Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 90


__ADS_3

“Kamu darimana? Kok lama sih pulangnya?”


“Dari kantor lah, Sayang. Mau darimana lagi?”


“Terus kok tumben udah jam sepuluh baru pulang,”


Dio meraih tangan istrinya. Shena pikir KenDio mengingatkan secara halus bahwa Ia belum cium tangan dan malah langsung mencecar Dio dengan pertanyaan, tapi justru Dio mencium tangannya.


“Kebalik kali,”


Shena langsung mencium punggung tangan sang suami. Dio tertawa, padahal Ia tidak merasa keberatan mencium tangan istrinya bulak balik antara punggung tangan dan telapak tangan kanan Shena.


“Ya nggak apa-apa, supaya kamu nggak marah,”


“Oh untuk bujuk aku rupanya,”


“Nggak juga sih, emang pengen aja cium tangan istri, nggak harus kamu terus yang cium tangan aku. Aku juga boleh lah, suka-suka aku,”


“Iya-iya terserah, kamu belum jawab pertanyaan aku lho. Kamu baik-baik aja? Kok pulangnya malam banget,”


“Wuih udah beda banget dari yang biasanya,”


“Maksudnya?”


“Biasanya nggak mau tau aku pulang jam berapa, nggak ditanya-tanyain, kok sekarang—“


“Dih kata siapa? Aku nggak gitu ya!”


Dio terkekeh dan langsung menggelengkan kepalanya. Ia mencium singkat bibir sang istri kemudian hidung runcingnya juga.


“Bercanda, Sayang. Aku hampir kecelakaan tadi,”


“Hah?! Kok bisa?”


“Iya, ban bocor terus udah hampir oleng gitu karena aku juga ngantuk. Tapi untungnya nggak apa-apa sih, untung masih ketemu bengkel dan aku duduk dulu di sana bentar,”


“Ya Allah, tapi kamu nggak apa-apa ‘kan? Maksud aku nggak sempat kecelakaan atau gimana?”


“Nggak kok, tenang aja. Aku ngantuk parah dan kayaknya karena kecapekan juga jadi bawaannya badan aku itu lemes gitu,”


“Pikiran kamu juga kemana-mana kali tuh, jadi makin oleng,”


“Nggak ada aku mikir kemana-mana. Emang kondisi badan aku aja, Sayang. Dan kebetulan keadaan ban juga begitu,”


“Mana telepon aku nggak dijawab-jawab,” gerutu Shena setaya meletakkan tas Dio di tempatnya dan juga menerima jam tangan Ken yang diulurkan pria itu. Ia meminta tolong pada Shena agar meletakkan jam tersebut di tempatnya juga karena Ia masih terlalu malas beranjak dari sofa.


“Ya udah kamu istirahat aja dulu, apa mau langsung mandi?”


“Pengennya sih langsung mandi tapi nggak ada tenaga. Mandiin dong, Shen,”


“Dih enak aja. Malu sama umur kamu tuh,”


“Mandiin pokoknya,”


“Nggak bisa! Mandi sendiri sana, aku siapin aja bajunya,”


“Bisa kok, Shen. Tinggal gosok-gosok aja,”


“Palamu aku gosok-gosok sini. Mau nggak?”


Dio terbahak puas mendengar omelan Shena yang menentang keras keinginannya untuk dimandikan oleh Shena. Itu memang permintaan aneh dan Ia sudah duga Shena tidak akan melakukannya. Sesungguhnya Ia juga hanya berkelakar saja, tidak serius.


“Iya emang mandi harus gosok pala. Aku mau-mau aja,”


“Udah jangan bercanda terus. Mandi sana,”


Shena meraih celana dan baju tidur untuk sang suami setelah itu Ia letakkan di depan Ken yang masih nyaman duduk bersandar di sofa kamar.


“Tuh bajunya,”


“Okay, makasih ya,”


“Sama-sama,”


“Aku ambil minum untuk kamu ya?”


“Nggak usah, aku mau mandi sekarang. Tolong buatin mie instan aja, mau nggak?”


Shena tanpa pikir panjang menganggukkan kepalanya. Ia tidak keberatan dimintai tolong oleh suaminya untuk membuatkan mie instan.


