Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 122


__ADS_3

“Mas Dio, gimana Shofea? Ketemu ya?”


“Enggak, aku sama Papa bisa liat dari luar aja, tapi lumayan puas lah yang penting bisa liat. Cantik banget ya Shofea tuh walaupun lagi dirawat di rumah sakit,”


“Emang cantik, kayak Kak Tania, mirip juga sama abang. Orangtuanya ‘kan cantik sama ganteng, ya udah lengkap deh,”


“Dih enggak mirip abang ah, mirip kak Tania aja. Bang Sehan ‘kan jelek,”


“Kamu kalau abangnya dengar abis lho,” daun telinga Dio ditarik oleh papanya. Gencar sekali mengatakan bahwa abangnya itu jelek, anaknya cantik dari Tania saja. Jelas Sehan tidak terima karena biar bagaimanapun, Ia turut andil dalam pembuatan Shofea.


“Aduh, Bee. Aku makin enggak sabar ketemu dia secara langsung, beneran cantik banget itu anak,”


“Aku juga enggak sabar banget. Pengen gendong dia,”


“Sabar, mudah-mudahan bentar lagi boleh pulang,” ujar Ardina yang tak kalah antusias juga untuk menimang cucunya. Shofea adalah cucu pertama dari anak pertamanya. Walaupun bisa dibilang bukan anak kandung dari Sehan dan Sehan juga keponakannya tapi Ardina benar-benar menyayangi mereka.


“Aku juga enggak sabar gendong anak kita jadinya, Bee,”


“Lah, ini mah masih lama, Mas. Ada-ada aja nih,”


“Iya udah enggak sabaran, serius,”


“Yang udah di depan mata aja, Dio. Yang ada sekarang ‘kan baru Shofea. Apa yang mau kamu gendong kalau yang di perut Shena belum lahir? Hah?”


“Gendong mamanya aja deh,”


Dio maju ingin menggendong Shena tapi Shena dengan cepat menepuk bahu suaminya. Ia tidak bersedia digendong, karena takut jatuh.


“Dio jangan aneh-aneh dong! Masa mau gendong Shena? Dia ‘kan lagi hamil,”


“Iya-iya maaf, enggak aku gendong deh,”


“Andra mau dijewer lagi kayaknya ya,”


Sakti menggerakkan tangannya ingin meraih daun telinga sang putra yang langsung berlari naik ke lantai atas.


Shena terkekeh menyaksikan suaminya yang seperti anak kecil sedang menghindari amukan orangtua karena keseringan jajan.


“Jangan mau digendong-gendong, Shen. Bahaya buat kamu,”


“Iya enggak kok, Ayah,”


Shena menyusul Dio ke kamar. Entah sedang apa suaminya itu setelah berlari menghindari tarikan di telinganya oleh sang ayah.


“Mas Dii, keadaan Kak Tania gimana? Udah agak baikan?”


“Iya, Alhamdulillah. Udah duduk tadi, walaupun katanya masih agak ngilu,”


“Ya Allah, semoga cepat pulih deh, adik bayinya juga gitu, biar cepat pulang dan aku bisa gendong,”


“Aku gendong kamu aja sini, penasaran udah berat atau belum,”


“Enggak boleh! Nanti jatuh, suka ada-ada aja kamu, Mas,”


“Penasaran apa kamu udah berat atau belum,”


“Ya udah lah, orang lagi hamil. Lagian kalau berat emang kenapa? Enggak suka ya? Hmm?”


“Suka, Bee. Malah lebih enak kalau mau dipeluk, jadi empuk gitu,”


Shena mencubit pinggang suaminya yang secara tak langsung mengatakan bahwa Ia sudah membesar badannya. Ia malu, sungguh. Tapi mau bagaimana lagi? Ia berharap bisa turun dan kembali seperti waktu belum hamil.


“Kamu tuh mau segede kingkong juga enggak masalah, Sayang. Aku tetap jatuh hati,”


“Kingkong? Masa aku disamain sama kingkong sih?!”


“Enggak samain, cuma perumpamaan aja supaya kamu nggak khawatir sama berat badan. Lagian kayaknya kamu enggak gendut deh. Aku ngeliat nya masih sama aja makanya aku penasaran mau gendong,”


“Enggak boleh, Mas! Orang tadi ayah juga enggak bolehin, ‘kan bahaya itu,”


“Iya bercanda, enggak beneran mau digendong kok, Sayang,”


“Eh tidur yuk,”


“Hmm aku juga udah ngantuk nih,”


Dio mengganti bajunya yang habis Ia kenakan ke rumah sakit, Ia juga mencuci tangan dan kaki sebelum menenggelamkan diri di dalam selimut.


“Kita pillow talk dulu sebelum tidur, Bee,”


“Okay, mau ngobrolin apa?”


