasanya. Percuma juga kamu pakai itu, Dio. Anak kita udah ada. Terus gimana caranya supaya kamu bisa nerima? Bahkan untuk ngomong ke kamu pun aku maish bingung. Aku takut kamu benar-benar nolak. Aku udah bayangin reaksi kamu nantinya bakal gimana,” batin Shena sambil berbaring miring membelakangi Dio dan mencengkram selimut yang menutupi badannya. Tanpa sadar Shena menjatuhkan air matanya.
“Aku tau sakit banget rasanya ditolak. Dan aku nggak siap anak aku ngerasain sakitnya itu,”
Shena mengusap perutnya dengan lembut, menyapa anaknya dan menenangkan anaknya. “Nak, Mama nggak tau kapan siapnya untuk ngomong. Tapi Mama tau cepat atau lambat Papa kamu harus tau,”
“Shen, lo udah tidur?”
Shena buru-buru menyusut air matanya. Ia juga menarik napas panjang dan berdehem menjawab suaminya.
“Oh belum tidur,” gumam Dio menyimpulkan setelah mendnegar suara istrinya menjawab.
“Kamu sendiri kenapa belum tidur?”
“Belum ngantuk gitu rasanya. Kamu sendiri gimana?”
“Iya sama,”
“Tidur, Shen. Kamu nggak boleh tidur malam-malam,”
“Kamu juga dong, ‘kan kita sama-sama manusia yang butuh istirahat cukup,”
“Iya sih, tapi kalau aku ‘kan cowok, daya tahan tubuh aku pasti kebih kuat dibandingkan kamu, lagian udah biasa juga aku tidur malam,”
“Aku juga biasa kok, kalau belum ngantuk aku pasti tidurnya malam,”
“Ayo tidur sekarang. Satu dua tiga kita harus tidur ya,”
Dio langsung merengkuh istrinya tidak erat setelah itu Ia memejamkan mata. Ia mengusap perut Shena yang berbaring menunggunginya.
“Nggak tau kenapa ya kok gue sekarang hobi kegang perut lo, Shen,”
“Ya mana aku tau,”
“Biasanya nggak lho, kenapa belakangan jadi suka usap perut lo ya? Aneh banget,”
“Ya mungkin tangan kamu gatal kali,”
“Ya masa gatal dipakai buat usap perut sih, kalau gatal ya digaruk,” ujar Dio yang mengundang kekehan Shena.
“Itu munhkinmungkin suruhan hati kamu. Walaupun kamu belum tau kalau kamu punya cakon nak sekarang, tapi hati kamu suruh kamu ngelakuin itu jadi walaupun kamu belum tau, kamu tetap bisa bikin anak kita nyaman,” batin Shena sambil meraih tangan suaminya yang ada di perutnya kemudian Ia usap punggung tangan suaminya itu dengan lembut.
“Tidur ya,”
“Iya kita hatus tidur, besok mau staycation ya walaupun sore sih berangkatnya,”
Tidak lama dari situ, Dio terlelap, disusul oleh Shena. Posisi mereka masih sama. Shena membelakangi Dio yang merengkuhnya dari belakang tidak begitu erat.
******
Dio bangun terlebih dahulu dari istrinya karena Ia ingin buang air kecil. Kebetulan sebentar lagi adzan jadi Ia sekalian memgambil air wudhu dan Ia bangunkan Shena yang pagi ini tumben tidak bangun lebih dulu.
“Shen, bangun udah pagi,”
Shena mengerjapkan matanya perlahan sambil meregangkan badannya. Setelah Ia membuka mata, Ia kaget melihat Dio sudah basah wajahnya.
“Lho kamu uah bangun duluan?”
“Iya kebelet banget tadi,”
“Terus? Ngompol nggak?”
“Ya kali ngompol. Nggak lah, gue nggak ada cerita ngompol lagi. Ayo buruan bangun, ambil wudhu sana,
“Okay, tunggu sebentar ya,”
Dio menganggukkan kepalanya. Setelah Shena masuk kamar mandi, Dio yang berinisiatif untuk membereskan tempat tidur mereka. Dio ingin mengurangi sedikit pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh istrinya.
Ketika Ia menata bantal, tiba-tiba Dio mendnegar Shena muntah darid alam kamar mandi. Sio buru-buru menghampiri Shena di kamar mandi.
