Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 59


__ADS_3

Shena dan Dio selesai belanja dan mereka langsung keluar dari supermarket untuk pulang ke rumah.


Tapi sebelum masuk mobil, Dio melihat penjual donat di seberang supermarket. Ia menyuruh Shena untuk masuk lebih dulu ke mobil namun Shena menolak.


“Gue mau beli donat, lo duluan aja masuk mobil, Shen,”


“Nggak mau, aku mau ikut kamu,” ujar Shena pada Dio.


“Ih apaan sih? Kok susah dikasih taunya? Lo mkan capek abis belanja, mending di mobil lah istirahat sana,”


“Nggak, aku ikut aja,”


Shena langsung meraih lengan suaminya itu. Ia tidak mau sendiran di mobil. Lebih baik kakinya jalan-jalan lagi.


“Lagian itu ada jajanan lain aku mau beli,” ujar Shena pada Dio yang menatapnya dengan jeran. Dio heran kenapa istrinya malah memilij menambah lelah daripada disuruh istirahat.


“Emang lo mau apa? Nanti gue beliin,”


“Aku ikut aja,” ujar Shena.


“Ayo!”


“Nggak usah, gue aja,”


“Ih Dio kenapa sih. Kenapa nggak mau banget aku ikut?”


“Itu jalanan ramai, Shena. Kita mau nyebrang lama lho,”


“Nggak apa-apa udah,”


“Ya udah terserah,”


Dio akhirnya mau juga melangkah bersama istrinya yang keras kepala tidak mau ke mobil. Maunya pergi dengan suaminya.


“Kayaknya nggak mau banget pergi sama aku,”


“Bukan gitu, Shen. Itu jalanan ramai, gue khawatir aja lo ikut nyebrang,”


“Ya ‘kan ikutan nyebrang sama kamu,” ujar Shena.


Sekarang mereka sudah dipertemukan dengan jalanan yang ramai. Dio ingin memastikan dulu kalau jalanan sepi dan aman untuk dilewati oleh Ia dan istrinya.


“Nyebrang santai ya, rame soalnya,”


“Iya,”


Setelah memastikan jalanan aman dibantu oleh petugas parkir supermarket, akhirnya mereka menyebrang juga.


“Alhamdulillah selamat,” ujar Shena dengan senang.


Shena dan Dio bergegas menghampiri penjual donat setelah itu Dio membeli lima belas buah untuk dirinya sendiri dan semua orang rumah bagi siapa saja yang mau.


“Udah beli donat beli apalagi, Shen?”


“Hmm nggak tau nih, aku bingung. Kata kamu beli apa?”


“Ya terserah lo. Itu ada siomay, ada bakpao, ada—-“


Dio mengedarkan pandangan ke kanan dan sisi penjual donat. Lumayan banyak aneka jajanan.

__ADS_1


“Ada bubur ayam, lontong sayur, goreng,”


“Hmm aku mau beli siomay aja deh,”


Dio menganggukkan kepalanya. Setelah membeli donat, mereka langsung bergegas menghampiri penjual siomay.


“Kamu mau nggak?”


“Nggak, lo aja,”


Shena membeli lima porsi dibungkus setelah itu barulah mereka bersiap untuk menyebrangi jalanan yang ramai itu lagi untuk mencapai mobil.


“Gue tuh agak trauma deh nyebrang yang jalanan ramai dan besar kayak gini,”


“Lho, emang kamu pernah ngalamin kejadian nggak enak ya di jalanan?”


“Pernah, keserempet motor,”


“Ya Allah, itu beneran?”


“Ya beneran, makanya gue agak khawatir kalau nyebrang sama lo,”


“Kapan kejadiannya? Udah nikah sama aku?”


“Belum, waktu sama mantan gue,”


Shena bergumam dan menganggukkan kepalanya. Ada dua hal yang membuat suaminya trauma. Pertama soal menyebrang di jalanan yang sangat ramai, kedua karena saat kejadian Dio bersama sang mantan kekasih, jadi Dio takut kejadian serupa terulang untuk yang kedua kalinya.


“Pantesan kamu nggak mau banget aku ikut, ternyata dulu mantan kamu abis kena serempet ya?”


