Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 76


__ADS_3

“Ibu, menantu Ibu ini lagi hamil. Sebisa mungkin istirahatnya dijaga, pola makan teratur, jangan dibiarkan banyak beban pikiran, kandungannya lemah jadi saya sarankan untuk istirahat total ya, Bu,” penjelasan Dokter tentu saja langsung membuat Ardina terkejut. Menantunya sedang mengandung? Ia sangat abhagia mendengar itu, sampai tidak terasa air matanya jatuh.


“Menantus aya hamil ya, Dok? Jujur saya baru tau,”


“Suainya sudah masuk tiga bulan ya, masih cukup rentan. Jadi diusahakan istirahat total atau bed rest,”


“Baik, Dokter. Terimakasih banyak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mastiin menantu dan cucu saya baik-baik aja,”


“Sama-sama, Ibu,”


“Jadi menantu saya harus dirawat, atau boleh pulang, Dokter?”


“Diperbolehkan pulang kok tapis aya kaish resep ya nanti silahkan diambil di instalasi farmasi,”


“Baik, Dokter,”

__ADS_1


Ardina menunggu resep dipersiapkan sebentar setelah itu barulah Ia beranjak meninggalkan ruangan dokte ryang baru saja mengajaknya bicara tentang kondisi Shena yang ternyata sedang mengandung.


Ardina langsung menghampiri Shena di bangsalnya. Shena bersama Bibi yang sengaja Ia ajak supaya bsia mendampingi Shena kalau Ia diperlukan untuk menemani Shena bilamana Ia diperlukan untuk mengurus ini dan itu.


Sebelumnya Shena memang diperiksa oleh dokter yang sengaja dipanggil ke rumah. Dan dokter sudah punya dugaan bahwa Shena mengandung, lalu Shena dipersilahkan untuk ke rumah sakit. Shena yang sudah terbnagun dari pingsannya sempat menolak diajak ke rumah sakit karena Ia merasa baik-baik saja. Tapi Ardina memaksa karena Ardina ingin memastikan sendiri diagnosa dokter sebelumnya yang ternyata memang benar Shena mengandung dan kondisinya lemah sehingga bisa tak sadarkan diri secara tiba-tiba seperti tadi.


“Sayang, kamu beneran hamil. Mama senang banget, Nak. Makasih ya, Nak,”


Shena tersenyum meringis. Ternyata ibu mertuanya sudah tahu kalau Ia mengandung, Ia tidak bsia menutupinya lagi.


Shena diam sebentar. Jujur Shena bingung harus jujur sekarang atau tidak. Ia belum bersiap menerima tanggapan ibu mertuanya kalau Ia jujur sekarang.


“Sayang, kenapa kamu diam? Kamu kayaknya udah tau ya?”


Shena tersneyum tipis dan akhirnya memilih untuk menganggukkan kepala. Shena menutuskan untuk menjawab jujur sekarang.

__ADS_1


“Kenapa kamu nggak kasih tau Mama, Shen? Hmm?”


“Bukan cuma Mama, tapi memang aku belum bilang ke siapa-siapa kalau aku lagi hamil, Ma. Sebelumnya aku minta maaf banget belum jujur sama mama dna yang lainnya. Tapi aku ngelakuin ini karena aku punya alasan,”


“Apa alasan kamu, Nak? Kenapa kamu nutupin berita bahagia ini dari kita semua?”


“Iya, Mba kenapa ditutupi? Anak Mba sama Mas Dio itu udah dinanti-nantikan. Ini cucu pertama jadi sekangat banget nungguinnya,” ujar Bibi yang heran juga kenapa Shena memilih untuk tidak jujur padahal kalau jujur, semua pasti akan sangat bahagia ketika mendapat berita bahwa Shena mengandung.


“Karena aku tau Dio belum siap jadi ayah, Ma. Aku takut, jujur aku takut banget anakku ini nggak dianggap sama Dio. Aku takut ngeliat reaksi Dio yang nantinya kemungkinan besar bakal nggak nerima anak ini. Jadi aku mutusin untuk ninggu dulu, Ma,”


“Ya Allah kenapa kamu berpikir kayak gitu, Shen? Dan maus ampai kapan kamu nunggu, Nak? Hmm? Dio pasti nerima anak kalian,”


“Tapi dia ‘kan belum siap punya anak, Ma. Dia berulang kali ngomong kayak gitu ke aku. Jadi aku takut, Ma. Aku takut kalau aku jujur, anak aku ini dapat penolakan dari Mas Dio, atau bahkan Mas Dio nyuruh aku yang nggak-nggak untuk bikina anak nggak jadi lahir ke dunia, Ma,”


“Astaghfirullah, Nak. Kamu nggak boleh berpikiran kayak gitu. Dio nggak akan sejahat itu. Kalaupun dia belum siap, kalau udha dikasih ya masa dia mau nolak? Ini tandnaya Allah ridho makanya dikasih, dan Allah udah percaya sama kalian. Allah anggap kalian udah siap, kalian itu udah dikasih kepercayaan dan nggak boleh nyia-nyian kepercayaan itu,”

__ADS_1


__ADS_2