Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 102


__ADS_3

"Makanya hati-hati! ah kamu kebiasaan. Kalau naik turun tangga tuh yang bener, liat langkah kamu sendiri, bukan malah liat ke arah lain,"


Shena mendapat peringatan keras dari Dio yang dibuat jantungan barusan karena Shena yang berjalan menuruni anak tangga hampir saja terjatuh karena Shena sibuk melihat ke arah dimana Sehan datang dan kali ini datang dengan anaknya sendiri tanpa Tania.


"Eh Kak Tania kemana? kok nggak diajak juga?"


"Lo kenceng banget ngomong sama Shena. Gue aja sampai denger,"


Alih-alih menjawab Sehan juga memberitahu pada Dio bahwa suara Dio sebesar itu ketika memperingati Shena yang detik itu juga murung. Shena tahu Ia salah, tapi seharusnya Dio tak perlu membentaknya juga.


"Ya abisnya dia bikin gue marah aja. Mau turun tangga malah liat ke arah lain akhirnya 'kan hampir jatuh. Coba kalau jatuh terus ada apa-apa, siapa yang bakal kayak orang gila? gue! dia mana paham,"


Shena sakit hati suaminya bicara seperti itu dan nampaknya Sehan juga paham akan hal itu.


Sehan menahan geram karena adiknya tak bisa menjaga perasaan istri. Shena memang salah telah membuatnya khawatir tapi seharusnya bisa lebih bijak lagi memberitahu Shena.


"Abang mau minum apa?"


Shena hampir menangis hanya saja Ia berusaha menahan. Ia tidak bisa sembarangan meneteskan air mata, nanti yang dicap lemah oleh Dio padahal hanya dibentak begitu saja.


Mungkin bagi Dio memang tidak seberapa menyakiti ketila membentak Shena barusan tapi bagi Shena itu berhasil membuatnya kaget sekaligus sedih.


"Nggak usah nyiapin gue minum apa-apaan, Shen. Orang gue bukan tamu, gue 'kan penghuni sini juga, eh tapi mantan deh,"


"Masa nggak disiapin minum. Bentar ya, aku ambil dulu,"ujar Shena setelah itu beranjak ke dapur untuk menyiapkan minum.


Sehan langsung menepuk paha adiknya itu dengan keras hingga membuat Dio meringis karena pukul sang abang cukup perih juga di kulitnya.


"Lo jangan macem-macem ya!"


"Macem-macem apaan sih? harusnya gue yang ngomong begitu ke lo. Lo mukul kasar amat di paha gue, kalau luka gimana?"


"Nggak usah mikir luka di badan lo, tuh pikirin luka di hati istri lo," ucapan Sehan langsung membuat Dio tertohok. Sehan memang sekalinya bicara terkadang langsung menembus tepat di ulu hati. Sehan pintar sekali membalik situasi. Sebelumnya Dio yang membuat Shena sakit hati, sekarang Dio giliran mendapat pembalasan darinya.


"Ya abisnya gue kesel, Bang. Nggak sekali dua kali Shena begitu gimana gue nggak kesel coba? dia sembarangan banget orangnya, nggak bisa banget kalau disuruh hati-hati. Gue 'kan panik. Gue takut dia kenapa-napa, terus gue juga mikirin anak yang ada di dalam perut dia.


"Iya gue tau lo kesel, Di. Cuma jangan berlebihan juga. Gue aja sakit hati dengar suara lo bentak dia, apalagi dia. Lo nih kebiasaan ya, kadang kalau udah marah suka kelepasan,"


"Nah itu dia. Udah tau gue tipe begitu dia malah mancing aja. Dia tau 'kan gue suka peringatin dia. Nggak hanya sekali dua kali dia hampir jatuh, nggak bisa banget untuk hati-hati. Kalau terjadi sesuatu gue yang ngerasa bersalah 'kan karena dia istri gue. Padahal gua mah sering kasih pesan ke dia supaya hati-hati kalau mau ngapain aja,"


Sehan kali ini mendorong pelan kepala adiknya dengan telunjuk. Entah apa isi kepala Dio tadi ketika membentak Shena.


"Minta maaf sana!"


"Iya nanti, dia tuh masih badmood sama gue,"


"Kok lo tau?"