“Kuah atau yang goreng?”


“Kuah biar seger. Jangan lupa banyak irisan rawit, sama telur dua ya, Sayang,”


“Okay, aku bikin sekarang, kamu mandi,”


Dio mengangguk dan memberikan hormat, sementara Shena langsung bergegas keluar kamar menuju dapur usai suaminya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya selepas seharian lelah bekerja.


Keadaan rumah sudah sepi sunyi mengingat sekarang ini sudah pukul sepuluh malam bahkan sudah lebih. Sebenarnya Shena agak takut juga. Bulu romanya berdiri waktu menginjak lantai dasar dan sepanjang kakinya melangkah ke dapur, tapi Ia tidak mungkin tiba-tiba lari masuk kamar lagi dan tidak jadi membuatkan mie instan untuk suaminya. Justru semakin cepat Ia membuat mie instan itu, semakin cepat juga Ia bisa kembali ke kamar meninggalkan suasana yang membuatnya takut.


Shena memberanikan dirinya demi menuruti permintaan sang suami. Kali ini Ia yang bekerja keras menghadang rasa takutnya sendiri demi mie instan yang diinginkan Dio. Sesekali Ia yang berkorban, suaminya ‘kan terbilang sudah sering.


Shena tidak tengok kanan kiri. Ia tetap fokus merebus air, kemudian masukkan bumbu, mie, dan telur. Semua Ia lakukan dengan perasaan yang tidak tenang.


“Shena benar-benar penakut banget. Masa di rumah sendiri aja takut,” ejek dirinya sendiri.


Meskipun dapur dan sekitarnya terang benderang tapi tetap saja suasana yang sepi tidak ada orang maupun suara sedikitpun membuat Shena merinding dan Ia kesal pada suaminya yang lama sekali tidak turun-turun.


Harusnya kalau sudah selesai mandi, datangi dirinya di dapur. Kalau ada Dio, Shena bisa merasa tenang, tidak merinding lagi.


“Sayang!”


“Arghh elah!”


Shena marah karena Dio tiba-tiba datang menepuk bahunya. Ia yang sedang resah, tentu saja kesal.


Dio menatapnya dengan polos dan bertanya-tanya. Ia tidak merasa berbuat kesalahan tapi istrinya marah.


“Aku kenapa emangnya? Kamu marah sama aku?”


“Ya iyalah! Kamu ngagetin aku aja sih, Mas,”


Dio terkekeh seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian Ia mencium Shena yang sudah hampir menyelesaikan tugasnya.


“Aku bikin kamu kaget ya? Okay, maaf. Aku benar-benar nggak sengaja,”


“Kamu sengaja, Mas! Ih kamu nih benar-benar nyebelin banget sih! Aku mau nangis jadinya ‘kan,”


“Lah kenapa nangis?”

__ADS_1


“Aku ‘kan takut tadi sendirian, terus tiba-tiba kamu kagetin. Aku pikir apa tadi, ah kamu nggak lucu!”


Shena mendorong Dio untuk menjauh. Memang benar, Dio melihat mata istrinya yang sedikit berkaca. Shena takut dan ketika dikagetkan malah menangis.


“Aku pikir nasib aku nggak aman nih, ada yang datang entah hantu apa rampok, nggak taunya kamu!”


“Ya Allah, ngelawak banget kamu,”


Dio tertawa lepas. Penuturan Shena membuat perutnya tergelitik. Shena penakut sekali. Dan pikirannya sudah kemana-mana kalau sedang merasa takut.


“Aku spontan marah deh, terus mau nangis abis itu,”


“Uluh-uluh tayang akoh. Jangan nangis dong, aku nggak niat bikin kamu kaget, seriusan deh,”


Dio memeluk istrinya yang masih di depan kompor menunggu mie lunak. Dio mengusap-usap kepala istrinya dengan lembut kemudian mencium pelipisnya singkat.


“Kamu bohong! Kamu ‘kan suka jahil orangnya,”


“Nggak, Sayang. Udah jangan nangis,”


“Aku nggak nangis, cuma mau nangis aja tadi, aku pikir siapa,”


“Ternyata suaminya yang ganteng, iya nggak?”