“Astaga, Shen. Kamu kenapa?”
“Huwekk,”
Dio buru-buru keluar dari kamar mandi dan mengambil minyak aromaterpai, kemudian Ia kembali lagi ke kamar mandi untuk membalurkan minyak tersebut di tengkuk istrinya.
“Duh, kamu kenapa sih kok jadi mual? Ini masih pagi lho,”
Shena masih terus-terusan muntah tapi kali ini isinya sudah habis. Rasa mual itu belum juga hilang.
“Duh, Shen. Lo masuk angin lagi ya?”
“Nggak tau,”
“Ke dokter aja deh,”
“Nggak,”
“Lo jangan gitu, masa tiba-tiba masuk angin lagi sih, padahal ‘kan udah sembuh,”
“Kamu nggak tau aja tiap kamu belum bangun aku meang mual-mual kayak gini, Dio. Ini bukan masuk angin sebenarnya,” batin Shena.
“Shen, ke rumah sak—“
“Dio jangan paksa bisa nggak sih?!”
Shena sedang lelah karena mualnya dan Dio mengajaknya menemui dokter. Sebenarnya Ia tidak sakit, jadi kesal ketika diajak ke rumah sakit atau diperiksa oleh dokter.
“Kok lo jadi marah sih? Gue tuh nggak mau lo kenapa-napa! Bisa ‘kan nolak pakai cara yang baik?!”
Shena langsung menangis ketika Dio membentaknya, tepat di sampingnya. Bahkan Dio berhenti memijat tengkuknya setelah itu Dio keluar dari kamar mandi.
Shena menangis terisak dengan kedua tangan bertumpu pada wastafel. Mualnya hilang, tergantikan dengan rasa sedih akibat dibentak oleh Dio barusan.
Shena terlalu sensitif pagi ini, tapi Dio tidak bisa menghadapinya dengan baik, malah ditanggapi dengan emosi. Shena tahu niat baik suaminya tapi karena Ia memang sedang lelah akibat mual, dan Ia merasa tidak sakit jadi Ia tidak suka ketika suaminya mengajak Ia ke rumah sakit.
Sayangnya Dio tidak bisa memahaminya dan sekarang malah menjauh darinya. Shena sekarang menyalahkan dirinya sendiri sudah membuat Dio sakit hati dan memilih untuk pergi.
Shena membersihkan mulutnya dengan air mengalir setelah itu keluar dari kamar mandi. Ternyata suaminya tidak ada lagi di kamar.
Shena menghembuskan napas kasar, laku duduk di tepi ranjang. Ia mengambil minyak kayuputih yang dielatkkan oleh Dio di atas nakas sebelah tempat tidur kemudian Ia balurkan di perut, dada, leher belakangnya, dan juga keningnya.
Setelah itu Shena berbaring di atas ranjang. Setelah muntah, pasti Ia akan merasa lemas sebentar setelah istirahat sebentar biasanya membaik dan bisa beraktifitas seperti biasa.
Tidak lama kemudian Dio datang ke kamar dengan membawa air putih hangat. Ia letakkan di atas nakas.
“Ayo minum dulu biar enakan perut lo,” ujar Dio dengan nada datar.
“Nanti dulu,” ujar Shena.
“Jangan nanti-nanti, jangan susah kalau diaksih tau. Gue cuma pengen lo baik-baik aja,”
Karena tidak mau meningulkan perdebatan akhirnya Shena beranjak duduk dan suaminya langsung mengulurkan air minum yang sudah Ia ambilkan barusan.
Shena senang karena biarpun Dio sedang kesal tapi Dio tetap perhatian kepadanya. Dio tidak benar-benar meninggalkannya sendirian. Sekarang Dio duduk di sebelahnya sambil mengamati Ia minum.
“Gimana? Udah mendingan belum?” Tanya Dio pada Shena setelah istrinya itu minum.
“Udah mendingan, makasih ya, maaf aku udah bikin kamu marah barusan. Maaf udah bentak kamu,”
Dio hanya diam tak menanggapi permintaan maaf istrinya itu. Tapi Shena tetap tersenyum. Ia paham suaminya masih sakit hati karena tiba-tiba Ia menolak niat baik Dil dengan cara yang kasar.
