
“Kenapa Azalea nangis, Ahen?”
“Kayaknya mau mandi bareng sama adeknya, Ma. Adeknya lagi dimandiin sama Papanya,”
“Oalah, pengen dimandiin juga ya sama Papa? Sabar, anak cantik. Semua kebagian kok, tenang ya,”
“Iya nggak sabaran dia, padahal semuanya juga pasti kebagian di mandiin sama Papanya,”
“Ya karena yang dibawa papanya cuma adeknya, sedangkan dia ditinggalin, pasti begitu kan tadi?”
“Hahaha iya, Ma. Tadi yang digendong adeknya, sedangkan dia nggak,”
“Masih kecil udah punya rasa cemburu nih kayaknya,”
“Karena mungkin kembar juga kali ya, Ma?”
“Iya, yang nggak kembar aja begitu apalagi yang kembar. Nih ngeliat kembarannya digendong, langsung nangis, apalagi perempuan lebih perasa,”
“Ya udah jalan-jalan deh ayo sama Oma mau nggak?”
Ardina mengulurkan tangannya hendak menggendong sang cucu namun cucunya itu malah tak menyambut baik, biasanya langsung tersenyum.
“Yah makin nangis. Ya udah deh nggak jadi deh Oma gendong. Biar Mama aja kalau gitu,”
“Bawa jalan-jalan aja, Shen,”
__ADS_1
“Iya, Ma,”
Shena membawanya ke halaman depan rumah dan langsung disambut dengan angin sore yang sejuk.
Perlahan tangis Azalea berhenti, seperti mulai lupa dengan kejadian yang membuatnya menangis, kemudian menikmati suasana sore di halaman depan rumah.
“Alhamdulillah bisa tenang juga princess mama nih,”
Shena mengayun-ayun Azalea dengan lembut sambil Ia ajak mengobrol. Walaupun anaknya belum bisa menanggapi dan belum paham tapi Ia senang melakukannya seolah anaknya sudah bisa dijadikan teman mengobrol.
Shena memicingkan kedua matanya ke depan ketika melihat penjaga rumah tiba-tiba membuka gerbang rumah. Setelah itu masuk seorang perempuan dengan menjinjing paper bag.
“Assalamualaikum hai, Shena,”
“Waalaikumsalam, eh hai Nada. Aku kirain siapa,”
“Ayo masuk-masuk,”
Shena langsung mempersilahkan teman suaminya untuk masuk ke dalam rumah namun Nada menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Aku cuma mau nganter ini aja, karena kebetulan lewat sini. Aku ada keperluan di tempat lain,”
“Ya ampun kamu repot-repot mampir nganterin ginian. Makasih banyak, Nada. Masuk dulu deh yuk, Mas Dio kebetulan lagi mandiin Azanio,”
“Nggak usah, Shen, aku masih ada urusan soalnya,”
__ADS_1
“Kamu serius abis dari kantor polisi?”
“Iya serius,”
“Emang apa yang dia lakuin di rumah lama kamu? Oh iya kamu udah pindah ke rumah yang baru?”
“Udah pindah, nah dia ganggu di rumah lama, kaca jendela aku pecah,”
“Ya ampun, dia mukul pakai batu?”
“Iya,”
“Memang sebaiknya dikasih pelajaran sih orang kayak begitu, semoga dia secepatnya dapat hukuman yang setimpal ya, Nad,”
“Iya aamiin, aku berharap banget dia masuk penjara supaya nggak bisa ganggu aku lagi,”
“Aamiin, kamu harus lebih hati-hati ya, jaga diri, lebih waspada,”
“Iya makasih, Shen. Aku pamit pulang ya, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati,”
Nada bergegas pulang usai mengantarkan makanan di rumah temannya, Dio. Shena menatap punggung Nada hingga tidak terlihat lagi oleh pelupuk matanya.
“Siapa yang datang, Shen?”
__ADS_1
Tiba-tiba Ardina datang menghampiri Shena yang posisinya masih berdiri mengayunkan sedikit badannya.
“Barusan Nada datang, Ma. Kebetulan lewat sini jadi sekalian mampir. Dia abis dari kantor polisi ngelaporin mantan suaminya karena udah ngerusak jendela rumah. Makin ganggu aja itu mantan suaminya,”