
“Itu makan buahnya, jangan cuma sibuk sama handphone baca novel aja, Shen,”
Dio meraih benda datar persegi panjang milik tangan istrinya yang sedang asyik membaca kalimat demi kalimat di layar ponsel.
“Mas, aku ‘kan lagi baca novel. Padahal lagi seru-serunya itu lho,”
“Makanya dimakan, apa yang aku suruh makan tolong dimakan, Bee. Jangan susah dong, kamu mau sakit terus? Nggak mau sembuh?”
“Mau dong, Mas,”
“Ya udah buruan makan,”
Shena mengambil buah apel yang sudah dipotong-potong oleh suaminya menjadi beberapa bagian kecil. Dio kelihatannya sudah kesal, mungkin karena Shena memang sulit sekali disuruh memasukkan apapun ke dalam mulutnya, selalu bilang pahit dan tidak nafsu.
“Nggak manis apelnya, Mas,”
“Manis, kamu nggak usah cari alasan supaya nggak makan, barusan aku coba manis kok,”
Shena terkekeh ternyata suaminya tahu idenya untuk menyudahi makan apel sekarang. Alasan sudah kenyang pasti tidak akan diterima Dio karena makanan yang masuk ke perutnya sejak pagi cuma bubur ayam dan juga roti saat siang. Selebihnya hanya minum air putih dan juga susu tapi rasanya sudah cukup mengenyangkan di perut Shena.
“Kamu jangan susah dong kalau disuruh makan, Sayang,”
“Nggak susah, kalau aku susah makan nggak ada yang aku makan dari tadi pagi, buktinya ada,”
“Itupun karena udah dipaksa terus,”
“Biasanya juga nggak kayak begitu, Mas. Ini karena lagi sakit aja,”
“Ya makanya itu. Gimana mau sembuh kalau makan ini itu malas. Alasannya ada aja supaya nggak lanjut makan,”
“Udah kenyang aku, Mas,”
Dio segera menerima mangkuk yang diulurkan sang istri. Tersisa tiga potong buah apel dan terpaksa Ia yang menghabiskan.
“Tidur ya, udah hampir jam sembilan nih. Kamu masih lapar? Tadi bilangnya lapar tapi nggak mau makan apa-apa. Akhirnya aku potong apel buat kamu. Giliran udah dipotong malah dianggurin dulu,”
“Udah kenyang, Mas,”
“Okay kalau perlu apa-apa kayak biasa aja ya, tinggal bangunin aku,”
Shena akan terpejam tiba-tiba Ia ingin buang air kecil akhirnya bangun lagi dan Dio yang bingung kenapa istrinya beranjak bangun akhirnya bertanya.
“Kenapa, Sayang?”
“Aku mau pipis sebentar, Mas,”
“Sini aku antar,”
“Nggak usah, emang aku anak kecil yang kalau mau ke kamar mandi harus diantar, Mas,”
“Ya nggak apa-apa biar aku bisa jagain kamu, Sayang,”
Dio merangkul Shena agar melangkah hati-hati menuju kamar mandi. Keluhan Shena sejak pagi adalah sakit kepala yang belum juga hilang, dan demamnya juga masih walaupun sudah turun. Dio takut istrinya limbung ketika berjalan, jadi lebih baik Ia membantu.
“Sayang, kalau ada apa-apa tuh, bangunin aku. Harusnya mau pipis juga bangunin aja,”
“Ya ngapain bangunin kamu aklau cuma pipis? Aku ‘kan juga bisa pipis sendiri, Mas. Nggak perlu ditemenin sama kamu, Insya Allah aku nggak jatuh,”
“Kamu ‘kan lagi pusing, aku takut aja kamu kenapa-napa pas jalan ke kamar mandi,”
“Nggak usah khawatir, Mas, tenang aja,”
“Kamu larang aku khawatir terus deh, ya gimana nggak khawatir? Kamu lagi pusing begitu kepalanya takut jatuh atau gimana ‘kan, lebih abik jaga-jaga,”
“Insya Allah nggak sampai jatuh kok, kalau emang pusing udah nggak ketahan aku tinggal diam aja dulu,”
Tiba di depan kamar mandi, Shena menyuruh suaminya menunggu di luar saja. Sebab Shena tidak mau suaminya sampai masuk ke dalam menunggunya buang air kecil tapi Dio justru ikut masuk dan hal itu mengundang protes dari Shena.