“Soal staf aku si Tari yang udah berani deketin aku,”


Shena membulatkan matanya. Ia langsung berbaring miring menatap Dio. Dio belum sempat menceritakan perkara ini pada istrinya karena sudah panik karena keadaan Tania tadi.


“Yang mana orangnya, Mas?”


“Yang pernah kamu liat juga, Bee. Dia namanya Tari. Tiba-tiba dia tanya ke aku udah punya istri ya? Terus kayaknya punya niat mau makan siang juga sama aku. Makanya langsung aja aku ngomong kalau aku ini udah punya istri dan istri aku lagi hamil,”


“Yang bener kamu, Mas? Ya Allah kok meresahkan banget dia,”


“Iya makanya, dia udah berani gitu mau deketin aku,”


“Ih kok aku geram dengarnya ya,”


“Makanya harus ati-ati, Bee,”


“Lah kamu yang harus ati-ati. Suka ya dideketin dia? Hah?”


Shena memberikan pelototan tajamnya pada Dio yang mengernyit bingung. Suka darimana? ia malah resah, ia takut kalau bertemu perempuan yang tak ada basa-basinya, agresif. Ia malah tidak suka.


“Enggak suka lah, Sayang. Masa Iya aku suka sama perempuan lain,”


“Lho biasanya cowok itu suka kalau dideketin sama perempuan, apalagi masih muda, cantik, enggak gendut, enggak lagi hamil. Ughh itu impian para pria banget,”


“Lah, aku mah enggak begitu. Yang di rumah aja udah cukup, ngapain nambah dosa coba?”


“Halah yang bener? Jangan-jangan enggak begitu kenyataannya, udah kasih nomor telepon ya? Hmm?” Tanya Shena yang lebih mirip sesi interogasi. Alisnya naik turun menuntut jawaban Dio secepat mungkin. Dio tertawa dibuatnya. Demi apapun Ia tidak pernah ada niat untuk terima perempuan lain mendekatinya, apalagi sampai memberikan nomor telepon.


“Enggak, ngapain kasih nomor telepon? Orang dia juga enggak minta,” sengaja Dio bicara seperti itu yang membuat ambigu.


Sesaat kemudian Shena mencubit lengan kokoh suaminya dengan gemas. “Jadi artinya kalau dia minta, kamu bakal kasih, Mas?! Hah?”


Dio tertawa mendengarnya. Sudah Ia duga kalau Shena akan bicara seperti itu. Shena kepanasan juga ternyata. Selama ini Shena bisa dibilang jarang kelihatan cemburu, malah justru Dio yang sebaliknya. Sekarang giliran Shena yang dibuat cemas dengan yang namanya perebut.


“Terserah Mas deh, kalau mau selingkuh, aku mundur,”


“Eh jangan ngomong gitu lah, aku Insya Allah bisa jaga komitmen, Bee. Enggak mau selingkuh, cukup kamu aja di hati,”


“Halah bohong! Buktinya ngomong kayak tadi. Kamu tuh sebenernya senang ‘kan dideketin sama si Tari itu?”


“Enggak dong, ngapain senang didekati perempuan lain? Deket istri aja udah senang banget kok,”


“Enggak tau ah, aku kesal sama Mas,”


Shena membalik badannya, tidur memunggungi Dio. Andra langsung kalang kabut. Ia tidak suka dipunggungi oleh istri tercintanya.


“Sayang, kok munggungi aku sih? Aku ‘kan enggak salah,”


“Kamu tuh seolah mau kasih nomor telepon ke dia kalau dia minta, Mas. Aku enggak suka dengernya,”


“Itu cuma bercanda aja, aku sengaja ngomong gitu karena pengen tau reaksi kamu, eh enggak taunya kamu cembokur. Maafin ya,”


“Dih, apa kamu pikir lucu begitu?”


“Kok ngambek sih? Yang penting aku enggak beneran kasih nomor telepon ke dia, aku enggak deketin dia, malah langsung aku hadang dia sebelum dekatin aku. Aku bilang kalau uda punya istri dan istri aku lagi hamil. Kurang apalagi coba?”


Dio merengkuh pinggang Shena yang masih setia memunggunginya. Shena sempat menolak dengan menggeliatkan badannya namun Dio tetap tak melepaskan pelukannya itu.


“Mas, aku enggak mau dipeluk,”


“Kenapa? Biasanya juga mau, lebih dari peluk juga biasanya mau kok,”


“Mas ih! Aku mau tidur, ngantuk,”


Dio sengaja menghembuskan napasnya di dekat telinga kemudian mencium lehernya. Shena jadi tidak bisa tidur kalau begitu caranya.


Yang ada Shena malah gelisah karena bulu romanya berdiri. Sekujur tubuh rasanya menegang.


