
“Shofea, mau apa sih? Udah mulai rame mulutnya ya, udah mau ngomong ya?”
Sehan menggelitiki Shofea dengan hidungnya di perut Shofea hingga Shofea terkekeh menggemaskan memperlihatkan gusinya yang masih kosong. Anak itu gembira sekali bercanda dengan ayahnya.
“Shofea cantik banget sih? Anak siapa sih? Coba jawab pertanyaan papa, Shofea anak siapa?”
“Anak mama lah,” ujar Tania seraya menyisir rambutnya di depan meja rias.
“Dih, ngaku-ngaku,”
“Lah lupa anaknya siapa, yang banyak temenin siapa,”
Sehan terkekeh menanggapi gerutuan ibu dari putrinya itu. Setelah Tania mandi, saatnya Ia yang gantian mandi.
“Papa mandi dulu bentar,”
“Okay, Papa,”
“Habis itu main lagi nanti ya,”
“Oh iya papa libur ya? Yeayy ada papa di rumah,” kata Tania seraya mencium anaknya yang baru bangun tidur.
“Shofea hari ini Om Dio jalan-jalan,” ucap Tania seraya tersenyum pada Shofea yang sudah bisa diajak komunikasi. Anak itu akan menyahuti dengan gumamannya yang tidak jelas seraya tersenyum.
“Dan Shofea enggak diajak, kesian deh,” ujar Sehan sesaat sebelum masuk kamar mandi.
“Biarin, yang penting Om Dio selamat sampai tujuan ya. Shofea doain Om Dio enggak? Hmm?”
“Ihhh gemes banget,”
Tania mengusap hidungnya di pipi Shofea yang tidak bisa diam tangan kakinya bergerak terus. Tania membawa anaknya itu ke dalam gendongan.
“Kita keluar yuk, main sama Opa, Oma yang mungkin udah pulang antar Om Dio,”
Tania keluar dari kamar membawa Shofea. Ia ingin tahu apalah tiga orang yang mengantar Dio tadi sudah kembali ke rumah atau belum.
“Oh masih sepi, Nak. Opa, Oma, sama Aunty kayaknya belum pulang deh,”
Tania membawa Shofea ke teras rumah untuk menghirup udara segar pagi ini sembari menunggu kepulangan Ardina, Sakti, dan Shena.
“Bener belum pulang, mobilnya belum ada,”
Tania menimang-nimang anaknya sambil berdiri dan bersenandung. Tak lama kemudian mobil Sakti memasuki pekarangan rumah.
Yang keluar dari mobil hanya Sakti dan Ardina saja, tanpa Shena. “Ini cuma berdua aja? shena kemana, Ma?”
“Shena mau nginap di rumah mama papanya,”
“Oalah, pantesan,”
“Eh cantik, Opa cuci tangan dulu ya baru gendong kamu,”
Sakti bicara pada cucunya yang mengulurkan tangan ke arahnya seolah Ia meminta gendong. Cepat-cepat Sakti membersihkan tangannya sebelum meraih sang cucu pertama.
Tania dan Ardina masuk ke dalam sementara Sakti membawa Shofea berkeliling di sekitar rumah sembari menunggu matahari pagi.
“Duh aduh, pamer cucu ini,”
Sakti terkekeh ketika seorang tetangganya menyapa dan langsung meledeknya yang menggendong Shofea.
“Masya Allah, cantik banget ya,”
“Terimakasih,”
“Enggak heran, orang mama papanya juga cantik. Nanti anaknya Shena Dio juga nih,”
*******
Sehan menatap Tania yang tengah mengenakan pakaian di badan anaknya usai mandi. Tania kelihatan meringis dan Sehan penasaran.
“Kamu kenapa?”
“Mules nih aku,”
“Ya udah biar aku aja yang pakein baju sama Shofea,” ujar Sehan yang disambut baik oleh istrinya.
Tania langsung meninggalkan Shofea yang malah menangis ketika mamanya pergi padahal Tania hanya ingin ke kamar mandi.
“Eh kok nangis, Cantik? Sini sama paoa bentar ya, mama lagi ke kamar mandi sebentar,”
Sehan menggendong anaknya dan menimang seraya mengajaknya bercanda. Ketika Shofea sudah tidak menangis lagi, barulah Ia kembali membaringkan Shofea di atas tempat tidur dan Ia memakaikan baju di badan Shofea.
“Ih pintar banget kamu ya. Mau pake baju sama papa? Iya?”
Sehan tinggal melanjutkan saja pekerjaan istrinya tadi. Tadi yang sudah dipakai baru celana, sementara baju belum.
“Ayo angkat tangannya, anak pintar,”
Shofea tidak menangis lagi. Tidak ada rengekan ketika papanya memakaikan Ia baju walaupun Sehan berekspresi aneh-aneh. Shofea malah tidak takut melainkan justru tertawa.
“Yeay ketawa, emang lucu?”
Tania selesai buang air langsung keluar dari kamar mandi seraya menepuk-nepuk pelan perutnya karena merasa lega, Ia tidak merasa mulas lagi.
“Udah, Bang?”
“Udah bajunya,”
“Ih itu kebalik, Abang! Masa begitu pakein bajunya? Kamu mah enggak bisa dimintai tolong deh,”
“Lah emang— oh iya kebalik,”
Sehan tertawa menyadari kebodohannya. Baju yang Ia kenakan pada Shofea rupanya terbalik antara bagian dalam dan luar.
“Maaf, papa enggak sengaja,”
“Gimana sih papa kamu tuh, Dek?”
“Orang papa enggak sengaja ya? Mama ngomel aja,”
“Tadi nangis?”
“Iya waktu kamu ke kamar mandi,”
Tania yang akhirnya memperbaiki kesalahan sang suami. Memang Sehan belum bisa diandalkan untuk mengurus anak. Mengenakan baju saja bisa-bisanya terbalik. Sepertinya memang tidak dilihat dulu sebelum dipakaikan.
“Nah kayak gini baru bener. Belajar lagi ya, Papa,”
“Siap, Ma. Nanti juga lama-lama pinter kok,”
******
Kepulangan Sehan sore ini langsung disambut oleh putrinya di halaman depan rumah bersama sang istri.
Ia keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat menghampiri Shofea yang langsung menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Kelihatan semangat sekali melihat sang ayah pulang.
“Halo anak papa yang cantik. Wuidih udah wangi aja nih,”
“Iya dong, Pa. Aku udah mandi, papa yang belum,”
“Mama udah?”
“Belum,”
“Lah sama aja,”
Tania tertawa dan Ia memejam ketika Sehan mencium keningnya. Sehan belum bisa mencium anaknya, Ia harus tahan-tahan karena belum dalam keadaan bersih, kalau cium istri tidak apa.
