Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 103


__ADS_3

"Shena, kamu kenapa, Sayang?"


"Nggak apa-apa, Ma. Emang aku kenapa, Ma?"


Ardina menyadari mata Shena yang merah dan wajahnya yang agak basah. Tadi Ia tinggal tidak begitu keadaan Shena.


"Abis diomelin sama Dio tuh tadi,"


"Hah? kok bisa? kenapa emangnya?"


Ardina langsung bertanya sementara Sakti menatap anaknya dengan datar tapi Dio sudah dibuat takut. Papanya kalau sudah menatap datar seperti itu tandanya kesal. Sekalipun tanpa menatap tajam, Dio tahu papanya tengah kesal.


"Aku omelin bukan karena apa-apa, Pa, Ma,"


"Aku baik-baik aja kok, Ma. Emang aku keliatan beda gimana maksud Mama?"


Shena tidak mau memperpanjang masalah. Nanti suaminya jadi kena teguran dan Ia tidak mau hal itu terjadi. Memang Ia yang salah jadi Dio tidak patut disalahkan sepenuhnya. Dio tidak akan mengomelinya kalau saja Ia bisa hati-hati ketika melangkah menuruni anak tangga. Wajar Dio marah karena Ia khawatir takut terjadi sesuatu padanya yang tengah mengandung. Kalau sampai jatuh bahaya sekali untuk kandungannya.


"Jadi Shena tuh 'kan kebiasaan dia nggak bisa hati-hati orangnya ceroboh banget. Tadi pas turun tangga dia hampir jatuh, terus aku marah nggak sengaja bentak eh di dengar abang yang baru datang. Akhirnya aku juga diomelin sama Abang, dinasehatin panjang kali lebar,"


"Karena perkara itu aja kamu sampai marah. 'Kan bisa kasih tau secara baik-baik,"


"Udah begitu terus, Papa. Tapi Shena emang ngulangin kesalahannya terus. Ya gimana aku nggak kesel banget tadi. Aku cuma takut dia kenapa-napa. Kalau terjadi sesuatu sama dia 'kan aku juga yang stres nanti,"


"Ya niat kamu nggak salah kamu nggak mau Shena kenapa-napa cuma jangan sebegitunya juga lain kali ya,"


"Kasih tau Shena biasa aja. Insya Allah dia kenapa-napa kok, mama yakin dia bisa jaga diri. Jadi kamu jangan ngomel mulu,"


Dio terkekeh, ia bebas dari omelan mamanya setelah Ia menjelaskan. Papa dan mamanya sudah bisa menerima kenapa dia sampai marah pada Shena. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya marah karena khawatir.


Dio langsung memasang sikap hormat dan membungkuk singkat. Kelakuannya itu mengundang tawa mereka yang melihatnya.


"Aneh banget, tadi aja ngomel sekarang lawak,"


"Siapa yang ngelawak sih? orang nggak ada tuh,"


Daun telinga Dio ditarik oleh ayahnya yang setelah itu langsung membawa cucunya ke halaman depan rumah.


"Akhirya Opa bisa gendong Shofea lgi sore-sore di sini. Shofea kangen nggak?"


Sakti sering sekali bahkan hampir setiap hari menggendong Shofea ketika sudah pulang bekerja dan dibawanya ke depan rumah yang sudah teduh kalau sore. Shofea suka terlelap juga karena terlalu nyaman digendong oleh kakeknya dan merasa nyaman dengan semilir angin sore. Tidak begitu lama Sakti akan membawanya masuk ke dalam agar cucunya bisa tidur dengan nyaman di kamar.


Asal cuaca bagus, Shofea dan dirinya sehat, pasti Ia membawa Shofea ke halaman depan rumah dan Shofea tidak pernah rewel, Ia menikmati diajak ke halaman rumah oleh kakeknya.


Sekarang Shofea justru kelihatan segar sekali mungkin karena sebelum ke rumah, Shofea sudah tidur.


"Jadi sekarang Shofea ditinggal mama bentar ya? Shofea nggak diajak dulu karena mama mau jenguk orang yang sakit, Shofea pergi sama papa aja deh, nyariin Opa nggak tadi? hmm?"


"Ngghh,"


Shofea melenguh sambil mengusap matanya sendiri. Sakti yang melihat itu segera menyingkirkannya. Ia takut tangan Shofea melukai mata atau wajahnya sediri.


"Kebiasaan nih ngucek-ngucek mata atau nggak muka, nanti kalau luka terus berdarah gimana? pakein sarung tangan lagi aja ya? mau nggak? kayaknya udah nggak mau nih, soalnya udah gede, udah banyak gaya cucu Opa nih,"


Sakti menikmati waktu kebersamaannya dengan sang cucu. Ia menggendong sambil terus mengajak Shofea berinteraksi.


*****


"Shena, jangan baca novel terus. Mana sambil duduk pula. Nanti aku sobek-sobek itu novel kamu ya. Kebiasaan banget nggak kenal waktu deh, udah ada dua jam kali tuh duduk aja mantengin novel,"


Shena merengut ketika novel yang Ia baca tiba-tiba direbut begitu saja oleh suaminya yang tampan itu.