“Iya, gue takut kejadian itu terjadi sama lo,”


Mereka sudah sampai di dalam mobil dan kehawatiran Dio tidak terjadi. Shena mengusap lengan suaminya itu.


Dio menganggukkan kepalanya. Ia akui memang ada pikiran tidak tenang kalau sudah mau menyebrang. Dan barusan Ia bersama istrinya, pikiran kalau kejadian itu akan terulang terus menghantuinya.


“Ya udah kita pulang sekarang ya,”


Shena menganggukkan kepalanya. Selama di perjalanan, Ia ingin menikmati siomay yang sudah Ia beli.


“Aku makan siomay ya? Kamu mau nggak? Aku suapin,“


“Nggak,”


“Beneran nih? Nggak nyesal emangnya? Ntar nyesal lho,”


“Nggak, Shen. Gue nggak nyesal,”


“Coba dulu tapi. Ini enak lho,”


Shena benar-benar mendekatkan siomay ke mulut suaminya yang tidak menolak. Tadi sempat menolak tapi ketika dotawarkan lagi langsung santap.


“Gimana? Enak ‘kan?”


“Iya enak,”


“Emang siomay nya enak. Bisa langganan nih kalau kita kebetulan lagi belanja bulanan,”


Akhirnya satu bungkus siomay dihabiskan oleh sepasang suami istri itu. Suaminya tadi sempat menolak, tapi akhirnya mau juga makan berdua.

__ADS_1


“Ah kenyang ya,”


Shena mengusap perutnya setelah minum. Dio terkekeh melirik Shena yang seperti habis makan dua piring padahal hanya satu plastik siomay dan itupun berdua dengannya.


“Kenyang darimana? Orang lo makan berdua sama gue tadi,”


“Ya iya itu udah kenyang, Dio,”


“Coba keluarin donat, Shen. Gue mau makan donat,”


Shena langaung menganggukan kepalanya. Ia segera mengambil salah satu donat tak lupa melapisinya dengab tisu supaya higienis dipegang oleh Dio yang malah menggelengkan kepalanya.


“Ya suapin lah, gue ‘kan lagi nyetir. Duapin kayak tadi,” ujar Dio yang langsung mengundang senyum Shena.


“Oh jadi ceritanya lagi mau manja ini ya?”


“Iya nggak apa-apa ‘kan?”


“Nggak apa-apa dong manja sama istri sendiri. Cuma minta tolong suapin aja emang lo nggak mau nih?”


“Mau lah, ‘kan tumben kamu minta suapin kayak gini,”


“Lo mau nggak? Makan berdua dong,”


“Nggak ah, aku nggak mau. Aku udha kenyang,”


“Beneran?”


“Iya aku udah kenyang nih,”


“Ya udah gue aja kalau gitu,”


Setelah satu buah donat dihabiskan oleh Dio, Shena langsung memberikan air mineral kepada suaminya itu.


“Eh Shen, Papa mau ke Lombok tiga hari lagi, gue diajakin, tapi gue belum bilang sama lo. Menurut lo gimana?”


“Ya nggak apa-apa ikut aja, kamu sebaiknya temenin Papa, dampingi Papa,”


“Iya tapi lo gimana?”


“Aku nggak usah dipikirin lah, kamu temenin Papa aja,”


“Tapi jauh lho, ke Lombok,”


“Iya aku serius. Nggak apa-apa kok kamu ke Lombok aja,”


“Seriusan nggak apa-apa gue tinggal? Kok gue berat ya rasanya?”


“Aku nggak apa-apa kok, santai aja,”


“Lo nggak mau ikut gitu?”


“Nggak ah, aku di Jakarta aja temenin Mama. Lagian kamu ke sana ‘kan karena urusan oekerjaan, jadi ngapain aku ikut,”


“Ya nggak apa-apa kalau mau ikut, Papa juga pasti ngerti. Lagian—“


“Jangan, Dio. Kamu harus profesional. Temenin Papa kamu, tujuannya ‘kan untuk kerja bukan liburan,”


“Ya udah, ntar gue ngobrol deh sama bokap,”

__ADS_1


“Lagian biasanya kamu nggak masalah deh mau ninggalin aku. Ini kok jadi bimbang?”


“Iya nggak tau kenapa, agak berat kalau ninggalin lo kali ini,”


__ADS_2