Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 38


__ADS_3

“Lo mau kemana, Shen? Pagi-lagi gini udah rapi aja,”


“Tumben nanya-nanya kayak gitu,” ujar Shena seraya tersenyum tipis menatap suaminya melalui pantulan cermin yang ada di meja rias. Dio kelihatan bingung mengamati penampilannya.


“Mau kemana? Ditanya apa, dijawab apa. Aneh lo,” ujar Dio dengan ketus. Ia bertanya baik-baik malah dijawab tumben bertanya seperti itu. Dio merasa tersinggung. Padahal Ia sendiri sadar kalau selama ini Ia memang tak acuh. Shena mau melakukan apa saja, Ia cenderung tak mau ambil pusing.


“Iya aku jawab deh. Aku ada jadwal kuliah pagi. Kenapa emangnya?”


“Oh, gue siangan dikit aja ah datangnya. Jam sembilan paling,”


“Jangan telat, nggak enak sama dosen,”


“Ya siapa yang mau telat?”


“Ya kali aja kamu mau telat. Jangan ya, sekarang aku berangkat duluan,”


Shena sudah mengambil tasnya dan juga ponsel yang sedang diisi daya baterainya di atas nakas.


“Lo udah sarapan?”


“Udah, aku buat bubur. Ada di meja makan ya. Tadi aku makan sama Mama Papa,”


Dio menganggukkan kepalanya. Ia memperhatikan Shena yang sedang sibuk dengan ponsel sambil berdiri.

__ADS_1


“Katanya mau berangkat,”


“Ini lagi pesan ojek online nya,”


“Mau gue anterin?”


Shena langsung menatap suaminya dengan kening mengernyit. Jujur Shena senang sekali pagi ini Dio menunjukkan perhatian-perhatian kecilnya. Seperti bertanya kenapa Ia sudah siap sepagi ini? Sudah sarapan atau belum? Bahkan menawarkan dirinya untuk menjadi supir pribadi.


“Nggak usah, aku ‘kan biasa naik transportasi umum kalau lagi ke kampus. Mending begitu daripada macet kalau naik mobil,”


“Ya gue anter pakai motor lah,”


“Terus kamu balik ke rumah lagi gitu? Ya ampun bikin capek kamu aja dong kalau gitu,”


“Ya nggak apa-apa, gue ‘kan nyar kelasnya agak siangan,”


“Yakin lo?”


Shena menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin membuat suaminya jadi pulang pergi ke kampus dalam waktu yang berdekatan. Lebih baik Ia berangkat sendiri saja.


“Lagipula aku biasa kok kemana-mana sendiri. Aku nggak mau bikin repot. Apalagi bikin repot kamu. Aku nggak enak, dan takut kamu ngomel,”


Seketika memori Shena tentang momen-momen dimana Dio suka kesal ketika Ia mintai tolong membuat Shena jadi sedih.

__ADS_1


“Mama nyuruh gue berangkat dan pulang sama lo. Ngerepotin banget lo,”


“Jalan sendiri aja. Kalau ojek online takut lama datangnya ya itu derita lo,”


“Jangan manja sama gue! Apa-apa tuh harus bisa sendiri. Jangan keseringan minta tolong sama gue, ngerepotin tau nggak?”


Dan banyak lagi kalinat-kalimat Dio yang tersimpan di kepala Shena. Setiap Shena ingin meminta tolong, Dio tak selalu membantu. Kalaupun membantu pasti menunjukkan tanda-tanda bahwa bantuannya itu tidak tulus Ia berikan.


Shena menggelengkan kepalanya singkat mengusir ingatan itu. Tidak seharusnya ingat yang menyakitkan disaat ada yang membahagiakan. Pagi ini Dio membuatnya bahagia dengan perhatian kecilnya.


“Lo kenapa?” Tanya Dio pada Shena yang narusan Ia lihat menggelengkan kepalanya.


“Hmm? Nggak apa-apa kok. Udah ya, aku berangkat dulu,”


Shena mengulurkan tangan kanannya ke arah Dio dengan posisi menengadah seperti meminta sesuatu. Dio langsung bingung.


“Lo minta apaan?”


“Minta tangan kamu,”


“Minta duit kali. ‘Kan lo megang, Shen. Apa udah habis?”


“Ih orang aku udah bilang minta tangan kamu,”

__ADS_1


Shena langsung saja meraih tangan suaminya kemudian Ia kecup. Setelahnya perempuan itu langsung bergegas keluar kamar meninggalkan suaminya yang membeku.


“Kenapa sih dia tuh rajin nyalim tangan gue?”


__ADS_2