Dio hari ini libur. Ketika siang, Ia pergi makan dengan ayahnya. Saat Ia akan pergi Shena sudah mulai membaca novel. Dan sampai Ia datang, ternyata masih membaca novel juga.


"Heran banget aku sama kamu. Kok nggak bosan-bosan sih baca novel terus? hmm?"


"Ya sama aja kayak Mas. Kadang suka lupa waktu kalau udah main game di handphone," Shena membalikkan omongan sang suami. Barusan suaminya mengomeli karena Ia terlalu banyak membaca novel. Shena akhirnya juga menyindir Dio yang kerap tidak kenal waktu kalau sudah bermain dengan game online di ponsel genggamnya.


"Ya tapi aku nggak sampai berjam-jam juga kali, terus aku juga nggak lagi hamil dan aku sambil tiduran lho jadi nggak capek. Lah kamu apa? lagi hamil, duduk mulu. Emang pinggang nggak pegel apa?"


Shena tertawa mendengar sindiran suaminya itu. Shena segera menyentuh pinggangnya sendiri kemudian Ia menggeleng.


"Nggak kok, Mas. Aman-aman aja tuh, jadi tolong ya kembaliin novel aku. Okay nggak aku baca tapi aku simpan aja,"

__ADS_1


"Masalahnya ya, posisi kamu tuh nggak berubah sama sekali dari pas aku mau pergi sampai sekarang aku udah pulang. Kamu nyaman banget duduk sambil baca novel berjam-jam ya, aku sama Papa padahal keluar dua jam ada lho, itu 'kan termasuk lama,"


"Ya nggak apa-apa, Mas. Yang penting aku senang dan nggak pegal pinggangnya,"


"Tapi nggak baik kalau kayak gini terus, Shena,"


"Ya terus aku harus ngapain dong kalau nggak baca novel? aku bingung. Yang penting shalat dzuhur udah, ngaji udah tiap pagi. Urusan rumah tangga juga udah. Aku bingung harus ngapain,"


"Tidur! makan!"


"Tidur makan terus, udah kayak kebo. Lah kebo aja cari kesibukan di sawah,"


"Nggak suka aku kalau kamu udah jawab begitu,"


Shena langsung melipat bibirnya ke dalam. Ia kelepasan menyahuti tiap ucapan suaminya. Ia tidak sengaja melakukan itu karena mungkin terlalu kesal dilarang Dio membaca novel.


"Udah makan belum? aku udah makan tadi sama Papa,"


Shena spontan menggeleng tanpa memikirkan setelahnya Dio akan apa. Ya tentu saja kesal dan melotot tajam.


"Tuh 'kan, keasikan sama novel yang dibaca akhirnya lupa makan,"


Shena segera beranjak dari duduk dan baru terasa pegal di pinggangnya. Shena segera meluruskan pinggang dan tangannya pelan-pelan.


"Hmm kasian deh pegal-pegal, lagian sih ngabisin waktu sama novel keterlaluan banget. Ayo makan! kamu harus makan sekarang, aku temenin ke bawah,"


Dio keluar lebih dulu usai meletakkan dengan kasar novel yang ia pegang di atas tempat tidur. Sebelum Shena keluar dari kamar menyusul suaminya, Ia membuka novelnya untuk mencari halaman terakhir yang Ia baca. Karena Dio mengambilnya tiba-tiba, Shena jadi belum sempat menandai halaman tersebut.


"Duh yang mana tadi ya? Mas Andra sih main asal rebut aja, aku belum tandain tuh yang terakhir aku--"


"Shena, masih mau baca novel? aku udah nunggu di luar lho, nggak taunya kamu malah buka novel,"


"Iya sabar, Mas. Ini aku lagi cari halaman terakhir yang aku baca. Gara-gara kamu ambil bukunya langsung tanpa bilang, akhirnya aku bingung deh halaman mana yang tadi aku baca terakhir kali,"


"Ya udah itu bisa dicari nanti. Pentingin dulu itu perut kamu yang kosong, Bee,"


"Iya sebentar,"


Shena bersikeras untuk mencari-cari. Ia mencoba untuk mengingat nomor halamannya. Ketika memory di kepala nya memberikan jawaban, barulah Shena mencari cepat halaman tersebut. Ia baca sebentar dan Ia ingat bahwa memang benar halaman yang terakhir Ia baca ada di halaman seratus dua puluh satu. Shena segera menandai halaman tersebut jadi ketika Ia akan lanjut membaca mudah untuk mencarinya.


Tapi memang ketika Shena masih sibuk bekerja, Shena tidak bisa setiap hari membaca novel.


Giliran sudah hamil dan banyak di rumah, barulah Shena punya banyak kesempatan untuk membaca novel.


