
Shena melenggang santai memasuki kantor suaminya dengan lunch box di tangannya. Ia datang tanpa memberitahu Dio yang pasti akan terkejut melihat kedatangannya.
Shena harap Dio tidak marah kalau Ia datang ke kantor. Dio selalu menyuruhnya diam-diam saja di rumah, memperbanyak istirahat. Padahal Shena butuh menyegarkan pikiran juga. Walaupun memang di rumah sangat nyaman tapi Shena ingin menikmati pemandangan di luar rumah juga.
“Selamat siang, Bu,”
“Siang juga, Pak Dio ada di kantor? Atau lagi di luar?”
Sekretaris Dio tersenyum ramah kemudian langsung mengantarkan Shena sampai ke depan pintu ruangan suaminya.
“Ada di dalam, Bu. Silakan masuk,”
“Oh iya, terimakasih,”
Shena segera mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam yang mempersilahkannya masuk.
“Asaalamualaikum, Mas,”
“Waalaikumsalam,”
“Lho kok ke sini? Enggak bilang-bilang,”
Shena terkekeh dan segera mendekati Dio. Dio terkejut sekali kelihatannya. Jelas saja, karena memang Shena ke kantor Dio tidak berkata apapun sebelumnya.
“Bee, kok ke sini sih? Bukannya di rumah aja, bawa makan siang pula,”
“Iya buat kamu sama aku. Ke sini karena aku mau makan siang sama kamu, Mas. Boleh ‘kan? Tolong boleh ya, aku udah ke sini lho, Mas. Masa harus sia-sia?”
Dio mana tega melihat wajah Shena yang memohon pengertiannya supaya tak menyuruhnya pulang.
“Kamu ke sini naik apa? Jangan bilang naik ojek, ingat lagi hamil, Shen,”
“Enggak kok, aku naik mobil,”
“Oh pesan online ya?”
“Ya, betul sekali,”
“Ya udah, ayo makan sekarang, habis itu aku antar kamu pulang ya,”
“Tapi baru juga se—-“
“Enggak ada tapi-tapi, Bee. Nurut apa kata aku, okay?”
Shena menghembuskan napas kasar. Padahal Ia ingin sekali sedikit lama di dalam ruangan suaminya.
“Aku di sini ‘kan enggak ngapa-ngapain, Mas. Masa enggak boleh lama di sini? Aku enggak akan ganggu kamu kok,”
“Ya udah, boleh. Tapi duduk aja,”
Shena langsung memekik pelan sambil bertepuk tangan. Dio yang melihat itu tertawa. Hanya karena diizinkan lama di ruangannya, Shena kelihatan senang sekali.
“Sekarang makan aja dulu,”
“Tapi pulangnya boleh nanti ‘kan?”
“Boleh, asal diam aja, duduk di sofa dengan tenang, atau boleh juga tidur di kamar aku,”
“Di sofa aja, aku mau duduk-duduk menikmati suasana di dalam ruangan kamu, Mas,”
“Aku aja muak sama ruangan aku sendiri karena udah kelewat bosan, kamu malah mau di sini,”
“Ya karena kamu ‘kan udah lihat setiap hari, kalau aku jarang banget,”
Dio ingin bergabung dengan istrinya di sofa namun Shena melarang. Shena ingin ke meja kerja Dio dengan satu lunch box yang ukurannya besar.
“Kamu kerja aja, Mas. Biar aku suapi mau enggak?”
“Hmm beneran? Memang enggak apa-apa kalau kamu suapi aku? Kamu ‘kan juga mau makan,”
__ADS_1
“Ya enggak apa-apa, biar sesekali romantis gitu ‘kan. Udah lama enggak suap-suapan kayak abege baru pacaran,”
Dio tertawa puas. Memang sudah jarang sekali Ia dan Shena saling menyuapi makanan satu sama lain. Meskipun makan bersama, tapi makannya tetap dengan tangan masing-masing.
“Bee, awas ya ada yang tumpah di meja kerja aku,”
“Enggak ada air kok, ini juga kotak makan aku pegang,”
“Iya, aku cuma mengingatkan aja,”
Lauk yang dibawa Shena ada gurame dan udang asam manis, tahu goreng, dan juga tumis jamur. Shena juga tidak meletakkan air minum di meja suaminya melainkan Ia selipkan diantara paha dan juga tempat duduknya sekarang.
Ia menyuapi Dio pertama kali, kemudian barulah dirinya sendiri. Dio makan dengan lahap. Siapa yang tidak senang didatangi Istri ke tempat kerja, dibawakan makanan bahkan disuapi juga. Kurang dimanja apalagi.