“Papa mandi dulu ya,”
“Iya habis itu aku ya, biar kamu jagain Shofea sebentar,”
“Okay siap,”
Sehan melangkah masuk lebih dulu dan Shofea yang melihat itu menangis. Sehan segera menolehkan kepalanya bingung.
“Kenapa nangis, bocil? Hmm?”
“Merasa ditinggalin kali,”
“Papa mau mandi sebentar aja, Sayang,”
Shofea mengulurkan tangan sepertinya ingin digendong. Sehan yang melihatnya langsung gemas dan bawaannya ingin menggigit.
“Erghh gemesin banget kamu ya. Minta gendong? Kok udah ngerti suh? Kayak udah gede aja, orang belum juga dua bulan,”
“Ngapain angkat-angkat tangan? Hmm? Minta gendong? Iya? Belum bisa, papa belum mandi,”
“Papa biar bersih dulu, Sayang,”
Sehan melanjutkan langkah dan Shofea yang sebelumnya sudah berhenti menangis akhirnya kembali menangis karena melihat Sehan melanjutkan langkahnya.
“Lah si bocil nangis mulu ya, nanti, Nak. Sabar, papa mandi dulu,”
Sehan tidak menghentikan langkah, Ia justru cepat-cepat menaiki anak tangga menjauh dari anaknya yang kelewat rindu sepertinya.
“Sabar, Sayang. Papa dari luar, dari kantor deh maksud mama, badannya ‘kan kotor, Shofea enggak boleh kotor-kotor,”
Tania menenangkan anaknya yang masih menangis itu. Tania mengusap-usap punggung anaknya sembari menimang.
“Kenapa itu? Kok nangis cucu Oma? Hmm?”
Ardina sampai keluar dari dapur padahal sedang menyiapkan makan malam dengan bibi karena Ardina mendengar cucunya menangis.
“Biasa, Oma. Kalau manjanya lagi datang, ngeliat papanya pergi mau mandi aja nangis,”
“Oh udah kangen rupanya? ‘Kan tadi pagi juga ketemu, tiap siang juga papa video call ‘kan?”
“Iya, namanya juga Shofea, Oma. Kalau manjanya udah datang, bisa nangis yang bikin orang enggak tega,”
“Pilu banget nangisnya,”
Ardina tersenyum menggoda Shofea yang masih melengkungkan bibirnya ke bawah dan berderai air mata.
“Papa enggak tenang mandinya karena udah bikin Shofea nangis,” ujar Ardina menenangkan cucunya itu.
Ia ajak bercanda sampai akhirnya Shofea tersenyum dan tidak lagi menangis. Ardina yang melihat itu bertepuk tangan ringan.
“Yeayy Oma berhasil bikin Shofea enggak nangis. Awas ya papanya Shofea itu, biar Oma jewer kupingnya. Dia udah bikin cucu Oma nangis,”
Shofea terkekeh kali ini. Tania dan Ardina jadi ikut terkekeh. Shofea seperti kesenangan karena papanya mau diomeli oleh sang nenek.
*****
"Jadi istri kamu lagi hamil? Terus kembar? Masya Allah, sehat-sehat ya, Dio,"
Dio terkekeh karena tanggapan rekannya setelah mendengar bahwa istrinya tengah hamil. Sempat Pak Rudi mengira Shena belum hamil, dan menyuruhnya untuk mengajak Shena honeymoon kedua.
"Tapi enggak apa-apa lah honeymoon lagi meskipun sudah hamil. Iya 'kan? Oh atau sebutannya udah beda ya? Babymoon atau apa itu? Sering Om dengar itu,"
"Shena kandungannya lemah, Om. Jadi agak takut bawa dia kemana-mana. Enggak bisa kecapekan dikit udah bikin deg-degan,"
"Hmm iya-iya, cari aman aja lah ya, daripada kenapa-napa. Yang penting sehat deh, nanti kalau udha lahir juga gampang kalau mau jalan mah,"
"Nah itu dia, Om. Yang penting lahir aja dulu, liburan nanti aja,”
“Terus kamu pengen punya berapa?"
Pak Rudi menepuk bahu Dio yang langsung menoleh padanya.
"Pengen punya berapa? Orang satu aja belum, Om, tergantu dikasihnya aja, Om,”
"Ya enggak apa-apa. Santai aja, waktu masih banyak,"
"Waktu masih banyak, saya nya udah tua nanti," ujar ayahnya Shena yang saat ini sedang pergi bersama Dio.
"Ya enggak lah! Orang keliatan masih muda begini, gagah perkasa,"
"Jadi anaknya Dio ini cucu pertamamu ya?"
"Iya benar," sahut Arman pada temannya.
"Anak aku ini kata dokter ada dua, Om,"
"Wuidih makin seru kalau gitu dong. Apa keluhannya si Shena sekarang, Di?"
"Mual jarang, om. Tapi gampang banget pegal,"
"Iya bawa dua soalnya. Yang bawa satu aja gampang pegal apalagi yang bawa dua anak. Tips nya dong biar dapat anak kembar. Anak saya juga ada nih yang belum punya anak, ya baru satu tahun nikah sih, tapi pengen juga sekali lahir kembar gitu,"
"Waduh enggak tips, Om. Tau-tau jadi kembar aja,"
"Doain ya, supaya anak saya juga cepat dapat momongan,"
"Aamiin, didoakan, Om,"
*******
"Lo lagi dimana?"
"Makan lah, makan biar kenyang dan hati senang,"
Sambil menemani anaknya di tempat tidur sementara Tania menata pakaian di dalam lemari, Sehan menghubungi adiknya yang tengah berada di sebuah rumah makan.
"Makan apaan?"
"Makanan sini lah,"
"Makan mulu lo,"
"Lah emang kenapa? Gue maunya makan,"
"Wuidih apaan aja tuh?"
"Tadi makan nasi bekepor, babangko, ayam cincane, sekarang soto,"
"Lo enggak mau gofudin gue itu, Ndra?"
"Pala mu! Pesen aja sendiri, yang ada juga basi sampe sono, ngadi-ngadi aja lo,"
Sehan tertawa lepas karena Dio menyahutinya dengan mulut yang penuh dengan nasi dan soto banjar yang saat ini menjadi menu selanjutnya.
"Eh gue mau liat mukanya Shofea aja, enggak mau liat muka bapaknya,"
"Nih, lagi sibuk ngoceh aja dia, kayak diajakin ngobrol padahal mah enggak,"
Sehan mengarahkan kamera depan ponselnya pada sang anak dengan posisi yang aman agar tidak merusak mata anaknya.