“Cie merinding cie,”


Dio bisa merasakan lengan istrinya yang merinding, dan terbitlah ide jahilnya untuk menggoda Shena yang langsung memutar bola matanya kesal.


“Makanya jangan cium-cium deh, aku geli, pada merinding semua tau,”


“Enggak apa-apa, tandanya kamu senang aku cium,”


Dio semakin merajalela. Satu-satunya cara untuk membuat Shena mau membalik badan agar tak memunggunginya adalah dicium sepanjang leher dan bahu. Barangkali Shena mau tidur dengan posisi menghadapnya.


“Mas! Tidur sana, jangan ganggu aku,”


“Ya makanya jangan munggungi aku tidurnya,”


Daripada Dio tidak selesai menjahilinya, lebih baik Shena turuti saja apa kata lelaki itu. Lagipula niatnya memang tak ingin memunggungi sepanjang malam, tadi hanya kesal saja dengan ucapan Dio yang ternyata memang sengaja berniat untuk membuatnya cemburu.


“Jadi kamu enggak kasih nomor telepon atau apapun ke dia ‘kan, Mas?”


Dii tertawa, Ia benar-benar tidak mengerti kenapa sekalinya cemburu Shena sampai begini. Padahal sudah Ia tegaskan tadi, tak ada yang Ia berikan pada perempuan lain, baik itu nomor telepon, sosial media, atau apapun. Untuk apa juga? Ia sudah punya istri, bahkan akan punya anak juga. Jadi lebih baik fokus saja dengan mereka berdua, daripada yang lain, malah tambah dosa saja. Dosanya selama ini saja sudah banyak.


“Enggak dong, Bee. Sebelum dia macam-macam udah aku dorong dia, istilahnya begitu. Sebelum dia deketin aku, mau macam-macam sama aku, udah aku bilangin kalau aku ini udah ada yang punya. Dia galak, kayak macan betina,”


“Iya lah, terserah Mas mau ngomongin aku apa, yang jelas kalau Mas mau macam-macam silahkan aja, tapi aku pergi,” pungkas Shena dengan sederhana tapi mampu membuat Dio takut. Ketakutan itu Ia gambarkan dengan pelukan eratnya pada Shena. Ia takut Shena benar melakukannya. Ia tidak bisa ditinggalkan oleh Shena.


“Jangan pergi,”


“Ya kalau Mas enggak macam-macam, aku enggak bakalan pergi, tenang aja, Mas,”


*****


“Sayang, temani mama jenguk teman yuk, mau enggak?”


Setelah melepas suami bekerja, Shena langsung dihampiri oleh Ardina. Ia yang akan membalik badannya masuk ke dalam rumah terkejut karena tiba-tiba ada yang menghalangi langkahnya.


“Kaget ya?”


“Iya, kirian siapa,”


Ardina terkekeh mengusap lengan menantunya itu. “Jadi gimana?” Tanya Ardina pada Shena. Sengaja Ardina mengajak Shena pergi karena daripada Shena bosan di rumah, lebih baik Ia ajak keluar sebentar.


“Boleh banget, Ma. Kapan? Sekarang ya?”


“Nanti aja jam sembilan,”

__ADS_1


“Oh begitu, ke rumah sakit atau di rumahnya, Bun?”


“Di rumah sakit, Shen. Awalnya dia di rawat di rumah aja, tapi dibawa ke rumah sakit semalam,”


“Iya, Ma, jam sembilan aku pergi sama mama,”


“Nah kebetulan rumah sakitnya itu tempat Tania sama Shofea dirawat, rumah sakit paling dekat di sini. Jadi kita sekalian aja ketemu Tania ya?”


“Woah iya-iya boleh, Ma. Aku memang rencananya mau ke rumah sakit jenguk Kak Tania,”


“Pas kalau begitu,”


Ardina mengajak Shena masuk kembali ke dalam rumah. Keduanya ke meja makan untuk membereskan meja makan yang tadi digunakan untuk sarapan.


“Mama juga rencananya mau ke toko bunga nih, mau ada koleksi yang diganti,”


“Sekalian mampir nanti, Ma?”


“Iya tapi kalau kamu mau pulang duluan enggak apa-apa, Sayang. Nanti antar kamu dulu habis itu baru bunda pergi lagi,”


“Aku ikut aja, boleh ‘kan, Ma?”


“Boleh, tapi memangnya kamu enggak capek? Biar mama aja kalau kamu capek,”


“Enggak, Ma. Aku malah senang banget pergi-pergi gitu, daripada cuma diam aja di rumah, aku bosan soalnya,”


*********


“Aku mau tanya deh,”


“Hmm?”


“Kamu tuh sebenarnya cinta sama aku enggak sih?”


