Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 84


__ADS_3

Hari ini rumah Dio kedatangan kakek dan neneknya dari desa. Menemani Kakek yang menyesap cerutunya sambil terlibat obrolan ringan memang sudah menjadi kesenangan tersendiri untuk Dio dan Sehan apalagi seraya menunggu makan malam selesai dihidangkan.


Dio yang mendapat pengusiran secara halus dari Shena yang mengatakan bahwa dirinya tidak ingin diganggu akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar, membiarkan Shena istirahat. Karena Ia perhatikan Shena memang sedang tumbang, kelihatan lemas. Padahal siangnya Ia cekatan dan bertanggung jawab sekali did apur bersama Nenek dan Tania, istri Sehan. Dio bersyukur akhirnya sang istri jujur juga padamya tentang kehamilan yang ditutupi selama ini. Benar kata orang-orang terdekatnya. Ternyata rasa tidak siap itu, perlahan hilang setelah tahu kalau sebentar lagi Ia menjadi seorang ayah. Malah yang ada sekarang hanyalah rasa tidak sabar menyambut kehadiran buah hatinya.


"Jadi dua hari lagi touring nya? ya udah, hati-hati. Ingat, bawa istri. Kalau biasanya sendiri, sekarang ada yang diboncengi jadi harus lebih hati-hati. Pelan aja bawa motornya, nikmati waktu berdua,"


"Kalau pelan kaya siput bisa ketinggalan, Kek,"


Kakek berdecak menatap Sehan dengan tajam. Benar-benar Sehan ini, pintar sekali menyahuti. Sehan langsubg tertawa meminta maaf.


"Pak, ayo makan malam," Ardina menghampiri bapak mertua dan kedua anaknya yang berada di halaman.


Mereka semua masuk ke dalam. Sakti terkejut saat buku yang Ia baca di meja makan didorong pelan oleh ayahnya.


"Kalau mau baca jangan di meja makan. Rajin banget kamu itu,"


Saktu terkekeh meringis. Segera saja Ia bangkit mengembalikan buku yang Ia baca ke lemari buku-bukunya kemudian bergabung lagi di ruang makan


"Eh Shena mana, Dio? kok belum turun?"


"Biarin aja lah dia nyusul, Ma. Orangnya lagi tidur, kurang enak badan kayanya,"


"Lho, enggak enak badan? ke dokter cepat!"


Dio menggeleng mendengar penuturan neneknya yang langsung cepat menyuruh ke dokter. Sudah Ia katakan tadi Shena tidur. Masa iya, mau dibangunkan lagi? tadi saja sudah Ia coba bangunkan, Shena menolak.


"Dia cuma mau istirahat aja. Pusing katanya tadi,"


"Ya udah, bawa makanannya ke kamar nanti setelah kamu makan ya,"


Dio mengangguk patuh. Mama sudah memintanya begitu dan Shena juga sepertinya tidak mungkin mau keluar dari kamar, maka harus Ia yang mengantarkan makanan untuknya.


******


"Siapkan obatnya, Dio,"


"Obat apa?"


Ardina berdecak pelan. Ia melotot pada Dio yang bertanya polos dengan tangan memegang baki berisi sepiring makanan dan juga teh hangat.


"Obat untuk Shena dong, Dio,"


"Oh obat pusing ada di kamar,"


"Iya, jangan lupa dikasih ya, lbat mual juga mungkin kalau Shena nya mual,”


"Ya, Ma. Siap laksanakan,"


Ardina yang menyiapkan makan malam Shena karena Dio benar-benar tidak becus.


Masa Shena hanya diberikan sayur bayam, tidak pakai ayam balado dan juga tahu bacem yang menjadi lauk makan malam tadi.


Bukannya mau sembuh, yang ada malah kurang gizi, kasihan sekali nasib menantunya. Jangan sampai Lira dan Bima tahu kelakuan menantu mereka.


"Udah sana antar makanannya. Kamu mau buat istri kamu kelaparan? tadi cuma mau dikasi sayur bayam aja. Benar-benar kamu, Dio,"


Dio terkekeh geli ketika diingatkan dengan kebodohannya tadi. Yang menganggap akan lebih baik Shena tidak makan apapun dulu, takut Ia radang juga. Tapi kata mamanya kalaupun memang radang, nanti Shena memilih sendiri makanan yang sesuai dengan keinginannya, yang terpenting diberikan dulu semua lauk yang ada.


"Pelit kamu sama istri sendiri,"


"Enggak pelit, Mama,"


"Udah sana bawa makanannya ke Shena,"


Ardina geregetan sendiri dengan anaknya yang malah cengengesan disaat Shena mungkin sudah merasa lapar tapi Ia enggan keluar kamar.