“Udah adzan tuh, sholat sekarang yuk,” ajak Dio pada istrinya.
“Kamu duluan ya? Aku masih pengen baringan, aku lemas banget,“
Dio mengangguk tidak keberatan, Ia segera mengambil wudhu lagi setelah buang air kecil. Setelah itu Ia melaksanakan ibadah shubuhnya sendiri.
Shena berbaring kirang lebih sepuluh menit barulah Ia mengambil air wudhu dan segera sholat sendirian, sementara suaminya sudah turun ke lantai dasar. Selesai sholat, Shena menyusul suaminya itu.
Ia hendak membuat bubur kacang hijau dan ketan hitam. Bahan-bahan sudah Ia siapkan semalam. Tapi ternyata sudah didahului oleh ibu mertuanya.
“Mama, biar aku aja yang bikin, Ma,”
“Nggak apa-apa, Sayang. Biar Mama aja. Kamu kok turun? Kata Dio kamu masuk angin lagi ya?”
“Iya, Ma. Tapi udah baikan banget kok, Ma,”
“Ya udah biar Mama aja, kamu tuh jangan capek-capek dulu,”
“Aku nggak capek kok, Ma. Aku jadi keduluan Mama deh. Jadi Mama yang bikin buburnya. Aku minta maaf, Ma,”
“Jangan minta maaf dong, Sayang. Kamu nggak salah. Kita ‘kan mau makan bareng-bareng jadi ya nggak amsalah Mama yang masak, kasian kamu sibuk terus,”
“Sibuknya nggak sendiriam kok, selalu dibantu Mama sama Bibi. Oh iya Dio kemana ya, Ma?”
“Jalan pagi sama Papa,”
*******
“Jadi tadi tuh aku kelepasan bentak dia karena aku kesal, Pa. Bisa-bisanya dia marah ke aku padahal aku saranin dia ke rumah sakit biar dia periksa. Kenapa dia jadi sering masuk angin gitu. Eh dia malah bentak aku,”
Dio bercerita pada Papanya yang saat ini menjadi temannya untuk jalan pagi di sekitar rumah.
“Ya udah sabar lah jangan marah-marah. Suasana hatinya Shena lagi buruk mungkin, jadi bawaannya kesal sekalipun yang kamu omongin itu punya tujuan yang baik,”
“Aku kesal lah, Pa. Dia susah banget dikasih taunya,”
Sakti tersenyum lalu merangkul bahu anaknya yang baru saja menceritakan tentang kejadian barusan sesaat sebelum Dio jalan pagi bersamanya.
“Jangan begitulah, Nak. Kamu itu harus paham kalau perempuan ‘kan kadang emang suasana hatinya gampang jelek, bawaannya pengen marah-marah, apalagi menjelang datang bulan. Mungkin Shena mau kedatangan tamu bulanan kali. Jangan dihadapi dengan emosi, tapi kamu harus jadi pihak yang tenang, nggak boleh ikut meluap-luap. Kasian dia kalau kamu marahi,”
“Lah dia aja marahin aku, Pa,”
“Tapi kamu kalau marah lebih seram daripada Shena marah, kamu sadar nggak?”
Dio terdiam dan dalam hati membenarkan ucapan papanya itu. Kalau dipikir-pikir iya juga. Ia kalau marah banyak yang bilang menyeramkan. Suaranya keras sekali kalau sudah meluapkan amarah. Mungkin karena Ia laki-laki dan termasuk jarang marah. Sekalinya marah, keluar semuanya.
Sementara Shena itu perempuan, semarah-marahnya Shena, suara Shena tidak akan sekeras dirinya kalau sudah marah. Dan tatapan mata Shena tadi juga tidak menyeramkan, justru malah mengundang rasa tidak tega dalam diri Dio, makanya Dio datang lagi ke kamar membawa air minum padahal tadi niatnya tak mau peduli pada Shena karena Ia merasa kepeduliannya itu tidak dihargai oleh Shena.
__ADS_1
“Udah ya, jangan marah-marah lagi, kasian istrimu. Kalau dia lagi kesal, kamu harus hadapi dia dengan baik-baik, tanya kenapa dia kesal, sebabnya apa, jangan kamu marahin balik. Perempuan itu harus diperlakukan lembut baru luluh. Karena galaknya perempuan itu biasanya ya karena mendam sesuatu,”