“Aku sebenarnya senang kamu ke sini karena kamu itu jarang banget ke kantor aku waktu masih kerja. Sekarang ke kenator aku jadi aku senang, tapi tetap aja aku khawatir karena harusnya kamu diam aja di rumah terus istirahat,”
“Aku udah istirahat terus, Mas,”
“Kamu di rumah tetap aja sibuk, Bee. Yoga iya, masak iya, belum lagi ikut mama cek taman tiap hari, udah dilarang mama masih aja keras kepala,”
“Karena aku biasanya gerak, Mas. Biasa sibuk kerja, tapi sekarang harus di rumah, jadi bosan banget, dan bingung harus apa. Akhirnya ngerjain apa aja yang perlu aku kerjain di rumah,”
“Kamu dulu, aku udah tadi,”
Dio menyuruh Shena untuk menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri sebab beberapa saat lalu mulutnya baru saja diisi, sementara Shena belum.
“Kalau udah kenyang kasih tau ya,”
“Belum, perut aku kebetulan emang udah lapar banget, eh kamu datang, jadi aku girang deh,”
“Tadi kelihatan kesal ah, gara-gara aku ke sini,”
“Iya lah, Bee. Kamu tau alasan aku kesal karena apa ‘kan? Kamu harus istirahat,”
Makanan sudah hampir habis, dan Shena mengaku sudah kenyang, sehingga Dio lah yang akan menghabiskan dan masih disuapi oleh istrinya itu.
Shena tak berani menatap suaminya. Ia takut, benar-benar takut dan juga merasa bersalah. Ia sangat ceroboh hingga membuat kertas yang berkaitan dengan pekerjaan suaminya menjadi kotor. Memang benar apa yang dikatakan orang-orang terdekatnya bahwa Ia memang orang yang tidak bisa tidak hati-hati.
Dio yang sudah sadar dari keterkejutannya langsung bergegas menyingkirkan kotak makan dari atas mejanya. Ia bodoh karena tak melakukannya sejak tadi. Ia terlalu kaget sampai bingung tadi, Ia tidak tahu harus melakukan apa.
“Mas, aku—“
“Udah aku bilang tadi, di sofa aja, tapi kamu nya malah mau di meja kerja aku, akhirnya jadi kayak begini,”
Meskipun Dio tidak marah atau membentaknya, tapi tetap saja Shena merasa sedih karena dirinya adalah penyebab dari kekacauan hari ini. Masalahnya, Ia sudah membuat lembaran-lembaran dokumen pekerjaan suaminya kotor hanya dalam waktu singkat. Saus asam manis dari gurame dan udang berhasil membuat meja Dio kotor juga, tak hanya kertasnya saja.
“Aku minta maaf, Mas,”
Shena langsung membantu suaminya untuk mengamankan yang sekiranya masih bisa diselamatkan.
“Maafin aku ya, aku benar-benar enggak sengaja,”
Dio tak menjawab, Ia sibuk dan panik dengan kejadian ini. Kalau kertas yang tidak penting, Ia tidak akan sepanik sekarang.
“Maafin aku ya, Mas,”
Terhitung sudah lebih dari satu kali Shena meminta maaf tapi Dio belum juga menanggapi, hal itu membuat Shena meringis dalam hati.
“Ya Allah, aku udah salah banget. Mas Dio pasti marah karena aku udah bikin kekacauan kayak gini,”
“Kamu duduk aja mendingan, biar aku panggil cleaning service untuk bersih-bersih meja,”
“Aku aj—“
“Jangan bantah, Shen. Ini akibat dari kamu yang bantah aku,” lugas Dio tanpa menaikkan nada suaranya tapi berhasil membuat Shena membeku.
Akhirnya Shena duduk di sofa. Sementara Dio memutuskan untuk menghubungi cleaning service agar segera membersihkan meja kerjanya.
“Aku mau tanggung jawab, Mas. Apa yang harus aku kerjakan untuk—“
__ADS_1
“Enggak usah, biar aku aja. Kamu enggak usah mikirin ini,”
“Mas, aku benar-benar minta maaf, aku enggak sengaja. Jangan marah ya, Mas,”
“Aku enggak marah. Ada aku marah sama kamu tadi?”
“Tapi kamu enggak jawab setiap aku minta maaf,”
“Aku anggap kamu enggak salah, makanya aku enggak jawab. Jadi enggak usah minta maaf lagi, okay?”
“Tapi tetap aja aku salah, Mas,”
Dio menoleh terkejut ketika mendengar suara Shena yang serak menahan tangis. Ketika Dio menatapnya, Shena makin sulit menahan laju air matanya.