Dio sudah seperti seorang pelayan saja. Membawa baki berisi sajian makan dan minum. Tapi ini untuk istrinya, bukan pelanggannya.


Dio yang menduga Shena masih terlelap cukup terkejut saat mendapati istrinya ternyata sudah bangun dan kini tengah bergelut dengan ponselnya.


"Kok bangun? aku pikir masih tidur. Sekarang makan dulu. Ini udah disiapin sama mama,"


Shena melepas ponselnya. Dan langsung bersikap menghargai dengan menerima baki dari tangan suaminya.


"Terimakasih, Mas,"


"Mama yang diapin buat kamu. Dimakan ya, habisin lho,”


"Terimakasih Mama,"


"Mamanya enggak ada di sini,"

__ADS_1


Shena juga tahu sosok Mama tidak ada di kamar mereka sekarang. Tapi mengucapkan terimakasih tidak harus di depan orangnya 'kan?


"Ya nanti aku bilang langsung juga," katanya.


Dio menggerakkan dagunya ke arah makanan menyuruh Shena makan dengan segera.


Lelaki itu kemudian mencari kotak obat. Tapi memang dasarnya ia tidak bisa diandalkan untuk hafal tempat ini dan itu, maka sekarang bingung sekali menemukannya.


"Mas cari apa?"


"Kotak obat dimana?"


"Buat apa? Mas sakit?"


"Cari obat pusing,"


Shena yang tengah menyendokkan makanan ke dalam mulut langsung berhenti dan menatap suaminya dengan cemas.


"Mas pusing?"


"Buat kamu, bukan aku," dengan geram Dio menjawab. Tidak bisakah Shena langsung menjawab tidak perlu banyak tanya.


"Nanti aku ambil sendiri, Mas,"


"Memang dimana tempatnya?"


"Biar aku aja,"


"Kenapa kalau aku yang ambil buat kamu? masih marah karena tadi? hm? Aku ‘kan maish kecewa karena kamu nutupin kehamilan kamu. Jadinya aku bilang aja kamu nggak mau ngakuin aku sebagai ayah anak kita. Ya aku tau akus alah harusnya aku nggak ngomong gitu. Kamu butupin karena takut aku kecewa dapat anak, tapi nggak kok. Aku terima dia dnegan senang hati. Aku langsung merasa siap, dan jujur terharu,”


Shena mengerang kesal dalam hati. Ia jadi ingat lagi dengan omongan jahat Dio. Seharusnya Dio tidak usah bicara seperti itu.


"Enggak, aku enggak marah kok, Mas,”


"Kamu marah, terus kamu enggak mampu buat meluapkan akhirnya nangis pas tidur,"


Ucap Dio dengan wajahnya yang datar menatap Shena yang terpaku.


Mulutnya yang mengunyah perlahan memelan. Memang benar Ia menangis dalam tidur? kapan juga Dio melihatnya?


"Hei kok malah melamun? habiskan makannya biar minum obat,"


"Jadi touring enggak? katanya mau touring tapi sakit,"


"Jadi! aku mau ikut,"


Shena sudah menantikan touring itu bahkan sejak masih menjadi rencana, belum ada kepastian. Rasanya tidak adil kalau Shena tidak ikut.


"Kalau kamu sakit enggak boleh ikut. Dan otomatis aku juga enggak ikut," ujarnDio yang ada rencana mengajak istrinya pergi touring. Istrinya antusias mau ikut tapi memang belum Ia bicarakan pada orangtua.


"Aku enggak sakit, Mas,"


"Kepala kamu sakit artinya kamu lagi kurang sehat,"


Shena tersenyum saat menemukan kotak obat di bawah meja yang berhadapan dengan sofa. Segera Ia ambil kotak tersebut dan mencari obat sakit kepala. Tapi tidak ada.


"Kok obatnya enggak ada, Shen?"


"Di kotak obat satu lagi,"


Dio berdecak menutup kembali kotak tersebut. Ribet sekali, pikirnya. Kotak obat harus dipisah-pisah begitu.


"Soalnya di kotak itu udah penuh isinya. Lagian itu obat-obat untuk luka,"


"Ya udah, dimana? biar aku ambil,"


"Di laci meja rias paling bawah, Mas,"


Shena sengaja meletakkan kotak obat itu di tempat yang mudah dicapai.


Dio segera mengambil obat sakit kepala dari sana. Ia memberikannya pada Shena


.


"Enggak habis makannya?"


"Enggak, udah kenyang, Mas,"


Shena menenggak air usai menelan obatnya. Dio mengangkat baki dari atas nakas. Tapi sebelum itu, Ia menarik selimut hingga menutupi kepala Shena.


