Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 146


__ADS_3

“Duh Mas bukan begitu cara pasangnya,”


Satu minggu pasca lahiran, Shena sudah beraktifitas seperti biasa di rumah, akan tetapi tak diizinkan oleh Dio untuk pergi keluar rumah suku. Dan hari ini Dio yang sebelumnya sengaja libur demi mendampingi istrinya sejak sebelum sampai setelah proses bersalin, hari ini mulai bekerja.


Dio tidak mau mengandalkan semua kesibukan mengurus anak kepada istrinya secara keseluruhan. Maka dari itu disaat Shena akan menggantikan popok anak mereka yang perempuan Azalea, Ia langsung mengambil alih pekerjaan itu karena Shena juga punya kesibukan lain yaitu menyiapkan semua keperluannya untuk bekerja.


“Hah? Emang salah, Sayang?” Tanya Dio dengan wajah polosnya. Sudah ketiga kali Ia menggantikan popok tapi masih juga salah.


“Iya ini jelas salah, Mas. Ini harusnya bagian depan buat belakang, nah yang belakang buat depan,” ujar Shena seraya menahan tawa. Walaupun harus elus dada, alias perbanyak stok kesabaran tapi Shena bersyukur karena suaminya masih mau turun tangan walaupun bisa dibilang payah dalam mengurus anak.


“Ya ampun, maaf deh, Sayang. Aku masih belum hafal tau,”


“Iya nggak apa-apa, makanya udah biarin aku aja tadi,”


“Ya aku kasian kamu. Masa aku biarin aja kamu gantiin Azalea popok sementara kamu sibuk juga kalau pagi gini nyiapin keperluan aku mau berangkat kerja,”


“Itu emang tugas aku, santai aja, Mas,”


“Maaf ya belum bisa bantu kamu,”


Shena langsung berdecak pelan sambil menepuk lengan suaminya menyuruh suaminya itu untuk segera bersiap ke kantor.


“Kamu jangan ngomong gitu ah. Kamu nggak salah ngapain minta maaf,”


“Aku minta maaf karena aku payah banget ngurus anak,”


“Nggak kok, ada kemajuan, setidaknya udah tau cara bikin susu anak,” ujar Shena sambil tersenyum memperlihatkan susunan giginya yang rapi. Shena mengapresiasi hal yang bisa dilakukan suaminya yang lain.


“Kalau susu dari aku nggak cukup, dan harus tambah formula kamu udah bisa bikinnya. Kamu hebat, Mas. Makasih ya udah mau turun tangan,”


“Ya emang harus gitu, cuma aku masih payah, amatiran, hehehe,”

__ADS_1


“Ya wajarlah namanya juga ini pengalaman pertama,”


“Kamu juga pengalaman pertama jadi ibu tapi kayak udah jago banget. Kamu tuh hebat banget, Shen, aku bangga deh, Azalea sama Azanio pasti bangga juga,” puji Dio sambil mencubit pipi istrinya yang menggemaskan kemudian Ia tinggalkan kecupan di sana juga.


“Udah ya aku mau siap-siap,”


Dio beranjak meninggalkan tempat tidur juga akhirnya. Ia segera bersiap ke kantor sementara Shena sudah selesai memperbaiki apa yang salah dari suaminya tadi, yaitu posisi popok anaknya.


Walaupun menjadi sangat sibuk setelah punya dua anak, tapi Shena benar-benar menikmati peran barunya sebagai ibu dari dua anak kembar laki-laki dan perempuan.


Kesiapannya itu tak lepas dari dukungan suaminya juga yang selalu ada di sampingnya. Memberi kekuatan saat Ia tidak yakin bisa menjadi ibu yang baik, dan takut ketika proses bersalin, sampai selesai melahirkan pun Ia merasa khawatir tak mampu mengurus dua anak sekaligus. Setelah dijalani ternyata bisa juga, dan Ia begitu menikmati perannya yang sekarang walaupun Ia merasa lelah.


Setelah Dio bersiap dan akan mengajak istri dan anak perempuannya turun ke lantai dasar mengantarkan Ia berangkat ke kantor tiba-tiba Azanio merengek yang artinya dia sudah bangun. Tanpa menunggu waktu lama Dio langsung menghampiri anak lelakinya itu, adik dari Azalea.


“Wah udah bangun nih anak Papa yang ganteng. Selamat pagi, Pangeran ganteng. Gimana tidurnya semalam? Hmm?”


Dio menggendong anaknya, dan langsung mencium pipi anaknya yang setelah Ia gendong langsung tersenyum. Seperti bertemu dengan badut yang menjadi hiburan ketika sedih atau badmood.


“Duh meleh deh ini. Jangan senyum gitu dong, makin ganteng, Jagoan,”


“Ganteng banget sih anak Papa nih, nggak salah ya benih Papa ya,”


“Mas! Ngomong apa sih kamu? Jangan ngomong gitu ah,”


Shena langsung menegur suaminya yang baru saja memuji benihnya sendiri yang katanya tidak salah, alias tidak gagal. Kedua anak mereka tampan dan cantik.


“Lah kan emang benar, Sayang. Anak kita dua-duanya benih aku, nggak ada yang gagal, semua berhasil semua atas kehendak Allah, alhamdulillah,”


“Dih, emang kamu doang gitu yang berperan? Hah?”


Dio langsung terbahak mendengar istrinya mengeluarkan protes. Ia langsung menghampiri Shena kemudian merangkul pinggangnya.

__ADS_1


“Nggak dong, kalau cuma aku sendiri ya nggak bakal jadi nih bocil dua. Berkat kita dong, Sayang, tapi kan mirip aku dua-duanya jadi ya bisa dibilang benih aku paling berhasil, iya ‘kan? Terima kenyataan lah, Sayang, kamu kalah saing,”


Shena mendengus dan tak mengelak. Memang benar, kedua anak mereka banyak mewarisi fisik ayah mereka, Shena cuma dibagi sedikit saja yaitu warna mata yang sedikit kecokelatan. Selebihanya mewarisi Dio.


“Bener nggak? Terima nggak nih?“


“Iya mau nggak mau terima,”


“Hahahaha jadi ngaku kalah?”


“Hmm iya kayaknya,”


Dio tertawa mendengar pengakuan istrinya yang tak bisa bicara banyak kalau soal kemiripan. Walaupun Ia yang mengandung, Ia yang selalu bersama kedua anak itu dari mereka dalam kandungan sampai sekarang, nyatanya tetap saja kalau soal fisik mereka berpihak pada Dio.


“Tetap bersyukur kan, Sayang?”


“Iya dong, mau mirip aku atau kamu, aku tetap bersyukur, itu harus! Yang penting mereka sehat, itu udah jauh lebih membahagiakan nggak penting deh mau mirip siapa,”


“Ntar kayaknya gede mirip kamu,”


“Emang bisa gitu?”


“Bisa, ntar liat pas gede coba,”


“Ternyata aku masih punya harapan dimiripin sama anak,”


“Yang penting bukan mirip tetangga ya?”


“Iyalah! Itu nggak boleh!”


“Galak amat ibu dua anak ini,”

__ADS_1


“Harus mirip aku atau kamu, ya walaupun agak nggak ikhlas dikit sih mirip kamu tapi daripada mirip tetangga? Aneh itu!”


******


__ADS_2