
“Shena, Dio kok belum pulang ya? Apa dia emang jadwalnya pulang kampus sore-sore? Udah jam lima belum sampai rumah juga. Udah gitu dihubungin juga nggak mau jawab, kamu tau Dio kemana?”
Ardina datang ke kamar anak dan menantunya untuk melihat keadaan Shena, sekaligus bertanya pada Shena soal Dio yang belum juga sampai di rumah padahal hari sudah sore.
“Aku juga nggak tau jadwal pulangnya Dio, Ma,”
“Udah kamu telepon belum?”
“Aku nggak pernah telepon Dio, Ma, kecuali kalau nggak mendesak banget. Aku takut ganggu dia. Emang kenapa ya, Ma?”
“Astaghfirullah, emang Dio nggak bolehin kamu telepon dia? Wajar dong kalau istri telepon suaminya, dia karang kamu?”
“Nggak, Ma. Bukan gitu maksud aku, Ma. Tapi aku nya aja yang nggak mau ganggu Dio, soalnya nggak enak. Takutnya dia lagi sibuk sesuatu dan aku telepon pasti dia merasa terganggu,”
“Ya nggak lah, masa ditelepon istri merasa terganggu,”
Ternyata komunikasi antara Shena dengan Dio memang sangat jarang. Bahkan hanya untuk sekedar menelpon Dik saja, Shena merasa takut.
“Coba telepon dia sekarang. Kemana sih dia? Mama suruh setelah ngampus langsung pulang dan antar kamu ke rumah sakit, demam kamu masih tinggi tuh,”
“Ma, nggak usah, ini udah agak turun kok, Ma. Aku ‘kan rajin cek pakai termometer. Jadi nggak usah ke rumah sakit ya, Ma,”
“Apa gara-gara nggak mau antar Shena ke rumah sakit, Dio jadi nggak mau langsung pulang ya? Aku rasa dia udah selesai ngampus deh, cuma sekarang dia lagi keluyuran nih,” batin Ardina yang entah kenapa punya gambaran kalau anaknya memang sengaja tidak langsung pulang supaya tidak ditugaskan untuk mengantarkan Shena ke rumah sakit.
“Telepon Dio sekarang, Shen. Mama pengen tau dia angkat telepon kamu atau nggak, dan Mama penasaran dia dimana sekarang. Kalau memang masih di kampus ada mata kuliah ya nggak apa-apa. Tapi kalau udah selesai belajar, ngapain masih belum pulang juga ‘kan? Betah banget di luar,”
Shena menganggukkan kepalanya. Ia langsung menyerahkan ponselnya kepada sang ibu mertua. Maksud Shena, buar Ardina saja yang bicara Dio. Takutnya kalau Ia yang bicara dengan Dio, Ia jadi sasaran emosi Dio.
__ADS_1
“Kamu yang ngomong,”
“Mama aja ya,”
“Kenapa? Kamu takut dia marah?”
“Hmm? Nggak kok, Ma. Tapi biar Mama lebih puas aja ngobrol langsung sama Dio nya,”
“Ya udah sini biar Mama yang ngomong sama Dio. Nggak biasanya dia sore-sore begini belum kelar kuliah,”
Ardina langsung menghubungi anak semata wayangnya itu. Tadi ketika Ia menghubungi Dio menggunakan nomor teleponnya, Dio memilih untuk abai. Ardina ingin tahu, kali ini apakah Dio akan mengabaikan panggilan masuk lagi yang berasal dari istrinya.
Sekali memanggil, diabaikan, dua kali memanggil juga diabaikan. Tapi untuk yang ketiga kali, Dio memberikan reaksi yang tidak diduga oleh Ardina. Dio langsung marah-marah begitu menerima panggilan. Dio berpikir kalau yang menghubunginya sampai tiga kali itu adalah Shena. Makanya tak sungkan untuk marah.
“Halo! Lo ngapain sih telepon-telepon gue? Hah? Lo mau ke rumah sakit? Ya udah sana sendiri aja, gue nggak mau nganterin, emang lo pikir gue supir lo?! Gue nggak mau ya direpotin sama lo. Lagian masa iya belum sembuh. Bukannya udah minum obat, udah dikompres?! Pokoknya jangan telepon gue lagi untuk minta anterin ke rumah sakit. Gue nggak mau tau,”
Dio langsung tercengang mendengar Mamanya marah. Ia benar-benar tidak menduga kalau Mamanya lah yang menghubungi menggunakan nomor ponsel Shena.