Sebenarnya duduk-duduk di teras rumah saat sore hari selepas bekerja itu jarang dilakukan, tapi ternyata asyik juga, apalagi dengan pasangan. Ditambah dengan obrolan yang menyenangkan. Sejak tadi obrolan yang terjadi ada Dio dengan Shena sebenarnya menyenangkan, cuma entah kenapa tiba-tiba Shena malah tanya soal itu. Shena pasti sudah tahu jawabannya apa.


Dio merasa diundang untuk tertawa. Ia merasa pertanyaan istrinya itu lucu. Perkara yang satu itu harusnya tak perlu ditanyakan lagi.


“Kok ketawa sih, Mas?!”


“Tuh aneh, tadi nanya aneh, sekarang makin aneh karena ngomel setelah aku ketawa,”


“Kamu yang aneh. Orang aku nanya malah dijawab dengan ketawa,”


“Ya abisnya pertanyaan kamu itu random banget deh,”


“Kenapa? Sesekali aku mau tanya begitu, emangnya enggak boleh?”


“Ya tujuannya apa, Bee? Hah? Kamu udah tau jawabannya, jadi kenapa harus tanya lagi sih? Jangan bikin aku gemes deh, ntar aku gigit nih,”


Dio menggertakkan giginya seraya menatap Shena dengan tajam. Disaat ada banyak pertanyaan lain, malah tanya soal itu. Ya jelas saja Ia mencintai perempuan itu. Perempuan yang telah menjadi istrinya dan kini tengah hamil buah hati mereka.


“Emang masih cinta sama aku?”


“Ya iyalah, akan terus begitu,”


“Seriusan, Mas? Jawab yang benar dong, aku lagi tanya nih. Kamu enggak mau jawab-jawab deh, tadi malah ketawa,”


“Lah barusan aku jawab, emang kurang apa lagi jawabannya?”


“Aku suka tiba-tiba kepikiran kalau kamu enggak cinta sama aku sebenarnya terus kamu pergi, Mas,”


“Hadeh, mulai deh overthinking nya. Udah ah, enggak usah ngomong yang aneh-aneh, aku enggak suka, Sayang,”


“Aku mau kamu kasih jawaban, Mas,”


“Tadi aku udah kasih jawaban,”


“Ah minum dulu, ngedengerin kamu ngomong aku jadi haus,”


Dio mengambil gelas berisi sirup markisa yang ada di sebelahnya setelah itu Ia seruput dengan rakus.


“Hadeh bikin pengin aja,”


“Jangan! Lagi sakit perut katanya ‘kan.


Ini agak asam soalnya,”


“Tapi pengin, kayaknya seger banget itu, Mas,”


“Emang iya, tapi kalau lagi sakit perut jangan dulu, nanti aja kapan-kapan,”


“Ya ampun, masa kapan-kapan?”


“Ya iyalah. Sampai kamu udah mendingan perutnya, kata kamu tadi perut kamu sakit,”


“Sekarang udah enggak sih,”


“Tetap belum boleh,”


“Ya udah jawab aja dulu pertanyaan aku tadi,”


“Udah aku jawab, tanya sekali, aku cium di sini ya, enggak malu apa dicium di teras rumah?”


“Malu lah! Gila aja kali dicium di teras, kayak enggak ada kamar aja,”


Dio tertawa lepas. Padahal Ia sudah mendekatkan kepalanya ke arah Shena niatnya hanya untuk membuat Shena panik saja. Kalau sudah panik atau grogi, Shena itu kelihatan menggemaskan di matanya.


“Yang bener?”


“Iya, Insya Allah sampai syurga,”


“Aamiin, aduh cowok tuh emang paling bisa bikin hati cewek tenang dengan mulut manisnya,”


“Lho kok mulut manis? Itu dari hati, bukan dari mulut aja, Bee, lagian itu bukan kata-kata manis kalau menurut aku, itu adalah kejujuran, Insya Allah aku bisa jaga komitmen, udah intinya begitu. Aku enggak bisa ngomong manis panjang lebar, aku enggak jago, yang aku bisa cuma berusaha bikin kamu yakin aja deh,”


Obrolan mereka terpaksa berhenti ketika melihat mobil Sehan memasuki rumah. Mereka berdua bingung karena Sehan pulang.


“Lho kok Abang udah pulang? kak Tania sama Shofea udah boleh pulang ya?”


“Entah, aku juga bingung, Bee,”


Mereka langsung bergegas menghampiri mobil Sehan yang masih belum terbuka. Kepulangan Sehan ini tidak ada obrolan sebelumnya. Benar-benar mendadak dan buat bingung.


Begitu pintu terbuka menampilkan sosok Tania tanpa bayi di gendongannya, membuat mereka akhirnya paham bahwa hanya Tania saja yang diizinkan pulang sementara si cantik Shofea, cucu pertama keluarga Sakti belum bisa pulang.