“Mas, ngapain ikut masuk? mas di luar aja deh,”
“Aku masuk aja, biar aku jagain juga,”
“Nggak usah, Mas. Aku aman, Mas tunggu di luar aja ya biar aku yang masuk, aku malu kalau diikutin sampai dalam,”
Akhirnya Dio menganggukkan kepalanya. Ia keluar lagi dari dalam kamar mandi atas permintaan sang istri.
Dio menunggu di depan pintu kamar mandi sembari memegang tuas pintu, sementara Shena hanya sendiri saja di dalam kamar mandi dan Ia segera buang air kecil karena sudah sangat mendesak.
“Cepetan, Shen,”
“Iya, Mas,”
“Pelan-pelan aja,”
“Iya, ini udah selesai,”
Shena keluar dari kamar mandi setelah membuang air kecil, kemudian Ia berjalan lagi menuju ranjang dirangkul oleh suaminya.
“Mau apalagi?”
Dio bertanya karena Shena tidak jadi berbaring, Ia malah duduk di tepi ranjang menatap nakas yang kosong.
“Aku mau minum,”
“Oh, bentar aju ambil dulu,”
“Maaf ya, aku ngerepotin Mas terus,”
“Eh ngomong apa sih, ya nggak ngerepotin lah, santai aja. Aku yang lupa taruh air minum kamu di kamar, tadi habis aku cuci gelasnya,”
Dio segera mengambil gelas istrinya yang sempat Ia basuh kemudian tidak Ia isi lagi dengan air putih, malah Ia letakkan di rak gelas.
Setelah Dio mengisinya dengan air minum barulah Dio bawa gelas itu ke dalam kamar dan Shena segera menyeruputnya.
“Nah udah enak deh abis minum. Saatnya tidur,”
“Ya, tidur sekarang, nggak usah banyak ini itu lagi, Bee,”
Shena terkekeh karena ucapan Dio yang persis seperti seorang ayah menasihati anaknya untuk segera tidur tanpa banyak melakukan drama supaya tidak tidur.
“Selamat malam, Mas,”
“Malam, tidur yang pulas ya, besok nggak aku bangunin biar bangun sendiri,”
“Emang kenapa bggak mau bangunin aku? Kalau aku bangunnya kesiangan ya dibangunin dong, Mas,”
“Nggak usah, biar kamu tidurnya enak dan bangun sendiri. Kalau udah bangun sendiri itu artinya kamu udah puas tidur, dan kalau belum bangun berarti emang masih merasa kurang tidurnya,”
Dio menutup pembicaraan dengan merengkuh sang istri dan mengecup singkat kening Shena, juga perut Shena setelah itu mengusapnya dengan lembut hingga Shena tanpa sadar cepat sekali terlelap karena merasa nyaman dengan perlakuan Dio.
*****
“Shen, lo nekat banget sumpah. Lo ke sini nggak bilang Pak bos?”
Shena tersenyum lebar memperlihatkan susunan giginya yang rapi ketika mendapatkan pertanyaan itu dari Kalina yang kaget sama seperti teman-temannya yang lain karena kedatangan Shena ke toko dengan perutnya yang semakin kelihatan besar.
“Lo ‘kan semalam sakit ya, Shen? Terus kenapa ke sini? Lo mancing Pak bos marah aja nih,”
“Tapi aku udah sehat kok, Kal. Aku juga udah izin sama ibu mertua aku kok,”
“Beliau ngizinin?”
“Iya, aku ngerengek, aku bilang cuma sebentar aja kok,”
“Astaga ini anak parah banget badungnya. Disamperin sama Pak bos baru tau rasa lo,”
“Ya nggak apa-apa, aku ‘kan cuma mau ke toko aja, aku bosan di rumah terus aku juga nggak ada teman main lagi. Ponakan aku udah pindah soalnya,”
“Oh Shofea udah nggak di rumah?”
