Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 27


__ADS_3

Di akhir pekan ini Dio menemani istrinya untuk belanja bulanan. Shena mempersilahkan Dio untuk memberikan satu permintaan ingin dimasaki apa dan permintaan Dio adalah udang asam manis. Stok bahan makanan kebetulan sudah tak ada lagi makanya hari ini Shena belanja ke pasar dan supermarket tentunya.


Sepulang dari belanja nanti Ia akan memasak makan siang berupa udang asam manis untuk suaminya yang tadi sudah sarapan bubur ayam buatannya.


“Beli cokelat? Buat siapa?”


“Buat aku, nanti biar ada teman nonton drama, udah lama nggak nge-drakor,”


“Tumben jajan, biasanya juga kalau belanja bulanan yang dibeli kebutuhan rumah, nggak liat jajanan,”


Shena terkekeh, kebetulans aja Ia melewati kumpulan cokelat batang dengan merk terkenal itu. Ia sudah punya rencana malam nanti mau nonton drama, jadi Ia ambil dua batang cokelat untuk menjadi temannya nonton nanti.


Setelah itu fokus memilih kebutuhan pokok dengan sitemani oleh Dio. Lelaki itu mendorong troli tepat di belakangnya.


Shena senang seklai hari ini Dio mau mengantarkan Ia belanja walaupun atas siruhan mamanya. Tapi setidaknya Dio mau berbuat baik kepada istrinya. Nanti suatu hari, Shena yakin tanpa disuruh Dio akan punya inisiatif sendiri untuk membantu istrinya.


“Eh bentar ya gue mau beli minuman,”


Kebetulan mereka melewati tempat minuman tidak dingin, di sana banyak sekali pilihan dan Dio tergiru ingin memilih beberapa di antaranya.


“Ya udah boleh,”

__ADS_1


Shena menunggu suaminya selesai memilih. Yang dipilih Dio rata-rata kopi dan soda. Ia langsung bertanya memastikan “Kamu yakin beli minuman yang kayak gitu semua, Dio? Itu kurang baik untuk kesehatan. Minuman yang lain coba. Kayak jus misalnya, atau minuman lain yang lebih sehat,”


“Gue sukanya ini,”


“Kopi berapa tuh?” Shena menghitung bitol kopi yang dimasukkan suaminya did alam troli.


“Ya ampun, tujuh nih?”


“Iya emang kenapa?”


“Terus soda berapa?”


Lagi-lagi Shena menghitung minuman. Kali ini yang soda ternyata ada tujuh juga. Shena langsung menatap suaminya.


“Kenapa sih?”


“Ya nggak baik buat kesehatan masa belinya itu semua sih?”


“Ya ‘kan nggak diminuman semua sekaligus,”


“Udah beli jus aja, jangan itu semua. Aku nggak yakin sih kamu nggak bakal minum itu semua sekaligus,”

__ADS_1


“Nggak percayaan banget. Orang kalau udah suami istri harus saling percaya,”


Shena terkekeh, masalahnya Ia tahu kebiasaan Dio. Jadi sulit untuk percaya kata-kata Dio barusan.


“Saling percaya yang gimana dulu nih? Aku tau kamu doyan banget sama minuman-minuman nggak sehat kayak gitu. Bisa diminum seharian dari pagi sampai malam nggak berhenti kalau nggak habis. Beli jus coba, enak lho jus itu. Tukar sama ini nih, jangan semuanya kopi sama soda,”


Dio berdecak pelan. Tapi Ia tetap mendengarkan ucapan istrinya. Shena senang karena Dio paham kalau Ia sebenarnya memikirkan kesehatan Dio, makanya Ia meminta Dio untuk jangan membeli terlalu banyak minuman kopi ataupun soda dengan alasan tak diminum semuanya sekaligus. Kalau diminumnya dalam satu hari, ya sama saja namanya diminum sekaligus.


“Bir aja deh kalau gitu,”


“Eh, apa? Bir? Kamu yang benar aja. Janganlah, masa—“


“Percaya aja lagi. Ya kali gue beli itu,”


Sahut Dio dengan ketus sambil mengembalikan tiga botol kopi dan soda. Kemudian menggantikannya dengan jus juga minuman fermentasi.


“Nah pintar, yoghurt emang bagus juga untuk kesehatan,”


“Ini yang lo mau?”


“Bukan aku yang mau, tapi itu buat kamu, aku nggak minta,”

__ADS_1


“Ya maksudnya ini yang lo mau ‘kan? Gue minum yang sehat,”


Shena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan menjawab “Iya dong, aku nggak pengen suami aku sakit,”


__ADS_2