
“Kamu keliatan jauh mebih baik, nggak lemes lagi Alhamdulillah. Mama senang banget, Nak. Sekarang makan ya,”
“Iya, Ma,”
“Nggak usah mikirin apapun, nggak usah ngerjain apapun pokoknya fokus aja sama kesehatan kandungan kamu,”
Shena tersenyum, Ia merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan ibu mertua sebaik Ardina. Semoat takt ketika Ia dan Dio dijodohkan Ia tidak akan pernah mendapatkan yang namanya keluarga seperti keluarganya sendiri, tidak pernah mendapatkan orangtua sebaik orangtuanya sendiri. Tapi ternyata ketakutannya itu tidak terjadi.
Keluarga suaminya, mertuanya, mereka semua baik. Bahkan Ia merasa seperti berada di tengah-tengah keluarganya sendiri.
“Oh ya, apa kamu udah cerita sama Dio soal kamu yang lagi hamil, Nak?” Tanya Ardina di sela makan malamnya bersama Shena yang langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang ibu mertua.
__ADS_1
“Belum, Ma,”
“Lho, kenapa belum, Sayang? Apa Dio belum hubungin kamu sama sekali hari ini? Dia lupa punya istri kali ya. Bener-bener deh anak itu,”
“Nggak, Ma. Mas Dio baru aja telepon aku. Mas lagi makan malam sama Papa,” jelas Shena supaya Ibu mertuanya itu tidak salah paham.
Dio justru sering sekali menghubunginya. Kalau tidak sempat telepon, maka Dio akan mengirimkan pesan. Itu membuat Shena sangat bersyukur. Di awal pernikahan, Dio sangat jarang mau memberinya kabar, apalagi memastikan Ia istirahat dnegan cukup, makan dengan benar, dan lain-lain.
Kepergian Dio kali ini ke Lombok untuk mendampingi Papanya yang bekerja, benar-benar terasa beda sekali. Shena jauh lebih diperhatikan, dipedulikan walaupun jarak yang tercipta di antara mereka lumayan jauh.
“Sayang, jangan pernah khawatir soal itu. Percaya sama Mama ya, Dio bakal terima. Masa iya sih nggak nerima anaknya semdiri? Itu darah daging dia. Udah Mama bilang, jangan overthinking. Kamu itu harus buang jauh-jauh pikiran negatif kamu karena nggak baik untuk kesehatan kamu, Shen,”
__ADS_1
Shena menghela napas pelan dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Karena sudah terlalu sering mendnegar kalinat Dio yang menegaskan bahwa dirinya belum mau punya anak karena belum siap menjadi ayah, ketakutan Shena untuk memberitahu berita kehamilannya sangatlah besar. Ia takut suaminya tidak menerima.
Penolakan Dio akan membuatnya snagat kecewa. Ia tidak akan eprnah siap dnegan itu.
“Sayang, Mama minta kamu jujur aja sama Dio secepatnya ya? Mama pikir kebih cepat lebih baik. Dio berhak tau tentang kehadrian anaknya di perut kamu. Mama yakin dia bakal senang banget dan dia bakal sekamgat untuk belajar jadi ayah yang baik, percaya deh sama kata-kata Mama ini. Jadi nggak ada yang perlu kamu khawatirkan sebenarnya,”
Shena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia sudah berusaha mempersiapkan diri untuk mendapatkan berbagai reaksi dari Dio baik itu penerimaan maupun penolakan. Tapi tetap belum siap juga rasanya.
*****
“Kamu sama Shena itu udah saling terbuka satu sama lain belum sih?”
__ADS_1
Dio langsung berhenti mengunyah begitu mendapat pertanyaan seperti itu dari Papanya. Alisnya terangkat dan Ia menatap Papanya tidak mengerti.
“Maksud Papa?”