“Nggak, dia udah dibawa pindah sama mama papanya. Terus tau nggak sih, kemarin itu dia nangis pas mau pergi kayak yang udah ngerti gitu deh,”
Shena terkekeh menceritakan drama yang dibuat Shofea sesaat sebelum Ia dibawa pergi oleh orangtuanya.
Shofea menangis sampai air matanya mengalir deras begitu Ia akan dibawa masuk ke dalam mobil, alhasil kemarin itu Shofea ditenangkan dulu oleh kakeknya bahkan Ardina dan Sakti turut mengantar ke rumah Sehan.
“Tuh ‘kan dia nggak mau pindah, lo sih, Bang! Kesian banget itu ponakan gue nangis. Udahlah lo aja yang pindah sama Kak Tania anggap pengantin baru, Shofea di sini aja,”
Sampai Dio seenaknya mengambil keputusan supaya abang dan istrinya itu pergi meninggalkan Shofea yang langsung saja tidak mendapat persetujuan dari Sehan.
“Mana bisa begitu, bocah?!”
“Abisnya nggak tega gue dia tiba-tiba nangis, padahal ‘kan dia belum ngerti mau dibawa pindah ya,”
“Udah ngerti dia, soalnya tiba-tiba aja dibawa masuk ke dalam mobil terus orang-orang yang biasa sama dia nggak pada ikut, jadi dia bingung dan sedih juga,” ujar Ardina.
Shofea ditimang oleh Ardina tetap menangis, ketika diambil alih oleh Sakti dan ditenangkan, perlahan anak itu berhenti menangis. Tapi meskipun begitu, Sakti dan Ardina tidak tega bila seandainya Shofea sedih lagi pergi tanpa orang-orang terdekatnya, hanya dengan orangtuanya saja. Maka dari itu Ardina dan sang suami turut mengantar Shofea ke rumahnya, sementara Shena dan Dio tetap di rumah.
“Dadah, Shofea cantik. Sering-sering ke sini ya, jangan anteng di rumah terus,”
Dio mencium pipi Shofea lagi, seolah tak pernah puas padahal sebelumnya sudah berulang kali mencium pipi, kening, hingga hidung Shofea. Shena pun begitu. Berat sekali melepaskan Shofea untuk pindah ke rumahnya.
“Shofea jangan lupa sama Aunty ya. Sering main ke sini ya,”
“Nggak lupa dong, Aunty,” ujar Tania mewakili anaknya yang sedang dalam gendongan sang kakek.
Shena mencium tangan Shofea yang langsung tersenyum hingga membuat hati Shena menghangat.
“Babay, anak cantik,”
“Babay Aunty cantik, Shofea ke rumah dulu ya, nanti sering ketemu Aunty kok,”
Shofea akhirnya berhasil dibawa oleh orangtuanya sekaligus kakek dan neneknya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman yang selama ini menjadi tempatnya tinggal.
“Shen, lo kenapa ngelamun?”
Shena menoleh saat bahunya ditepuk oleh Lala. Shena terkekeh, Ia baru sadar kalau melamun. Barusan Ia tengah mengingat momen kepindahannya Shofea dari rumah.
“Aku jadi kangen Shofea deh,”
“Ya samperin ke sana aja,”
“Iya deh, Insya Allah dari sini,”
“Ntar lagi lo nyusul. Wow papa mama Pak bos sepi banget dong kalau kalian pindah juga?”
“Itu pasti, orang mau ditinggal abang sama kak Tania aja, mereka berat banget. Harus dibujuk susah payah dulu supaya dikasih izin,”
“Ujung-ujungnya orangtua emang bakal merasa kesepian kalau anak udah dewasa dan punya kehidupan sendiri,”
“Kalau Shena mah emang dari awal udah ninggalin nyokap bokapnya ya,”
“Ya, dan itu juga susah banget untuk aku yang apa-apa mama papa, alias nggak bisa jauh dari mereka. Terus harus membiasakan diri hidup sama Mas Dio dan keluarganya yang untungnya baik banget. Nggak ada batasan antara aku sama mertua aku, kami benar-benar keluarga yang rekat banget makanya aku sangat bersyukur bisa gabung di tengah-tengah mereka,”
“Mereka juga pasti bersyukur sih bisa punya mantu dan adik ipar kayak lo, Shen. Karena lo itu baik dan nggak neko-neko orangnya,”
__ADS_1
“Ah kamu bisa aja deh,”
Shena terkekeh menjawil dagu Kalina yang langsung berdecak karena ucapannya yang serius malah ditanggapi dengan bercanda.