"Eh cantik banget itu yang pake bando. Kangen Om Dio enggak? Hmm? Senyum dong, biasanya senyum,"
Shofea awalnya keliatan bingung melihat wajah Dio di layar ponsel ayahnya, mungkin biasanya yang Ia lihat adalah wajah Dio secara langsung entah kenapa sekarang malah ada di layar. Tak lama kemudian Ia tersenyum. Dio yang baru saja meminta agar anak itu tersenyum langsung terkekeh karena permintaannya dituruti.
"Shofea udah minum susu belum? Hmm? Om lagi makan dong, nih enak banget hammm,"
Dio melahap tepat di depan kamera hingga Shofea melihatnya bingung lagi tapi lidahnya keluar membasahi bibir bawahnya sendiri. Sehan yang melihat itu terbahak.
"Anak gue kayaknya ngiler deh, Di,"
"Emang dia udah ngerti?"
"Ya itu abisnya dia ngeluarin lidah begitu, kayak ngiler ngeliat lo makan,"
"Om Dio iseng ya," kata Tania masih terus fokus dengan kesibukannya.
"Halo, Kak. Nggak ada Shena sepi ya?"
"Iya sepi, Shena masih di rumah mamanya,"
"Tapi sekarang 'kan udah ada Shofea, enggak akan kesepian lagi,"
"Shofea juga kayak nyari-nyariin Shena lho, Di. Ngelewatin foto keluarga, terus dia malah liatin Shena dalam gitu, mungkin lagi nginget-nginget kali, ini Aunty nya kemana? Kok cuma bisa liat di foto aja udah dua hari,"
"Sabar ya, Shofea. Aunty kayaknya enggak balik kalau enggak nunggu Om pulang,"
"Iya enggak apa-apa, Om. Hati-hati di sana ya," kata Tania mewakilkan anaknya yang masih menatap Dio di layar ponsel.
"Shofea mau liat Om lahap lagi enggak? Nih—"
__ADS_1
"Eh Dio! Lo iseng banget, ntar lidahnya keluar lagi,"
Dio tertawa karena abangnya tidak mengizinkan Ia untuk kembali membuat Shofea kepengen.
"Shofea kayak ngerti aja sih. Pengen ngeliat Om makan ya? Hmm?"
Shofea bergumam tidak jelas dengan mata bulatnya yang terus menatap Dio. Om Shofea itu benar-benar ingin mencium pipi Shofea dan menggendongnya. Baru sebentar tidak bertemu tapi rindunya sudah luar biasa.
"Ya udah deh, biar Om Dio lanjut makan dulu ya, Nak," kata Sehan seraya menoleh pada anaknya.
"Bye, Shofea, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Sehan meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian Ia mencium pipi Shofea berkali-kali hingga Shofea merengek.
"Ih kenapa sih? Kok nggak mau dicium papa?"
Sehan kembali melakukannya dan kali ini Shofea menangis. Tania segera menoleh pada suaminya itu dan Ia datang memberi cubitan di kaki Sehan.
"Kenapa iseng sih?"
"Lah orang aku cuma cium doang,"
"Enggak mungkin cium aja sampai bikin dia nangis,"
"Ciumnya berulang kali, karena gemes,"
"Tuh 'kan iseng Abang nih,"
Sehan menggendong anaknya namun Shofea tidak mau berhenti menangis giliran diambil alih oleh sang ibu, barulah perlahan tangisnya berhenti.
"Ya ampun sampe segitunya sama papa. Okay, mulai sekarang kita enggak temen,"
"Dih ya udah, Shofea biar temenan sama mamanya aja,"
"Masa giliran sama papa nangis giliran sama mama berhenti nangis,"
"Ya karena Papanya iseng, mending sama mama aja,"
*****
"Woah Om Dio baik banget. Makasih ya, semoga rezekinya lancar dan bisa jalan-jalan lagi supaya bisa kasih oleh-oleh lagi ke aku, Om," ujar Sehan yang mewakilkan Shofea menerima baju pemberian Andra.
Dio terkekeh gemas melihat Shofea yang menatap penasaran ke arah benda yang dipegang papanya.
Ketika Sehan mengulurkan baju dalam plastik yang dibelikan Dio untuk Shofea, barulah Shofea langsung menggerakkan tangannya ke depan berusaha meraih baju itu tapi belum bisa karena Sehan yang sengaja mengerjainya.
"Papa, dia mau pegang baju dari Omnya lho,"
"Iya-iya ini,"
Shofea akhirnya bisa menyentuh baju pemberian Dio. Sehan sengaja meletakkan baju itu dalam pelukan Shofea.
"Ya Allah, gemes banget sih, dicuci dulu terus dipake ya,"
"Okay, Om. Nanti aku pake ya," ujar Sehan pada Dio seraya mengusap-ngusap pipi anaknya dengan punggung jari telunjuknya.
"Nah tenang deh kalau udah bagi oleh-oleh,"
"Makasih ya, Di,"
"Iya sama-sama, Ma,"
Semuanya kembali mengucapkan terimakasih pada Dio yang baru saja berbagi oleh-oleh pada orang rumah.
"Kamu beli baju bayi cowok cewek, emang udah tau jenis kelaminnya, Di?"
"Belum, Pa. Tapi pengen aja waktu liat orang beli,"
"Woah keliatannya udah makin nggak sabar ya,"
"Iya, Pa. Mana banyak banget lagi pilihan baju bayi waktu aku belanja di sana sampe bingung mau pilih yang kayak gimana,"
"Ini bagus banget, Di,"
Tania segera membuka kemasan baju anaknya dan begitu dilihat ternyata bagus sekali. Pilihan Dio tidak pernah salah.
"Kira-kira Shofea suka enggak, Kak?"
"Ya suka, Di. Liat aja dari tadi dia semangat banget," ujar Tania seraya menatap anaknya yang diambil alih sang ayah.
"Mana beliin banyak banget lagi sampe tiga,"
"Iyalah, untuk ponakan aku yang sulung nggak boleh tanggung-tanggung,"
Dio membeli dres, baju stelan, dan juga baju tidur yang semua bahan dan modelnya bagus sampai Tania dan Sehan pun menyukainya.
"Gue mau beliin baju seksoy tadinya, Bang. Ada baju nggak ada lengan gitu satu stel sama roknya, tapi gue takut nggak dipake sama Shofea,"
"Janganlah, dibiasakan pake baju yang wajar-wajar aja," ujar Sakti sebagai kakek yang ingin cucunya mengenakan pakaian yang wajar saja tidak perlu yang aneh-aneh.
"Tuh dengerin kata kakeknya. Gue juga nggak mau, yang ada lengan aja bajunya, kesian soalnya dingin, gue posesif juga," ujar Sehan seraya terkekeh dan Ia berhasil membuat Shofea juga terkekeh.