"Ya orang keliatan dari sikapnya,"


"Sikapnya gimana? dia mah orangnya nggak neko-neko, kalau dia kesal sama lo nggak pernah tuh ngomel-ngomel atau sikap dia berubah ke kita-kita. Dia dewasa ngadepin lo. Jadi lo yang bikin salah tapi keluarga lo nggak kebawa-bawa,"


Dii menghembuskan napas kasar. Karena abangnya sudah melotot menyuruhnya untuk bergegas ke dapur meminta maaf pada Shena, akhirnya Dio yang penurut langsung menjalankan apa yang dikatakan oleh Sehan.


Dio sendiri sebetulnya juga merasa bersalah. Hanya saja rasa kesalnya itu masih ada. Takutnya kalau Ia minta maaf, Shena tidak berubah juga cerobohnya.


Terlalu punya keinginan untuk membuat adiknya meminta maaf dengan Shena, Sehan sampai kelarang Dio untuk meraih Shofea ke dalam gendongannya. Tadi Dio sudah mengulurkan tangan ingin menggendong Shofea dan anak itu juga nampaknya ingin sekali dibawa dalam gendongan Dio dilihat dari tatapan matanya yang berbinar dan Shofea juga tersenyum kecil ketika Dio mengulurkan tangan. Sayangnya Sehan tidak mengizinkan Andra menggendong Shofea sebelum Dii bersedia meminta maaf pada Shena yang tidak sengaja Ia bentak tadi.


Dio terlampau kesal karena Shena tidah bisa hati-hati dan menjaga dirinya dengan baik. Akhirnya keluarlah nada tinggi Dio.


Dio memasuki dapur dan Ia melihat Shena yang tengah membasuh tangannya di wastafel sekaligus membasuh mukanya juga.


Dio berdehem dan berhasil membuat Shena menoleh kaget. Dio basa-basi mengedarkan pandangan ke dapur untuk mencari minuman untuk Abangnya. Sebelumnya Shena mengatakan bahwa Ia ingin menyiapkan minuman untuk Sehan tapi sekarang Dio lihat belum ada sama sekali.


"Minum abang belum ada, Shen?"


"Belum, lagi mau aku buat teh hangatnya. Kenapa? Mas mau juga?"


Dio menggelengkan kepalanya pelan. Shena segera membuatkan teh hangat untuk Sehan yang datang dengan anaknya kali ini.


Dio mengamati punggung Shena yang tengah mengaduk teh di depannya.


"Kenapa Shena baru bikin teh hangat untuk Abang sekarang ya? bukannya dia udah dari tadi di dapur? apa dia nangis dulu makanya barusan dia cuci muka,"


Dio yag ingin membuktikan kecurigaannya itu langsung beranjak mendekat pada Shena. Lelaki itu berdiri tepat di sebelah Shena yang masih mengaduk air teh agar gula yang ada segera larut.


Dio mengamati dalam-dalam wajah istrinya dari samping. Shena bisa melihat dari ekor matanya bahwa sang suami tengah memperhatikannya. Hal itu membuat Shena mengernyit bingung.


"Kenapa kamu ke sini? kamu cuma mau ngeliatin aku bikin teh, Mas?" tanya Shena tanpa menolehkan kepalanya.


Dio menghela napas pelan dan Ia bisa tahu jawabannya sekarang. Kemungkinan besar, Shena benar menangis tadi. Karena meskipun sudah membasuh wajah, kesedihannya tidak bisa dihilangkan secara sempurna, suara Shena yang beda juga bisa menjadi buktinya.


"Ya Allah, kenapa ya istri aku ini cengeng banget. Nggak bisa dibentak dikit langsung nangis,"


Dio mengusap tengkuknya dan Ia menghembuskan napas kasar. Sebelum Shena pergi ke ruang tamu membawakan teh hangat buatannya untuk Sehan, Dio menyebut nama istrinya itu.


"Shena,"


"Ya?"


"Aku minta maaf udah bikin kamu sedih,"


Shena tersenyum kecil mendengar ucapan sang suami. Dio menyadari kalau dirinya sudah membuat Shena sedih.


Shena pikir suaminya datang ke dapur karena ingin minta dibuatkan minuman juga tapi ternyata tidak, justru Dio datang ingin meminta maaf setelah ada basa-basi dulu.


"Kamu mau maafin aku nggak?" tanya Dio dengan sorot matanya yang teduh. Dio ingin mendengar jawaban atas permintaan maaf yang barusan Ia lontarkan. Selama Shena belum menjawab, Ia tidak akan tenang.