“Beneran, Shen. Siapa sih yang nggak mau punya anggota baru baik, sopan, menghargai kayak lo? Semua nya mau punya mantu dan adik ipar macam lo karena ya itu tadi, lo baik, sopan, menghargai, pokoknya nggak neko-neko lah di keluarga mereka, jadi mereka pasti senang banget bisa kedatangan lo, gue yakin,”
“Aku emang nggak neko-neko orangnya? Kamu tau darimana?”
“Ya tau lah, Shen. Kita udah bertahun-tahun kerja bareng. Gue tau gimana lo sehari-hari. Apa yang gue lihat di sini, artinya itu juga yang bakal diliat orang rumah soal gimana lo,”
“Eh jangan salah, aku suka neko-neko juga orangnya, ini buktinya ke toko padahal disuruh istirahat sama Mas Dio,”
Sontak saja pengakuan Shena mengundang tawa teman-temannya. Ada benarnya apa yang dikatakan Shena. Sekarang dia mengabaikan ucapan suaminya yang memintanya agar istirahat saja di rumah tidak perlu sibuk melakukan apapun atau pergi kemana-mana. Kenyataannya Shena terkadang memang keras kepala.
“Kadang neko-neko itu wajar sih, gue juga begitu kok, Shen, suka jajan nggak ketulungan, padahal duit nggak sebanyak sultan. Itu termasuk neko-neko juga ‘kan? Cari uang setengah mati, giliran ngabisin uangnya kalap banget kayak orang udah mau mati,”
Shena mencubit pipi Kalina yang baru saja melempar leluconnya. Tapi memang begitu kenyataannya. Mencari uang susahnya minta ampun, sakit pun merasa wajib untuk cari uang, tapi untuk menghabiskannya bisa dalam sekejap mata karena semudah itu.
“Eh bentar ya, Kak Tania telepon,”
Shena agak menyingkir dari teman-temannya untuk menjawab panggilan dari Tania yang tak biasanya menghubungi di waktu siang seperti ini.
“Assalamualaikum halo, Kak,”
“Waalaikumsalam, Shen kamu lagi sibuk ya?”
“Nggak, Kak. Emang kenapa, Kak?”
“Nggak apa-apa aku kesepian aja mau ngobrol sama kamu,”
“Ya ampun, kasiannya mama Shofea nih. Akhirnya ngerasain kesepian juga ya, Kak? Makanya jangan pindah harusnya, Kak,”
Tania terkekeh Shena meledeknya. Tania ingin mengubah panggilan suara menjadi panggilan video karena Shofea terus menatapnya yang memegang ponsel.
“Shofea kayaknya kangen juga nih sama kamu, dia ngeliatin aku ngomong,”
“Okay, video call aja ya, Kak,”
Setelah berubah menjadi panggilan video, Shena langsung disambut dengan wajah mungil Shofea. Tania sengaja mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Shofea dengan jarak yang agak jauh, Shofea berbaring, sementara dirinya duduk.
“Halo sayangnya Aunty, gimana kabarnya nih? Udah lama nggak ketemu kayaknya ya?”
“Baru juga pisah, Aunty,”
“Eh iya ya? duh, Aunty lupa banget. Soalnya terasa udah lama, nggak enak banget pisah sama Shofea,”
“Aunty kapan-kapan ke sini ya,”
“Nanti Insya Allah,”
“Eh kamu itu dimana, Shen? Kayaknya bukan di rumah deh,”
Shena mengedarkan pandangan sekitarnya. Ternyata Tania sadar bahwa Ia tidak di rumah, Shena memilih untuk duduk di kursi yang berada di teras tokonya.
“Ini aku lagi di toko, Kak,”
“Oh kamu ke toko? Emang udah sembuh, Shen?”
“Alhamdulillah udah kok, Kak,”
“Alhamdulillah syukur kalau gitu. Tapi jangan capek-capek, Shen. Kamu itu sakit kayaknya juga karena kecapekan kali ya,”
“Nggak, Kak. Aku mana mungkin kecapekan. Aku ‘kan belum mulai kerja lagi, bentar lagi sih kayaknya,”
“Hah? Kamu udah mau kerja lagi? Kapan?”