“Hai Kak, yeayy kakak pulang,” Shena langsung tersenyum kebar walaupun dalam hati sedih karena Ia belum bsia bertemu Shofea. Tidak apa, yang penting ibunya sehat dulu, anaknya bisa sehat kemudian, itu yang diharapkan.


Shena langsung memeluk Tania dengan hati-hati takut ada yang masih terasa sakit di badan Tania.


“Aku kaget begitu liat mobil abang, aku pikir Kak Tania sama adik bayi udah boleh pulang,”


Dio membantu Sehan menurunkan barang sementara Shena memeluk pinggang Tania dari samping dan berjalan masuk ke dalam berdampingan.


“Iya, baru aku aja yang dibolehkan pulang, sementara Shofea malah tadi sempat sesak banget kata dokter,”


“Ya Allah, Kak…”


Shena kehabisan kata-kata mendengar kabar dari keponakannya itu. Cobaan Tania dan Sehan berat sekali. Yang harusnya pulang ke rumah membawa anak mereka dengan perasaan senang, kini malah sebaliknya. Tidak bisa pulang dengan anak dan malah membawa perasaan sedih sekaligus cemas.


“Masih sesak sampai kakak pulang?”


“Enggak, makanya aku baru pulang karena nunggu dia baikan dulu. Setelah dia benar-benar baikan barulah aku pulang, karena aku juga diminta dokter istirahat, Tha. Cuma Abang katanya mau balik lagi ke sana, biar pun nunggu di luar enggak apa-apa katanya, yang penting bisa dampingi Shofea,”


“Alhamdulillah Tania pulang,”


Ardina senang mendapati kedatangan Tania yang kelihatannya sudah jauh lebih baik. Sakti pun bahagia, setidaknya sang menantu sudah pulih meskipun cucunya belum.


“Gimana Shofea, Tania?”


Tania segera menceritakan apa yang dialami Shofea tadi dan mereka terkejut bukan main bahkan Ardina sampai menangis.


“Sembuh dong, Sayang. Kenapa malah sesak, Sayang. Ya Allah… tolong—“


Sakti mengusap bahu Ardina yang tak bisa tenang. Bibirnya tak henti menyemangati Shofea berharap Shofea bisa mendengar.


“Bunda, Insya Allah Shofea enggak begitu lagi,”


“Aamin...Aamiin, mama mau ketemu,”


“Bunda di rumah aja, doain Shofea dari rumah. Rencananya aku mau ke rumah sakit lagi ini. Biar aja enggak bisa masuk ke ruangan sering-sering yang penting aku ada di dekat anak aku, Ma,”


“Iya, enggak apa-apa, terserah kamu aja, Bang. Bunda tau kamu enggak akan tenang, ini pertama kalinya kamu harus menghadapi situasi kayak begini,”


Ardina tak mungkin melarang anak sulungnya yang ingin terus ada di dekat anaknya, lagipula Sehan tidak menyalahi aturan. Ia hanya ingin berada di rumah sakit, menemani Shofea walaupun hanya ada di luar ruangan tempat Shofea dirawat yang terpenting Ia bisa lebih cepat tahu soal perkembangan kondisi Shofea. Semenjak tahu anaknya sesak tadi, Sehan benar-benar dilanda kecemasan yang luar biasa, bahkan menyetir mobil pun susah untuk fokus.


******


“Sayang, barusan aku ketemu dedek. Alhamdulillah udah benar-benar membaik. Tadi sempat nangis bentar aja. Sekarang aku pulang nih,”


“Alhamdulillah, berarti Insya Allah udah aman ya?”


“Iya aman kok, aku udah tenang ketemu dia tadi,”


“Iya, Bang. Pulang aja biar abang istirahat. Besok kita ke rumah sakit ketemu Shofea lagi,”


Sehan sampai malam di rumah sakit. Ia ingin benar-benar tenang. Tadi sempat bertemu ketika jam besuk, lalu ketika keluar, dari luar ruangan Ia lihat anaknya menangis. Maka Ia diam dulu mengamati sampai Shofea sudah tenang. Lama Ia mengamati Shofea barulah setelah itu punya keputusan untuk pulang sekarang.


Dari sore sampai pukul setengah sebelas malam, Ia baru akan pulang ke rumah bertemu istrinya setelah beberapa jam sebelumnya hanya duduk menemani Shofea. Meskipun tak bisa menemani terlalu lama di samping Shofea yang terpenting Ia sudah tenang karena selama masa-masa kepanikannya tadi Ia ada di depan ruangan Shofea dan bahkan sempat bertemu. Yang terpenting Ia tahu kondisi Shofea sudah membaik pasca mengalami sesak tadi.