"Shen, kamu nggak mau maafin aku ya? aku keterlaluan ya? maaf aku kelepasan bicara pakai nada tinggi. Maaf ya udah ngasih tau kamu dengan cara yang nggak baik. Jujur aku kesal setiap kali kamu nggak bisa jaga diri kamu dengan baik. Kamu itu jarang banget hati-hati, sering banget ceroboh,"


"Aku juga minta maaf udah bikin kamu marah, Mas,"


Dio berdesis mendekatkan telunjuknya di depan bibir sang istri kemudian Ia mengecup kening Shena dengan lembut. Setelahnya Ia tersenyum.

__ADS_1


"Kamu nggak salah. Aku yang murni benar-benar salah di sini. Seharusnya aku bisa kasih tau kamu dengan cara yang baik. Ini malah nggak, aku malah bentak kamu dan akhirnya bikin kamu nangis. Bahkan di dapur pun nangis,"


Kening Shena mengernyit ketika mendengar ucapan suaminya. Entah darimana Dio tahu kalau Ia sempat menangis di dapur sebelum akhirnya Ia membasuh wajahnya agar air mata yang mengalir di wajahnya bersih tak bersisa.


"Kamu sok tau, Mas," ujar Shena seraya terkekeh. Dio berdecak dan memalingkan wajahnya.


"Emang aku nggak tau apa?"


"Kamu nebak 'kan? udah gitu salah lagi nebaknya,"


"Lah emang aku tau kok. Kamu pasti nangis tadi,"


"Tau darimana?"


"Ya keliatan lah. Ngapain baru bikin teh padahal udah dari tadi di dapur? pasti lagi nangis dulu 'kan tadi? terus cuci muka juga,"


"Ya emang kalau aku cuci muka artinya aku nangis?"


"Iya, aku yakin kamu nangis. Aku nggak bisa dibohongin. Padahal dari tadi udah di dapur agak lama tapi tehnya belum dibuat-buat,"


"Iya karena aku tadi ngangon kambing dulu, bukan di dapur nangis,"


"Heleh bohong," Dio menjulurkan lidahnya. Ia semakin tidak percaya dengan pengakuan Shena yang tidak menangis katanya.


"Malah pakai alasan ngangon kambing segala. Emang dikiran aku bocah esde ya?"


"Ya kalau aku nangis emang kenapa?"


"Tuh 'kan ngaku juga,"


Dio mengecup hidung sang istri dan lagi-lagi meminta maaf pada istrinya itu.


"Maaf ya, Sayang,"


"Iya, kamu udah berapa kali minta maaf ya,"


"Aku merasa bersalah. Sebenarnya tadi aku nggak mau banget minta maaf karena aku takut kamu nggak berubah kebiasaannya,"


"Jadi kamu minta maaf nggak ikhlas nih?"


"Ya ikhlas dong, Bee. Cuma aku tadinya emang nggak mau minta maaf karena kamu tuh kebiasaan jelek selalu dipelihara nggak pernah berubah. Selalu aja bisa celakain diri sendiri. Aku 'kan jadi marah banget tadi. Cuma abang tuh yang suruh aku minta maaf sama kamu. Sampai aku nggak dibolehin sama Abang untuk gendong Shofea karena aku belum minta maaf sama kamu. Akhirnya ya udah, aku kesini minta maaf,"


"Oh ternyata karena abang ya,"


"Iya, tadinya aku belum mau minta maaf--"


"Belum mau atau nggak mau?"


"Dua-dua nya deh. Karena aku takut kalau aku minta maaf kamu ceroboh lagi. Soalnya tiap aku abis marahin aku pasti minta maaf 'kan? nah kamu ngulang lagi kesalahan yang sama. Aku 'kan jadi marah banget,"


"Ya udah aku bawa minuman ini dulu ke Abang,"


"Tapi kamu maafin aku nggak?"


"Kok cuma ngangguk aja sih?"


"Ya kamu maunya aku gimana, Mas?"


"Bilang kalau kamu udah maafin aku. Kalau cuma ngangguk kepala aja berarti maaf nya masih setengah-setengah nggak full,"


"Lah bisa begitu ya,"


"Iya buruan ngomong, jangan dikunci mulutnya terus cuma ngangguk aja,"


Shena menghela napas pelan kemudian membuka mulutnya untuk menjawab, supaya tidak hanya mengangguk saja seperti apa yang dikatakan oleh Dio barusan.