“Bentar kagi, Kak,”
“Sebelum lahiran atau setelah? Kalau saran aku mending setelah lahiran aja, Shen. Aku aja nih masih nggak tega mau lanjut kerja, soalnya pasti ninggalin Shofea,”
“Aku sebelum lahiran deh kayaknya, Kak,”
“Hah? Kamu yang bener aja, Shen. Kamu mau kerja sebelum lahiran? Memangnya dibolehin sama Dio? Kalau saran aku, jangan dulu deh, Shen. Kamu fokus sama kehamilan kamu dulu, jangan mikirin toko dalam waktu dekat,”
“Tapi aku pengen, Kak,”
“Shen, itu ego nya kamu aja yang bosan di rumah, dan kayak mati kehidupannya, padahal sebenarnya kamu sendiri tau yang terbaik buat kamu ‘kan? Dokter aja nyaranin supaya kamu banyak istirahat. Kamu mau mengabaikan saran dari dokter yang tau gimana keadaan kamu dan bayi kamu, Shen? Yang ada di perut kamu itu dua lho, kamu harus mikirin mereka, kalau kamu salah langkah sedikit, yang kasian ‘kan mereka berdua. Aku tau kamu bosan karena kamu biasa produktif sejak gadis, aku juga begitu, Shen, tapi kalau udah hamil, jangan mikirin untuk produktif, tapi lakuin yang terbaik untuk anak,”
Shena terkekeh, Ia berdecak kagum dalam hati. Ternyata Tania peduli sekali dengannya. Terdengar dari kata-kata yang dewasa dan tidak mau menyudutkan Shena, Tania justru memberitahu secara baik-baik apa yang seharusnya dilakukan Shena di urutan nomor pertama, dan yang harus Shena tinggalkan untuk sementara waktu alias di nomor duakan.
“Kakak, kayaknya takut banget kalau aku kerja?”
“Iyalah, aku khawatir sama kamu dan dua ponakan aku itu. Jangan maksain ya, Shen. Kamu dengar aja apa saran dokter. Kasian bayi-bayi kamu lho. Lagipula Dio dan orangtua nggak akan setuju sama keputusan kamu. Aku rasa, yang ada mereka marahin kamu karena anggap kamu itu egois dan keras kepala nggak mau mikirin anak,”
“Iya, Kak, aku paham. Tadi cuma bercanda aja eh nggak taunya kakak anggap serius,” ujar Shena seraya tertawa lepas.
“Aku beneran nggak setuju kalau kamu mau kerja sebelum lahiran, Shen. Menurut aku risikonya besar karena kandungan kamu lemah dan kamu hamil kembar. Ikutin aja apa kata dokter ya, jangan punya pikiran untuk nentang,”
“Okay siap, Kak,”
“Kamu nggak boleh capek-capek, pulang aja sekarang, Shen, Dio tau kamu pergi ke toko?“
“Aku sih belum bilang, tapi kayaknya Mama udah bilang deh,”
“Ih ni anak malah kabur diem-diem. Pasti udah ngira nggak bakal dikasih izin ya?”
“Iya, Kak. Makanya aku pergi aja izin sama bunda, eh Alhamdulillah dibolehin kok, malah tadi diantar ke sini. Bunda pulang karena mau ke rumah temannya yang lagi sakit, tadinya mau sama aku di toko,”
“Oh begitu, ya udah hati-hati ya, Shen, jangan terlalu capek pokoknya,”
Selama bicara, hanya wajah serius Tania yang dapat Shena lihat, karena Tania tengah memberikan pesan-pesan untuk kebaikannya. Sekarang Ia ingin bertemu dengan keponakan cantiknya itu.
