Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 62


__ADS_3

“Yeayy ternyata bisa dong kita masuk timezone. Aku pikir nggak bisa,”


“Sekarang kenala kamu yang senang, Dio? Bukannya aku yang pengen ke timezone ya?”


“Senang lah, karena itu artinya gue berhasil nurutin kemauan lo,” ujar Dio sambil mengedipkan salah satu matanya dan menjawil dagu istrinya itu.


“Sekarang lo mau main apa?”


“Mandi bola yuk,” ajak Shena yang langsung ditanggapi dengan sumringah oleh suaminya.


“Okay ayok,”


Dio dan Shena langsung mendatangi wahana yang diinginkan oleh Shena itu. Dio ikut masuk, tidak hanya Shena saja. Salah satu pendamping anak yang sedang bermain mandi bola tiba-tiba bertanya pada mereka berdua yang baru datang.


“Pacaran ya? Baru abis pulang kuliah ya langsung ke sini?”


Dio dan Shena tersenyum maklum. Tidak aneh kalau mereka disangka pacaran, karena mungkin kelihatan masih muda, padahal bukan pacaran lagi melainkan lebih dari itu.


“Bukan, Bu, kami udah nikah,” jawab Dio yang langsung membuat wanita yang dipanggil ‘bu’ oleh Dio itu sedikit membelalakkan kedua matanya.


“Serius udah nikah? Wah nikah muda ya? Udah punya buntut?”


“Buntut apa, Bu?”


Shena terkekeh mendengar pertanyaan Dio. Ternyata Dio tidak tahu apa maksud ‘buntut’ yang diucapkan oleh ibu itu.


“Buntut itu maksudnya anak,” bisik Shena menjelaskan pada suaminya.


“Oh, belum punya buntut, Bu. Maaf saya kira buntut apa? Saya ‘kan manusia, kenaoa ditanya buntut. Oh ternyata anak ya, Bu?”


“Iya anak maksudnya hehehe,”


“Iya belum, Bu,”


“Daya doain secepatnya ya,”


Dio dan Shena tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka lantas menenggelamkan diri ke lautan bola bersama anak-anak kecil. Jujur Dio agak malu, taoi mau bagaimana lagi? Ia ingin istrinya itu senang ketika keinginannya terpenuhi.


“Makasih ya kamu udah mau temenin aku ke sini, Dio. Walaupun aku tau kamu apsti malu ya?”


“Nggak ah, gue nggak malu kok,”


Dio mengelak walaupun kenyataannya seprrti itu. Dio merasa malu karena harus main diw ahan permainan anak-anak tapi apa boleh buat. Ini yang menghadirkan kebahagiaan untuk Shelina jadi Ia turuti saja.


“Makasih ya, Dio,”


“Iya sama-sama, lo bilang makaish mulu deh,”


“Aku senang banget kamu mau temenin aku main, berusaha nahan malu hahaha. Semkga sering-sering ya kamu begini,”


“Apa sih yang nggak buat lo,”


Shena naik ke atas seluncuran dan Dio ada di bawah, ketika Shena meluncur, Dio dengan sigap memastikan Shena aman. Dan mereka tertawa bersama.


“Hati-hati ya mainnya, jangan sampai lo kenapa-napa,” pesan Dio pada Shena yang akan naik lagi ke atas seluncuran. Dio berpesan sambil mengusap puncak kepala istrinya itu.


“Iya siap,”


Lagi-lagi Shena meluncur dan suaminya ada di bawah menunggunya. “Nggak usah ditangkap aku nya,” ujar Shena yang langsung ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Argantara.


“Ih jangan ditangkap!”


“Biarin, suka-suka aku lah,”


“Ih—“


“Udah buruan, biar kayak film india ada tangkep-tangkepan,”


“Emang aku ikan ditangkep,”


“Nggak apa-apa, tadi nghak protes kok sekarang protes sih,”


“Huh! Ya udah deh, oadahal ‘kan sleungurannya udah rendah, ngapain coba nadahin tangan buat nangkap aku,”


“Nggak apa-ala gue iseng, sekalian jagain lo, buruan itu ada anaknyang mau meluncur juga,” ujar Dio pada istrinya.