"Iya aku maafin kamu,"


Dio tersenyum lebar mendengar penuturan Shena. Akhirnya Ia dimaafkan, tidak ada masalah lagi diantara Ia dan juga Shena.


"Okay, aku mau antar minum dulu nanti udah keburu berubah jadi dingin,"


Dio mengangguk dam Ia segera mengikuti istrinya ke ruang tamu menghidangkan air teh yang Shena buat untuk Sehan.


Sehan yang melihat adik iparnya meletakkan teh di meja langsung berdecak. Sebetulnya Ia tidak perlu dilayani macam tamu.


"Shen, udah dibilang sama gue barusan Nggak usah nyiapin minum segala, udah kayak sama tamu aja,"


"Abang 'kan emang tamu. Apa Abang lupa ya? orang udah pindah kok, tandanya itu tamu,"


"Gue bisa ambil sendiri,"


"Iya nggak apa-apa, Bang. Oh iya ada puding aku ambil bentar ya,"


Shena lihat-lihat ada yang kurang di atas meja. Ternyata Ia baru menyiapkan minuman saja, makan belum ada satupun. Akhirnya Shena bergegas kembali ke dapur untuk mengambil puding yang ada di lemari pendingin.


Setelahnya Ia bawa ke ruang tamu. Sehan makin menggelengkan kepalanya.


"Ih udah dibilang nggak usah kayak tamu gue nya,"


"Nggak apa-apa, Bang. 'Kan tamu harus dilayani dengan baik,"


"Makasih, Shen,"


"Sama-sama, Bang,"


Sehan segera menyeruput teh hangatnya sebentar dan apa yang ia lakukan itu mengundang tatapan mata Shofea yang tak lepas darinya. Shoea masih ada di daam gendongannya dan ketika Ia minum Shofea menatap dalam diam sambil bibirnya bergerak seperti menginginkan apa yang diminum Sehan.


Sehan tertawa melihat anaknya seperti itu. "Haus, Nak? mau ini? nggak boleh, adanya susu tuh di dalam mobil? mau nggak? biar papa ambilin,"


"Sini Shofea sama gue aja, lo lanjut minum,"


Sehan tak lagi melarang Dio menggendong anaknya sebab Ia yakin Dio sudah meminta maaf pada Shena.

__ADS_1


"Udah minta maaf?" tanya Sehan untuk memastikan. Kalau sampai Dio belum minta maaf atau dia malah sewot pada Shena di dapur gara-gara dilarang menggendong Shofea karena belum minta maaf, Sehan akan memberi pelajaran untuk adiknya itu.


"Udah lah,"


"Ya udah biasa aja jawabnya. Santai, Bro,"


"Lo tenang aja. Gue udah minta maaf sama Shena,"


"Ya baguslah kalau begitu. Gue seneng, dan gue minta sama lo jangan diulangi lagi ya. Lo tuh kebiasaan kalau udah marah nggak bisa banget tahan emosi,"


"Ya karena gue udah terlalu kesel, Bang. Shena begitu terus soalnya. Nggak sekali dua kali dia bikin gue khawatir selama hamil. Buset sering banget! sampe gemes sendiri gue,"


Shena tersenyum kecil mendengar suaminya menggebu-gebu mengungkapkan kekesalannya bila ia tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.


"Ya tipe orang itu emang beda-beda. Ada yang bisa dipercaya untuk jaga dirinya sendiri, ada yang kebalikannya,"


"Tugas lo ya bukan marah, tapi ingetin baik-baik, terus selagi ada peluang lo dampingin, lo 'kan suaminya jadi harus banyak campur tangan juga jagain Shena terlepas dari dia bisa atau nggak jaga dirinya sediri,"


"Iya, Bang,"


"Jangan iya-iya doang tapi lo ulangin lagi,"


Dio terkekeh melihat abangnya melotot galak. Abangnya kelihatan kesal sekali dengannya yang tadi membebtak istrinya karena tidak bisa hati-hati dan hampir terjatuh dari tangga.


"Iya, gue berusaha untuk nggak ulangi itu lagi,"


"Ya bagus, awas aja kalau lo masih begitu,"


"Abang, Kak Tania kenapa nggak ikut?"


"Kebetulan Tania lagi jenguk temannya yang sakit jadi Shofea gue ajak aja ke sini. Eh iya papa mana? belum balik dari kantor? terus mama juga kemana?"