"Tidur,"

__ADS_1


"Ihh Mas! aku gerah,"


Shena merengek kesal karena Dio sengaja menutup kepalanya dengan selimut.


"Mana ada gerah. Ac nyala gitu kok,"


"Ya maksudnya pengap gitu. Susah napasnya,"


Dio menyentuh kening Shena dan merasakan suhunya. Shena sampai dibuat berdebar saat tangan Dio menyentuh keningnya.


"Aku keluar dulu bawa ini ke dapur. Kamu istirahat. Nanti aku laporan ke mama tentang kondisi kamu. Mama cemas banget tadi,"


"Kenapa Mas bilang ke mama kalau aku pusing? padahal aku enggak sakit,"


"Tidur! enggak usah banyak omong," Dio melotot sebelum membuka pintu kamar. Shena menyahutinya saja bukannya segera beristirahat.


"Baru habis makan masa di suruh tidur,"


Shena memperbaiki posisi duduknya yang bersandar di kepala ranjang. Lebih baik Ia memainkan ponselnya.


******


"Gimana keadaan Shena? kalau masih belum membaik, bawa ke klinik. Masih setengah sembilan klinik dekat sini masih buka, Dio,"


Ardina menyambut Dio yang baru menapaki lantai dasar dengan baki di tangannya.


Mengingat klinik dekat rumah tidak sampai dua puluh empat jam maka lebih baik Shena secepatnya dibawa ke sana supaya cepat ditangani dan diberikan obat.


"Udah minum obat dia, mama. Enggak bakal mau diajak ke klinik. Biar aja dia istirahat. Nanti juga sembuh, ma. Tenang aja, enggak usah khawatir. Oh iya, Shena tadi bilang terimakasih karena mama udah nyiapin makan untuk dia,"


"Iya, sama-sama,"


Dio bergegas ke dapur untuk mencuci peralatan makan yang tadi dipakai Shena.


"Ih si Dio sampahnya dibuang dulu sebelum cuci piring,"


Jarang melakukannya, sekalinya melakukan, malah ingin merusak. Lihat saja sekarang, dia tidak membuang sisa makanan yang tidak habis dimakan Shena di tempat sampah melainkan langsung dicuci begitu saja piringnya.


"Oh iya lupa, Ma"


"Ah kamu mah! malas bukannya lupa. Orang tempat sampah ada di bawah kamu kok,"


Mamanya sama seperti ibu-ibu lain. Kalau sudah salah bertindak dalam pekerjaan rumah, maka akan protes.


Padahal kan wajar. Dia anak laki-laki yang jarang melakukan pekerjaan rumah termasuk mencuci piring.


"Serius lupa, Ma,"


Dio dengan cepat mengangkut sisa makanan ke dalam tempat sampah dibawah kakinya agar tidak menghambat kerja wastfael tempat mencuci piring.


"Makanya biasa kerja dalam rumah. Gimana mau pindah kalau cuci piring aja masih begitu caranya. Kasihan Shena ngurus rumah sendirian. Hal kecil aja enggak bisa diandalkan,"


Dio menahan senyumnya mendengar mamanya yang mengomeli.


"Nanti kalau udah di rumah sendiri, ada asisten rumah tangga yang bantu Shena, Ma. Enggak mungkin juga cuma dia sendiri yang urus rumah. Soalnya dia kan kerja karena katanya mau buka toko online karena udah lulus ‘kan,”


"Iyalah, harus itu. Kalau di sini 'kan kebetulan mama enggak ada kegiatan apapun selama di rumah makanya enggak terlalu masalah kalau seandainya enggak ada asisten,"


"Shena enggak semandiri mama,"


"Yee bukan gitu. Shena kan kerja. Kalau mama enggak,"


Dio meletakkan piring dan gelas yang sudah Ia cuci ke atas lemari kaca penyimpan peralatan makan.


Melihat anaknya membuka pintu kabinet, Ardina langsung bertanya, "Mau ngapain?"


"Buat kopi, Ma,"


"Eh jangan! mau tidur jam berapa kamu? besok kan harus kerja,"


"Aku pengin kopi,"


"Mau begadang? besok kamu kerja, jangan begadang, Dio,"


"Iya mau begadang,"


Ardina berdecak dan mencubit lengan anaknya yang tetap meraih kopi.


Mereka menoleh saat seseorang berdehem kemudian duduk di kursi pantry.


"Dio begadang karena mau jagain mantu mama yang lagi sakit mungkin," kata Sakti yang sok tahu sampai Dio mendengkus karenanya.

__ADS_1


__ADS_2