“Kamu lama banget sih, kok baru turun. Aku deg-degan tau, begitu sampai lantai bawah aku merinding, terus di dapur sendirian apalagi, merindingnya nggak ketulungan. Aku berharap kamu cepat-cepat turun, tapi kamu lama banget,”


“Eh aku tuh udah cepat banget karena aku ingat kamu di bawah pasti cuma sendirian. Bibi ‘kan udah pasti tidur karena ini udah malam banget. Aku sampai cepat-cepat banget keramas, sikat gigi, sama sabun. Kayak orang dikejar hantu karena aku udah yakin kamu tuh pasti lagi ketakutan di bawah. Eh ternyata bener ‘kan,”


“Udah tau begitu malah dikagetin. Ya gimana nggak marah coba,”


“Iya ya, aku oneng banget,”


Shena menuang mie instan yang telah siap ke dalam mangkuk. Ia meletakkan mie bercampur irisan cabe rawit dan telur itu ke atas meja makan.


“Kamu nggak bikin untuk kamu juga, Sayang?”


“Nggak ah, aku udah kenyang. Untuk kamu aja,”


“Yang bener? Kita makan berdua yuk,”


“Nggak usah, aku mau liatin kamu makan aja, aku udah kenyang,”


“Makan berdua lah, biar romantis gitu ceritanya,”


“Nggak mau, Mas. Bisa jangan paksa?”


“Okay-okay, aku nggak paksa deh,”


Nada suara istrinya sudah tegas, maka Dio tidak bisa lagi menawarkan atau lebih tepatnya memaksa sang istri untuk ikut makan bersamanya.


“Hmm mantap banget nih, mie buatan kamu emang nggak dua, nggak ada tandingannya, Sayang. Eh iya aku belum bilang makasih ya? Okay, sekarang aku bilang. Makasih ya, malam-malam udah mau dibikin repot karena nurutin maunya aku. Mana harus ketakutan sendiri pula di dapur. Sekali lagi makasih ya, dan maaf juga udah bikin kaget tadi,”


“Sama-sama. Sesekali aku yang usaha nurutin maunya kamu, Mas. Selama ini ‘kan kamu kamu juga serong aku repotin ya,”


“So sweet banget istri aku ya, aku nggak pernah meras adirepotin kamu sih sebenarnya,”


“Udah, jangan ngomong mulu kamu, Mas, makan aja yang bener, habisin tuh, jangan cuma minta aja,”


“Wuih kalau mie kayak begini mah nggak ada cerita ditolak, Sayang. Udah pasti aku habisin sampai tetes kuah terakhir,”


Shena menutup mulutnya agar tawa teredam. Sudah malam kalau tertawa terlalu keras pasti mengganggu. Baik mengganggu yang nyata maupun yang halus.


“Aku aja nggak mau diganggu sama mereka, dan mereka pun sama lah, Mas,”


“Mereka siapa?”


“Manusia, sama anu. Kita harus saling menghargai ‘kan. Ini udah malam, nggak boleh berisik, harus tau aturan meskipun di rumah sendiri. Nggak dipungkiri kita ini hidup berdampingan. Benar nggak?”


“Iya bener, tapi kita lebih menang karena kita manusia,”


Shena terkekeh pelan lagi. Ia menyuruh suaminya diam dan lanjut makan supaya kalau sudah selesai, mereka bisa segera masuk ke kamar.


“Kalau udah ada aku, kamu masih takut nggak sih?”


“Nggaklah, kecuali kalau sendirian. Itu baru takut banget,”


“Kamu penakut sih,”


“Ya wajar, namanya juga cewek. Kebanyakan cewek, aku rasa begitu deh, teman-teman aku juga suka begitu tau, mereka sama aja kayak aku cupunya,”


“Oh, banyak yang takutan ya?”


“Iya dong namanya juga temenan,”


“Boleh minta tolong?”


“Minum?”


“Iya, tau banget kamu ya,” Dio tersenyum lebar karena istrinya tahu apa yang Ia butuhkan sekarang.


Shena langsung bergegas meninggalkan kursi untuk mengambilkan air putih. Ia yang salah, menyajikan makanan tapi tidak menyajikan minum juga. Sudah fokus dengan rasa ketakutan tadi jadinya tidak berpikir soal minumnya Dio yang belum Ia siapkan.