“Halo, Sayang, Insya Allah nanti Aunty ke sana ya,”
“Okay, Aunty, ditunggu. Kalau Aunty kecapekan nggak usha dulu, Aunty. Kasian tuh dedek bayinya,”
“Nggak kok, ini udah mau pulang bentar lagi,”
“Jangan naik ojek lho, Shen,”
“Iya, Kak, aku juga takut naik motor,”
“Sama Dio aja ke sininya, kamu minta jemput sama Dio, jangan bepergian sendiri kalau bisa,”
“Iya, Kak. Okay kalau gitu aku tutup dulu teleponnya, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Shena kembali masuk ke dalam tokonya. Ia mengoperasikan komputer untuk membalas-balas pesan dari pelanggan. Rasanya sudah rindu melakukan itu.
“Shen, lo sampai sore di sini?”
“Nggak, emang kenapa, Kal?”
“Nggak apa-apa. Di satu sisi gue senang lo di sini, tapi di lain sisi gue kasian juga sama lo,”
“Kasian kenapa?”
“Lo kalau ke sini nggak pernah mau nganggur, Shen,” celetuk Erik yang diangguki oleh karyawan Shena yang lainnya.
Meskipun untuk sementara waktu tidak bekerja dulu, tapi setiap datang ke toko, Shena selalu pegang ini itu untuk membantu pekerjaannya.
“Istirahat sana, Shen,”
“Kalau istirahat itu aku di rumah, Rik,”
“Lo mau makan apaan, Shen? Biar gue jalan beliin,” tawar Lala yang dijawab dengan gelengan pelan oleh Shena.
Perempuan hamil itu belum terlalu selera makan setelah sakit. Tapi sudah lebih baik ketimbang waktu sakit yang sulit sekali disuruh makan.
“Serius, Shen? Lo nggak mau apa-apa? Emang nggak ngidam?”
“Nggak, aku orang ngidam, La,”
“Oalah, gitu ya. Pantes aja itu badan kecil tetap kecil walaupun bunting dua bayi,”
“Bunting? Kucing kali ah,”
“Iya maksud gue hamil. Badan lo kayaknya cuma beda dikit doang, Shen. Intinya tetap aja kecil,”
“Emang iya ya?”
“Iya, lo liat aja sendiri di kaca kalau nggak percaya,”
“Ya Alhamdulillah nanti setelah melahirkan nggak susah-susah nuruninnya,”
“Lo mau body goals lagi kayak waktu belum hamil, Shen?” Tanya Satria pada Shena supaya topik obrolan mereka tidak habis. Berbincang sambil bekerja itu memang sangat menyenangkan.
“Nggak, sejadinya aja nanti. Kalau balik kayak dulu ya Alhamdulillah, kalau nggak juga Alhamdulillah. Demi anak apa sih yang nggak, masa iya aku mau nuntut. Semua ibu ‘kan ngelewatin fase itu ya. Tapi ngomong-ngomong aku sendiri waktu belum hamil emang nggak body goals, Sat. Aku ‘kan tingginya minimal,”
“Badan lo cakep, Shen! Lah gue apa?” Sahut Kalina yang merasa badannya mulai melar ke samping bukan ke atas. Padahal sebelumnya merasa puas dengan bentuk tubuh, makin ke sini, badannya makin ke sana.
“Aku itu kayak cimol. Kamu bagus, Kal! Kayak barbie,”
“Barbie? Boneka santet kali maksud lo,”
Erik paling kencang tertawa mendengar celetukan Kalina. Shena melirik Kalina dengan malas. Kalina itu bagus bentuk badannya menurut Shena, tapi entah mengapa Kalina minder.
“Tawa lo Rik! Semangat banget ngetawain orang,”
“Nggak, semuanya kayak barbie kok, bener-bener kayak barbie bukan boneka santet atau semacamnya,”
“Halah, sa ae lo, badut ancol,”
“Eh kurang asyem. Gue bukan badut ancol,”
“Terus apa? Iya deh mentang-mentang body goals jadi cowok, dan jadi incaran para betina,”
“Duh jangan gitu ah, jadi malu ‘kan,”
“Eh Tha, selama lo nggak ada di toko nih, Erik udah punya pacar lho,”
Shena tersenyum lebar dengan mata sedikit membelalak. Ia terkejut mendapat berita itu. Antara senang dan tidak percaya dengan kata-kata Satria.
“Beneran nggak sih?”
