Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 109


__ADS_3

"Kata kamu boleh yang mana aja, giliran aku milih ini Mas kayaknya nggak suka,"


Dio menghembuskan napas kasar karena istrinya hanya salah paham saja. Padahal Ia tidak mengatakan bahwa Ia tidak suka ketika melihat Shena sering sekali memilih baju maupun perlengkapan lainnya untuk bayi-bayi mereka adalah khas perempuan sementara menurut pemeriksaan jenis kelamin anak mereka adalah laki-laki dan perempuan tapi entah kenapa Shena lebih gemas melihat baju anak perempuan, bukan Shena tak menginginkan anak laki-laki tapi menurut nya memang lebih beragam kostum perempuan ketimbang laki-laki yang dominan kaos terus warna gelap juga, sementara Shena sendiri agak suka warna-warna yang lembut dan menggemaskan makanya lebih sering nengok barang keperluan bayi perempuan dibanding yang laki-laki. Tapi tetap saja memilih barang untuk kedua calon bayinya tetap dengan semangat Shena yang menggebu-gebu.


"Jadi aku nggak boleh nih beli selimut pink ini?"


"Bee, aku kapan bilang nggak boleh? cuma aku bingung aja gitu lho makanya aku tanya nggak ada yang warna biru? eh kamu nya salah tangkap,"


"Tapi yang biru udah aku beliin, Mas. Yang pink juga sih tapi aku mau nambah,"


"Kapan kamu belinya, Bee?"


"Waktu itu, cuma ini aku mau nambah,"


"Pink sama biru nambah?"


"Yes betul sekali,:"


"Ya udah terserah kamu. Mau beli berapa aja juga boleh banget,"


Tugas Dio hanya mengikuti kemana kaki istrinya melangkah untuk berburu belanjaan perlengkapan calon anak mereka dan juga mendorong troli di belakang Shena sementara Shena yang memilih.


"Mas, boneka yang bisa jalan kira-kira di sini ada nggak ya?"


"Hah? kamu mau beli? 'kan aku bilang nggak usah aja, Bee. Emang nggak ngeri apa kalau dia jalan malam-mala? coba bayangin deh sama kamu, Bee,"


"Nggak mau beli sih, cuma tanya aja,"


Shena terkekeh karena suaminya yang mengira bahwa Ia akan membeli boneka model itu. Padahal Ia hanya ingin tahu saja sebenarnya boneka seperti yang dimiliki kakaknya itu ada atau tidak di toko yang sedang Ia kunjungi saat ini.


"Bee, topi kupluk nggak beli? nih kaos kaki juga ada, nggak mau beli?"


"Kaos kaki udah banyak lagian itu kayaknya nggak sering-sering dipake deh,"


"Awal-awal lahir pasti kepake banget, Bee. Soalnya dia rawan ngerasa dingin,"

__ADS_1


"Iya tapi udah banyak kok,"


"Kupluk?"


"Udah ada, Mas,"


Dio menganggguk setelah istrinya


memberitahu bahwa persediaan kaos kaki dan topi kupluk rajutan yang bisa menghangatkan kepala bayi sudah dipersiapkan oleh Shena.


"Mas, aku mau beli alas tidur ya,"


Shena menyentuh banyak pilihan kain-kain untuk alas tidur anak bayi yang warna dan bahannya bagus memiliki motif yang menggemaskan juga.


"Masih kurang kalau itu?"


"Iya, sekalian sama selimut juga deh,"


"Ya udah terserah kamu aja,"


"Mas tolong bantuin aku pilih boleh nggak?"


"Aku nggak ngerti mana yang bagus, Sayang. Semuanya bagus soalnya, aku bingung kalau disuruh milih, beneran deh,"


"Udah nggak apa-apa. Ayo bantuin aku pilih,"


Shena meraih tangan suaminya supaya lebih dekat dengannya. Dio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika dihadapkan dengan pilihan yang sulit karena semuanya bagus-bagus menurut Dio. Ia tidak bisa memilih, rasanya ingin membawa semua ke troli supaya tidak repot memilih mana yang paling bagus dari banyaknya pilihan yang bagus.


"Yang mana, Mas?"


"Ih aku bingung banget, Bee, beneran deh,"


"Masa nggak ada satupun yang bikin kamu tertarik, Mas?"


"Ya kata aku semuanya bagus dan aku tertarik. Ya udah kalau gitu, gimana kalau kita beli semuanya aja?"

__ADS_1


"Ada-ada aja kamu, Mas. Mau lahiran mending uang rajin disimpan soalnya bakal banyak keperluan nanti, sebenarnya dari sekarang aja udah banyak keperluan 'kan,"


"Ya habisnya aku bingung banget kalau disuruh milih,"


Dio menggaruk pelipisnya kali ini. Tangannya sedang mencari-mencari kain alas tidur yang semua motifnya menggemaskan dan cocok untuk kedua anaknya hingga akhirnya Dio menjatuhkan pilihan pada alas tidur yang polos tanpa motif. Menurutnya lebih baik tanpa motif daripada bingung mau motif yang mana karena semuanya memang menggemaskan.


"Jadi yang polos aja nih, Mas?"


"Iya, Bee. Aku mau yang polos aja, daripada bingung mau motif ini atau itu, mending ambil jalan tengah polos biru laut sama babypink,"


"Okay, nggak mau nambah? yang motif emang udah lumayan di rumah, Mas. Kalau yang polos emang belum ada,"


"Nah, pas berarti ya. Yang polos cuma satu-satu aja? nggak mau nambah?"


"Ya udah tambah dua deh, Mas. Warna cowok sama cewek,"


Dio menganggukkan kepalanya. Kali ini Ia mengambil warna abu-abu dan juga ungu muda.


"Yeay bagus-bagus warnanya, Mas. Cocok banget aku rasa,"


"Iya dong, siapa dulu yang milih? papanya gitu lho,"


"Makasih ya, Mas,"


"Okay sama-sama, Bee,"


"Aku seneng banget Mas mau temenin aku belanja bahkan bantu milih juga. Jadi kerjaan aku enak, Mas,"


"Sekarang kita mau beli apa lagi? selimut nggak?"


"Nggak, udah cukup kalau selimut, Mas,"


"Sepatu gimana?"


"Sepatu udah ada dua-dua, sepatu nggak usah terlalu banyak kalau baru lahir, Mas. 'Kan si bayi-bayi belum mau pergi dulu kalau baru lahir,"

__ADS_1


__ADS_2