Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 128


__ADS_3

-Di, gimana keadaan lo? Udah lebih baik?-


Shena membaca direct massage dari instagram suaminya yang ada di ponselnya. Akun sang suami kebetulan tertinggal di ponselnya dan sekarang sedang Ia mainkan. Tapi Ia malah menerima pesan masuk seperti itu dari akun instagram bernama Nada.


“Nada mantannya Mas Dio nih. Masih merasa bersalah kali dia ya?”


Shena langsung mengetik balasan untuk Nada, Ia memberitahu bahwa keadaan Dio sudah membaik.


Dio sedang bekerja dan dia belum pulang. Dia tidak mungkin membuka-buka akun sosial medianya bila sedang bekerja.


Setelah itu, Shena keluar dari akun instagram suaminya dan kembali ke akun miliknya lagi tanpa menjelajah beranda lagi.


Ia keluar dari halaman instagram kemudian Ia turun ke lantai dasar. Shena mendengar suara kakak iparnya yang tengah berbincang dengan sang putri, Ia langsung menghampiri.


Daripada Shena kepikiran dengan Nada yang rupanya tahu instagram suaminya, lebih baik Ia bermain dengan Shofea saja supaya tidak stres memikirkan mantan dari suaminya.


“Eh ada Aunty,”


“Shofea kok nggak bobo siang? Biasanya bobo kok,”


“Udah bangun barusan, Shen. Terus rewel di kamar. Pas aku bawa keluar langsung senyum-senyum,”


“Oh bosen di kamar ceritanya. Udah bisa ngerasa bosen juga ini bayi ya, udah nggak suka tidur terus ya?”


Shena mencium lengan Shofea yang mulai kelihatan gemuk. “Ih kapan sih ini roti sobeknya makin keliatan? ‘Kan Aunty mau gigit biar kenyang,”


Tania tertawa mendengar celetukan adik iparnya.


Shofea memang kelihatan semakin berisi tapi lengan dan kakinya menurut Shena mungkin belum terlalu kelihatan gemuknya seperti bayi-bayi yang lain. Shofea lahir kecil jadi butuh proses. Dan menurut dokter sekarang Shofea sudah ideal baik berat badan maupun tingginya.


“Ini udha bisa digigit, Aunty,”


“Masih kurang ini, Aunty nggak kenyang kalau rotinya cuma segini. Ndutin lagi ya? Okay?”


Shofea terkekeh dengan gusinya yang kosong dan itu membuat Shena gemas dan ikut tertawa. Anak itu benar-benar hiburan sekali untuknya.


“Shofea,”


“Hmmm..”


“Ih udah bisa nyaut si cantik nih,”


Bertepatan dengan Shena memanggilnya, Shofea justru mengeluarkan gumamannya, seolah dia menyahuti panggilan Aunty nya itu.


“Shofea udah gede sebelum waktunya ini kayaknya,”


“Iya, makin hari ada aja nih tingkahnya, Aunty. Papa pulang kerja, dia udah tau banget. Nggak lagi nengok-nengok aku karena udah ada papanya. Udah kangen banget dia,”


Shena tertawa mendengar ucapan kakak iparnya yang tengah melaporkan perilaku anaknya itu.


“Giliran papa kerja, Shofea sama siapa hayo?”


Shofea menatap Shena dan mamanya bergantian masih dengan senyumnya. Shena menggertakkan giginya gemas. Ia ingin benar-benar menggigit Shofea tapi ‘kan tidak mungkin. Keponakan sendiri masa iya digigit, kejam sekali dia.


“Shofea anak cantik,”


“Shofea anak imut,”


Shena bernyanyi sesuka hatinya untuk menghibur hati Shofea yang kembali terkekeh mendengarnya bernyanyi sambil mendekatkan wajahnya ke arah Shofea.


“Ketawa terus ya, murah senyum dan ketawa terus anak ini, Shofea nanti kalau udah gede jangan senyum terus, jangan ketawa terus. Lebih sering pasang muka jutek aja supaya nggak ada cowok yang deketin. Kalau Shofea murah senyum terus nanti ada aja yang suka sama Shofea, malah Aunty rasa banyak banget. Nggak usah senyum ya, cemberut aja terus,”


Tania tertawa mendengar Shena bicara seperti itu pada anaknya. Dan Shofea mendengarkan dengan baik. Matanya tidak berkedip ketika mendengarkan Auntynya bicara, wajahnya juga menampilkan keseriusan.


“Ada-ada aja Aunty nih masa nyuruh aku nggak senyum, nanti boro-boro suka, yang ada pada lari semuanya,”


“Soalnya Shofea nih jadi inceran nanti. Cantik banget sih abisnya,”


“Banyak yang cantik, Aunty. Bukan hanya Shofea aja,”


“Nggak, pokoknya Aunty fans fanatik Shofea,”


“Okay, berarti aku fans fanatik si kembar juga dong,”


Shena terkekeh seraya mengusap perutnya. Belum apa-apa anaknya sudah punya fans fanatik.