Sebenarnya Dio juga sadar kalau Shena tak bisa disalahkan sepenuhnya. Sebab Shena pasti bosan dan bingung mau melakukan apa. Jadi daripada dia kemana-mana atau melakukan kegiatan yang berat lebih baik membaca novel saja. Tetapi yang Dio tidak sukai adalah, Shena kerap lupa waktu.


Terbukti sekarang Shena belum makan. Beruntungnya ditanya langsung oleh Dio. Coba kalau tidak, Shena pasti tidak akan ingat, dan kalau seandainya Dio belum tiba, Shena pasti masih bertahan di posisi nyamannya tadi.


"Ayo kita makan, Mas," ujar Shena dengan antusias keluar dari kamar usai menyimpan buku novel miliknya.


"Kamu lah yang makan, aku mah udah makan tadi sama papa,"


"Mas makan apa?"


"Ayam goreng sama nasi kuning,"


"Oh, enak nggak?"


"Enak, itu aku bawain buat di rumah,"


"Yeaay makasih ya, Mas,"


Dio menganggukkan kepalanya dan itu membuat Shena mendengus. "Apa susahnya bilang sama-sama dengan muka tersenyum? ini Mas malah datar aja mukanya. Masih kesel sama aku karena aku baca novel ya?"


"Bukan kesel karena baca novel tapi kesel karena kamu nggak tau waktu,"


"Iya deh, aku minta maaf sama Mas,"


"Ya jangan sama aku lah, sama anak-anak kita tuh yang udah kelaparan karena mamanya malah sibuk baca novel,"


"Eh tapi sebenarnya aku belum rasa lapar tau, Mas. Berarti anak-anak juga belum,"


"Ya karena mereka belum bisa ngomong aja. Kalau udah, udah ribut dari tadi minta makan. Orang 'kan kalau lagi sibuk emang kadang nggak sadar udah lapar atau haus. Saking sibuk sama kegiatan,"

__ADS_1


"Mas sering begitu ya kalau di kantor?"


"Iya, sadar belum makan setelah jam dua atau tiga kadang-kadang,"


"Ya ampun telat banget kamu makannya, Mas,"


"Ya emang iya, tapi kamu jangan ngikutin aku. Kamu 'kan ada dua bayi di dalam perut. Jangan sampai kamu mereka berdua kelaparan,"


Dio menarik kursi dan mempersilahkan Shena untuk duduk menghadap sepuluh kotak nasi kuning beserta lauk pauk.


"Mas sama ayah makan ini tadi?


Dio mengangguk di sela kegiatannya menuang air minum di gelas untuk sang istri yang kali ini baru mau makan siang setelah sebelumnya terlalu sibuk dengan novel yang Ia baca.


"Nih minumnya, ayo dimakan sekarang. Habisin ya, jangan disisain,"


"Sepuluh kotak aku habisin?"


"Ya kalau kamu kuat mah nggak apa-apa. Tapi aku rasa nggk deh,"


Shena terkekeh, mana kuat Ia menghabiskan sepuluh kotak nasi kuning dengan lauk pauknya itu. Yang ada juga ia muntah.


"Makasih ya, Mas,"


"Iya, udah nggak usah bilang makasih, makan aja sekarang,"


Shena mengangguk dan Ia langsung menyantap makanan di depannya itu dengan lahap.


"Gimana rasanya? enak nggak?"


"Enak banget, Mas. Aku emang udah nebak dalam hati pasti enak nih, eh ternyata beneran enak. Sambal sama ayam gorenganya itu lho, mantap kali,"


"Wuidih, Alhamdulillah kalau emang enak,"


"Mas beneran udah kenyang?"


"Udah dong,"


Dio menjadikan istrinya sebagai objek yang Ia tatap dengan lamat-lamat. Ia senang melihat Shena makan dengan lahap.


"Kayaknya kamu udah lapar deh,"


"Keliatan ya? tapi kayak belum ngerasa lapar, Mas,"


"Iya karena sibuk baca novel 'kan aku bilang,"


"Mas sama Papa cuma makan aja? ngomong-ngomong nggak jadi main golf,"


"Nggak, Bee. Makan aja tadi,"


"Rame tempat makannya, Mas?"


"Nggak, emang kenapa?"


"Aku jadi pengen makan di tempat langsung deh, Mas. Boleh nggak?"


"Boleh aja, tapi kapan? sekarang?"


"Ya nggak lah, Mas. Kalau sekarang aku udah kenyang makan sama yang Mas bawa ini?"


"Ya udah bilang aja kalau emang udah pengen makan di sana. Emang enak sih tempat makannya juga. Maksud aku tuh nyaman banget,"


"Tuh 'kan makin pengen ke sana,"


"Besok aja Insya Allah kalau kamu mau,"


"Mau deh, besok ya,"


"Ya, di sana nyaman banget sampai aku nggak mau pulang,"


"Lah beneran sampai segitunya ya?"


Dio tertawa dan Ia menganggukkan kepalanya. Sebenarnya biar nyaman bagaimanapun, Ia tetap ingin pulang ke rumah. Itu hanya candaannya saja.

__ADS_1


****


__ADS_2