Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 130


__ADS_3

“Bang, mau sepuluh ya,”


“Apaan tuh? Datang-datang langsung bilang mau sepuluh,”


Dio tertawa mendengar ucapan penjual serabi. Ia segera turun dari sepedanya untuk menunggu pesanan serabinya jadi.


“Ya serabi dong, Bang. Nggak ada yang lain, ‘kan udah langganan jadi tanpa basa-basi langsung ngomong begitu,”


“Oh kirain mau istri sepuluh,”


“Astaghfirullah, ya kali, Bang. Saya diusir nanti kalau macam-macam. Dua aja nggak sanggup apalagi sepuluh,”


“Ah Mas Dio mah sepuluh juga sanggup itu. Banyak duit nya kok,”


“Aamiin aja dulu kalau abang ngomong saya banyak duit, barangkali jadi kenyataan, kalau istri sepuluh nggak deh, Bang. Satu aja nggak abis-abis,” ujar Dio berkelakar.


“Bisa aja nih Mas Dio,”


Dio tertawa sambil menempatkan badannya untuk duduk di sebuah kursi untuk menunggu serabi selesai dibuatkan.


“Kok tumben nggak sama Mba Shena?”


“Dia di rumah, saya cuma sepedaan sendiri aja, Bang,”


“Oh, soalnya lagi hamil ya? Jadi dikurangi pergi-perginya,”


“Yoi, betul banget. Apalagi bawa dua bocah, dia mau sepedaan ya saya bilang nanti-nanti dulu,”


“Bonceng atuh, Mas,”


“Tetap aja nggak bisa tenang, Bang. Takut kenapa-napa, nanti saya yang nyesal. Mau sih ngajak dia sepedaan cuma saya terlalu takut,”


“Kalau jalan pagi sama sore?”


“Kadang mau, kadang juga males,”

__ADS_1


Penjual tertawa dan Ia sudah tahu itu hal yang biasa. Ibu hamil memang sulit ditebak. Terkadang mau melakukan sesuatu bahkan semangat sekali, tapi nanti-nanti belum tentu, sesuai mood nya saja.


“Ini Mas Dio, serabi udah jadi,”


Sio menerima dengan sumringah. Ia curi pandang ke dalam kantong plastik tanpa warna dimana serabi berada.


“Eh kok lebih, Bang?”


“Buat ibu hamil,”


“Waduh, makasih banyak ya, Bang,”


“Yoi sama-sama,”


Dii segera memberikan uang untuk membayar dan Ia langsung pergi begitu saja mengabaikan seruan Bang Olib penjual serabi yang memanggilnya karena uang yang Ia berikan lebih banyak dari harga serabi.


“Mas Dio ini kelebihan,”


“Iya ambil aja,” sahut Dio seraya menoleh dan tersenyum.


“Sama-sama, laku terus ya,”


“Aamiin, makasih doanya,”


Dii naik ke atas sepeda dengan satu kantong plastik berisi serabi yang Ia sangkutkan di stang sepeda. Dio sudah selesai bersepeda, kini saatnya Ia kembali ke rumah dengan oleh-oleh makanan yang semakin jarang ditemukan otu.


****


“Sini, Shofea sama Aunty aja, Cantik,”


“Shena memanggil keponakannya yang tengah menangis digendong oleh mamanya sembari keluar dari kamar.


“Kenapa nangis? Shofea ngambek atau gimana?”


“Iya ngambek dia. Gara-gara kebangun sama papanya yang iseng,”

__ADS_1


“Uh kasian, papa emang ngapain, Nak? Hmm?”


Shena meraih Shofea ke dalam gendongannya kemudian Ia timang-timang supaya Shofea berhenti menangis. Melihat matanya yang merah dan bibir melengkung ke bawah, Shena tidak tega sekali. Hatinya ikut meringis sedih.


“Biasalah, Shena. Bang Sehan ‘kan suka iseng. Anaknya dicium-cium padahal lagi tidur. Akhirnya bangun, ya walaupun emang udah dari tadi tidurnya tapi ‘kan kalau dia belum bangun artinya dia belum puas tidur. Nah akhirnya nangis waktu kebangun,”


“Oh Papa iseng ya, Sayang? Nggak apa-apa, mungkin papanya Shofea gemes banget sama Shofea jadi nggak tahan mau cium. Kalau cium Shofea pas Shofea udha bangun ‘kan takut ya terlalu lama tuh, jadi dicium pa Shofea lagi tidur deh,”


Shena tersenyum melihat Shofea yang masih saja menangis dengan bibirnya yang terbuka memperlihatkan gusi-gusi yang kosong tak berpenghuni.


“Dah, jangan nangis lagi. Nanti jadi berkurang cantiknya, pasti papa juga udah diomelin sama mamanya Shofea ya,”


“Woah itu uda pasti. Aku ngomel, Bang Sehannya malah ketawa-tawa. Dia kadang emang nyebelin. Liat anak nangis juga dia sering ketawa, katanya lucu gemesin ngeliat Shofea nangis,”


“Ayo kita ke bawah aja deh,”


Shena tadinya mau masuk ke kamar tapi Ia ingin meredakan tangisnya Shofea. Jadi Ia bawa anak itu ke lantai dasar, sekalian menunggu Dio yang betah sekali di luar. Belum juga pulang dari bersepeda.


“Nah ‘kan, dibawa jalan, Shofea diam nih, Kak,”


“Iya tau aja dia dibawa keluar kamar,”


“Kayaknya emang bosen di kamar muluk, liatnya itu-itu lagi ya, Nak,”


“Tapi kadang kalau udah bosen di luar juga dia merengek ‘kan, nah begitu dibawa ke kamar mulai diam. Emang Shofea nih udah banyak maunya, Aunty. Dia udah bisa protes,”


“Nggak apa-apa, Sayang. Protes aja selagi mama papa bisa penuhi protesan nya Shofea,”


Tania terkekeh karena Shena memberikan dukungan untuk anaknya supaya tidak sungkan-sungkan protes bila memang ada yang perlu diprotes olehnya.


“Assalamualaikum, teman-teman semuanya,”


“Waalaikumsalam, heboh banget si Mas ya,”


Dii berlari kecil menghampiri Shofea yang tangisnya sudah berhenti. Dan Dio bisa lihat kalau keponakannya itu habis menangis.

__ADS_1


__ADS_2