
“Paket dari siapa tuh?”
“Dari teman aku, katanya sih bika ambon. Dia dari Medan terus bawain itu,”
“Teman kuliah maksudnya?”
“Nggak, tetangga di rumah orangtua aku, dia beberapa tahun ke belakang tinggal di Jogja. Terus balik lagi sama orangtuanya yang kenal juga sama orangtua aku, karena tetanggan ‘kan,”
“Yang waktu itu pernah ngasih gadiah buat lo itu bukan sih? Siapa namanya Setipen ya?”
“Ih bukan setipen, steven. Kok kamu gitu sih pengejaannya,”
Dio mengangkat kedua bahunya tak acuh. Mau Steven, mau Setipen, intinya dia laki-laki yang sudah dua kali ini mengirimkan sesuatu untuk istrinya. Yang pertama adalah makanan dan baju, kedua ini makanan juga.
“Protes aja lo,” gerutu Dio sambil mengamati pemberian temannya Shena dari dekat. Hanya bika ambon, tidak ada baju lagi seperti yang lalu. Dio pikir, lelaki itu kerajinan lagi membelikan baju untuk istrinya.
“Dia baru balik dari Medan?”
“Iya, katanya sih begitu,”
“Waktu iti balik darimana tuh ngasih oleh-oleh juga ke lo? Lupa gue dia abis darinana wakitu itu,”
“Kemana ya? Aku lupa juga. Makassar kalau nggak salah,”
“Waktu itu ngasih baju, sekarang nggak. Ya bagus deh. Lo ‘kan nggak kekurangan baju,” ujar Dio yang jelas-jelas tengah menyindir. Bisa shena ketahui dari nada bicaranya dan raut wajahnya.
“Kamu nggak senang kalau dia ngasih oleh-oleh ke aku?”
“Nggak, senang kok, Alhamdulillah,”
“Lah itu barusan nyindir-nyindir,”
“Nggak nyindir, cuma ngomong biasa aja,”
“Cemburu kali tuh, orang dikasih rezeki malah cemburu. Aneh kamu, masa istrinya dikasih baju sama makanan nyindir-nyindir gitu sih?”
“Dia nggak tau aja tuh cowok pernah terang-terangan bilang suka,” batin Dio seraya berbaring dan meraih ponsel alih-alih menanggaoi ucapan sang istri.
Dio ingat betul setelah Steven mengirimkan sesuatu untuk Shena, setelahnya lelaki itu berkata di pesan bahwa dirinya terkejut setelah tahu Shena menikah padahal Ia menyukai Shena.
“Apa pantes dia ngomong kayak gitu ke perempuan yang udah jelas-jelas dia tau udah nggak single lagi,” batin Dio saat itu yang henar-benar panas membaca pesan Steven. Dan tanpa sepengetahuan Shena, Ia menghapus pesan itu. Beruntungnya Shena tidak mengunci layar ponselnya lagi atas permintaannya juga. Semoat terjadi perdebatan karena Shena merasa bila layar handphone dikunci itu lebih aman mengingat Ia sering teledor meninggalkan ponselnya. Jadi setidaknya kalau ditemukan orang lain, tak semudah itu untuk diakses.
“Handphone lo harus banget dikunci ya, Shen?”
“Aku suka teledor soalnya, emang kenapa?”
“Buka aja buka,”
Dio terkesan memaksa supaya istrinya membuka kunci layar ponsel karena Dio curiga ingin lebih bebas mengakses handphone istrinya, semenjak pertama kali mendapatkan pesan dari Steven yang mengirimakn oleh-oleh untuk istrinya.
“Jangan, biar lebih aman,”
“Ya makanya jangan teledor lah. Buka aja kuncinya gue kadang suka pengen pinjam kalau barre gue abis,”
Akhirnya Shena membuka walaupun dengan berat hati. Dan tak lama dari situ, benar saja kecurigaan Dio terbukti. Steven menyampaikan kekecewaannya karena ketika Ia pulang ke rumah orangtuanya, Ia dapat kanar Shena sudah menikah. Padahal dia menyimpan perasaan untuk Shena.
Sekarang, Steven mengirimkan makanan untuk yang kedua kalinya. Dio jadi teringat dengan pesan Steven waktu itu makanya langsung tidak ramah begitu tahu Steven punya oleh-oleh lagi untuk Shena.