“Makasih, Shen,” ujar Dio setelah Ia meneguk air minum yang diberikan oleh istrinya.


“Sama-sama,”


Shena kembali duduk di depan Dio dan menjadikan Dio sebagai objek tontonannya lagi. Ia melihat Dio makan bawaannya kenyang dan entah kenapa nyaman padahal sebelumnya habis kesal dengan Dio karena Dio membuatnya terkejut.


“Ngomong-ngomong telinga kamu lebar ya,”


Dio tertawa mendengar ucapan Shena yang aneh dan terkesan tiba-tiba itu. Akhirnya Dio jadi tersedak.


“Makanya jangan ketawa dulu, Mas,”


“Abisnya kamu lucu, pake bawa-bawa telinga aku yang lebar, padahal nggak tuh,”


“Udah jangan ngomong dulu makanya, makan yang bener. Cukup aku aja yang ngomong, okay?”


“Okay, aku dengerin aja,”


“Aku udah mulai cari tempat untuk buka usaha online aku,”


“Oh, terus—“


“Kok kamu ngomong lagi sih? Itu matanya aja masih merah gara-gara keselek malah hampir nangis. Sekarang malah ngomong lagi,”


“Iya aku diam,”


Dio langsung mengunci mulutnya sendiri yang suka gatal ingin menyahuti ucapan sang istri. Shena sudah kehabisan cerita, jadinya Ia ingin mengangkat topik lain.

__ADS_1


“Hmm ya gitu, cuma itu aja yang mau aku ceritain ke kamu, Mas,”


“Aku mau cerita,”


“Nggak boleh! Kamu fokus makan aja,”


“Soal musibah yang tadi aku alami, Sayang. Soal ban bocor sama—“


“Hmm ceritanya setelah kamu makan aja ya, Mas, kamu habisin dulu makanan kamu setelah itu lanjut ngomong deh,”


Dio merengut karena larangan dari istrinya supaya Ia tidak bicara apapun lagi selama makan, bahkan untuk bercerita soal kejadian tadi, Ia diminta untuk menunda dulu.


******


“Sayang, kamu tau ‘kan, jadi Nada itu minta rekomendasi aku untuk rumah barunya, aku ‘kan nggak banyak tau soal rumah-rumah bagus gitu ya, jadi aku—“


Tiba-tiba saat ini Dio membahas tentang Nada pada istrinya.


“Kapan dia minta rekom gitu?”


“Lah, emang kamu nggak baca DM dia ya? Aku pikir kamu baca lho,”


“Nggak tuh, aku kira dia DM cuma sekedar tanya kondisi kamu setelah dihajar mantan suaminya aja. Ternyata chat dia masih berlanjut?”


“Dia emang nanya keadaan aku aja ‘kan awalnya. Tapi semalam kayaknya dia kirim DM terus baru aku buka tadi,”


“Terus udah kamu balas?”


“Ada yang udah tapi ada yang belum,”


“Ini sudah sore lho, Mas. Kamu udah balik kerja belum dibalas juga padahal udah dibaca,”


“Aku belum sempat mau mau balasnya, Bee,”


“Kamu punya teman ‘kan yang ngerti soal begitu? Kasih aja nomor teman kamu itu ke dia, Mas,”


“Iya sih tadi kepikiran begitu, cuma belum sempat balasnya,”


“Ya udah balas aja sekarang, jangan bikin dia nunggu,”


“Iya Insya Allah nanti, aku mau mandi dulu,”


“Jangan kelamaan, apa susahnya tinggal balas, Mas. Nanti dia ngarep lho,”


“Ngarep gimana?”


“Ya ngarep lebih pokoknya,”


“Jangan ngomong begitu, nggak baik punya prasangka buruk,”


“Ya habisnya aneh ya. Dia ‘kan punya banyak kenalan dong pasti, kenapa jadi hubungi kamu, Mas?”


“Ya mungkin biar sekalian kali, ‘kan sebelumnya dia juga udah chat tanya kondisi aku,”


“Terus selain dia minta tolong sama kamu untuk rekomendasi rumah, dia ngomong apalagi?”