"Iya, gue juga beliin buat anak gue yang biasa aja nih, nggak yang neko-neko,"
"Nggak sabar liat Shofea pake baju yang rok itu pasti gemes,"
"Jarang pake rok soalnya ya, Aunty. Di rumah seringnya pake celana,"
"Nanti kalau pake rok pendek gini kaki singkongnya keliatan dong, Di,"
"Heh! Enak aja kamu kalau ngomong. Masa kaki anak dibilang kaki singkong?"
"Ya 'kan kakinya Shofea udah mulai kayak singkong, dia udah mulai gemuk, Bun,"
"Ya sebutannya jangan gitu dong,"
Sehan terbahak karena protesan bundanya yang tidak senang Ia punya sebutan khusus untuk kaki anak sulungnya itu.
"Iya orang adanya cuma rok selutut, ada celana pendek, tapi kata gue pendek banget, kayak hotpants jadinya, Bang,"
"Ini sopan dan cantik kok, Shofea pasti makin cantik pake ini. Mana bisa dipake kemana-mana juga bisa ke acara formal sama non formal ini," nilai Sakti seraya mengamati salah satu baju stelan untuk Shofea.
"Pake kondangan sunatannya anak Dio nanti,"
Dio tertawa karena celetukan abang sepupunya itu. Ia melempar plastik yang telah diremasnya ke arah Dio.
"Ngadi-ngadi aja lo, orang lahir aja belum,"
*****
Pagi ini Shena mengalami mual lagi. Jarang mual tapi sekalinya mual lumayan parah sampai-sampai lemas menderanya padahal suaminya akan pergi ke kantor tapi kalau di suguhkan dengan pemandangan Shena yang mual-mual tidak mungkin Dio pergi begitu saja.
Dio dengan setia menemani Shena yang tengah menunduk di depan wastafel kamar kamar mandi mereka.
Dio juga membalurkan minyak aromaterapi di leher Shena dan juga hidungnya.
"Gimana, Bee? ke dokter aja?"
"Nggak ah, Mas. Udah biasa kayak begini, nanti juga hilang sendiri rasa mualnya," ujar perempuan hamil dengan calon bayi kembar di dalam perutnya itu.
Shena bergegas keluar dari kamar mandi, baru juga mau sampai di ranjang, Shena kembali dilanda mual. Alhasil Ia berjalan cepat ke arah kamar mandi dan Dio menyusulnya.
"Pelan-pelan aja jalannya, takut jatuh,"
"Ya gimana mau pelan sih, Mas? orang aku udah mual banget. Kalau aku muntah di kamar kita gimana? 'kan jorok, Mas," omel Shena dengan kesalnya ditengah rasa lemas yang menghampiri badannya.
"Ya udah jangan marah-marah, nanti tambah lemas lho, Bee,"
"Ya kamu mancing aku aja deh,"
"Aku cuma khawatir, takutnya kamu jatuh. Cuma itu aja kok jadi jangan dimarahin aku nya,"
Shena mendengus kasar. Ia membasuh mulutnya setelah itu Ia keluar lagi dari kamar mandi dengan dipapah oleh Dio yang takut sekali istrinya pingsan. Shena kelihatan lemah dan Ia benar-benar khawatir.
"Kamu istirahat ya, sini aku balurin perutnya,"
Shena berbaring di atas ranjang sementara Dio menyingkap baju sang istri untuk Ia balurkan minyak di perut Shena.
"Nanti dulu, mual kamu aja belum reda,"
"Udah kok, ini udah enakan,"
"Yang bener?"
"Iya beneran. Aku udah baik-baik aja. Jadi kamu pergi kerja aja, hati-hati, Mas,"
"Tapi aku masih khawatir,"
"Kalau aku udah bilang baik-baik aja berarti kamu nggak perlu khawatir, jangan diulang-ulang deh, Mas,"
Dio menatap istrinya dengan wajah bingung. Ia bingung karena Shena jadi galak padahal ia sejak tadi bicara baik-baik.
"Ya namanya juga lagi hamil jadi begitu deh mood nya. Orang nggak buat salah malah diomelin," batinnya.
"Udah sana pergi kerja aja, nggak perlu cemas sama aku. Kayaknya aku mau lanjut tidur lagi,"
"Iya tidur aja, aku tungguin sama kamu tidur,"
"Ih Mas! ngapain ditungguin? kamu harus kerja, mau nggak dapet duit? terus gimana biaya lahiran aku nanti?"
"Bee, tolonglah jangan ngomel-ngomel. Bicara yang baik gitu lho sama aku, biasanya juga begitu. Kok sekarang jadi galak sih? pagi ini ngomelin aku udah berapa kali?"
"Orang baru dua kali, lagian kamu nya yang mancing sih,"
"Iya maaf kalau aku mancing kamu yang lagi sensi ini ngomel-ngomel,"
"Supaya aku nggak ngomel lagi, mendingkamu berangkat kerja aja, ayo aku antar ke dep--"
"Udah di sini aja! ngapain sih diantar segala? aku bisa sendiri ke depan. Udah tau lagi mual dan lemas begini malah mau bangun dari tempat tidur," ujar Dio tanpa sadar menaikkan suaranya dan itu berhasil membuat Shena terdiam dengan mata berkaca menatap suaminya.
Dio merasa bersalah. Mulutnya berdecak dan Ia mengacak rambutnya kasar. Padahal rambut itu sebelumnya sudah tertata rapi tapi sekarang jadi berantakan.
Dio dibuat mau stres menghadapi suasana hati Shena yang mudah sekali berubah. Sebelumnya galak seperti kucing garong, sekarang malah mau menangis hanya karena ia keceplosan bicara dengan nada yang sedikit tinggi. Ia tadi kesal karena Shena mau mengantarnya ke depan. Padahal tanpa diantar Ia tidak masalah. Shena harus istirahat bukan malah meninggalkan kamar dan tempat tidurnya.
"Aku minta maaf, jangan natap aku dengan mata yang sedih begitu dong, Bee. Kamu nih bikin aku makin nggak bisa kerja kalau begitu,"
"Udah sana berangkat, jangan lama-lama di sini, nati aku nangis lho,"
Dio tertawa mendengar ucapan istrinya. Shena lagi dalam suasana hati yang sedih dan Shena tidak mau terlalu lama bersama orang yang telah membuatnya sedih.
"Ya udah, aku pergi ya. Jangan sedih, aku nggak ada niat bentak kamu, serius. Aku tuh cuma nggak habis pikir aja karena kau malah mau atar aku ke depan padahal kamu aja lagi begini,"
Dio memperbaiki baju Shena yang sudah Ia singkap barusan. Perut sudah Ia balurkan dengan minyak aromaterapi itu sekarang kepala Shena Ia balurkan juga. Setelah itu barulah Ia menutup botol minyak aroma terapi itu dan meletakkannya di atas nakas.
