
“Dio, kamu yang blokir nomor Steve ya? Kenapa diblokir?” Tanya Shena pada suaminya yang langsung mengangguk dengan santai.
“Iya, emang kenapa?”
“Lah, ‘kan harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu malah nanya balik?”
Arnold berdecak kesal. Mendadak jadi tidak bagus lagi mood nya hanya karena pertanyaan istrinya itu. Shena bertanya kenapa Ia memblokir nomor Steve? Tentu saja jawabannya karena Ia merasa terganggu dengan Steve. Makanya Ia sengaja memblokir nomor telepon Steve dengan supaya Steve tak bisa lagi menghubungi istrinya.
“Mas, kenapa kamu blokir? Kamu belum jawab pertanyaan aku lho,”
“Ya karena aku risih, Shen. Kok masih tanya kenapa sih?”
“Tapi ‘kan dia nggak berbuat apa-apa. Kenapa kamu risih? Orang dia aja nggak ngusik aku kok, apalagi ngusik kamu,”
“Dia tuh bikin aku risih dari pertama kali chat minta nomornya di save. Sekarang aku blokir aja,”
“Tapi dia cuma minta save aja, Mas. Aku sama dia juga nggak chat apa-apa. Aku barusan liat daftar kontak yang diblokir dan aku liat ada nama dia. Aku jadi kaget kok tiba-tiba diblokir,”
“Ya emang aku blokir. Biarin aja, aku senang dia diblokir jadi nggak bisa hubungin kamu lagi,” kata Dio seraya tersenyum santai.
Shena berdecak pelan. Ia masih bingung kenapa suaminya sampai memblokir. Dio pernah jujur kalau dirinya cemburu, tapi haruskah sampai memblokir nomor telepon Steve? Kia pikir selagi komunikasi tidak berlebihan, Ia tahu batasan, tak masalah Ia menyimpan nomor telepon Steve mengingat Steve juga temannya.
“Aku buka aja blokir nya, Mas,”
“Dih, ngapain sih? Nggak usah lah. Nggak perlu kamu buka-buka. Kamu senang banget kayaknya kalau lancar komunikasi sama dia, Shen,”
“Astaga, nggak begitu. Tapi ‘kan dia teman aku, dan chat aku juga nggak yang aneh-aneh, kamu bisa liat sendiri ‘kan? Jadi kenapa harus diblokir coba? Nggak usah, Mas. Aku juga tau kalau aku ini istri kamu. Sebaiknya kalau cemburu itu jangan berlebihan,”
Perkataan Shena membuat Dio kesal bukan main. Ia tidak senang mendengar ucapan Shena yang seolah menentang keputusannya untuk memblokir kontak Syeve supaya tak ada komunikasi lagi antara Shena dengan temannya itu.
“Kamu sadar nggak sih kalau dia itu cari perhatian kamu? Aku sebagai cowok bisa liat sendiri lho. Dia tuh cari perhatian sama kamu, ngapain kamu ladenin?”
“Aku nggak ladenin apa-apa kok. Aku cuma balas waktu dia minta nomornya disimpan. Udah sebatas itu aja, Mas,”
“Udahlah pokoknya nggak usah diladenin, biarin aja nomornya di blokir,” pungkas Dio yang tak mau keputusannya diganggu gugat. Menurut Dio, supaya hatinya tenang, sudah sepatutnya apapun tentang Steve disingkirkan sejauh mungkin.
Shena meletakkan ponselnya. Keputusan akhir tak bisa diganggu gugat. Dio benar-benar tidak mau membuka akses komunikasi antara dirinya dan Steve. Ia menuruti perkataan Dio supaya tetap memblokir nomor telepon Steve.
Melihat Shena meletakkan ponselnya di atas nakas dan hendak masuk ke dalam kamar mandi, Dio langsung memanggil istrinya.
“Shen,”
“Kenapa?”
“Tetap kamu blokir ‘kan?”
“Kamu yang blokir, bukan aku,”
__ADS_1
“Ya aku tau, tapi tetap diblokir ‘kan?”
“Iya, kamu hilangnya begitu tadi ‘kan? Ya udah aku ikutin,” kata Shena yang langsung membuat Dio tersenyum lebar.
Dengan cepat Dio berjalan ke arah istrinya kemudian Ia merengkuh Shena dengan erat sambil mencium kening Shena beberapa kali.
“Baik banget sih kamu. Mau nurut apa kata suaminya. Aku senang deh, makasih ya, Ratu Shena sayang,”
Shena tersenyum tapi sedikit masam berdasarkan penglihatan Dio makanya Dio menghembuskan napas kasar.