“Gue mau tanya deh, orangtua lo sama Steven ‘kan udah saling kenal ya?”
“Iya, ‘kan tetanggan,”
“Nah itu pernah ada obrolan pengen jodohin lo sama dia nggak?”
“Hah? Kok kamu tiba-tiba nanya kayak gitu?”
Shena bingung ketika tiba-tiba suaminya punya pertanyaan yang aneh. Bagaimana tidak aneh. Mereka sudah menikah, bisa-bisanya Dio bertanya soal itu.
“Ini bukannya sensitif ya? Kamu emangnya nggak apa-apa kalau kita bahas ini? Aku mau menghargai kamu lho,”
“Ya nggak apa-apa. Ini ‘kan gue ngomongin masa laku sebelum lo nikah sama gue. Orangtua kalian ada niat buat jodohin kalian nggak? ‘Kan kalian tetanggan tuh, dekat juga lagi kalau gue perhatiin,”
“Nggaka da, ‘kan beda keyakinan, jadi nggak mungkinlah bersatu,”
Dio menganggukkan kepalanya. Jadi karena beda keyakinan, tidak ada obrolan mau menjodohkan.
“Kalau seandainya nggak beda keyakinan, terus lo sama sia dijodohin, lo bakal terima nggak?”
__ADS_1
“Nggak,”
“Kok dijodohin sama gue mau?”
“Ya karena dari awal aku ada rasa ketertarikan sama kamu, itu bukan cinta sih kayaknya tapi tertarik aja. Makanya aku mau. Karena entah kenapa aku juga yakin kalau kamu itu laki-laki yang baik,”
“Terus setelah sama gue dan gue ternyata nggak baik, lo nyesal nggak?”
“Nggak dong, ‘kan semua orang itu berproses. Aku nggak nyesal sedikitpun kok. Dan perasaan aku bener ‘kan, kamu itu laki-laki yang baik. Cuma emang kamu perlu waktu aja untuk adaptasi sama aku,”
“Lo nggak mau dijodohin sama Steven karena selain beda keyakinan, lo nggak tertarik sama dia? Jadi kesimpulannya gitu?”
“Iya benar,”
“Bukannya dia ganteng? Namanya aja kayak bule gitu ‘kan,”
“Hahaha ya biarin aja dia mau ganteng atau jelek, pada intinya aku nggak tertarik sama dia,”
“Padahal biasanya cewek ‘kan suka sama cewek ganteng,”
“Lah, suami aku kuga nggak kalah ganteng kok, malah ganteng banget,”
Dio berdecak sambil merotasikan bola matanya. Ia sedang kesal dibujuk dengan pujian seperti itu tidak mempan.
“Emang kenapa sih kamu tiba-tiba tanya kayak gitu? Kamu cemburu ya? Tenang aja, dia ‘kan cuma tetangga aku di rumah Mama Papa aja, bukan siapa-siapa aku kok,”
“Iya gue tau, cuma lo nggak tau ‘kan gimana perasaan dia,”
“Hah? Emang—maksud kamu—kamu tau gimana perasaan dia ke aku?”
“Ah udahlah, males gue bahas orang lain. Udah nggak usah dibahas lagi,”
“Lho, kan kamu yang duluan bahas,”
“Ya lo pikir aja sendiri deh. Dia kayak rajin banget ngirimin oleh-oleu buat lo padahal lo ‘kan bukan tetangga dia lagi. Lagian bukan sombong ya, kalau soal makanan sama baju lo ‘kan nggak kekurangan, kalau ada yang dimau tinggal beli, mislanya lo mau oleh-oleh dari kota lain lo bisa beli semdiri, ngapain dia ngirimin coba?”
“Astaga, Dio emang nggak boleh ya orang berbuat baik? Itu tandanya dia nggak pelit. Berarti bagus dong kalau dia nggak pelit,”
“Kalau orang lain yang ngasih oleh-oleh tanpa nyimpen perasaan ke lo sih, nggak bakalan gue sinis kayak gini. Masalahnya gue nih tau isi hatinya dia ada nama lo, Shen,” batin Dio
“Dio, kamu kesal ya kalau ada yang ngasih oleh-oleh ke aku?”