Shena langsung meluncur dan lagi-lagi mendarat di tangan suaminya dan mereka tertawa.


“Orang ini seluncurannya rendah, ngapain ditangkap coba? Khawatir aku kenapa-napa ya?”


“Itu tau,”


Shena langsung melemparkan beberapa bola sekaligus ke suaminya yang tidak terima diserang, sehingga Ia langsung memberikan perlawanan, tapi baik Dio maupun Shena tidak melempar menggunakan tenaga kuda, karena takut menyakiti satu sama lain. Shen berhenti dan langsung minta suaminya juga untuk berhenti.


“Yah payah udah ngos-ngosan, tapi nyernag duluan, giliran diserang balik kecapekan,” ujar Dil seraya tertawa.


Shena sekarang bermain bola sendjrian, seolah Ia tengah mandi, Ia mengguyur badannya dengan banyaknya bola. Dio tersenyum melihat kebahagiaan terpancar di wajah istrinay


Dio langsung mengambil ponsel dan mengabadikan momen ini. Ia tidak mau melewatkannya. Karena Shena kelihatan sanbay bahagia, jadi sayang kalau senyumnya tidak Ia abadikan dengan kamera ponsel. Setelah berhasil mengambil beberapa gambar, Dio menyimpan ponselnya ke dalan saku celana lagi dan kali ini fokus memperhatikan Shena saja, walaupun banyak anak kecil yang lebih menarik untuk diperhatikan tapi entah kenapa Dio tidak bisa mengalihkan perhatiannya sama sekali dari istrinya, Ia lebih tertarik memperhatikan Shena ketimbang anak-anak itu.


“Kita main yang lain yuk, motor-motoran,”


“Kamu udah puas belum main di sini?” Tanya Dio pada istrinya.

__ADS_1


“Udah, sekarang mau main yang lain, ini udah bosan,”


“Okay ayo,”


Dio membawa istrinya yang ingin mencoba game motor. Tapi ketika sampai, Shena malah mau mencoba capit boneka. Akhirnya Dio dan Shena menghampiri mesin capit boneka.


“Doain aku ya supaya dapat,”


“Kalau nggak dapat juga nggak apa-apa kok, nanti beli aja boneka yang sama dimana kek, pasti jual ‘kan,”


“Ih tapi aku tuh pengen dapat soalnya kalau beli rasnaya tuh beda, nggak ada perjuangan did alam boneka itu,”


“Ya elah, perjuangan segala. Emang lagi perang,”


“Hahahaha tapi emang benar. Kalau dapat boneka hasil capit sendiri tuh ‘kan ada perjuangan, jadi pas dapat rasanya puas banget. Nah kalau beli mah biasa aja. Nggak ada rasa senang yang banget-banget kalau udah berhasil beli,”


“Nggak apa-apa yang penting punya. Kalau emang nggak dapat pokoknya nanti kita beli,”


“Nggak usah, kalau nggak dapat ya nggak apa-apa, ini aku coba peruntungan aja,”


Shena langsung mencoba dan Dio tertawa melihat keseriusan Shena yang selain serius tegang juga sebenarnya. Ia takut tidak dapat.


“Ayo-ayo senangat, fokus, jangan sia-siakan kesempatan yang kamu punya, Shena,”


“Ih kamu kayak apaan aja nyemangatin aku nya,”


“Lah emang kenapa? Nggak boleh nih aku nyemangatin istri sendiri kayak gitu?”


“Hahaha boleh-boleh, makasih ya,”


Shena gagal dipercobaan pertama karena bonekanya jatuh tidak pada tempatnya. Shena langsung kecewa, suasana hati nya langsung berubah. Mukanya juga murung.


“Ah elah baru sekali udah nggak dapat,”


“Jangan nyerah dong, ‘kan baru sekali. Ayo-ayo coba lagi, semangat!”ucap Dio sambil mengusap bahunya.


“Okay aku coba lagi semoga kali ini berhasil,”


“Aamiin aku doain ya, Shen,”


“Kalau aku berhasil dapat satu boneka, berarti itu berkat dia kamu suami aku,”


Dio tersneyum salah tingkah. Diakui sebagai suami, di sebelah ornag yang lagi bermain juga, langsung membuat Dio salah tingkah.