“Aku sempat balas sekali sih. Emang kenapa mau pindah dari rumah yang sekarang, terus dia jawab udah nggak aman. Dia bilang kalau suaminya eh maksud aku mantan suaminya makin merajalela. Jadi dia mau pindah aja, tapi masih bimbang juga katanya,”


“Lah, kok aneh. Minta rekomendasi tapi belum pasti?”


“Iya, kayaknya sih belum pasti-pasti banget, Bee,”


“Kasian dia, emang mantan suaminya kenapa, Mas?”


“Ya nggak tau, Sayang. Aku nggak mau tanya sampai situ, lagian belum sempat balas juga, kayak yang tadi aku bilang,”


“Ya udah balas aja sana. Nanti dia kelamaan nunggu ‘kan nggak enak, Mas,”


“Okay, aku mau sepedaan dulu deh, mumpung balik cepet. Nanti aja balasnya pas pegang handphone,”


Dio menggunakan pelindung kepalanya. Sebelum bergegas pulang ke rumah, Dio memang sudah ada niat untuk bersepeda sesaat sebelum pekerjaannya selesai.


Dan begitu sampai di rumah, Ia tidak langsung mandi, melainkan ganti baju dan langsung turun menghampiri sepedanya diikuti oleh Shena.


“Yakin nih aku nggak boleh ikut?”


“Yakin lah, ngapain ikut? Kamu bisa gempor, Bee. Lebih baik di rumah aja, aku cuma bentar aja kok,”


“Padahal aku pengen banget lho, Mas,”


“Tapi serius deh aku ngeri kalau kamu ikut, baik itu aku bonceng atau kamu yang bawa sepeda sendiri. Aku takut aja gitu kalau kamu kenapa-napa. Demi keamanan, mending kamu di rumah aja. Iya nggak?”


Shena mengangguk dengan bibir sedikit melengkung ke bawah. Sudah lama Ia tidak mengayuh sepeda sore-sore begini, maka dari itu Ia ingin sekali ikut Dio. Tapi sayangnya Dio tidak mengizinkan.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, hati-hati ya, Mas,”


“Okay siap,”


Dio mengayuh sepeda keluar dari rumah, dan bertepatan dengan kepulangan ayahnya dari kantor.


Sakti menekan klakson mobil untuk menyapa putra itu. “Mau kemana kamu, Dio?” Ia lihat Dio menggunakan helm dan pakaian untuk bersepeda. Tapi Ia tidak yakin anaknya mau main sepeda sore-sore begini.


“Mau sepedaan, Pa,”


“Oh tumben. Baru pulang kerja ‘kan?”


“Iya barusan, Pa, ini belum mandi langsung pergi,”


“Hati-hati, jangan kecapekan ya, soalnya kamu baru pulang kerja,”


“Siap, Pa. Aku pergi bentar dulu ya, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, jangan kecapekan, Ndra,”


“Iya tenang aja, Papaku sayang,”


Dio yang kembali melajukan sepedanya dengan kecepatan normal usai bicara dengan ayahnya sebentar.


****


Shena meraih ponselnya dan membuka akun instagram sang suami yang tertinggal di ponselnya. Ia penasaran dengan pesan yang dikirimkan oleh Nada untuk suaminya.


“Cuma minta rekomendasi tapi Mas Dio nggak langsung selesaikan aja. Nada jadi nunggu lama deh itu,”


Shena tidak mau membalas pesan Nada, biar suaminya saja karena Nada minta rekomendasi pada Dio.


Sebenarnya Shena merasa bingung karena Nada malah menghubungi suaminya lagi. Ia pikir sudah selesai obrolan yang dibuat Nada selepas Ia menjawab pertanyaan Nada soal keadaan Dio. Ternyata Nada masih mau melanjutkan obrolan di direct message instagram suaminya.

__ADS_1


“Kasian juga Nada ya. Sampai mau pindah rumah karena mantan suaminya. Ih bener-bener deh. Kok bisa sih ada laki-laki kayak dia. Aku ingat mukanya masih dendam banget, pengen hajar balik muka dia sampai bonyok sekalian. Soalnya dia udah bikin suami aku sampai tumbang, kurang ajar emang! Amit-amit ketemu laki-laki macam dia lagi,”


__ADS_2