“Iya sih, kamu mau bika ambonnya nggak? Biar aku iris-iris?”
“Nggak usah, gue nggak lapar, pengen nonton tv aja gue,”
“Oh ya udah kalau gitu,”
Shena sudah selesai memberitahu suaminya kalau ada yang mengirimkan bika ambon kepadanya. Sekarang Ia bawa makanan itu ke lantai dasar. Ia letakkan di ruang makan. Dan Ia iris satu kotak supaya siapapun yang mau tinggal ambil saja.
“Mba Shena abis beli kue ya?” Tanya Bibi pada Shena yang sedang mengiris kue khas Medan pemberian mantan tetangganya itu.
“Nggak, Bi. Ini dari teman aku,”
“Oalah dari temannya. Kirain Mba beli,”
“Ini ambil, Bi. Cobain deh, entah enak atau nggak,”
“Kayaknya sih enak, Mba,”
“Ya udah Bibi coba dulu,”
Shena mempersilahkan Bibi untuk mencicipi, dan Shena sendiri juga melakukan hal yang sama ternyata memang rasanya lezat.
“Hmm enak beneran ternyata, Mba. Mantap bener deh pilihannya temannya Mba. Itu teman kuliah ya, Mba?”
“Tetangga aku sebelum pindah ke sini sebenarnya, Bi. Tapi udah jadi teman,”
Disaat Shena sedang berbincang dengan Bibi, tiba-tiba Dio datang dengan wajah tanpa ekspresi dan menatap Shena dengan keningn mengernyit.
“Kenapa? Kamu mau kuenya nggak? Enak banget lho, coba tanya Bibi kalau nggak percaya,” ujar Shena seraya mengulurkan piring berisi kue yang sudah Ia potong namun Argantara mendorong tangannya dengan halus.
“Udah dibilang gue nggak mau,”
“Terus kamu kenapa turun tadi katanya mau nonton tv?”
“Gue bingung, kok lo lama ngilang di bawah ternyata lo lagi di sini,”
__ADS_1
“Oalah, rindu ceritanya? Hehehe nggak kok bercanda. Masa iya rindu? Canda, rindu,”
Shena menaik turunkan alisnya menggoda sang suami. Ia terlalu percaya diri tadinya tapi setelah Ia sadar, Ia buru-buru mengatakan kalau Ia hanya bercanda, takut ya Dio kesal mendengarnya.
“Mas Dio, ini enak banget lho, yakin nggak mau nyoba?”
“Nggak, Bi, makasih,”
“Terus kamu mau apa dong? Biar aku buatin. Mau minuman mungkin? Kopi ya? Atau teh? Cocok lho dimakan sama ini,”
“Lo kenapa sih maksa gue banget supaya makan tuh kue? Emang apa coba untungnya buat gue kalau gue makan kue dari siapa itu namanya setipen?”
“Ih bukan maksa aku tuh nawarin, jangan sensi deh kamu. Aku nih cuma nawarin kamu doang kalau kamu nggak mau ya udah nggak apa-apa kok. Untungnya apa? Ya kamu bisa msa kenyang. Kalau kamu cobain ‘kan kamu bakal tau rasanya kayak gimana. Dan kamu bakal kenyang,”
“Gue nggak mau,”
“Kamu ada masalah apa sih sama setipen? Eh kok aku jadi ikutan salah sebut nama dia?”
Bibi tertawa begitupun Dio. Yang sebelumnya raut wajah Dio tidak bersahabat, sekarang malah tertawa terbahak-bahak karena istrinya salah juga menyebut nama Steven, tapi Shena bukan disengaja seperti dirinya, melainkan memang tidak sengaja.
“Kocak amat lo, ikutan salah lagi,”
“Iya lidah aku keblibet gara-gara kamu tau!”
“Lah kok lo nyalahin gue sih? Emang salah gue dimana coba?”
“Gara-gara kamu ngomel sih tadi,”
“Gue nggak—“
“Ada apa ini? Kenapa debat di meja makan, di depan Bibi juga hayoo? Nggak biasanya,”
Mulut Dio dan Shena kompak terbungkam. Sama-sama melipat bibir ke dalam ketika mendapat teguran dari Ardina yang baru saja pilang dari acara bersama teman-temannya.
