Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 11


__ADS_3

“Kok lo makan nya nggak nafsu gitu sih? Bukannya lo udah lapar ya? Kok nggak keliatan laparnya sih?”


Dio menyadari kalau Shena menikmati buburnya kelihatan kurang selera padahal tadi yang Dio ingat, Shena sudah merasa lapar sama sepertinya.


Biasanya kalau orang lapar itu ‘kan makannya akan sangat nafsu, seperti Dio sekarang. Tapi entah kenapa Shena berbeda.


“Selera makan aku hilang setelah kamu ngomongin soal Amira. Aku tau kok hati kamu buat dia nggak perlu kamu jelasin, aku udah tau. Kamu jelasin itu ke aku malah bikin aku sedih, Dio,” batin Shena.


Shena diam saja ditegur oleh suaminya, tak bersuara ataupun sekedar menatap lawan bicaranya itu.


“Heh, Shena! Gue nanya sama lo, kok lo diam aja sih? Lo nggak dengar ya? Periksa gih ke dokter THT,”


“Aku dengar kok,”


“Terus kenapa nggak jawab? Dengar pertanyaan gue tadi ‘kan?”


“Iya aku dengar, Dio,”


“Ya udah jawab lah kalau gitu. Kenapa lo makan nya nggak selera? Bukannya lo udah lapar ya? Menurut lo, buburnya nggak enak? Atau ada yang kurang?”


“Kamu peduli banget sampai tau kalau aku makan nya nggak selera,”


Supaya suasana tidak kaku, pikiran dan dadanya lega tak lagi mengingat kata-kata Dio tadi, Ia mengolok Dio. Anggaplah Ia terlalu percaya diri. Padahal sebenarnya Dio bukan peduli, hanya mungkin penasaran ketika melihat Ia makan tak berselera.


“Ya keliatan lah, lo kayak nggak nafsu gitu. Emang kenapa sih? Lo nggak suka ya sama buburnya? Atau ada yang kurang?”


“Suka kok, suka banget,”


“Terus kenapa nggak semangat gitu makan nya?”


“Ya nggak aku suka itu adalah, mulut kamu kalau lagi ngomong tajam,”


“Apaan sih? Emang gue abis ngomong apa?”


“Emang kadang ya, kita tuh nggak sadar kalau mulut kita habis nyakitin perasaan orang lain,”


Dio mengernyitkan keningnya. Ia tidak ingat habis berkata apa sehingga menyakiti perasaan Shena. Tapi rasanya Ia tak berucap hal yang menyakitkan, atau memang benar kata Shena, kerap Ia tak menyadari kalau mulutnya menyakiti hati Shena.


“Nggak tau ah, lo nggak jelas,”


“Ya udah nggak usah dibahas,”

__ADS_1


“Jadi karena omongan gue barusan lo sampai nggak selera makan? Ya elah, Shena, lo lebay banget sih. Emang apa yang barusan gue omongin ke lo?”


“Nggak ada, udah lupain aja,”


Dio diam sebentar mengingat-ingat ucapannya tadi yang menjadi penyebab Shena sakit hati. Hanya soal Amira yang Ia ingat.


“Tadi kayaknya gue ngomong soal Amira ya? Apa karena itu lo sakit hati?”


“Nggak,”


“Kayaknya iya, lo jangan bohong sama gue. Kenapa lo sakit hati? ‘Kan apa yang gue bilang itu benar. Hati gue cuma untuk Amira, bukan yang lain, apalagi lo. Jadi jangan coba-coba berharap lebih ke gue. Ingat ya, Shen, lo emang istri gue sah di mata hukum dan agama, tapi gue nggak pernah anggap lo, paham?”


“Iya aku paham kok. Kenapa sih dijelasin lagi? Tanpa harus kamu jelasin, aku juga ngerti kok, aku nggak larang kamu untuk tetap cinta ke Amira, aku tau hati kamu untuk Amira, nggak perlu dijelasin berulang kali karena itu malah bikin aku semakin kasihan sama diriku sendiri,”


“Lho, gue ‘kan cuma ingetin lo aja. Supaya lo tau diri, nggak berharap lebih ke gue. Di antara kita nggak ada apa-apa, lo harus ingat itu,”


*****


Alarm dari ponsel Dio berbunyi sebelum adzan subuh berkumandang. Tapi Dio tidak langsung bangun. Ia baru bangun tepat pukul setengah enam.