“Nggak ikhlas nih nurut sama aku nya?”
“Kata siapa?”
“Lah itu senyumnya agak-agak nggak ikhlas deh keliatannya,”
“Nggak ah, aku senyum ya emang begini bentuknya,”
“Pasti dalam hati lagi ngedumel ya? Iya ‘kan? Jujur aja deh sama aku,” kata Dio sambil menarik ujung hidung istrinya.
“Emang bisa diliat darimana senyum ikhlas dan nggak ikhlas?”
“Aku tau lah. Aku bisa nilai, Sayang,”
“Kalau kayak gini ikhlas nggak?” Tanya Shena sambil menunjukkan senyum yang lebar. Dio yang melihat itu langsung tertawa.
“Mana ada, senyum lebar udah kayak hantu aja. Nggak ada lah yang naksir. Jadi gimana? Udah keliatan ikhlas belum senyum aku, Mas?”
“Udah, Sayang. Udah keliatan ikhlas kok, kata aku udah keliatan ikhlas sih,”
“Berarti harus senyum lebar dulu baru dibilang ikhlas?”
“Ya nggak gitu, senyum ikhlas itu keliatan dari matanya. Tanpa harus senyum lebar kalau matanya keliatan senyum, ya itu udah ikhlas,”
“Mata aku udah senyum belum?”
“Udah kok, Cantik,”
“Ya udah, aku mau ke kamar mandi. Selesai ‘kan obrolan tentang Steve dan senyuman?”
“Udah-udah, silahkan kamu ke kamar mandi,”
“Ya udah lepas dulu dong pelukan kamu. Gimana aku mau ke kamar mandi kalau kamu nya masih meluk aku kayak begini?” Tanya Shena sambil menunjuk tangan suaminya yang masih melingkari pinggangnya. Dio mengizinkan Ia untuk bergegas ke kamar mandi tapi tangan Dio masih memeluknya.
“Eh iya, maaf aku lupa belum lepas ya ternyata pelukan aku,”
“Iya, gimana caranya aku bisa ke kamar mandi ‘kan?”
__ADS_1
“Mau aku temenin nggak?”
“Nggak usah, makasih, Mas. Kaki aku Alhamdulillah masih berfungsi, tangan aku juga begitu, aku masih bisa ke kamar mandi sendiri. Makasih ya tawarannya,”
Dio tertawa mendengar ucapan istrinya yang menolak dengan halus disertai alasan yang masuk akal. Memang Dio yang aneh. Tak ada hujan dan badai, tiba-tiba menawarkan diri untuk menjadi pengantarnya Shena ke kamar mandi.
“Serius nih nggak mau aku temenin, Shen?” Tanya Dio seraya tersenyum usil menatap istrinya yang saat ini hendak menutup pintu kamar mandi.
“Ih kamu ada-ada aja. Ngapain coba nawarin mau antar aku mulu? Orang ke kamar mandi doang kok,”
Setelah bicara seperti itu Shena langsung mengunci pintu kamar mandi, dan Dio tertawa lagi. Bercanda dengan Shena benar-benar menyenangkan sekali untuknya. Maka dari itu Ia senang melakukannya. Apalagi ketika reaksi Shena kesal. Shena akan terlihat semakin menggemaskan kalau Ia kesal.
“Sayang, jangan lama-lama ya. Nanti aku kangen,”
“Nggak tau ah,”
“Dih kok gitu jawabnya?”
“Ya lagian aneh banget. Baru juga pisah sedetik udah kangen,”
“Kita ‘kan pengantin baru jadi masih anget-angetnya,”
“Bercanda mulu kamu,”
“Lah, emang kenyataan kok. Kita ‘kan pengantin baru, jadi masih anget-angetnya, jauh bentar aja tuh nggak bisa,”
Shena tak lagi mengeluarkan suara, hanya mencibir di dalam hati “Giliran kesal sama Steve aja serem banget keliatannya, sekarang bercanda mulu,”
“Shen, aku liat handphone kamu ya,”
“Liat aja, aku nggak pernah larang,”
Shena menyahuti sambil Ia membuka pintu kamar mandi setelah buang air kecil. Dio meraih ponselnya kemudian sengaja membaringkan badan di atas ranjang.
“Aku mau mantau dulu,”
“Mantau apa?”
“Mantau handphone kamu dong, Sayang,”
“Emang ada apa sama handphone aku?”
“Ya barangkali ada cowok genit yang nyasar lagi. Kalau ada yang chat kamu lagi, aku yang balas,”
“Orang nggak ada siapa-siapa yang chat aku kok,”
“Ya udah bagus, tapi aku tetap mau cari tau,”
__ADS_1