“Nggak, Ma,”
“Kamu ngajakin Shena berantem?”
“Nggak, Ma. Ya ampun Mama nuduh anak sendiri?”
“Ya kali aja gitu. Terus kenapa debat di meja makan?”
“Ini lgo, Bu. Tadi Mba Shena dikirimin kue sama temannya. Terus Mba Shena bawarin Mas Dio untuk makan kuenya karena kue ini enak banget, eh tapi Mas Dio nggak mau, dan sensi gitu, Bu,” jelas Bibi yang terang berada di pihak Shena.
“Kamu kok begitu sih? Nggak baik ah marah-marah kayak gitu sama istri. Udah berapa kali sih mama kasih tau?”
Dio menghembuskan napas kasar. Sudahlah, Ia di rumah ini menang tak ada arti apa-apa kalau di banding Shena walaupun statusnya adalah aak kandung dan Shena itu menantu. Di depan keluarganya juga Shena kemana-mana yang diutamakan.
“Aku nggak karahin, Ma. Aku cuma bingung aja gitu, Shena kayak maksa banget supaya aku makan kue dari teman cowoknya itu, oadahal aku udah bilang nggak mau,” ujar Dio seraya menekan kata ‘teman cowok’ sambil menatap tajam ke arah Shena yang keningnya mengernyit. Ia benar-bsnar tidak paham kenapa suaminya jadi ketus seperti ini. Ia tidak tahu salahnya dimana. Sampai menawarkan kue saja dibilang memaksa dan memancing rasa kesal Dio untuk datang.
“Oh itu dari teman Shena?” Tanya Ardina pada menantunya.
“Iya benar, Ma. Ini dari Steven, tetanggan sama aku di rumah orangtuaku. Nah dia baru aja pulang dari Medan, terus dia ngirimin ini buat aku,”
“Oh Alhamdulillah kalau begitu. Seharusnya disyukuri bukan dijadikan bahan untuk nerdebat. Ini namanya rezeki, jadi harus disyukuri,”
Shena menatap suaminya seolah berkata “Tuh ‘kan, harusnya bersyukur! Bukan malah sewot,”
Dio langsung membuang muka tidak mau beradu tatap dengan istrinya itu. “Ya udah nggak apa-apa kalau Mas Dio nggak mau, Mba. Mas Dio rugi nggak makan kue enak ini,”
“Nggak rugi, ‘kan bisa beli sendiri,” ujar Dio seraya berlalu meninggalkan ruang makan, dan tiga orang perempuan yang semakin bingung dengan Dio.
“Sebenarnya Dio kenapa sih?” Gumam Shena.
“Cemburu kali, Sayang,” ujar Ardina sambil mengusap bahu menantunya.
“Nah iya, kalau kata Bibi juga begitu, Mba. Si Mas Dio cemburu mungkin,”
“Cemburu karena apa?”
“Ya karena kamu dapat kue dari teman laki-laki kamu. Apdahal sebenarnya ini bukan masalah ya. Cuma dia emang lagi sensi kali. Lagi nggak pengen ada yang gocek-gocek dia sama kamu. Dia mungkin risih ada yang kirimin sesuatu buat kamu,” ujar Ardina yang langsung membuat Shena terdiam dan dalam hati bertanya-tanya. “Dio cemburu? Masa iya sih cemburu hanya karena bika ambon? Kalau beneran, ya ampun cemburuanya dia ngeri juga. Hal kecil aja bisa jadi besar,” batin Shena seraya menggaruk pelipisnya pelan.
“Udahlah, Sayang. Nggak usah dipikirin. Biarin aja dia cemburu. Ntar juga balik lagi mood nya. Itu karena lagi kebakaran aja hatinya,”
“Tapi aku ‘kan jadi bingung harus ngapain sekarang, Ma?”
“Ya udah nggak usah ngapa-ngapain, ntar juga baik sendiri. Itu dia cuma cemburu aja. Padahal ya harusnya nggak perlu cemburu orang mau ngirimin emoang kek, tambak lele sekalipun, kamu tetap punya dia,”
__ADS_1
“Hahaha ibu ada-ada aja,”
Bibi tertawa mendengar ucapan Ardina yang berusaha menghibur Shena yang sekarang sedang dirundung dengan perasaan bersalah dan bingung.