“Tuh ‘kan, siapa yang dibikin susah, siapa yang nangis,”
“Aku minta maaf udah bikin Mas susah,”
“Enggak usah nangis! Bisa enggak? Jangan cengeng, Shen. Aku aja enggak marahin kamu kok. Kenapa kamu malah nangis?”
“Karena aku merasa bersalah sama Mas. Aku minta maaf banget ya, Mas,”
“Aku sampai bosan dengar kamu minta maaf terus. Udah sepuluh ada kali ya?”
“Aku salah, aku ngaku makanya aku minta maaf. Tolong maafin aku,”
Dio beranjak mendekat pada Shena yang kini benar-benar menangis. Shena kelihatan tidak ingin menangis sebenarnya cuma rasa bersalah yang sudah menekan Ia untuk mengeluarkan air mata.
Dio memberi sentuhan lembut di surai hitam sang istri kemudian Ia yang berdiri menunduk untuk memberikan ciuman di kening Shena.
“Aku maafin kamu, dan aku juga minta maaf karena udah bikin kamu nangis, okay?”
“Kamu enggak salah, aku yang salah. Karena aku enggak dengar omongan kamu akhirnya kejadian lah itu. Apa yang harus aku buat, Mas? Aku bisa kok ngerjainnya. Aku buat ulang file-file yang udah aku bikin kotor,”
“Enggak usah, biar aku aja. Kamu enggak usah mikirin itu, tadi aku ‘kan udah ngomong,”
“Beneran, Mas?”
Shena masih dengan isak tangisnya menawarkan bantuan atas dasar tanggung jawab terhadap apa yang sudah Ia perbuat. Namun Dio menolak dengan halus. Ia tidak mau membuat Shena merasa kesulitan. Memikirkan diri sendiri dan kandungannya saja pasti sudah membuat Shena penat. Apalagi bila ditambah dengan dokumen-dokumennya.
“Kamu enggak usah mikirin mau tanggung jawab. Biar aku aja, dan aku minta tolong sama kamu, berhenti nangisnya,”
“Udah,”
Tapi napas Shena masih belum normal. Ia masih terisak walaupun air matanya tidak keluar lagi.
Dio tersenyum mengacak lembut rambut Shena. Perempuan ini sangat menghargai kerja kerasnya. Sehingga ketika Ia tak sengaja merusak maka akan langsung punya inisiatif untuk bertanggung jawab. Ia yakin Shena bisa. Shena bisa diandalkan menjadi pemilik tokonya sendiri yang memimpin karyawan-karyawannya, pasti bisa menggantikan dokumen yang telah Ia buat kotor.
Tapi Dio tidak mau istrinya susah-susah melakukan itu. Ia ingin Shena fokus saja dengan dirinya sendiri dan juga kandungannya.
“Jangan nangis lagi, aku enggak suka lihat kamu sedih, Shen. Masa kayak begini aja kamu nangis, enggak habis pikir aku,”
Suara ketukan pintu membuat Dio langsung bergegas membuka pintu. Seorang pria berseragam hitam yang bertugas membersihkan ruangannya tersenyum pada Dio.
“Ayo silakan masuk,”
Dio langsung membuka pintu lebar-lebar mempersilakan cleaning service masuk ke dalam ruangannya untuk membersihkan meja kerjanya yang sudah bersih dari dokumen-dokumen. Semuanya sudah Dio simpan di tempat yang aman, lemari berisi buku-bukunya.
“Kamu mau aku antar pulang sekarang enggak?”
“Mau, aku mau langsung pulang aja, enggak mau di sini lagi, takut ada lagi yang aku rusak,”
“Hei, jangan ngomong gitu,”
“Aku kesal sama diri aku sendiri yang enggak bisa hati-hati. Tapi ya udah lah, mau diapakan lagi? Udah terjadi juga,”
“Nanti setelah meja bersih, aku antar kamu pulang ya, biar istirahat di rumah,”
Shena mengangguk tidak membantah. Memang paling baik Ia di rumah saja. Karena ke kantor suaminya malah bikin ulah. Walaupun kata Dio yang tadi itu bukan kesalahannya tapi tetap saja Ia merasa bersalah. Kalau bukan Ia, siapalagi yang salah? Dio? Jelas bukan, karena Dio tak tahu apa-apa. Lelaki itu hanya tinggal menerima suapannya saja, sementara dirinya lah yang memegang kotak makan atau lunch box berisi nasi dan juga lauk pauk yang Ia bawa dari rumah.
__ADS_1