
“Aku nih lagi beli pisang bolen, mau enggak, Bee?”
Berhubung hanya pergi berlibur seorang diri, otomatis hanya Ia sendiri yang mencari buah tangan. Sebenarnya Dio tidak bisa diandalkan untuk masalah ini cuma mau bagaimana lagi? Istrinya sudah berpesan soal oleh-oleh terus agar Ia tidak lupa.
“Mau atuh lah, jangan ditanya lagi, Mas,”
Terlihat wajah Shena yang senang bukan main mendengar suaminya menawarkan pisang bolen. Ia harap semuanya awet sampai Jakarta.
“Yang banyak ya, Mas,”
“Jangan banyak-banyak, gimana bawanya coba? Nanti motor aku enggak muat, ini aja bingung mau simpan dimana aja. Udah beli brownies panggang lah, batagor lah, moci lah,”
Shena tertawa mendengar curhatan suaminya yang kali ini terpaksa mencari buah tangan sendirian, biasanya ada Ia yang nomor satu kalau urusan belanja oleh-oleh untuk keluarga yang tak ikut liburan.
“Udah aja kata aku, Mas. Itu udah cukup kok,”
“Yakin nih enggak ada yang mau dibeli lagi? Kalau teman-teman aku tuh pada beli makanan ringan gitu lho, Bee,”
“Enggak usah, kamu beli itu aja udah cukup,”
“Lah tumben cuma dikit? Ini dikit nih, biasanya kalau kamu ikut agak lebih banyak, tapi herannya kebawa aja biar kata naik motor juga,”
“Iya ‘kan ada yang pegangin yaitu aku, belum lagi yang di atas motornya. Kalau ini ‘kan cuma kamu sendiri jadi enggak usah terlalu banyak lah, itu aja sebenarnya udah cukup banyak kok,”
“Okay, berarti bolen aja ya terakhir?”
“Iya, Mas. Terimakasih ya, Mas,”
“Sama-sama, sampai Jakarta ada upahnya ya, bye, Assalamualaikum,”
Dio cepat-cepat menyudahi video call dengan Shena karena melihat mata Shena yang melotot padanya setelah Ia minta upah. Tentu saja Ia hanya bercanda tapi kalau mau diberikan upah oleh Shena, Ia tidak akan menolak. Hanya saja, bukan upah berupa uang, tapi yang lain.
Dio terkekeh sendiri karena membayangkan wajah Shena sekarang. Shena pasti nyambung dengan arah pembicaraannya tadi makanya Shena melotot. Kalau Ia ada di dekat Shena sekarang, dapat dipastikan istrinya itu akan mencubitnya untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Dio segera memesan pisang bolen yang ramai antrean dan hampir semua adalah teman-temannya. Rupanya mereka juga kepingin dengan makanan itu.
*****
Dio dan teman-temannya istirahat sebentar dulu di villa sebelum nanti kembali pulang ke rumah saat sudah shalat dzuhur dan juga makan siang.
__ADS_1
Rupanya mencari oleh-oleh cukup melelahkan juga untuk mereka yang sebenarnya jarang berbelanja.
Dio merebahkan badannya setelah meletakkan semua yang sudah Ia beli di meja dekat tempat tidurnya.
“Gue mau langsung packing aja deh untuk pulang abis itu baru deh istirahat bentar,” ujar Sehan yang beda keinginan. Disaat teman-teman satu kamar langsung beristirahat, Sehan justru ingin menyimpan oleh-olehnya di dalam motor sampai dirasa aman setelah itu baru istirahat.
“Bang, sekalian dong,”
“Enggak ah, ituin aja sendiri,”
Dio menggertakkan giginya kesal. Sehan tidak mau repot dua kali rupanya. Dio harus memastikan oleh-olehnya rapi di atas motor dan siap dibawa pulang ke Jakarta.
Dio dan dua temannya sempat tidur sebentar sampai kemudian dibangunkan karena sudah waktunya makan siang. Semua hidangan sudah disajikan oleh pihak pelayanan vila, mereka tinggal makan.
Disela Dio makan, Shena kebetulan menghubungi suaminya untuk menanyakan apakah Dio sudah akan pulang atau belum. Tentunya kalau sudah ingin pulang, Shena punya pesan-pesan untuk suaminya itu.
“Mas, lagi ngapain? Udah mau pulang?”
“Aku lagi makan, habis ini shalat terus jalan ya, Bee,”
“Oh gitu, okay, hati-hati ya, Mas. Jangan ngantuk, terus itu bawaan kalau ada yang bikin ribet tinggal aja udah, daripada malah ganggu Mas di perjalanan nanti. Oleh-oleh Mas kebanyakan enggak?”
“Pake kardus ya, Mas?”
“Hah? Enggak kok, Teman aku sih ada yang begitu, karena dia beli banyak cemilan, kalau aku kayaknya enggak deh,”
“Ya udah hati-hati pokoknya ya, Mas. Kalau udah mau berangkat tolong kabarin aku ya, jangan lupa doa, Mas!”
“Iya, udah ingat semuanya aku,”
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Dio menyimpan ponselnya lagi di saku celana usai menjawab telepon istrinya. Ia kembali melanjutkan makan siang.
“Gue tuh beli tempe kering, rempeyek, apaan aja segala macam, persis kayak mau jualan, njir,”
“Lo pake kardus ‘kan?” Tanya Dio pada Toni temannya yang tertawa menceritakan menggambarkan apa saja yang Ia bawa pulang.
__ADS_1
“Iya,”
“Bener-bener niat banget lo. Itu bukannya ada ya di sana, ngapain beli di sini sih?”
“Lah orang anak gue mau, masa iya gue bisa nolak,”
“Duh so sweet nya jadi ayah. Enggak sabar nih,”
Dio membalas dengan senyumnya. Ia kalau sudah punya anak mungkin akan begitu juga. Anaknya Toni mungkin suka mengemil, nanti anaknya suka apa saja pasti akan Ia turuti juga keinginannya.
“Terus bini lo minta apaan, Ton?”
“Dia sih enggak ada minta apa-apa. Katanya udah sekalian sama anak aja udah,”
“Oh jadi paket hemat ya. Maunya anak sama istri jadi satu,”
“Yoi, enak juga sih. Kalau dia banyak mau juga, ribet ah,”
“Ya lo harus turuti juga lah,”
“Ndra, lo liat noh bawaan gue. Bener-bener pake kardus, udah persis kayak mau dagang, ya ampun. Gue enggak habis pikir sama diri gue sendiri. Bisa juga gue belanja yak. Gue sangkain mah enggak bisa,”
Dio tertawa dan Ia merasakan hal yang sama. Rupanya Ia pintar juga belanja, tidak hanya Shena saja. Tapi lelahnya bukan main sepulang berburu oleh-oleh.
Dio menghentikan gerak mulutnya yang sedang mengunyah begitu ponselnya kembali bergetar.
“Halo, Sayang,”
Shena lah yang menghubunginya sekarang. Ia senang sekali ketika istrinya menelpon. Seperti kedapatan rezeki yang benar-benar diinginkan.
“Salam dulu lah, Mas,”
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, Bidadari. Kenapa?”
“Ini siapa sih yang ngirim kue ke rumah? Katanya teman kamu, cewek namanya,”
“Hah?”
__ADS_1