Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 20


__ADS_3

“Ya udah lo lanjut tidur, ngapain masih buka mata?”


“Kamu nggak bakal kemana-mana ‘kan?”


“Nggak, gue bakal di sini. Lo tenang aja. Jadi sekarang mendingan lo lanjut tidur,”


Dio bisa melihat kekhawatiran di mata Shena. Kemungkinan besar Shena takut bila Ia kembali tidur, Dio akan pergi meninggalkannya.


Setelah dibujuk omeh Shena terus, akhirnya Ardina bersedia untuk pulang bersama suaminya yang beberapa saat lalu akhirnya sampai kembali di rumah sakit membawa perlengkapan menginapnya Shena.


“Dio, kamu nggak kau ganti baju dulu?”


“Emang gue dibawain baju?”


“Ya coba aja buka tas aku itu, barangkali dibawain. ‘Kan nggak enak tidur masih pakai baju yang udah dipakai dari tadi pagi,”


“Gue mau sekalian mandi deh kalau gitu,”


“Tapi ini udah malam, emang kamu nggak kedinginan? Nanti takutnya masuk angin,”


“Gue biasa mandi malam,”


Dio membuka tas yang dibawakan oleh ayahnya tadi. Ternyata disiapkan baju untuknya. Beruntung sekali dirinya. Ia bisa mandi sekarang, sehingga ketika tidur rasanya nyaman dengan badan dan pakaian bersih.


“Nah Alhamdulillah kamu dibawain baju juga,”


“Tadinya mungkin nggak karena nyokap bokap ngira gue nggak bakal di sini, tapi karena tadi bokap ketemu gue, jadi bokap bawain baju juga buat gue karena mikir gue mungkin bakal di sini jagain lo,”


“Iya Alhamdulillah. Eh tapi ada handuk?”

__ADS_1


Dio langsung mencari handuk, dan keperluan mandi lainnya yang ternyata dibawakan juga oleh papanya.


“Ada nih,”


“Ya udah sekarang kamu ganti baju, kalau mau mandi ya terserah,”


Dio menganggukkan kepalanya. Dio langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, namun sebelum menutup pintu kamar mandi, Dio berpesan pada Shena “Lo mending tidur cepetan deh, nggak usah nungguin gue selesai mandi,”


“Iya, lagian siapa yang mau nungguin?” Tanya Shena dengan senyum tipis.


“Ya kali aja lo mau nungguin gue sampai selesai mandi. Lo ‘kan gitu, suka nungguin gue yang belum pulang, nungguin gue makan,”


“Kalau nungguin kamu pulang, kayaknya emang gitu deh sebaiknya. Nah kalau nungguin kamu makan, itu sebenarnya niat aku pengen temenin kamu. Temenin suami di meja makan itu bagus, Dio,”


“Nggak usah jadi istri yang baik-baik banget ke gue deh, soalnya gue nggak bisa kayak baik banget ke lo,”


“Nggak apa-apa, yang penting aku udah laksanain kewajiban aku berusaha jadi istri yang baik untuk suami aku, masalah dibalas sesuai atau nggak nya, itu urusan kamu sama yang di atas deh,”


Setelah Dio bicara seperti itu, Dio menutup pintu kamar mandi meninggalkan Shena yang terkekeh pelan.


“Kenapa sih nggak senang istrinya jadi istri yang baik? Harusnya Dio senang dong, bukan malah ngomong kayak tadi. Aku berharap dengan baiknya aku ke Dio, Dio bisa baik juga ke aku. Selalu itu yang aku harapin. Ya mungkin sekarang emang belum, tapi aku yakin suatu hari Dio bisa jadi suami yang baik untuk aku,”


Shena berusaha untuk tertidur tapi entah kenapa sulit. Padahal Ia baru tidur sebentar tadi. Suaminya juga sudah menyuruh Ia untuk segera melanjutkan istirahatnya.


Ketika Dio keluar dari kamar mandi, Dio bingung melihat Shena sedang menatap langit-langit dalam diam. Ia pikir Dhena sudah tidur.


“Lo kok belum tidur? Kenapa ngelamun? Ati-ati kesambet lo, ini udah malam,”


Shena menolehkan kepalanya ke arah sang suami kemudian terkekeh. Ia tidak melamun, hanya suka saja menikmati keheningan sambil memandang lurus ke satu objek.

__ADS_1


“Kenapa belum tidur, Shen?”


“Belum bisa,”


“Apa yang lo rasain sekarang?”


“Sakit,”


“Sakit apa? Biar gue laporin ke perawatnya,”


“Sakit kepala, panas, nggak enak pokoknya,”


Dio mendekati Shena setelah Ia menyisir rambutnya sebentar dan meletakkan handuk begitu saja di atas sofa yang tersedia.


“Gue bilang ke perawat ya?”


“Nggak usah, ini wajar,”


“Ya udah makanya tidur, jangan melek mulu mata lo,”


“Belum bisa, Dio. Aku juga mau tidur,”


“Terus mau sampai kapan lo nggak tidur kayak gini?”


Shena menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu sampai kapan bisa kembali tertidur. Yang jelas untuk sekarang Ia belum bisa tidur.


“Perlu bantuan gue nggak?”


“Hah? Maksudnya?”

__ADS_1


“Gue udah janji sama diri gue sendiri, kali ini gue mau jadi suami yang bisa diandelin. Jadi, lo perlu bantuan apa dari gue barangkali bisa bikin lo tidur,”


__ADS_2