Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 30


__ADS_3

“Shena mana?”


“Lagi nata baju di lemari, Ma,”


Ardina bertanya pada anaknya yang baru saja turun dari pantai atas. Mendengar jawaban Dio, Ardina menganggukkan kepalanya lantas berlalu ke ruang keluarga.


Dio lantas mengikuti mamanya itu. Ada hal yang ingin Ia bicarakan sekaligus Ia ingin meminta maaf.


“Ma, aku mau ngobrol bentar sama Mama boleh nggak?”


“Boleh dong, kamu mau ngobrolin apa?”


Ardina mengisyaratkan anaknya untuk duduk di hadapannya. Ardina bisa melihat Dio akan membicarakan hal yang sepertinya penting. Ia dibuat penasaran.


“Nggak biasanya kamu mau ngobrolin sesuatu sama Mama dengan muka yang serius gitu,”


“Aku minta maaf ya, Ma. Aku udah sempat nggak percaya sama Mama Papa,”

__ADS_1


“Soal apa? Mama belum paham deh,”


Dio menghela napas pelan. Permintaan maaf sudah Ia lontarkan, sekarang waktunya Ia menjelaskan. Berat sekali rasanya, karena jujur Dio merasa malu. Karena Ia sudah sempat meragukan ucapan orangtuanya. Ia bahkan pernah marah sekali pada kedua orangtuanya karena Ia pikir Amira itu perempuan yang tidak pernah mengkhianatinya.


“Kenapa, Dio?”


“Ma, aku udah ketemu Amira,”


“Okay, terus? Kamu mau balik lagi sama dia? Maksud kamu ngomong ini ke Mama apa? Mau minta izin balikan—“


Ardina sudah kesal di awal mendengar nama Amira disebut kembali oleh anaknya. Ia benar-benar tidak senang karena ingat bagaimana perempuan itu nenyakiti anaknya.


“Terus apa dong?”


“Dia udah nikah, Ma. Bahkan udah hamil juga,”


Mendengar penjelasan Dio, Ardina menganggukkan kepalanya pelan. Jadi ternyata itu yang mau disampaikan oleh Dio. Ardina senang sekali. Kalau Amira sudah menikah, kesempatan untuk kembali bersama Dio sangat kecil. Dan Ia berharap Dio segera sadar. Tidak seharusnya Dio masih punya perasaan terhadap perempuan yang selama ini Ia bela itu.

__ADS_1


“Dia juga membenarkan kalau dia pernah selingkuh di belakang aku, dan dia nikah sama selingkuhannya itu, Ma,”


Ardina membelalakkan matanya. Ia pikir sudah selesai Dio menjelaskan tentang Amira. Ternyata Dio sengaja menyimpan kejutan di akhir.


“Apa? Nikah sama selingkuhannya? Wow, ya…Mama senang dengarnya. Emang harusnya begitu sih, udah nggak pantas dia untuk kamu. Untung aja dia ngaku ya. Selama ini ‘kan kamu nggak pernah percaya kata-kata Mama sama Papa,” ujar Ardina menyindir kebiasaan Dio selama ini yang suka kesal kalau Amira dibilang selingkuh, bukan perempuan terbaik untuknya, padahal orangtua Dio mengatakan itu bukan tanpa alasan. Mereka sudah tahu Amira itu seperti apa.


“Aku sedih, jujur,”


“Sedih? Ya ampun, Nak..Nak. NgPain sedih? Dia aja udah happy tuh hidup nggak ada kamu. Malah lagi hamil. Tapi kamu malah sedih? Kalau dia tau, kamu diketawain sama dia. Kamu harus lupan masa lalu kamu lah. Untuk apa diingat-ingat? Yang ada malah nyakitin. Stop mikirin Amira ya, hilangin semua sisa rasa yang masih ada untuk dia. Kamu punya istri, lebih baik fokus sama istri kamu sendiri. Daripada sama perempuan lain yang udah nyakitin kamu, dan udah jadi istri orang,”


Dio menghembuskan napas kasar sambil mengusap seluruh wajahnya dengan kedua tangan. Mengatakannya memang mudah, tapi Ia yang ada di posisi ini rasanya sulit sekali. Pikiran dan hatinya dipaksa untuk berhenti mengingat Amira.


“Ada Shena di samping kamu. Cintai dia, hargai keneradaan dia di hidup kamu. Kalian harus jadi teman hidup selamanya, itu harapan mama sebagai orangtua,”


“Tapi gimana caranya aku cinta sama Shena, Ma?”


“Kamu benar-benar harus lupain masa lalu kamu dulu. Setelah itu, barulah kamu belajar untuk cinta sama Shena. Kalau ada niat, pasti bisa. Cuma masalahnya, selama ini kamu itu emang nggak ada niat untuk cinta sama istri kamu,”

__ADS_1


__ADS_2