“Ya udah, aku udah di mobil nih mau jalan pulang. Oh iya kamu ada yang mau dititip enggak?” Ujar Sehan pada istrinya setelah Ia masuk ke dalam mobil. Saatnya Ia berkendara menuju rumah, meninggalkan rumah sakit untuk sementara waktu karena besok pagi sudah ke rumah sakit lagi untuk tahu kondisi Shofea.


“Enggak ada, Bang. Langsung pulang aja ya, biar cepat istrirahat, nanti abang sakit karena kepikiran sama kurang istirahat,”


“Iya, kalau gitu aku langsung pulang ya, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Tania khawatir suaminya malah jatuh sakit. Selama Ia ada di rumah sakit, Sehan benar-benar mengorbankan waktu istirahatnya. Sehan bertanggung jawab atas semua keperluannya. Belum lagi Sehan juga harus membagi badan, pikiran, dan hatinya dengan anak mereka yang ditempatkan di ruangan berbeda dengan Tania.


******


“Abang, Shofea bobo ya?”


“Enggak, tuh lagi ngobrol sama mamanya. Kenapa, Shen?”


Shena terkekeh kecil. Jangan ditanya kenapa dia menanyakan Shofea. Tentu saja Ia ingin mengajak anak cantik itu mengobrol.


“Enggak apa-apa, Bang,”


“Oh mau ketemu ya? Masuk aja sana, gue mau keluar nih,”


“Abang mau kemana?”

__ADS_1


“Mau beli nasi padang, Tania mau itu, Shena masuk aja sana, enggak apa-apa kok,” suruh Sehan pada Shena agar menghampiri anaknya yang sedang di kamar bersama sang ibu.


Shena menggeleng tak enak masuk ke kamar mereka dan mungkin akan mengganggu. Sehan yang tahu akan hal itu langsung memanggil istrinya di dalam kamar.


“Sayang, ada Shena tuh. Bawa aja Shofea keluar. Enggak tidur ‘kan?”


“Okay, emang mau keluar nih, Bang,”


Tania langsung bergegas menggendong anak bayi nya keluar dari kamar. Ia saja bosan di kamar terus. Apalagi Shofea, kalau Ia sudah bisa bicara mungkin Ia sering merengek pada mamanya agar diajak keluar kamar.


“Halo, Aunty,”


“Yeaayy Shofea keluar,”


Sehan sudah bergegas pergi membeli makan sementara Tania dan Shena menempati sofa di yang tak jauh dari kamar bersama Shofea.


“Maaf ya, Aunty. Aku sering mainnya di kamar. Mama soalnya enggak puas-puas ajak aku main,”


Agatha tertawa mendengar celotehan Tania yang mewakilkan Shofea. “Enggak apa-apa, memang paling nyaman itu di kamar,” sahut Shena.


“Aku emang enggak puas-puas ngajak dia ngobrol, Tha,”


“Iya wajar, Kak. Namanya juga baru ngerasain punya anak. Euforia nya pasti ada banget,”


“Nanti kamu rasain deh, kayak senang dapat boneka baru gitu. Tapi bedanya ini boneka hidup,”


“Iya emang persis boneka nih Shofea,”


Shena mengusap pipi Shofea dengan lembut. Anak itu murah senyum sekali sampai Shena merasa terpukau dengan senyumnya.


“Shofea sekali senyum bisa bikin orang lemes ya,”


Tania tertawa mendengar gumaman Shena yang terpan melihat wajah Shofea. Masih saja mengagumi Shofea.


“Lemes kenapa?”


“Enggak kuat liat senyumnya, Kak,”


“Kamu juga lho, pasti Shofea terpana terus liat Aunty nya senyum,”


“Ah enggak lebih cantik daripada Shofea,”


“Nanti anak kamu juga enggak kalah cantik kalau perempuan dan bakalan ganteng banget kalau laki-laki. Ya perpaduan kamu sama Dio itu enggak main-main soalnya,”


“Ah kakak bisa aja,”


“Iya lho, Shen. Aku serius,”


“Lah kakak sama Abang juga begitu. Nih buktinya udah lahir satu. Dan enggak main-main cantiknya,


“Enggak tau nanti gedenya masih tetap cantik atau berkurang cantiknya,”


“Tetap cantik banget dong, Mama. Masa mama meragukan kecantikan aku sih?” Shena seolah menyampaikan perkataan Shofea.


“Shofea belum mandi ya?”


“Belum, masih bau ya, Aunty?”


“Enggak kok, tetap harum banget. Mandi enggak mandi sama aja perasaan,”


“Sama kayak papanya belum mandi. Abang dari pulang kerja langsung aku mintain tolong beliin nasi padang. Padahal tadinya abang mau mandi,” ujar Tania seraya terkekeh. Ia mengingat momen tadi dimana Ia menahan suaminya yang akan menanggalkan baju kerjanya.