“Beneran lah, tapi cuma satu bulan aja,”
Nata Shena kian membelalak, tadi Ia mendapat kabar yang membuat hatinya bahagia karena salah satu temannya sudah bertemu dengan pujaan hati, tapi sedetik kemudian dapat kabar yang mengenaskan. Erik hanya pacaran satu bulan bagaimana ceritanya? Shena sulit percaya.
“Masa iya, Rik? Kok cuma sebulan? Emang kenapa?”
“Dia selingkuh, padahal gue tuh ‘kan jomblo lama ya mau cari yang bener-bener sama gue gitu. Eh malah diselingkuhin. Dahlah, makin males pacaran,”
“Ya Allah, turut prihatin ya, Rik,”
__ADS_1
Erik tertawa lepas dan mendengar ucapan Shena yang kelihatannya benar-benar ikut sedih dengan kabar kandasnya hubungan Ia dengan sang mantan kekasih, tapi justru ucapan Shena yang polos itu mengundang tawanya.
“Nggak usah prihatin, Shen. Artinya bagus dong, Tuhan baik sama gue. Berarti itu cewek nggak baik untuk gue,”
“Iya bener, nanti juga dapat penggantinya, Rik, kamu tenang aja,”
“Iya, Shen. Gue juga nggak sedih sih. Justru gue bersyukur bisa dikasih tau secepatnya kalau dia itu nggak sebaik yang gue kira. Untung aja belum lama-lama sama dia,”
“Tapi nyesek ‘kan, Rik?”
Erik mengangguki pertanyaan Satria. Mereka sesama laki-laki dan Satria juga pernah merasakan yang namanya diselingkuhi.
“Sama kayak gue, Njir. Gue malah bodoh banget waktu itu, dia udah selingkuh lama dan baru ketauan setelah satu tahun kemudian,”
“Gila, ternyata karyawan cowok di sini pada sad boy ya,”
“Oh tentu tidak!” Erik langsung menggerakkan telunjuknya tidak setuju dengan ucapan Lala.
“Ya iyalah, orang diselingkuhin begitu kok,”
“Bukan berarti jadi sad boy dong. Banyak cewek lain di luar sana, nggak perlu sad, ya nggak, Sat? Kota mah santuy aja ya. Nanti yang baik juga bakal datang, tergantung kita nya, ya nggak sih?”
“Aku setuju! Jodoh itu cerminan diri. Kalau kita baik, jodoh kota Insya Allah juga baik. Makanya fokus memperbaiki diri dulu deh, daripada dibuat sakit hati lagi,” ujar Shena seraya tersenyum pada dua karyawannya itu. Sama-sama kerja di toko Shena, nasibnya pun sama. Pernah diselingkuhi oleh pasangan.
“Nggak usah pacaran, langsung bablas kawin aja,”
“Kawin pala lo! Nikah dulu, ogeb!” Satria mendorong kepala Erik dengan telunjuknya. Seenak hati mau balas kawin. Sebelum itu harus nikah dulu alias mengucap janji suci di hadapan Tuhan dan saksi.
“Iya maksud gue nggak usah pacaran, langsung bablas nikah terus kawin. Paham ‘kan?”
“Nah iya, itu yang paling bener,”
“Ya udah aku doain ya, semoga segera dapat jodoh, yang bisa langsung diajak ke jenjang yang lebih serius,”
“Aamiin, gue doain lo juga ya, Shen,”
“Eh jangan ngadi-ngadi lo kalau ngomong. Lo doain Shena dapat jodoh lagi? Lah itu Pak bos mau dikemanain? Dia mah udah nikah, udah mau punya anak. Lo pada yang belum tuh,”
Celoteh Lala pada Satria yang baru saja membalas ucapan Dio.
“Kalau gue ada doa khusus, maksud gue tadi, gue doain Shena juga tapi doanya beda nih. Gue doain, Shena langgeng sama Pak bos, lancar lahirannya, terus anak-anaknya jadi anak yang sholeh dan shalihah, begitu maksud gue, La. Makanya jangan asal salah paham dulu, doa baik nggak ada salahnya ‘kan?”
