
“Aku boleh masuk?”
“Kalau masuk hanya untuk cari masalah, lebih baik nggak usah. Datang ke sini tujuan kamu untuk apa?”
“Tau keadaan Shena, dan aku bakal temenin dia,”
“Kamu yakin? Nggak salah ngomong? Apa mama yang salah dengar?”
“Ma, aku minta maaf. Kali ini aku serius. Aku bakal temenin dia,”
“Ya bagus kalau begitu. Tapi ingat, kalau mau cari masalah, mau bikin Shena sedih, menderita, lebih baik kamu pergi jauh-jauh aja,”
“Nggak, aku datang ke sini nggak mau ngelakuin apa yang Mama sebut tadi,”
Ardina menilai kesungguhan di mata Dio. Beberapa detik Ia hanya menyelami niat hati Dio hanya melalui sorot matanya, setelah itu barulah Ia menyingkir dari depan pintu memberikan akses untuk Dio supaya anak semata wayangnya itu masuk ke dalam ruang perawatan Shena yang masih tertidur pulas.
“Mama kalau mau istirahat di rumah nggak apa-apa kok, Ma. Biar aku yang di sini,”
__ADS_1
“Mama nggak percaya sama kamu, Mama lebih percaya sama diri Mama sendiri untuk dampingin Shena,” ujar Ardina dengan lugas yang langsung membuat Dio menghela napas pelan. Padahal Ia sudah mau berkorban sedikit malam ini, mengorbankan kenyamanan istirahat di kamarnya demi menemani Shena. Tapi mamanya tidak percaya.
“Kenapa Mama nggak percaya sama aku?”
“Ya karena kamu ‘kan udah terlalu sering bikin kami semua kecewa dengan sikap kamu,”
“Tapi kali ini aku beneran bakal temenin Shena kok, Ma,”
“Ya udah bagus kalau gitu, tapi Mama juga mau di sini. Jadi kalau seandainya kamu macam-macam sama Shena ya, kamu yang Mama usir. Biar Mama yang di sini sama Shena,” ancam Ardina.
“Mama Papanya Shena udah dikasih tau kalau Shena dirawat di sini, Ma?”
“Shena bilang, mamanya juga lagi kurang sehat makanya Shena belum ngomong kalau Shena sakit,”
Mendengar suara lelaki sedang berbicara, Shena perlahan membuka matanya. Suara itu tak asing di telinganya, dan ketika Ia membuka mata ternyata dugaannya tidak salah.
Shena menatap Dio bingung. Tapi jujur hatinya bahagia sekali melihat Dio datang. Ia bergumam memanggil suaminya “Dio,”
__ADS_1
Dio dan mamanya yang sedang saling menatap satu sama lain langsung menoleh ke sumber suara.
“Lho, kok kamu bangun, Nak?”
Ardina langsung mengusap kening Shena dengan lembut. Ardina berharapnya Shena bisa tidur nyenyak sampai besok pagi, tapi ternyata Shena malah bangun setelah suaminya datang seolah sudah diatur matanya supaya terbuka saat Dio masuk ruangannya.
“Dio, baru datang?”
“Iya gue baru datang, gimana keadaan lo? Terus kenapa lo malah bangun?”
“Aku dengar suara orang ngobrol. Aku tebak suara kamu terus pas aku buka mata ternyata benar kamu. Oh iya, kamu udah makan?”
Dio menatap Shena tanpa ekspresi, tapi tatapan matanya menyoroti Shena yang masih sempat bertanya apakah Ia sudah makan atau belum? Padahal Dio saja tak kepikiran bertanya seperti itu kepada Shena.
“Gue udah makan,”
“Jelas udah lah, Shen. Dio ‘kan di luar rumah senang-senang, pasti dia udah makan di luar, nah kamu nya malah di rumah sakit makanya nanti kalau udah sehat, sesekali puas-puasin juga keluar rumah ya, terserah kamu deh mau kemana yang penting kamu senang, hati kamu lega, cobain lah apa yang dilakuin Dio itu, tapi Mama temenin supaya aman okay?”
__ADS_1