“Eh gue kesiangan, ya ampun,”


Dio langsung buru-buru ke kamar mandi ambil air wudhu dan sholat sendiri. Selepas menunaikan kewajibannya, Dio baru sadar kalau di tempat tidur masih ada Shena yang terlelap pulas.


Dio menyadari ada yang aneh dari Shena pagi ini. Shena itu bisa dibilang perempuan yang rajin bangun pagi. Setengah enam itu sudah termasuk siang bagi Shena. Dua bulan lebih menikah dengan Shena, Dio tahu kebiasaan perempuan itu.


Dio langsung mengguncang bahu Shena dupaya Shena bangun. Tangan Dio langsung bersentuhan dengan kulit lengan Shena yang mengenakan baju tidur lengan pendek. Dan Dio terkejut ketika merasakan hawa panas dari kulit Shena yang langsung menjalar ke telapak tangannya.


“Eh dia demam apa gimana nih? Kok panas?”


Dio bertanya-tanya sendiri. Karena penasaran, akhirnya Ia dekatkan punggung tangannya dengan kening Shena dan lagi-lagi panas menjalar ke tangannya.


“Eh beneran demam dia,” gumam Dio.


Setelah itu Di mengamati Shena yang pulas tertidur. Dio bisa menyimpulkan kalau Shena tidak kuliah hari ini.


“Pantes aja dia belum bangun, ternyata emang lagi demam dan kayaknya niat nggak kuliah deh,”


Dio mengguncang lengan Shena lagi untuk memastikan bahwa istrinya itu tidak kuliah. Maksudnya kalau kuliah, bisa berangkat bersamanya. Jangan sampai nanti mamanya salah paham mengira Ia yang tak mau berangkat dengan Shena.


“Shen, lo nggak kuliah?”

__ADS_1


“Hmm?”


“Lo demam ya? Lo nggak kuliah gitu?”


“Iya nggak,”


“Terus lo udah sholat?”


“Aku nggak bisa sholat, baru datang tadi malam,”


“Pantes aja lo masih di tempat tidur. Ya udah lah kalau emang nggak kuliah. Gue berangkat sendiri berarti,”


“Iya, hati-hati,”


“Gue belum mandi, lo bisa siapin baju gue nggak?”


“Udah ‘kan,”


Dio lumayan kaget mendengar jawaban Shena. Disaat kondisinya sedang tidak baik-baik saja ternyata Shena tetap melaksanakan tugasnya sebagai istri dengan baik.


“Thanks, gue mandi dulu kalau gitu,”


Shena menganggukkan kepalanya membiarkan sang suami bergegas ke kamar mandi, semnetara Ia kembali memejamkan matanya yang tadi sempat terbuka sebentar untuk menatap lawan bicaranya.


Suara ketukan pintu membuat Shena tak jadi melanjutkan tidurnya. Ia segera membuka pintu kamar yang diketuk oleh Ardina mama mertuanya.


“Iya kenapa, Ma?”


“Ini kompres supaya cepat turun,”


“Nah ini sarapannya, Mba,”


Ardina dan Bibi datang dengan membaw apa yang diperlukan oleh Shena. Itu membuat Shena terharu. Ia merasa sangat diperhatikan oleh penghuni rumah ini.


“Makasih banyak ya, Ma, Bi. Nggak usah repot-repot, aku bisa ambil sendiri nanti di bawah,”


“Nggak repot kok, Sayang. Sekarang kamu makan ya, dan minum obat, jangan lupa kompres juga. Minta tolong sama Dio,”


“Iya makasih, Ma, Bi. Maaf udah ngerepotin,”


“Jangan ngomong gitu, kamu anaknya Mama, Shena,”

__ADS_1


Shena tersenyum dengan hati menghangat setelah mendengar kata-kata mama mertuanya. Walaupun tak lagi tinggal bersama orangtua, dan sempat merasa sedih karena berpikir akan kehilangan kasih sayang, perhatian dari mereka, tapi ternyata Ia salah. Di sini pun Ia bisa mendapatkan itu semua dari orangtua Dio yang luar biasa baik kepadanya.


Tadi saja ketika melihat Shena lemah, beda dari biasanya, Ardina langsung paham kalau kondisi menantunya sedang tidak baik-baik saja, oleh sebab itu Ia melarang Shena untuk sibuk membantu di dapur membuat sarapan, dan Ia menyuruh Shena untuk istirahat.


__ADS_2