“Abang, aku belum makan siang,” ujarnya begitu tadi. Sehan langsung menatapnya tajam.


“Kok belum makan? Emang enggak laper apa? Udah tau lagi nyusuin anak,”


“Iya, aku pengen beli nasi padang. Boleh minta tolong beliin enggak, Bang?”


“Boleh, ya udah aku beli sekarang ya,”


Tania langsung tersenyum lebar. Suaminya selalu siap sedia menuruti permintaannya. Itu mungkin hal sederhana tapi berarti untuk Tania. Disaat lelah mendera, Sehan tidak keberatan sama sekali menuruti permintaannya. Dari dulu sampai sekarang sudah punya anak.


“Pantesan abang tadi masih pakai baju kerjanya,”


“Iya, dia mau mandi tadi terus aku bilang belum makan siang dan pengen nasi padang, eh dia langsung mau jalan untuk beli,”


“So sweet nya papa dedek Shofea tuh,”


“Om nya Shofea juga sama aja,”


“Mas Andra belum pulang ini ngomong-ngomong. Kemana dulu Om kamu, Shofea? Enggak ngabarin bakal pulang telat,”


“Oh belum pulang? Tumben, udah jam setengah lima padahal,”


“Iya itu dia, Kak,”


“Shofea enggak dimandiin, Kak? Eh maksud aku di elap badannya,”


“Sekarang deh, bentar ya, Tha, dia kalau sore ‘kan di elap aja pakai air hangat,”


“Iya-iya, perlu bantuan aku?”


“Enggak usah, tapi kalau kamu mau liat boleh,”


“Yeayy Aunty mau liat Shofea bersih-bersih ah,”


“Mau sekalian belajar ya?”


Shena menganggukkan kepala. Walaupun masih lama anaknya lahir, tak ada salahnya melihat langsung bagaimana tahap membersihkan badan anak. Shena sudah sering menonton di internet sebenarnya.


“Bee, mau kemana tuh?”


Shena dan Tania menoleh begitu ada suara Dio yang baru saja tiba di lantai atas dengan senyum mengembang.


“Baru pulang, Mas,”


“Iya, sore ya? Tapi enggak sore banget ‘kan? Biasa, sibuk aku hari ini,”


“Enggak sore banget sih,”


“Kamu mau kemana? Buntutin Kak Tania,”


“Mau liat Shofea bersih-bersih,”


“Oalah mau belajar dia,” Dio tertawa. Shena sudah terbiasa dan nyaman sekali di rumah setelah sebulan dia tidak bekerja. Ada bagusnya juga, jadi bisa menghabiskan waktu untuk istirahat dan sibuk belajar jadi ibu.


*****


“Saya sempat suka sama suami Ibu,”


Shena mengusap hidungnya yang terasa gatal sekaligus panas karena asap keluar dari sana setelah mendengar ucapan seorang perempuan yang tiba-tiba datang ke rumah dengan percaya dirinya membawa wajah cantik tapi sayang malah menyukai pria beristri. Mana terang-terangan mengakui pula.


“Ada ya perempuan kayak kamu? Saya baru tau lho. Biasanya sih diam-diam aja, kalau kamu nih wow banget. Terbuka, enggak ragu ngomong kayak gitu ke saya,”


“Tapi saya sadar kok kalau saya salah, saya mohon sama Ibu, tolong sampaikan ke Pak Andra, jangan pecat saya dari perusahaan,”


Shena menatap Tari dengan sorot bingung. Memangnya Dio membuat posisi Tari sekarang terancam? Ia bahkan baru tahu.


“Suami saya mau pecat kamu?”


“Iya, Bu. Saya minta tolong sama Ibu untuk ngomong ke beliau. Tolong jangan berhentikan saya dari kerjaan saya yang sekarang,”


“Jujur saya aja baru tau, suami saya enggak ngomong apa-apa ke saya. Memang untuk urusan pekerjaan, dia enggak pernah mau membebani saya. Tapi memangnya kenapa dia mau pecat kamu?”


“Mungkin karena saya dianggap bahaya, Bu?”


Shena tersenyum mendengar ucapan Tari yang sepertinya sadar akan kesalahannya. Tari sadar kalau Ia sudah membuat Dio tidak nyaman.


“Bahaya? Apa yang sudah kamu lakukan ke suami saya?”


“Saya pernah suka sama beliau, Bu. Bahkan sampai sekarang. Beliau udah ngomong ke saya kalau udah punya istri tapi udah terlanjur, Bu. Saya—“


“Kamu masih suka sama Mas Dio? Wow, enggak takut juga dipecat?”


“Bu, saya minta maaf,”


Tari menundukkan kepalanya. Tari mengakui kesalahannya tapi memang itulah yang Ia rasakan sekarang. Ia masih saja menyukai Dio padahal Dio sendiri sudah menegaskan bahwa hal itu salah sebab Dio bukan lagi pria yang masih hidup sendiri.