“Assalamualaikum,”


“Suaranya Dio tuh, Shen, tumben dia udah pulang. Belum sore ‘kan ini,”


“Iya aku bukain pintu dulu ya, Kak,”


Tania mengangguk mempersilahkan adiknya itu untuk membukakan pintu karena suaminya pulang.


Shena tersenyum menyambut suaminya. Ia mengulurkan tangan ingin mencium punggung tangan suaminya tapi Dio malah berlari masuk ke dalam sampai Tania yang melihat Dio melewatinya begitu saja tanpa basa-basi merasa bingung. Tidak biasanya Dio langsung masuk begitu saja melewati orang.


“Kayaknya ada yang nggak beres nih,”

__ADS_1


“Iya coba samperin. Dio sakit perut kali, Shen,”


Shena langsung beranjak ke kamar menyusul suaminya yang barusan berlari masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun.


“Mas, kamu kenapa?”


“Bentar, Bee, aku ada urusan,”


Shena menghela napas pelan melihat suaminya yang buru-buru melepas kemeja dan celana kerjanya setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.


Benar dugaan Tania tadi. Sepertinya Dio sedang sakit perut. Urusan yang dimaksud Dio itu adalah buang air besar. Dia mau buang air besar tapi bilangnya malah ada urusan.


“Kamu sakit perut ya, Mas?”


“Iya dari tadi di kantor mules terus,”


“Ya Allah, emang kamu makan apa, Mas? Salah makan kali ya? Kamu makan yang terlalu pedas mungkin,”


“Kayaknya nggak deh,”


Shena langsung bergegas untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya supaya perutnya sedikit tenang, tidak berontak terus.


Biasanya Dio tidak mau langsung minum obat kalau menurutnya masih belum terlalu parah. Tapi tetap Ia siapkan obat diare, kapanpun Dio minum yang penting sudah siap.


Dio keluar dari kamar mandi dengan mengusap-usap perutnya seperti wanita hamil yang sudah merasakan kontraksi.


Shena yang melihat itu menahan tawanya. Selain mengusap, lelaki itu juga menepuk-nepuk perutnya sendiri.


“Ketawa aja, jangan ditahan. Kayak ibu hamil yang begah aku ya?”


Shena akhirnya terkekeh dan Ia mengangguk membenarkan. Dio pun ikut tertawa jadinya.


“Ih dari tadi mules terus perut aku, Bee,”


“Kamu makan apa emangnya?”


“Aku makan nasi padang aja kok tadi dan biasanya nggak apa-apa tuh, nggak ada cerita mules sampai berapa kali mondar-mandir kamar mandi,”


“Mungkin kamu kebanyakan makan sambal kali, Mas,”


“Nggak, porsi kayak biasa aja, tapi tetap juga sakit perut,”


“Ya udah kalau gitu istirahat aja dulu. Tapi ini diminum teh hangatnya biar perut kamu enakan, terus mau minum obat kapan,”


“Nanti ajalah obatnya, aku mau tidur dulu,”


“Aku udah lemes, Bee. Pengen tidur, di jalan masih juga sakit perut aku padahal sebelum pulang udah ke kamar mandi,”


“Ya Allah sampai segitunya kamu, Mas. Apa coba yang salah? Perasaan makanan di rumah biasa aja nggak ada yang jadi pemicu kamu sakit perut. Tadi pagi setelah sarapan baik-baik aja ‘kan?”


“Iya, mulainya itu kalau nggak salah dua jam yang lalu,”


“Makanya bawa bekal aja dari rumah, Mas,”


“Ngerepotin ah,”


“Nggak lah, Mas. Justru aku senang siapinnya. Kamu malah nolak terus kalau mau aku bawain bekal padahal apa susahnya? Tinggal bawa aja tempat makan ke kantor,”


Dio menyeruput teh yang dibuat Shena hingga habis tanpa sisa. Perutnya langsung terasa hangat.


“Duh, enak banget teh nya, pake racikan apa?”


“Hah? Nggak ada,”


Shena mana pernah pakai racikan ini itu untuk sekedar buat teh. Sama saja bahannya. Teh, gula, dan air.


“Pake racikan kali tuh,”


“Racikan apa? Mas mau dibuatin teh jahe?”


“Nggak, itu aja udah cukup. Tapi enak banget makanya aku pikir pake racikan. Maksud aku racikan cinta,”


Shena memutar bola matanya jengah. Sudah sakit saja masih bisa melucu. Ia segera menyuruh Dio untuk beristirahat, jangan banyak bicara lagi supaya segera sembuh.


“Kamu mau dibuatin makanan apa? Biar nanti bangun tidur ada yang dimakan sesuai maunya kamu, Mas,”


“Nggak ada, kamu nggak usah buatin apa-apa,”


“Ya udah, kamu tidur dulu deh,”


Dio kalau sudah sakit, terkadang agak susah juga untuk disuruh makan. Oleh sebab itu Shena ingin membuat makanan yang sedang diinginkan suaminya.


