
Shena sampai di rumah pukul tiga sore. Ia langsung berganti pakaian, dan ke dapur untuk memasak, namun ternyata sudah ada ibu mertuanya.
“Mama, mau masak apa, Ma? Aku aja, Ma,”
“Ah kamu mulu yang masak, Sayang. Biar Mama aja. Mending kamu istirahat, baru juga pulang. Atau makan dulu deh, belum makan siang ‘kan?”
“Udah, Ma,”
“Ya udah istirahat dulu,”
Shena terkekeh, mana mungkin Ia bisa istirahat sementara ibu mertuanya sedang memasak. Ia tidak masalah memasak karena memang itu salah satu hobinya. Ardina, ibu mertuanya tidak pernah mengizinkan Ia lelah, tapi Ia senang melakukan semuanya. Baik itu memasak, dan menyelesaikan pekerjaaan rumah lainnya. Selagi Ia bisa bantu maka akan Ia bantu. Agar pekerjaan asisten rumah tangga menjadi ringan.
“Sayang, tolong ambil semdok untuk sayur dimeja makan, tadi Mama ke sana bentar untuk nyemil disela masak eh malah ketinggalan,”
“Iya, Ma,”
Shena langsung keluar dari dapur menuju ruang makan. Di meja makan Ia mengambil sendok yang di maksud oleh ibu mertuanya, lalu Ia kembali lagi ke dapur untuk menyerahkan sendok tersebut.
__ADS_1
“Makasih, anak cantik,”
“Iya sama-sama, Ma. Oh iya itu Mama mau buat apa? Biar aku bantu. Jangan sendirian, aku aja nggak pernah boleh kerja sendiri,”
“Ya udah kamu goreng tempe aja deh, tolong ambil tempe di kulkas, Sayang, belum Mama potong kebetulan,”
“Siap, Ma,”
Shena langsung membuka lemari pendingin untuk mengambil tempe. Tapi Ia salah fokus dengan wadah berisi bubur nasi, ada kuah kaldu, dan ayam yang Ia buat tadi pagi. Seketika Ia merasa kecewa karena Ia ingat betul di dalam wadah itu Ia persiapkan untuk suaminya. Tapi sekarang berakhir diletakkan did alam lemari pendingin.
Tapi kalau memasak itu harus dengan suasana hati yang bagus supaya hasilnyanjuga lezat. Maka dari itu Shena berusaha untuk melupakan rasa kecewanya. Sudah sering Dio bersikap seperti itu bahkan sejak menikah, jadi seharusnya Ia tidak perlu sedih, dan tidak perlu heran lagi.
“Sayang, ketemu tempenya?” Tanya Ardina pada Shena yang belum ada suara memotong-motong tempe, ternyata masih di depan lemari pendingin.
“Iya ketemu, Ma,” ujar Shena seraya menutup pintu benda kotak di depannya itu.
“Nah iya itu tempenya. Tolong digoreng kalau gitu ya, Nak,”
__ADS_1
“Iya, Ma,”
“Makasih ya udah mau bantuin Mama. Agak riweuh ya kalau nggak ada Bibi, tapi nggak apa-apa, jadi mandiri. Biasanya suka bertiga did apur ini cuma berdua,”
“Iya nggak apa-apa, Ma. Yang penting Bibi sehat dulu,”
Asisten rumah tangga mereka kebetulan sedang kurang sehat, maka dari itu sejak dua hari kemarin pekerjaan rumah benar-benar hanya dipegang oleh Shena dan juga ibu mertuanya.
“Dio nggak makan bubur aku ya, Ma?”
“Iya dia beli bubur pulang dari nganter kamu. Mama marahin lah. Kebiasaan banget jadi orang. Nggak baiklah kayak begitu. Masa udah dimaskain istri malah dia beli sendiri,”
“Nggak apa-apa, Ma. Mungkin Dio nggak suka masakan aku,”
“Ah belagu banget nggak suka masakan kamu. Orang masakan kamu selalu enak kok. Emang dasar nggak mau menghargai apa yang udah istri lakuin. Sampai capek Mama ngasih taunya,”
“Ma, nggak usah bikin capek diri Mama sendiri. Biarin aja Dio ngelakuin apa yang Dio suka. Dia sukanya beli makanan di luar, ya nggak apa-apa, Ma,”
__ADS_1