Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 33


__ADS_3

“Aldo sama Refan temen lo dulu?”


“Iya ‘kan udah aku jelasin,”


“Kayaknya friendly tuh ke semua cewek, ati-ati aja lo,”


“Hah? Maksudnya gimana? Bukannya bagus ya kalau kita friendly ke orang? Jadi—“


“Ya nggak apa-apa sih, cuma ngasih tau aja. Cowok friendly ke banyak cewek itu bahaya,”


“Lho, kata siapa?”


“Ya kata gue barusan. Gue ‘kan cowok, tapi gue bukan tipe yang friendly ke semua cewek sih,”


Shena terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba jadi membahas Aldo dan Refan, ditambah lagi membahas tentang laki-laki yang mudah berteman, mudah bergaul, itu bahaya menurut Dio.

__ADS_1


“Ya kalaupun mereka friendly ke banyak cewek, terus masalahnya di aku apa? Aku ‘kan nggak ada hubungan apa-apa sama mereka jadi mereka mau temenan sama banyak cewek pun nggak masalah bagi aku,”


“Ya gue cuma ngasih tau aja kalau cowok yang friendly ke banyak cewek itu nggak menyenangkan, bakal bikin makan hati. Kali aja lo punya niat naksir sama cowok yang friendly ‘kan,”


“Hah?”


Shena terperangah kaget mendengar ucapan Dio. Ia langsung menoleh ke sebelah kanan dimana suaminya fokus mengemudi. Ia bingung dengan tujuan Dio membicarakan dua teman lamanya itu apa.


“Maksud kamu?”


“Astaga, kamu pikir aku bakal naksir mereka berdua gitu? Ya ampun, emang aku perempuan apa, Dio? Aku tau status aku, aku bukan perempuan gampangan juga yang naksir sama cowok lain disaat aku udah punya suami. Kamu kok ngomongnya kayak gitu sih? Seolah ngerendahin harga diri aku, seolah kamu nggak percaya sama aku,”


Shena mendadak kesal dengan suaminya. Biar saja kalau Ia dibilang terlalu berlebihan menanggapi ucapan Dio, atau disebut apapun oleh Dio, yang jelas kata-kata Dio itu menyakiti hatinya.


“Maksud dari omongan kamu begitu ‘kan? Kamu ngiranya aku bakal naksir Refan sama Aldo. Ya ampun, aku nggak habis pikir sih kamu mikir kayak gitu tentang aku,” ujar Shena seraya geleng-geleng kepala dan langsung memalingkan muka ke luar jendela. Mulutnya tak mengatakan apapun lagi. Ia berharap Dio tidak mengeluarkan kata-kata apapun lagi yang bisa memancing rasa kesalnya jadi bertambah.

__ADS_1


“Ya ‘kan gue cuma—“


“Udah deh nggak usah ngomong yang aneh-aneh. Kamu itu sebenarnya cemburu ya? Hmm?” Tanya Shena seraya melirik ke sebelahnya dimana sang suami yang tersenyum miring.


“Kata siapa gue cemburu? Jangan ngasal deh kalau ngomong,”


“Ya ‘kan bisa aja diam-diam kamu cemburu. Berhubung kamu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Amira. Oh iya, tapi kamu belum bisa lupain dia ya?“


“Tuh tau, jadi gimana ceritanya gue bisa cemburu sama lo? Cemburu itu ‘kan harus ada cinta dulu. Lo berharap banget gue cinta dan Gue cemburu ya?”


“Ya abisnya kamu tiba-tiba bahas dua teman aku itu,”


“Keliatan akrab kalian, makanya gue kira lo naksir sama salah satu dari mereka, atau justru merekanya yang naksir sama lo. Nah gue ingetin deh ke lo, kalau cowok friendly itu—“


“Iya-iya aku tau, aku inget kamu nggak usah ngulang omongan kamu itu berkali-kali,”

__ADS_1


__ADS_2