“Ya wajar aja suami saya mau berhentikan kamu, mungkin bagi dia, kamu udah keterlaluan,”


“Tapi saya janji enggak akan ganggu Pak Andra kok, Bu,”


“Enggak ganggu tapi diam-diam kamu amati, kamu sukai, nanti timbul niat jahat. Polanya pasti kayak begitu,”


Shena pikir Tari tidak lagi menyimpan perasaan untuk suaminya, ternyata masih. Tapi Dio tak pernah cerita apapun lagi. Ia pikir Tari tidak terang-terangan lagi memperhatikan suaminya dan menyimpan perasaan lebih untuk Dio.


Sepertinya Dio tidak pernah bercerita soal Tari lagi kepadanya karena Dio tak mau ambil pusing, dan tidak mau juga membuat istrinya merasa terbebani.


“Tari, saya bakal ngomong sama suami saya supaya lebih bijak ambil keputusan. Tapi saya enggak janji ya. Karena memang kamu itu keterlaluan, jujur sekarang aja saya marah banget lho sama kamu. Tapi karena kamu udah janji enggak macam-macam, saya coba percaya,”


“Awalnya mau saya godain, tapi saya liat suasana dulu, saya amati dulu. Lama-lama saya bisa tau kalau Pak Dio enggak bisa diperlakukan begitu, saya sadar kalau saya salah, dan saya benar-benar minta maaf,”


“Lebih baik kamu pulang sekarang ya. Takutnya suami saya tau kamu ada di sini hanya untuk membicarakan perkara itu, kebetulan dia lagi main sama keponakannya, takut dia turun dan ketemu kamu di sini,” ujar Shena mengusir halus agar Tari segera meninggalkan halaman depan rumah.


Shena benar-benar tidak menyangka baru saja mendengar pengakuan seorang perempuan yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai suaminya. Memang Dio penuh cerita begitu tapi tidak berkelanjutan lagi. Tidak tahunya diam-diam Dio mau menghentikan Tari. Itu pasti karena Dio sudah tidak nyaman dengan Tari. Perempuan itu masih saja mengamatinya, bahkan belakangan ini gemar cari perhatian dengan Dio.


“Maaf, Pak. Saya boleh minta tolong—“


“Ambil sendiri!”


Ketika di ruangan rapat, Tari mendekati Dio minta tolong diambilkan sebuah berkas, Dio dengan lugas menyuruhnya untuk mengambil berkas itu dengan tangannya sendiri. Tari langsung malu seperti tak ada harga diri, Ia bahkan jadi bahan tatapan rekan-rekannya.


Pernah suatu ketika Dio bingung melihat Tari ada di depan lift yang biasa Ia gunakan, harusnya Tari tak menggunakan lift itu juga.


“Kenapa ada di sini? Lift khusus staff ‘kan di sana ya,”


“Saya mau di sini, karena di sana pen—“


“Kamu staff ‘kan? Bukan maksud mau merendahkan, tapi yang lain aja mau bergantian meskipun penuh. Masa kamu enggak mau? Lagian enggak penuh-penuh banget kok karena bukan cuma satu lift aja,”


Dio tahu tujuan perempuan itu. Ketika melihatnya berjalan menuju lift untuk para eksekutif, Tari langsung cepat-cepat berjalan ke lift itu. Sengaja supaya bisa satu lift dengan dirinya, memang Tari pikir Dio bodoh tidak tahu taktiknya untuk mendekati Dio?


Dio semakin dibikin risih, hanya saja Ia tidak pernah cerita dengan istrinya. Shena sedang mengandung, kasihan kalau Ia dituntut memikirkan hal-hal yang tak seharusnya ada dalam pikirannya.


Akhirnya setelah Dio pikir-pikir, mungkin akan lebih baik memang menghentikan Tari dari pekerjaannya. Itu memang kejam dan kelihatan tidak bijaksana dalam mengambil keputusan, tapi Dio sudah merasa tidak nyaman. Sebab Dio berulang kali telah menjelaskan mengenai statusnya, dan Dio juga menegaskan bahwa tidak ada peluang untuk perempuan lain mengisi hatinya, akan tetapi Tari tetap saja mencuri pandang diam-diam, mencari perhatian sampai membuat Dio risih sendiri.


“Bu, tolong ya, Bu,”


“Saya akan ngomong, tapi saya enggak bisa janji. Cuma satu pesan saya, kalau mau macam-macam, jangan sama suami saya ya,”


Shena bergegas meninggalkan Tari yang terdiam di kursi dan langsung menghembuskan napasnya dengan kasar. Ucapan Shena kedengarannya tenang tapi tajam menusuk.


*****

__ADS_1


__ADS_2