Shena mulai menggerakkan pencapit, setelah sirasa pas, Ia langsung menurunkan pencapit itu untuk mencapit satu buah boneka yang menurutnya paling menggemaskan. Sambil Ia berdoa, Ia mengarahkan pencapit itu ke area dimana boneka seharusnya jatuh supaya Ia bisa membawanya pulang.


Ternyata berhasil, Shena langsung tersenyum lebar menatap suaminya yang ikut senang karena istrinya berhasil mendapatkan satu buah boneka. Terlalu senang sampai Shena tidak sengaja memeluk suaminya singkat. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami dan menyandarkan pipiny di dada Dio tapi sedetik kemudian di lepaskan laena Shena akan mengambil boneka yang sudah berhasil Ia dapatkan.


“Iya senang banget. Berarti doa kamu manjur banget. Langsung dapat lho aku,”


“Ikut senang juga aku,”


“Masih ada tientnya aku main lagi ya,”


“Iya dong, sepuasnya, terserah kamu mau main sampai kapan, pokoknya waktu aku hari ini buat kamu,” ujar Dio sambil mengusap puncak kepala istrinya itu.


“Semoga kali ini dapat kagi, tapi kalaupun mggak dapat juga nggak apa-apa deh yang penting aku udah dapat satu,” ujar Shena yang kali ini tidak begitu berharap. Kalau dapat ya berysukur kalau tidak dapat juga tetap bersyukur karena Ia sudah berhasil mendapatkan satu buah boneka tadi di percobaan kedua.


“Coba kita liat apalah si percobaan ketiga ini kamu berhaisl dapat boneka lagi? Hmm menarik untuk ditunggu,”


“Kamu kayak lagi bawian acara deh, kayak mc gitu,”


“Hahaha ada-ada aja sih, kamu mau aku jadi mc apa gimana nih?”


“Nggak, mirip aja gitu cara ngomongnya,” ujar Shena.


Sayangnya si percobaan ketiga ini Shena gagal karena boneka yang Ia capit tiba-tiba jatuh di tengah perjalanan. Akhirnya Shena terkekeh, kali ini Ia lebih berbesar hati menerima kegagalan, tidak seperti sebelumnya yang benar-benar berharap berhasil dapat boneka.


“Nggak apa-apa maish ada kesempatan selagi kamu masih ada tiketnya. Coba lagi gih,” ujar Dio pada istrinya yang mengangguk.


“Senoga kali ini dpaat biar boneka yang aku legang ini ada temannya,”


“Biar sepasang ambil boneka si mickey aja, Shen. ‘Kan minnie udah tuh. Tadi kamu ambilnya boneka hello kitty, mungkin nggak jodoh kali,”


Shena terkekeh mendnegar analisa suaminya mendnai penyebab gagalnya Ia mengambil boneka hello kitty barusan. Tidak jodoh kata Dio. Makanya Ia tidak berhasil mendapatkannya.


“Okay aku coba ya,”


“Iya coba ambil si mickey, biar jadi teman minnie,” ujar Dio.


“Iya semoga bia aya kali ini,”


Shena memfokuskan pandangan lagi untuk mengambil target, setelah berhasil mencapit boneka mickey, Ia merasa tidak tenang karena takut bineka itu jatuh lagi. Tapi ternyata tidak, smapai si akhir perjalanannya, boneka itu tidak jatuh. Boneka itu jatuhnya tepat dimana seharusnya Ia jatuh sehingga bis amenjadi milik Shena.


“Yeayyy aku berhasil dapat dua. Benar kata kamu ternyata ya. Hello kitty tadi nggak dapat, sekarang mickey dapat, dia ditakdirin untuk temenin boneka minnie yang aku dapat barusan,”


“Iya bener berjodoh ternyata,” ujar Dio.


“Udah yuk, kita main motor-motoran,”


“Dua aja cukup?”


“Iya sekarang aku mau naik motor,”

__ADS_1


“Okay ayo,”


“Eh jangan motor-motoran deh kayaknya itu buat anak kecil deh,”


“Ya udah terus mau apa dong?”