Ia mengusap rambut Shena dengan lembut kemudian ia mencium puncak kepala Shena.
"Ih jangan dicium nanti bibir kamu bau minyak kayuputih lho,"
"Nggak kena, orang aku cium rambut kok, lagian kalaupun kena ya nggak masalah, bukan racun ini," ujar Dio seraya tersenyum dan mengedipkan satu matanya. Ia juga mencium singkat bibir Shena. Kalau lama-lama nanti kemungkinan besar Ia tidak bekerja.
"Hati-hati ya, Mas,"
"Okay, kamu baik-baik di rumah ya. Bye, Sayangku,"
Shena melambai singkat pada suaminya yang masih saja menoleh ke arahnya sambil terus melangkah menuju pintu kamar.
"Awas nabrak pintu kamu, Mas. Liat ke depan kalau lagi jalan tuh, bukan liat ke aku,"
Dio terkekeh dan segera menghadap ke depan. Ia melambai lagi pada Shena sebelum badannya keluar dari kamar dan pintu kamar Ia tutup.
Dio tidak sarapan. Ia langsung bergegas dengan cepat pamit pada bundanya. Ayah dan abangnya sudah berangkat kerja. Ia paling terakhir berangkat kerja karena tadi belum bisa meninggalkan istrinya yang mual dari sebelum subuh.
Dio akan masuk ke dalam mobilnya tapi melihat sebuah mobil datang dan membunyikan klakson, akhirnya Ia langsung menghampiri berbarengan dengan Pak Tris security rumah.
"Kirain siapa, nggak taunya lo,"
Dio mendengus kasar karena kedatangan Arun, teman Shena yang pernah akan dijodohkan dengan Shena.
"Gue pikir perdana menteri yang datang. Gue bakal terima dengan senang hati. Lah kalau lo yang datang sorry aja, lo nggak diterima kedatangannya di sini,"
"Eh gue mau ngajakin Shena jalan dong makanya gue ke sini mau sekalian ngajak lo juga,"
"Kenapa lo mendadak jadi akrab sama gue? heh? apa kata lo barusan? lo mau ngajakin gue juga? yang bener aja lo, gue nih mau kerja cari duit, ngapain amat gue pergi sama lo. Kenapa sih lo dateng ke sini? gue kirain lo udah lupa sama Shena dan rumah ini,"
"Nggaklah, gue nggak bakalan lupa. Gue kemarin-kemarin itu lagi sibuk banget sama semesteran, Di,"
"Bodo amat nggak tanya. Udah saja balik! jangan di sini, Shena nggak bisa ditemui, dia harus istirahat,"
"Emang kenapa?"
Dio mengetatkan rahangnya karena pertanyaan bodoh Arun. Bisa-bisanya dia tanya begitu. Pagi ini datang hanya ingin mengajak Shena mengobrol. Kurang kerjaan sekali pria itu ya. Mending kalau bukan istri orang, masalahnya yang ingin Ia ajak ngobrol pagi-pagi begini adalah istrinya yang lagi hamil.
"Sana balik! ngapain sih ke sini? gatel banget lo jadi cowok. Mau gue garukin pake cangkul? hah? sini gue garukin pake cangkul, gue ambil dulu di taman,"
"Heh! sembarangan aja lo kalau ngomong!"
Arun menahan lengan Dio yang akan berbalik ke taman untuk betul-betul mengambil alat yang Ia sebutkan tadi.
"Udah sana! ngapain masih di sini?"
"Gue mau ngajakin Shena ngopi sambil ngobrol, Ndra, gue mau cerita sama dia. Udah lama juga kayaknya nggak ketemu,"
"Nah itu yang bikin gue senang. Lo nggak usah ketemu-ketemu lagi deh sama bini gue. Sana pergi!"
"Ih gue udah datang ke sini masa lo nggak menghargai sih?"
"Dih bodo amat! pergi nggak!"
"Nggak ah, orang gue mau di sini, gue mau ketemu Agatha,"
"Najis! Ganjen banget lo jadi orang. Gue tendang nih kalau lo nggak pergi,"
"Bodo amat, nggak takut sama sekali,"
Geraham Dio saling beradu satu sama lain. Dengan geram Ia menendang tulang kering Arun yang telah memancing kesabarannya habis dan membuat Ia terlambat bekerja. Yang harusnya Dio sudah pergi bekerja, ini malah belum berangkat juga,"
"Assshh sakit monyet!"
"Lu monyet! Monyet jelek,"
"Pak tolong ya, jangan mancing keributan di rumah ini. Tolong pergi, Mas Dio nya mau pergi kerja nanti udah terlambat, tolong sekali lagi,"
Pak Tris yang sedari tadi bingung tidak paham dengan apa yang dilakukan Dio dan Arun akhirnya bicara dan melerai sebelum pertengkaran makin memanas.
"Lah kenapa situ ngusir saya?"
"Bapak harusnya tau diri, ngapain ke sini langsung bikin keributan? Mas Dio cuma nggak mau Bapak ketemu Mba Shena. Masa iya mau ngobrol pagi-pagi begini? Mba Shena itu lagi hamil, jadi harus banyak istirahat,"
"Nggak usah ikut camp—"
"Saya berhak ikut campur karena Bapak sudah mengganggu ketenangan di rumah ini. Sebelum saya usir dengan cara kasar, saya minta tolong Bapak pergi sekarang ya,"
Dio menatap Arun puas karena Pak Tris juga mengusir Arun. Pak Tris melakukan hal yang benar. Memang Arun harus diperlakukan dengan tegas supaya tidak melunjak.
"Tolong pergi, Pak,"
"Gue—"
"Dio ada apa sih? Kok suara ribut-ribut sampai ke kuping mama?"
Ketiga orang yang tengah beradu pendapat itu langsung menoleh pada sumber suara. Ardina menghampiri mereka dengan langkah pastinya.
Ia penasaran karena mendengar suara laki-laki berbicara, begitu Ia tengok mobil Dio ternyata belum pergi dan Ia baru sadar akan hal itu, Ia pikir anaknya sudah pergi sejak tadi.
"Ini si Arun mau ketemu ngajak ngobrol Agatha katanya. Aneh banget orang udah nggak aku kasih izin dia nya masih bandel aja,"
"Kamu kenapa nggak pergi kerja?"
