Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 77


__ADS_3

Tapi aku tetap aja takut, Ma. Aku takut nanti tanggapannya Mas Dio nggak sesuai sama apa yang aku harapin. Yang aku harapin itu Mas Dio nerima anak ini dengan perasaan senang, dan dia terharu dapat berita ini. Tapi kalau ternyata itu nggak terjadi, aku benar-benar kecewa, aku takut sedih, malah jadi kepikiran dan nggak baik untuk kandungan aku,”


“Nak, kamu tu harus kurangin, kalau bisa hilangin yang namanya overthinking. Apa yang kamu pikirkan itu belum tentu terjadi. Kamu nggak perlu khawatir di awal, kamu ‘kan belum tau nantinya gimana. Jadi harusnya sebelum kamu kasih tau Dio, kamu nggak perlu mikir kalau Dio bakal begini ebgitu, Insya Allah Dio nggak begitu kok, Nak. Dio nerima anak itu dengan hati senang dan haru. Walaupun dia bilangnya belum siap jadi ayah lah atau apalah, percaya deh sama Mama setelah dia tau kalau ternyata anaknya udah ada did alam kandungan kamu, hilang rasa nggak siap itu. Dia pasti siap untuk jadi ayah yang baik. Semuanya ‘kan memang perlu waktu untuk belajar dan beradaptasi, Nak. Kamu jangan mengkhawatirkan apa yang belum tentu terjadi. Overthinking itu bikin stres jadi hilangin deh,“


“Mba, masa iya suh Mas Dio nggak nerima? Itu ‘kan anaknya. Lagian Mas Dio itu sebenarnya bukan belum siap, tapi masih pengen berduaan aja sama Mba. Jadi Mba nggak pelru khawatir ya. Mas Dio itu pasti udah siap kok, kalau udah dikaish ya mau nggak mau harus siap karena dnegan adanya anak, itu berarti Mas sama Mba udah dipercaya sama Allah, dan dianggap siap juga. Udah ya, Mba, jangan khawatir soal apapun. Mba harus tenang, pikirannya dijaga. Ibu hamil nggak boleh stres lho, Mba,”


Tidak hanya ibu mertuanya saja tapi Bibi pun turut menenangkan Shena yang khawatir dengan tanggapan Dio nantinya setelah tahu tentang kehamilannya.


“Sekarang Mama hubungin Dio ya biar Dio tau,”


“Ma nanti aja. Aku boleh pulang ‘kan? Mending sekarang kita pulang dulu, Maa. Aku udah nggak betah di sini, Ma,” ujar Shena yang ingin dirinya sendiri saja yang memberitahu Dio dan Ia inginnya berhadapan langsung ketika bicara pada Dio supaya Ia bisa tahu bagaimana reaksi Dio.


“Aku pengen nanti aku aja yang kaish berita ini ke Dio boleh nggak, Ma?”

__ADS_1


“Iya boleh, Sayang. Nanti kamu aja yang ngasih tau Dio aklau gitu ya, tapi Mama harap secepatnya, jangan lama-lama. Karena Dio berhak tau kehadiran anaknya,” ujar Ardina dengan lembut.


“Iya aku bakal aksih tau Dio secepatnya, Ma,”


“Okay kalau gitu sekarang kita pulangd an kamu harus banyak istirahat bahkan kata dokter istirahat total! Kamu nggak boleh bandel ya nanti di rumah,”


Shena terkekeh mendnegar peringatab tegas dari ibu mertuanya. Ia senang sekali karena melihat kebahagiaan yang begitu besar ada di sorot mata dan senyuman sang ibu mertua, itu tandanya beliau benar-benar bahagia setelah tahu bahwa cucunya sedang dikandung oleh Shena.


***


“Wow makan apa?”


“Makan seafood, kamu udah makan malam belum?”

__ADS_1


“Belum, ini lagi mau turun,”


“Okay makan sekarang ya, jangan ditunda-tunda,”


“Iya,”


“Nanti aku telepon lagi, Shen,”


“Okay, selamat makan ya,”


“Kamu juga, pokoknya jangan lupa makan ya,”


“Siap,”

__ADS_1


Sambungan telepon mereka berakhir. Shena langsung meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian Ia bergegas keluar dari kamar untuk makan malam dengan sang ibu mertua.


__ADS_2