“Hmm—-apa ya? Aku bingung juga nih. Kamu ada ide nggak?”


“Main lempar-lempar bola bakset aja yuk, kamu mau nggak?” Tanya Dil yang langsung mendapah jawaban berupa anggukan antusias dari istrinya.


“Mau-mau,”


“Ya udah ayo,”


Dio hanya menemani, Ia tidak tertarik memainkannya. Ia biarkan istrinya saja yang bermain itu. Dan Dio setia menjadi pemerhati.


“Kamu nggak mau nyoba gitu?”


“Nggak ah, aku ngeliatin kamu aja karena lebih seru ngeliatin kamu,” ujar Dio.


“Ah bisa aja kamu,” ujar Shena sambil tersenyum. Hanya sebentar karena Shena merasa lelah dan juga bosan.


“Aku mau minum nih, haus. Udahan yuk mainnya,”


”Beneran nih?“ tanya Dio pada istrinya yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Kamu udah puas main di sini?”


“Udah,”


“Udah mau keluar aja?”


“Iya, ih kamu nanya terus,”


“Iya buat mastiin aja, Shen. Ya udah kalau dmang kamu udah puas main di sini ayo kita keluar cari minuman,”


“Terus kita makan ramen yuk, kamu mau nggak?”


“Mau dong, apa aja yang kamu, itu bakal jadi kemauan aku juga. Aku ngikut aja udah,”


“Kalau kamu nggak mau nggak apa-apa, jangan maksain. Takutnya kamu nggak lagi pengen ramen tapi karena aku mau kamu jadi terpaksa deh,”


“Nggak kok, aku nggak terpaksa. Aku mau juga makan ramen,”


“Ya udah yuk kita cari minuman di gin dulu, es krim aja gimana?”


“Boleh, aku ikut kamu aja,”


Mereka langsung mencari minuman dingin sesuai permintaan Shena setelah keluar dari tempat bermain timezone.


“Aku senang banget deh main di timezone tadi, apalagi ditemenin sama kamu terus aku berhaisl dapat dua boneka ini. Oh iya belum aku masukin tas, agak malu juga ya nentengnya hahaha,” ujar Shena sambil menyimpan bonekanya di dalam tas bahu yang Ia bawa.


“Nggak apa-apa sih, emang siapa yang bakal ngejek kamu? Nggak boleh ada satupun,”


“Soalnya aku udah gede masa nenteng bonska sih,”


“Ya terus kenapa? Nggak apa-apa lah,”


“Dikiranya aku masa kecil kurang bahagia. Udah gede, masih nenteng boneka udah gitu mukanya sumringah banget lagi,”


Dio tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Ia merangkul Shena dan mengusap puncak kepala Shena dengan lembut.


“Nah itu ada kedai es krim. Lengkap ya di lantai dua mall ini, tempat belanja bahan-bahan pokok ada, tempat main ada, tempat belanja baju cewek cowok dan anak-anak ada, terus—tempat pijat juga ada, salon ada,” ujar Shena.


“Kira-kira ramen lantai berapa ya?” Tanya Shena.


“Lantai empat,” jawab Dio.


“Oh gitu?”


“Iya aku pernah soalnya,” jawab Dio.


“Oh kamu eprnah makan ramen di sini?”


“Hmm beberapa kali deh kalau nggak salah,”


“Sama aku kayaknya baru kali ini ya?”


“Iya,”


“Kamu seringnya makan ramen di sinis ama siapa?”


“Sama teman pernah,”


“Sama mantan pernah?”


“Pernah juga,”


Padahal tadinya Dio sengaja tidak mau menyebut kalau Ia pernah makan ramen bersama ma tan ekaksihnya yang saat itu maish menjadi kekasihnya. Tapi karena Shena bertanya jadi Ia jawab dengan jujur. Karena kalau Ia bohong juga rasanya percuma. Shena lebih tahu karena dia peka.


“Kalau sama aku baru kali ini,” ujar Shena.


“Aku bakal sering-sering ajak kamu makan ramen di sini karena rasanya tuh enak banget,” ujar Dio pada istrinya seraya mencium puncak kepalanya singkat.

__ADS_1


__ADS_2