"Ya gimana aku mau pergi kerja, Ma? Aku harus ngusir ini orang dulu tapi dari tadi dia nggak mau pergi, 'kan ngeselin banget,"
"Arun, ada apa ya? Apa yang mau dibicarakan sama menantu saya? Biar nanti saya yang sampaikan. Soalnya Shena lagi harus istirahat dia barusan mual," ujar Ardina dengan sopan. Ia belum kenal dengan yang namanya Arun ini, dan Ia berusaha untuk bersikap sopan.
"Mau ngobrol biasa aja sama Shena, nggak boleh ya?"
"Tadi 'kan saya udah bilang ya, Shena lagi istirahat, Arun. Dia baru aja mual parah dari sebelum shubuh. Jadi lain kali aja ya,"
__ADS_1
"Bunda, lain kali juga nggak boleh," ujar Dio mengoreksi ucapan sang bunda.
"Pokoknya kapanpun itu lo nggak boleh ketemu apalagi ngobrol lagi sama Shena, pergi sana!"
"Kok gitu sih? Gue mau ngobrol bentar aja,"
"Arun ngobrolnya sama Tante aja gimana? Tante juga bisa jadi teman cerita lho,"
Dio menahan tawanya karena mendengar ucapan bundanya yang terang membuat Arun kesal. Arun menghentak kakinya kesal dan masuk ke dalam mobilnya.
Dio tersenyum puas melihat Arun pergi. Akhirnya Arun memilih pergi juga, tidak memaksakan kehendaknya.
"Bunda, makasih ya,"
"Kenapa makasih?"
"Ya karena bunda bantu aku untuk ngusir dia,"
"Memang apa sih urusan dia sama Agatha? Dia siapa?"
"Temannya Shena, Bunda, yang mau dijodohin sama Shena itu lho, nah dia tadi mau ngobrol sama Shena. Ya jelas aja aku nggak kasih izin,"
"Oh Arun yang itu,"
"Udah lama anteng kirain mah udah lupa sama Shena, aku bakal senang banget kalau dia udah lupa sama Shena. Eh sekarang datang lagi,"
"Ya udah jangan ngedumel lagi. Pergi kerja sana! Kamu udah terlambat lho,"
"Oh iya sampai lupa aku belum berangkat juga sampe sekarang. Ya udah aku pergi dulu ya, Ma, titip salam untuk Shena,"
"Ya ampun titip salam segala ya," ujar Ardina yang mengundang putranya untuk tertawa. Dio kembali mencium tangannya sebelum pergi. Padahal sebelumnya sudah pamit.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, hati-hati ya,"
"Iya, Ma,"
Dii melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi supaya cepat sampai di kantornya. Ia sudah cukup kesiangan. Biasanya jam segini Ia sudah sampai di kantor dan sudah sarapan juga. Sekarang apa? Ia tidak sarapan, dan terlambat juga. Penyebabnya adalah Arun yang memaksakan kehendak ingin menemui Shena hanya untuk mengobrol.
"Nggak habis pikir gue sama Arun. Kenapa sih pede banget ngedeketin Shena. Dia merasa Shena bakal belok ke dia gitu? Heh? Ya ampun, ada aja orang kayak begitu ya, kenapa nggak musnah aja sih dia! Kesel banget gue bisa ketemu sama manusia kayak gitu,"
Dii memukul stir kemudinya untuk meluapkan rasa jengkel yang menguasai hatinya saat ini karena bertemu dengan Arun yang sudah cukup lama tidak menampilkan batang hidungnya di hadapan Ia maupun Shena.
Disaat yang tidak tepat dia datang, padahal sudah berulang kali diberi tahu bahwa Shena sedang perlu istirahat karena tengah mengalami kesulitan di masa kehamilan yaitu fase mual yang cukup menguras tenaganya, tapi Arun tidak juga paham. Entah hal apa yang mau disampaikan Arun pada istrinya itu.
Apakah penting atau tidak, Dio tidak tahu. Tapi apapun itu, tetap saja kedatangan Arun untuk bertemu Shena tidak Ia sukai.
*****
“Ma, dari luar?”
“Eh kok kamu turun? Harusnya tidur aja, Shena. Gimana mualnya? Udah nggak lagi ‘kan?”
Ardina baru saja masuk ke dalam rumah usai bicara dengan Arun dan dia bertemu dengan Shena yang ternyata turun dari lantai atas padahal Ia pikir Shena istirahat.
“Udah nggak lagi kok, Ma,”
“Kita keluar yuk, Ma. Jalan pagi sekalian cari makanan,”
“Hah? Emang kamu udah baikan? Mama nggak mau kamu kenapa-napa ah, orang baru mual tadi kok, mending tidur aja sana,”
“Masih pagi masa tidur, Ma?”
“Lho emangnya kenapa? Kamu ‘kan udah bangun dari pagi-pagi buta karena mual. Sekarang ganti aja waktu tidurnya,”
Shena menggelengkan kepalanya menolak. Ia lebih tertarik keluar rumah dibanding hanya istirahat meskipun tadi suaminya sudah berpesan agar Ia istirahat.
“Ayo beli jajanan di luar, Ma, temenin aku,”
Ardina menatap Shena ragu. Ia takut membawa Shena keluar. Tadi Dio sudah berpesan padanya agar Ia memastikan Shena tidak kemana-mana alias istirahat di rumah.
“Ayo, Ma,”
Melihat wajah penuh permohonan yang ditunjukkan Shena, Ardina jadi tidak tega. Shena sampai mengguncang-guncang pelan tangannya minta agar permintaannya dipenuhi.
“Mama, ayo kita keluar,”
“Emang kamu udah sehat? Nggak mual lagi beneran? Dan nggak pusing? Soalnya Dio tadi pesan supaya kamu di rumah aja, jangan kemana-mana. Mama juga takut kamu kenapa-napa nanti ah. Mending di rumah aja, aman, ngapain cari makanan? Itu ada makanan di meja makan, kamu ‘kan juga belum sarapan, mending sarapan sekarang,”
“Aku lagi pengen cucur, Mama,”
“Oalah ngidam ternyata?”
“Nggak tau, mungkin iya,”
“Ya udah biar Mama aja yang beli,”
“Aku mau sekalian jalan-jalan juga, Mama,”
Ardina menghela napas pelan. Bagaimana caranya Ia menolak? Ia benar-benar bingung. Satu sisi Ia khawatir dengan Shena tapi di lain sisi Ia tidak ingin membuat perempuan itu kecewa karena ditolak.
“Ya udah mama temenin, cuma beli kue cucur aja?”
“Iya, mama, pergi cuma bentar aja kok,”
Ardina menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Shena kelihatan senang sekali karena Ardina mau menuruti keinginannya. Ardina menemani dirinya keluar untuk mencari kue cucur.
“Oma sama Aunty mau kemana nih?”
