Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 111


__ADS_3

Sambil mengisi waktu luang, daripada diprotes suaminya karena baca novel terus, Shena lebih baik melihat baju-baju bayi yang sudah dibelinya sejak usia kehamilan lima bulan. Shena ingin memastikan semua telah siap untuk digunakan.


"Wuih Masya Allah banyak banget ya, Bee,"


"Bee, kata orang kalau mau beli baju untuk anak bayi yang lagi mau lahir itu belinya yang ukuran besar-besar supaya kepakainya lama. Tapi kalau aku perhatiin kamu nggak ya, Bee?"


"Nggak, Mas. Untuk apa? baju untuk mereka besar nanti ya bisa dibeli nanti-nanti. Takutnya malah udah sengaja beli yang besar eh pas besar jadi kelupaan dipakai karena udah kelamaan disimpan,"


"Oh iya, bener juga kamu, Bee. Sayang-sayang kalau nggak kepakai ya,"


"Iya, karena udah keburu lupa. Mending yang dibeli sekarang ya untuk dipakai sekarang. Nah kalau dipakai nanti tinggal beli nanti aja, 'kan gampang,"


"Aku bingung deh kenapa kamu belum beli stroller, Bee? padahal itu salah satu yang penting juga,"


"Aku lagi pesan soalnya sekalian custom nama,"


"Oalah pantes aja belum ada. Aku pikir emang belum beli atau malah nggak beli. Aku bakal tegur sih kalau nggak beneran beli,"


"Pasti beli lah, Mas. Soalnya itu emang penting, bener kata kamu, Mas,"


"Anak aku harus punya semuanya sih, karena Alhamdulillah 'kan kita ada. Untuk siapalagi yang kita punya ini kalau bukan untuk anak 'kan?"


"Iya benar, Mas,"

__ADS_1


"Selagi ada, yang kalau bisa harus maksimal demi anak. Cari duit kalau bukan untuk keluarga, terutama untuk anak istri, ya untuk siapa lagi? anak harus ngerasain yang namanya jadi prioritas. Soalnya aku pribadi tau banget gimana rasanya jadi prioritas. Enak banget, dan dari dulu aku punya keinginan dan harapan mudah-mudahan aku bisa ngelakuin hal serupa kayak papa mama ke aku, bahkan aku maunya aku bisa memperlakukan anak-anak aku lebih lagi daripada ayah bunda. Mereka udah maksimal ke aku, nah aku juga pengen maksimal ke anak aku kalau bisa lebih malah,"


"Iya sama, Mas. Aku juga Alhamdulillah selalu aja diutamakan sama papa mama, mereka baik banget ke aku, aku udah dianggap princess sama mereka,”


“Tapi sayang perempuan yang mereka anggap princess malah sempat aku sakitin. Aku minta maaf ya, Sayang. Eh panggil Bee aja deh lebih cocok buat kamu yang gemas,”


"Udah lah, Mas. Nggak usah dibahas lagi soal itu,"


Shena tidak mau Dio terus menerus tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri. Sekarang Shena luka di hati Shena terbilang sudah pulih.


"Maafin ya, Bee,"


"Ih kok minta maaf lagi sih? aku nggak mau ah kalau kamu bahas itu terus selalu aja minta maaf ujungnya,"


"Ya karena aku salah makanya aku minta maaf, Sayang,"


Shena mengusap dagu suaminya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus dan Shena risih sebenarnya.


"Mas, kenapa nggak dibabat habis itu bulu di dagunya?"


"Iya nanti aja sekalian mandi,"


"Mau aku bantu nggak?"

__ADS_1


"Nggak usah, Bee. Banyak-banyakin kerjaan kamu aja,"


Dio tidak mau menambah kegiatan istrinya yang ruang gerak saja sudah semakin terbatas dan Ia tidak tega bila melihat itu.


"Ya nggak apa-apa, Mas. Lagian emang kerjaan aku apa sih? aku 'kan masih belum balik sibuk di toko gara-gara sakit kemarin,”


Shena tidak merasa sesibuk itu sampai membabat habis bulu halus di sekitar wajah bagian bawah suaminya saja Ia tidak bisa melakukannya.


"Ya tetap aja lah aku nggak mau ah. Biar aku aja, lagian aku lebih cepat. Kalau kamu mah terlalu hati-hati,"


"Aku kadang takut bikin Mas luka tau,"


"Ya nggaklah, Bee. Itu 'kan pisau cukurnya udah yang aman nggak bakal bikin luka atau kebeset sama siletnya,"


"Tetap aja lah kalau udah musibah, Mas,"


Shena terlalu hati-hati karena Ia belum terbiasa seperti Dio dan juga ada rasa takut dari dalam diri Shena kalau dia akan melukai suaminya bila tidak hati-hati ketika membantu Dio membabat habis bulu di sekitar wajahnya.


"Jadi kita udah saling memaafkan ya kata kamu tadi? lebaran dong ya. Maaf lahir batin,"


Dio kembali mengangkat topik pembahasan permintaan maafnya tadi dan meninggalkan persoalan rambut halus di bagian bawah wajahnya. Ia takut istrinya bersikeras ingin tetap membabat habis rambut di dagunya.


"Kita udah sepakat untuk lupain masa lalu yang kurang bagus dan udah saling memaafkan juga. Jadi Mas jangan merasa bersalah terus dan minta maaf lagi dan lagi. Aku sampai bosan lho, Mas,"

__ADS_1


"Masa dengerin aku minta maaf terus bosen sih, Bee? ya jangan dong. Jangan pernah bosen, karena kesalahan aku itu banyak banget ke kamu jadi wajar aja kalau aku sering minta maaf,"


Shena menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri kemudian Ia juga mendekatkan jari telunjuknya dengan bibir sang suami. Itu ada tanda atau peringatan dari Shena untuk Dio agar Dio tidak lagi membahas soal masa lalu dimana Dio merasa bersalah terus menerus dan tak henti juga untuk meminta maaf.


__ADS_2