Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 116


__ADS_3

“Hati-hati ya, Mas. Pelan aja bawa motornya,”


“Iya, tenang aja. Insya Allah aku baik-baik aja,”


Shena mencium punggung tangan adio sebelum keluar dari kamar. Lelaki itu sudah menggunakan jaket, kaus kaki, dengan ransel di punggungnya yang berisi perlengkapan liburan sudah termasuk air putih untuk Dio bila haus dalam perjalanan.


Dio mencium kening Shena juga perut Shena. Ia agak lama membungkuk di depan perut Shena setelah mencium, sebab Ia tengah mengajak anaknya mengobrol di dalam hati.


“Sayang, papa pergi sebentar ya. Jangan rewel, baik-baik di perut mama. Okay, anak pintar? Papa langsung pulang nanti terus bawa oleh-oleh juga. Ya walaupun buah mama sih oleh-oleh nya tapi kamu ‘kan juga kebagian ya? Pokoknya jangan rewel di perut mama. Assalamualaikum,”


Dio kembali berdiri tegap sambil masih mengusap perut Shena. Kemudian Ia mencium kening Shena sekali lagi.


“Aku mau liburan nih, nanti kalau udah lahiran aku ajak kamu liburan ya, yang agak jauh deh,”


“Yeayy bener ya?”


“Iya bener lah, masa aku boong? Aku ajakin ke tempat yang sesuai sama keinginan kamu. Kamu penginnya kemana, nanti aku turuti,”


“Aduh enggak sabar nih aku,”


“Sabar, lahiran aja belum,”

__ADS_1


Mereka keluar dari kamar. Dio langsung ke garasi motor. Ternyata abangnya sudah berada di atas motor sendiri.


“Asek yang mau liburan,”


“Lah lo juga,”


“Asekk yang kayak bujang, liburan sendiri,” ejek Sakti mengundang tawa mereka semua yang melepas kepergian Dio dan Sehan.


Memang sudah seperti bujang saja anak-anak Sakti itu. Pergi hanya seorang diri tanpa pasangan yang terpaksa tidak ikut karena sedang mengandung. Pasangan mereka juga sangat mendukung karena mereka tahu suami-suami mereka itu perlu refreshing.


“Beneran ikhlas ‘kan nih dua-duanya ngasih izin kita pergi?” Tanya Sehan seraya menatap Shena dan Tania. Mereka berdua langsung mengangguk. Tak ada rasa keberatan sama sekali. Karena hanya sebentar dan juga tidak begitu jauh sebenarnya. Baik Sehan maupun Dio juga sudah minta izin baik-baik.


“Ikhlas dong,”


“Okay kalau begitu. Assalamualaikum,”


“Assalamualaikum, pergi dulu ya,”


“Waalaikumsalam, hati-hati ya,”


“Sip, Ma,”

__ADS_1


Dio dan Sehan melajukan motor meninggalkan sebentar istri-istri mereka yang menginginkan mereka pergi berlibur padahal awalnya tak dipungkiri mereka merasa keberatan.


“Dah, kita masuk yuk,”


Ardina mengajak menantunya untuk masuk ke dalam rumah. Sudah malam, angin malam kurang baik untuk mereka yang hanya mengenakan baju dengan lengan sampai siku.


“Dingin ya,”


“Iya makanya Mama ajak masuk, Shen,”


“Sampe merinding aku, Ma,”


Shena mengamati bulu-bulu tangannya yang berdiri. Padahal hanya sebentar saja ada di luar tadi, hanya untuk melepas kepergian suaminya saja.


“Istirahat, Shena, Tania. Jangan tidur terlalu malam mentang-mentang nggak ada suami yang ngomelin,”


“Iya, Ma,”


Yang cerewet menyuruh istirahat dan tidak kelelahan adalah suami. Sementara saat ini Dio dan Sehan sedang pergi sampai besok.


“Soalnya Sehan sama Dio sama-sama titip pesan. Katanya kalau istrinya bandel, jewer aja,”

__ADS_1


Tania dan Shena terkekeh dan tidak takut dijewer Ardina. Mana tega Ardina melakukannya. Melihat mereka terbeset sedikit karena pisau saja, Ardina sudah cemas sekali. Tania diminta Sehan suaminya untuk sementara waktu di rumah Ardina yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri itu. Sehan lebih tenang bila istrinya bersama Ardina dan Sakti, lagipula ada Shena yang menjadi teman Tania yang sudah menganggap Shena itu adiknya sendiri, bukan ipar lagi.


__ADS_2