"Papa tadi pulang agak cepat karena mau kondangan sama mama ke acara anak teman ayah, Bang," jelas Shena yang melepas kepergian kedua mertuanya tadi untuk menghadiri acara anak dari rekan Sakti yang menggelar pesta pernikahan.


"Oalah pantesan nggak keliatan,"


"Yah Shofea nggak ketemu Oma sama Opa, Nak,"


"Ya udah lo balik nanti-nanti aja. Kayaknya sebentar lagi ayah bunda pulang kok,"


"Masa iya bentar lagi? emang udah pergi dari kapan? dua jam ada?"


"Nggak, Bang. Kayaknya baru mau satu jam deh,"


"Ya udah gue tunggu aja deh. Tania juga gue suruh jalan-jalan kalau emang dia mau. Kasian dia bosen di rumah. Semenjak ada Shofea 'kan di rumah terus. Mumpung kali ini keluar ya biarin aja sekalian dia jalan-jalan sendiri menikmati waktu sendiri anggap dia belum nikah sama punya anak,"


"Wuidih pengertian banget abangku nih,"


Dio beranjak dari sofa ketika Shofea merengek. Sepertinya bosan dibawa duduk terus. Maka dari itu Dio mengajaknya untuk jalan-jalan bolak balik di ruang tamu sementara abangnya menyeruput teh dan juga memakan puding.


"Shofea rewel nggak awal-awal di rumah baru?"


"Nggak, anteng malah. Tidur mulu kayak Shofea aja yang beberes mau pindah. Padahal mah emak bapaknya,"


Dio terkekeh kemudian menatap keponakannya yang sekarang menatapnya dalam-dalam.


"Shofea kenapa liatin Om? udah kangen ya? udah lama nggak ketemu Om ya?"


"Udah lama apaan. Orang baru mau seminggu pindah,"


"Makin cantik aja sih, tips nya dong, Kakak. Pakai skin care apa, Kakak? pipinya putih mulus banget, Kak,"


"Taunya dia cuma susu doang, Ndra. Skin care apaan yang dia tau,"


Dio mencium pipi Shofea kemudian sengaja menggerakkan hidungnya naik turun di pipi Shofea hingga anak itu merasa geli.


"Dih, ketawa dia. Eh kamu mau pulang nggak? kayaknya nggak usah aja ya. Kamu di sini aja. Biar papa yang pulang. Om belum puas ketemu Shofea soalnya,"


"Nggak boleh, ntar gue nggk ada temen di rumah,"


"Lah ada Kak Tania 'kan. Malah bagus cuma berduaan, kayak pengantin baru. Kali aja abis itu Shofea punya adik,"


"Pala kau adik! dia aja belum setahun,"


"Emang mau punya anak lagi kapan? setelah umur Shofea berapa tahun?"


"Ya kapan aja di kasih Alhamdulillah, nggak nuntut gue mah,"


"Ah semoga secepatnya deh, biar jadi temen anak gue,"


"Udah ada si Shofea itu,"


"Kurang lah masa cuma satu doang sepupu anak gue,"


"Ya elah, Di. Lo mah banyak mau. Lo mau sepupu anak lo berapa? sekarung?"


"Baju kali ah,"


Dio mengobrol dengan Sehan sambil berjalan ke sana kemari tapi dalam lingkup ruang tamu, sementara Shena hanya menjadi pendengar saja.


Ketika suara salam terdengar, mereka langsung menoleh ke arah pintu yang memang sengaja dibuka tak lama kemudian Ardina dan Sakti masuk ke dalam rumah.


Ardina langsung bersorak senang melihat cucunya datang dan sekarang sedang digendong oleh Dio.


"Sayang, gimana kabarnya? Oma seneng banget Shofea datang, mama nya kemana? nggak ikut?"


"Tania lagi jenguk temen nya yang lagi sakit, Bun. Jadi aku bawa Shofea ke sini deh,"


"Yeayy diajak papa jalan, tapi sayang cuma berdua, coba bertiga, jadi bisa sekalian nginap deh,"


"Baru juga pindah udah disuruh nginap, bunda nih nggak bisa jauh banget sama aku kayaknya ya,"


"Setelah ada Shofea sih nggak bisa jauh dari Shofea, Bang,"

__ADS_1


"Yah aku kalah dari anak berarti,"


__ADS_2