Tania baru saja turun ke lantai dasar dengan anaknya yang Ia gendong. Shofea tersenyum begitu tiba di hadapan nenek dan aunty nya seolah Ia tengah menyapa.
“Mau keluar sebentar cari kue cucur, Sayang. Kamu ada yang mau dititip nggak?” Tanya Ardina pada Tania seraya mencium singkat kening Shofea.
“Oh mau cari cucur. Aku nggak ada titipan, Ma, hati-hati ya,”
“Beneran, Kak?”
“Iya, Shen, kamu yang lagi ngidam cucur ya?”
“Kayaknya iya, pengen jalan-jalan dan beli kue cucur,”
“Ya udah jalan deh, hati-hati ya,”
Tania mengangkat tangan anaknya agar melambai pada Shena dan Ardina yang akan bergegas keluar sebentar.
Shofea melengkungkan bibirnya ke bawah tapi tidak menangis padahal sebelumnya anak itu kelihatan senang sekali dengan senyum lebarnya.
“Oh sedih dia karena Oma mau pergi,” kata Ardina seraya menunjuk Shofea, Ardina menghentikan langkahnya hanya untuk menggoda cucunya itu.
“Sebentar ya, nanti kita main ya. Boleh ‘kan Oma pergi sebentar?”
“Bentar aja, nggak lama-lama, Oma nggak diambil orang kok,”
Tania terkekeh karena ucapan mertuanya itu. Tapi Ardina berhasil membuat cucunya tersenyum, tidak melengkungkan bibirnya ke bawah lagi.
“Nah gitu dong senyum, Oma’kan jadi tenang mau ninggalinnya, nggak kepikiran,”
“Bye Oma, hati-hati ya,”
Tania kembali mengangkat tangan anaknya agar membalas lambaian tangan Ardina. Tania memgantar sampai halaman depan rumah.
“Oma mau pergi, Dek,”
Shofea tampak antusias menggerakkan badannya seolah Ia yang akan pergi. Setelah itu Ia menatap Tania begitu mobil pergi.
“Cuma sebentar Oma perginya, bentar lagi juga pulang,”
“Sekarang Shofea duduk dulu di sini sama mama, kita tunggu Oma dan Aunty pulang ya,”
Tania duduk memangku anaknya. Baru juga beberapa detik dipangku, Shofea sudah merengek.
Tania masih bertahan di posisinya. Ia tidak mau beranjak dan saat itulah Shofea berontak menangis.
Tania terkekeh gemas melihat anaknya yang merajuk sebab tidak mau diajak duduk. Tania akhirnya bangkit berdiri seraya menimang-nimang Shofea.
“Kenapa nggak mau duduk? Maunya berdiri aja? Mama nya capek nih, mau duduk,”
Tidak lama kemudian Shofea berhenti menangis. Rupanya benar Shofea tidak mau diajak duduk. Ketika Ia berdiri Shofea berhenti menangis.
“Shofea nih udah banyak tingkah ya, diajak duduk aja nggak bisa,”
******
“Mas, kamu mau kemana? Aku ikut dong,”
Shena memanggil suaminya yang akan keluar dengan celana panjang, t-shirt hitam dan juga topinya.
Shena terlalu sibuk membaca novel tadi sampai Ia tidak menyadari suaminya bersiap untuk pergi.
Dio mendengus karena mendengar ucapan istrinya.
“Dari tadi aku bilang, aku mau pergi nongki sama Abang, kamu nggak dengar, Bee? Sibuk aja sih sama novel kamu itu,”
Shena terkekeh walaupun dalam hati sedikit tersinggung dengan ucapan Dio yang tidak biasanya mempermasalahkan tentang hobinya. Shena tidak tahu harus melakukan apa selesai membersihkan kamar dengan bantuan Dio juga di hari libur ini. Maka dari itu Ia membaca novel. Tadi juga Dio sedang bermain game di ponselnya, maka Shena tidak ada niat untuk mengganggu, Shena juga mencari kesibukannya sendiri.
“Mas juga tadi main game aku nggak protes,”
“Tapi aku udah ngomong tadi, kamu malah nggak dengar, aku kalau main game kayaknya tetap bisa nanggapin orang ngomong ke aku, atau paling nggak aku dengar apa yang orang bilang,”
“Yaudah aku minta maaf, Mas cemburu sama novel aku ya?”
“Iya! Kamu sama novel kamu itu bener-bener bikin aku cemburu, makanya aku mau nongki aja, biar cari hiburan di luar sebentar sama abang,”
“Hmm begitu, ya udah hati-hati,”
“Tadi kamu bilang mau ikut,”
“Aku sama abang cuma mau ngopi aja sambil ngobrol,”
Dio tidak keberatan kalau istrinya memang mau ikut dengannya keluar sebentar, Sehan juga tidak akan keberatan Ia rasa.
Shena menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin mengganggu waktu sang suami dengan abangnya. Shena memberikan kesempatan bagi mereka untuk menikmati waktu berdua, ngobrol-ngobrol santai sambil minum kopi, tidak setiap waktu bisa mereka lakukan.
“Beneran nggak mau ikut? Ayo aja kalau mau ikut, abang juga nggak masalah pasti,”
“Nggak jadi, Mas. Aku di rumah aja, Mas sama Abang aja yang pergi. Hati-hati ya,”
“Okay kalau nggak mau, beneran ya? Nggak nyesel ‘kan?”
Shena terkekeh dan lagi-lagi Ia menggelengkan kepalanya. Ia mempersilahkan Dio untuk pergi hanya dengan abangnya saja. Ia tidak ingin mengganggu kakak beradik yang sedang ingin quality time itu.
“Hati-hati ya, Mas,”
“Iya, kamu juga baik-baik di rumah, lanjut aja selingkuh sama novelnya, tapi nanti kalau aku pulang stop ya,”
Shena tertawa lebar mendengar ucapan Dio yang menyuruhnya untuk kembali melanjutkan kegiatan membaca novel tapi ada pesan Shena harus berhenti membaca novel kalau Dio sudah sampai di rumah.
Dio ternyata benar-benar cemburu dengan novel. Baru kali ini terungkap. Selama ini Dio kelihatan tidak masalah sama sekali setiap Shena menghabiskan waktu dengan novel.
“Kenapa baru sekarang protes sih, Mas?”
“Ya karena menurut aku yang barusan itu udah berlebihan banget, buktinya aku mau pergi aja kamu nggak tau, masih tanya-tanya padahal aku udah bilang sebelumnya,”
“Iya aku minta maaf, jangan marah ya,”
“Nggak marah cuma agak jengkel aja,”
“Maaf,”
Dio tersenyum dan mencubit pipi Shena yang menatapnya dengan sorot mata sendu, memohon sekali untuk dimaafkan.
“Iya aku maafin kok, Cantik.