“Mas Dio lagi nggak mau apa-apa. Terus aku buat makanan apa dong? Bingung nih,”


Shena masih berdiri menatap suaminya yang berbaring diatas tempat tidur sambil memejamkan kedua matanya.


“Kasian banget kamu, Mas. Pulang-pulang malah diare, padahal sebelumnya sehat,”

__ADS_1


Shena keluar dari kamar dengan membawa gelas kosong yang digunakan Dio untuk minum teh tadi. Ia akan membasuhnya di dapur.


“Lagi apa kamu, Shen?”


“Ini cuci gelas, Ma,”


“Lah, gelasnya Dio itu. Dia udah pulang?“


“Udah barusan, Ma,”


Shena selesai membasuh gelas suaminya kemudian Ia keringkan sebelum diletakkan di dalam rak.


Kemudian Ia menoleh pada ibu mertuanya yang tengah mengambil sayur sop. Ardina ingin menikmati sayur itu tanpa nasi. Karena kebetulan baru dihangatkan, pasti makin lezat.


“Kenapa udah pulang? Tumben ya, biasanya sorean,”


“Lagi sakit perut, Ma,”


“Lho, makan apa memangnya? Kok bisa sakit perut?”


Ardina menghentikan tangannya yang tengah menuang sayur ke mangkuk kemudian Ia menatap Shena yang baru saja memberitahu bahwa suaminya sakit perut.


“Katanya tadi cuma makan nasi padang aja. Biasanya ‘kan aman-aman aja makan itu, Ma, mungkin emang lagi nggak baik keadaan perutnya Mas Dio,”


“Terus udah minum obat?”


“Katanya nanti aja habis bangun tidur, Ma,”


“Ya udah, kita makan sayur ini yuk, Mama kepengen nih mumpung masih hangat,”


“Iya mama makan aja, aku ke kamar dulu ya, Ma. Takutnya Mas Dio perlu apa-apa,”


“Oh ya udah kalau gitu, nggak mau makan bareng bunda nih?”


“Aku udah makan tadi, Ma,”


“Tawarin Dio makan, kali aja dia mau makan sayur sop,”


“Iya, Ma, nanti aku tawarin,”


Shena segera bergegas kembali ke kamar. Begitu Ia tiba di kamar, suaminya masih terlelap dengan pulasnya.


Kalau saja Dio bangun, Shena mau menawarkan suaminya itu makan, atau sekali lagi bertanya makanan apa yang sedang diinginkan suaminya itu.


“Sayang…”


“Eh? Ngigau, Mas?”


Shena langsung bergerak mendekati suaminya yang bergumam sambil menggerakkan kepalanya.


“Mas, kenapa?”


“Enggh duh pengen ke kamar mandi lagi,”


Dio langsung beranjak dari tempat tidur ketika perutnya kembali berontak. Tanpa basa-basi Dio bergerak ke kamar mandi meninggalkan istrinya yang cemas.


“Kok jadi diare begitu ya? Aduh Mas…Mas, kamu ada-ada aja, minum obat malah nanti-nanti,”


“Nggak tau nih, bikin repot aku aja jadi mondar-mandir ke kamar mandi,”


“Mas, jangan ngomong gitu, Allah yang kasih penyakit kamu lho, jangan protes,”


“Tapi aku bingung, Sayang. Kenapa jadi sakit perut tiba-tiba begitu? Padahal aku nggak salah makan kok, biasanya juga nggak masalah mau makan nasi padang dimana aja,”


“Perut Mas emang lagi sensitif berarti. Waktunya Mas dikasih sakit,”


Dio keluar dari kamar mandi dengan meringis sambil menyentuh perutnya lagi. Shena langsung memegang tangannya ketika Ia berjalan menuju tempat tidur.


“Ada-ada aja Mas nih. Makanya minum obat ya?”


“Nanti dulu, Bee. Aku baru aja minum teh tadi,”


“Ya udah, tapi ingetin minum obat, nanti makin parah lho,”


“Iya tenang aja,”


“Tenang aja gimana, Mas. Kamu tuh lagi sakit gimana aku bisa tenang,”


“Jangan panik, nanti perut kamu nggak enak lagi kayak waktu kemarin aku berantem sama mantannya Nada,”


“Nggak kok, perut aku aman, Mas. Adik bayi ngerti papanya lagi sakit jadi nggak mau bikin cemas. Eh ngomong-ngomong Nada, dia tadi DM ke instagram kamu tuh, maaf aku yang jawab supaya dia nggak bertanya-tanya lagi soal keadaan kamu,”


“Nggak apa-apa jawab aja. Emang dia tanya apa?”


“Tanya kondisi kamu. Mungkin dia masih khawatir kali karena kamu abis berantem sama mantan suaminya,”


“Kok dia tau instagram aku? Orang aku sama dia nggak saling follow,”

__ADS_1


“Mungkin dia cari tau, Mas,”


__ADS_2