“Dimana kamu?“
“Aku—-aku masih di kafe,”
“Tuh ‘kan, ternyata kamu udah selesai ngampus terus kenapa nggak langsung pulang? Hah?”
“Aku nggak mau, bosan di rumah,”
“Mama ‘kan udah bilang tadi lagi, tolong antar Shena ke rumah sakit. Bisa nggak sih kamu itu peduli ke istri kamu sendiri? Shena itu istri kamu lho, kita ke orang lain aja mesti baik, apalagi ke istri sendiri. Kamu kok tega banget ngomong kayak tadi, Dio. Kamu nggak punya hati ya? Kamu nggak pernah sakit? Merasa nggak bakal butuh bantuan orang? Iya?! Jangan keterlaluan kamu ya. Kamu pikir kamu bisa seenaknya gitu jahat ke Shena?”
__ADS_1
“Aku nggak mau, Ma. Aku masih pengen di—“
“Pulang sekarang! Mama bilang pulang, kamu harus pulang jangan bantah!”
Setelah Ardina bicara seperti itu, Ardina langsung mengakhiri sambungan teleponnya bersama sang anak. Deru napas Ardina naik turun tidak teratur. Dio benar-benar memancing kesabarannya habis. Emosinya bergemuruh mengetahui anaknya semakin tidak menghargai Shena.
“Ma, Dio kenapa? Mama marah ke Dio?” Tanya Shena dengan hati-hati takut malah membuat ibu mertuanya tidak nyaman mendapat pertanyaan seperti itu.
“Dia memang pantas dimarahi, Shen. Dia keterlaluan sama kamu,”
Shena menatap ibu mertuanya dengan sorot mata yang bingung. Kebetulan, Shena tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Dio sehingga menjadi penyebab Ardina marah seperti tadi.
“Ma, maafin Dio ya. Apapun yang Dio lakuin, tolong maafin Dio. Sebenarnya Dio itu orang yang baik banget kok, Ma. Dio nggak pernah bermaksud untuk nyakitin perasaan Mama dan bikin Mama marah,”
Ardina terperangah menatap Shena yang baru saja meminta maaf atas kesalahan yang bukan Ia pelakunya. Shena meminta maaf atas kesalahan suami yang tidak menghargainya. Sudah diabaikan, diperlakukan tidak baik oleh Dio, tapi Shena tetap berusaha menjadi suami yang baik untuk suaminya. Shena tetap menjadi tameng untuk Dio.
“Kenapa kamu yang minta maaf, Nak? Harusnya Mama yang minta maaf,” ujar Ardina sambil meraih kedua tangan Shena dan menangis. Tentu Shena langsung panik melihat ibu mertuanya tiba-tiba mengeluarkan air mata dan menatapnya dengan sorot mata penuh permohonan maaf.
“Ma, kenapa Mama nangis? Jangan nangis, Ma. Dan Mama nggak ada salah apapun ke aku, jadi jangan minta maaf ya, Ma,”
“Maafin Mama udah gagal didik anak Mama sendiri,”
“Mama jangan ngomong begitu. Mama Papa berhasil banget didik Dio. Aku tau kok Dio itu laki-laki yang baik banget, makanya aku bilang Mama Papa berhasil didik Dio. Cuma memang belum waktunya aja untuk Dio terima aku sebagai istrinya, Ma. Nggak apa-apa kok, Ma. Aku tau Dio perlu waktu untuk terima aku di hidupnya Dio. ‘Kan nggak mudah, Ma. Wajar kok, Ma. Karena Dio masih cinta sama perempuan lain, dan kami nikah bukan karena cinta,”
“Walaupun dia belum bisa cinta sama kamu, setidaknya dia bisa bersikap baik ke kamu, dia harusnya bisa menghargai kamu. Tapi ini apa? Sebaliknya, dia jahat banget, Shen,”
“Ma, Dio baik ke aku,”
__ADS_1
“Jangan bohong, Shen. Mama tau kok, kamu jangan berusaha untuk nutupin,”