“Eh udah ya aku pergi dulu, nggak pergi-pergi nih karena kamu ngomong terus,”
“Ih kamu juga ngomong terus,”
“Mau ikut ke bawah anterin aku nggak?”
“Hmm nggak deh,”
“Huh mau baca novel lagi pasti ‘kan?”
“Ya udah ayo aku antar sampai gerbang, kamu ini manja ya, harus aku antar terus,”
“Bukan manja, ‘kan romantis gitu ceritanya, istri anterin suami pergi,”
Shena mendorong punggung suaminya pelan agar segera keluar dari kamar. Mereka sama-sama terlalu banyak bicara makanya Dio tidak kunjung pergi juga.
“Shena mau ikut, Shen?”
“Nggak, Bang. Abang sama Mas Dio aja yang pergi,”
“Oh kirain mau ikut, nggak apa-apa kalau mau ikut,”
“Tadi emang dia mau terus gue bolehin, tapi malah nggak jadi katanya,” sahut Dio seraya menoleh pada istrinya.
“Lho emang kenapa?”
“Nggak jadi, aku di rumah aja, Bang,”
“Mau baca novel lagi dia, Bang,”
“Oalah ya udah berarti sama Dio aja,”
“Pakai mobil siapa?”
“Gue aja, Di, sekalian mau ngisi bensin juga nanti,”
“Oh okay,”
Sehan menyerahkan kunci mobil yang ada di tangannya pada Dio. Seperti biasa, Ia akan mengandalkan Dio untuk menyetir kalau menentukan mereka pergi bersama.
Setelah melihat suaminya pergi bersama Sehan, Shena kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti tadi, seperti yang dikatakan Dio, Ia boleh melanjutkan perselingkuhannya dengan novel selama Dio pergi, kalau lelaki itu sudah tiba di rumah, maka mau tidak mau Ia harus berhenti.
*******
Getar singkat yang bersumber dari ponselnya membuat Shena mengalihkan perhatian dari novel.
Shena mendengus kesal karena ada yang mengganggu kesibukannya sekarang ini, tapi Ia penasaran siapa yang mengirimkan pesan, akhirnya Ia meraih benda tipis dan canggih itu.
Ada pesan masuk dari Arun. Ia langsung penasaran hal apa yang disampaikan Arun dalam pesan itu, akhirnya langsung Ia buka pesan tersebut.
-Aku datang ke rumah kamu, tapi malah diusir sama suami kamu dan juga mertua kamu. Mereka nggak ada etika ya-
Shena menaikkan kedua alisnya dengan sengit ketika Arun menilai suami dan mertuanya tidak punya etika.
“Kapan dia diusir? Perasaan dia aja nggak pernah datang-datang lagi ke sini,”
Dio juga tidak cerita apapun. Dio pasti cerita kalau Arun habis datang ke rumah. Tapi Dio tidak berkata apapun padanya, entah lupa atau bagaimana, Shena pun bingung.
-Kapan kamu datang? Dan kenapa kamu datang?-
Tidak sampai lima menit kemudian, pesannya dibalas oleh Arun. Dari pesan awal Arun sudah kesal sekali sepertinya, lalu di pesona kedua ini pun makin ketahuan rasa kesalnya.
-Dua hari lalu pas masih pagi. Aku mau ketemu sama kamu tapi Dio larang aku, terus mertua kamu keluar dan dia juga suruh aku pergi-
“Oh dua hari lalu? Kok Mas Dio nggak cerita ya? Itu kayaknya waktu aku mual-mual banget deh,” batin Shena lagi.
Shena langsung mengerti kenapa Dio tidak mengizinkan Arun bertemu dengannya karena memang kondisi pagi itu Ia sedang tidak baik-baik saja, Ia mual berat sampai lemas sekali walaupun setelah merasa lebih baik langsung merasa bugar lagi. Dio pasti ingin Ia istirahat, Bundanya juga ingin Ia tidak diganggu oleh siapapun. Makanya mereka menyuruh Arun pulang saja.
Cuma penyampaian Arun sepertinya berlebihan sekali. Tidak mungkin Ardina sampai mengusir Arun. Ardina itu baik sekali dan dia tahu etika. Kalau Dio ya mungkin saja, mengingat Dio itu kesal sekali dengan Arun. Dengan siapapun laki-laki yang pernah dekat dengannya, Dio tidak pernah bisa akur.
-Kok cuma dibaca aja, Shen? Tolong bilang sama mereka ya, jangan belagu! Aku mau ketemu kamu karena cuma pengen ngobrol aja-
-Memang apa yang mau diobrolin sama aku, Run? Jangan menilai Mas Dio apalagi mertuaku nggak punya etika. Mereka nggak izinin kamu ketemu aku karena memang kondisi aku kemarin itu masih lemas banget habis mual parah-
-Aku cuma mau curhat aja soal orangtua aku yang divonis sakit keras, aku pikir kamu bisa jadi teman cerita tapi nggak taunya malah kayak begini-
Shena langsung terdiam beberapa saat menatap serangkaian kalimat yang dikirimkan Arun beberapa saat lalu. Kalau dari isi pesannya, Arun sedang tidak baik-baik saja, dan itu ada hubungannya dengan orang tua lelaki itu.
Shena tidak tega karena sepertinya Arun benar-benar butuh teman cerita. Akhirnya Ia membalas pesan Arun dengan kalimat yang mempersilahkan Arun untuk datang menemuinya, Arun bisa bercerita padanya.
-Nggak usah! Nanti suami kamu ribet lagi. Dia kayak nggak punya masalah aja ya, apa dia nggak pernah cerita masalah dia ke temannya? Masa dia larang aku untuk ketemu kamu dan cerita sama kamu?-
-Bukan begitu, Run. Seperti yang aku bilang tadi, Mas Dio itu khawatir sama keadaan aku makanya dia suruh aku istirahat terus, aku aja jarang keluar rumah selama hamil, karena memang disarankan untuk banyak istirahat. Waktu kamu datang, aku lagi mual banget, dan memang perlu istirahat, jadi dia nggak izinin kamu ketemu aku karena ada alasannya dan itu berhubungan dengan kondisi istrinya. Wajar dong kalau dia ambil sikap begitu. Kalau memang kamu masih perlu aku untuk jadi teman cerita kamu, silahkan kamu datang aja, nanti aku yang bakal ngomong sama Mas Dio dan mama supaya mereka izinin kamu ketemu sama aku. Mereka juga pasti paham kok, tapi kalau memang kamu nggak mau datang lagi ya nggak masalah, dan sebelumnya aku minta maaf atas nama Mas Dio dan Mama kalau memang sikap mereka bikin kamu sakit hati-
__ADS_1