Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 25


__ADS_3

Dio mengernyitkan keningnya ketika melihat perempuan yang tak asing baginya sedang bercengkrama sambil berjalan meninggalkan area kantin.


Yang membuat Dio terperangah untuk benerapa saat adalah, Dio melihat perempuan itu berbadan dua. Padahal terakhir Ia lihat, tak ada tanda-tanda kehamilannya.


“Amira,” gumam Dio dengan badan yang membeku menatap ke arah kepergian perempuan itu.


“Kenapa Amira?”


Alih-alih menjawab, Dio malah beranjak dari kursi untuk menyusul mantan kekasihnya yang ternyata sudah hamil. Entah kenala Dio ingin mengejar Amira karena ingin bicara padanya, ada dorongan dari dalam dirinya untuk menghampiri Amira akan tetapi Shena menahannya.


“Eh Dio,”

__ADS_1


Shena menahan lengan Dio yang akan beranjak pergi. Dio berdecak pelan sambil menatap Shena dengan marah.


“Apaan sih?”


“Kamu mau kemana?”


“Gue mau ketemu Amira, barusan gue liat Amira sama cowok, dan dia hamil,”


“Terus kamu mau samperin dia karena apa? Mau bilang rindu, mau balikan, begitu? Kamu liat aemdiri dia udah hamil. Aku nggak bermaksud untuk halangin kamu ketemu sama perempuan yang kamu cinta tapi kamu juga hatus liat situasi. Ini di rumah sakit, dia lagi hamil tadi kamu bilang, dan dia sama cowok. Itu suaminya berarti ‘kan? Kalau kamu samperin Amira, apa suaminya nggak marah? Nggak cemburu? Dan itu bakal bikin masalah juga di antara Amira sama suaminya. Kamu jangan—“


“Dio, aku bukan ikut campur, tapi aku nggak mau kamu jadi kelihatan bodoh di mata Amira. Dia sama kamu ‘kan udah nggak ada hubungan apa-apa lagi jadi nggak perlu ngomong sama Amira. Nanti malah timbul masalah soalnya dia udah punya pasangan, bahkan udah hamil,”

__ADS_1


Dio terdiam sebentar usai mendengar ucapan Shena yang ada benarnya juga. Yang Ia lihat tadi bukan Amira sendiri, Amira bersama laki-laki lain, Amira sedang berbadan dua, dan hubungan mereka juga sudah berakhir, sekarang pun Ia sudah menikah. Ia akan ada di posisi yang salah kalau memaksakan kehendak untuk menemui Amira.


Akhirnya Dio duduk setelah pikirannya dibuat cerah oleh Shena yang tersenyum melihat Dio mau mendengarkan ucapannya. Tidak memaksakan diri untuk menyusuli Amira.


“Maaf ya kalau omongan aku bikin kamu kesal,”


“Nggak, santai aja. Justru gue sadar sekarang. Gue emang nggak seharusnya ngarepin Amira lagi. Dia udah punya yang lain, bahkan lagi hamil. Gue mau lupain dia aja,”


“Aku tau ini berat buat kamu. Tapi apapun yang baik untuk kamu, aku ikut doain, aku ikut dukung. Tapi kalau memang belum bisa untuk lupain Amira, ya jangan dipaksa. Susah untuk lupain seseorang kalau hati emang masih punya perasaan ke orang itu,” ujar Shena dengan bijaknya. Dio memang suaminya tapi Dio bukan miliknya sebab masih mencintai perempuan lain dan untuk melupakannya itu sulit, Shena paham.


Shena tidak akan memaksa. Dio sudah bisa menerima kenyataan bahwa Amira itu bukan lagi miliknya, itu sudah lebih dari cukup untuk Shena.

__ADS_1


“Makasih lo udah ingetin gue, Shen,”


“Nggak perlu bilang makasih, aku cuma nggak pengen aja suami aku jadi dianggap bodoh sama orang lain nantinya. Kalau kamu samperin Amira, belum tentu dia terima kamu, bisa jadi dia minta kamu pergi. Ini di tempat umum, dan Amira nggak sendirian. Kamu bisa dibikin malu sama kereka. Aku nggak mau hal itu terjadi, Dio, makanya aku minta kamu untuk tetap di sini. Kalau memang ada waktu yang pas, kalian kebetulan ketemu lagi, kamu mau ngobrol sama dia nggak apa-apa kok,”


__ADS_2