“Iya itu baik banget doanya, makasih ya,”
****
“Assalamualaikum. Halo, Di, udah di jalan jemput Agatha belum? Dia belum pulang ini,”
“Waalaikumsalam, Aku lagi mau jemput, Ma,”
“Oh ya udah, hati-hati ya,”
“Iya, Ma,”
Ardina bisa menghela napas lega begitu tahu kalau menantunya belum pulang juga dari tokonya ternyata karena memang dia belum dibawa pulang oleh suaminya yang akan menjemputnya. Sementara Dio sendiri berharap istrinya benar-benar masih ada di toko. Ia sudah meminta Shena untuk menunggu, tapi takutnya perempuan itu kemana-mana, sebelumnya Shena izin ke rumah Sehan dan Tania hanya seorang diri. Dio tentu saja tidak mengizinkan istrinya pergi sendiri. Ia ingin mengantarkan Shena.
Begitu tiba di toko, Dio langsung keluar dari mobil dan berjalan memasuki toko Shena yang sepi kelihatan dari luar, tapi kalau di dalam biasanya ramai dengan barang.
“Assalamualaikum,”
Kebetulan pintu toko terbuka dan Shena langsung disambut dengan sibuknya para pegawai Shena dalam menyelesaikan pekerjaan.
Mereka yang mendengar salam dari Dio langsung menoleh dan menjawab serentak. “Waalaikumsalam,”
Salah satunya langsung memanggil Shena yang tengah duduk di depan komputer dengan tatapan serius ke arah layar datar komputer.
“Shena, Pak bos datang tuh,”
“Oh iya, makasih udah kasih tau,”
Shena segera menoleh pada sang suami yang tersenyum menatapnya dari depan pintu, sungkan untuk masuk melewati banyak barang-barang yang dijual oleh toko Shena.
“Aku pulang dulu ya,”
“Iya, Shen, hati-hati ya,”
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Shena mengambil tasnya kemudian beranjak dari kursi untuk menghampiri sang suami yang dipersilahkan masuk oleh Erik dan menghampiri Shena yang tadi masih duduk, tapi Dio menolak.
“Serius banget yang lagi kerja bantuin pegawai tadi,” ledek Dio yang mengundang kekehan kecil Shena.
“Iya nih, udha lama nggak chat-chatan sama pelanggan, jadi dari tadi aku deh yang pegang,”
“Untung aja nggak kemana-mana. Aku pikir kamu udah ke rumah abang duluan nggak mau nungguin aku,”
“Ya nggak mungkinlah, Mas. Nanti aku diomelin sama Mas. Tadi datang ke toko aja Mas ngomel,”
“Nggak ngomel,”
“Iya ngomel kok, bilangnya ngapain sih ke toko? Kok nggak istirahat aja? Kamu jangan susah dong kalau dikasih tau tuh. Bukannya istirahat malah ke toko, kamu ngapain aja di sana? Pasti capek-capek ‘kan? Begitu tadi omongannya Mas ke aku,”
Shena memperagakan bagaimana Dio ketika berceloteh panjang lebar melalui telepon tadi, sebelum lelaki itu datang ke tokonya.
“Emang aku begitu ya, Bee?”
“Iya, ya ampun lupa ingatan, Mas?”
“Ya udah deh, aku minta maaf ya, aku tuh terlalu khawatir sama kamu, tapi aku mau marah juga mikir-mikir takutnya bikin kamu nangis terus nanti aku yang merasa bersalah,”
“Tapi Mas tetap ngomel sih tadi,”
“Cuma ngomel aja, Sayang. Aku kalau ngomel ‘kan malah suka diketawain sama kamu,”
“Kita ke rumah Abang sama Kak Tania ya jangan lupa,”
“Okay, mau mampir kemana dulu? Sebelum ke rumah mereka,”
“Nggak mau mampir kemana-mana deh, Mas. Aku mau langsung ke rumah mereka aja soalnya nggak sabar banget ketemu sama Shofea, dan liat rumah barunya Abang dan Kakak,”
“Udah pernah liat waktu itu,”
“Udha agak-agak lupa, Mas. Kayaknya yang sekarang juga udah ada yang diperbarui lagi deh,”
“Iya emang, abang bilang begitu. Ada yang dirombak kalau nggak salah bagian taman belakang nggak jauh dari dapur,”
“Mas tau?”
“Abang yang ngomong,”
“Wuah nggak sabar mau liat, pasti makin keren rumahnya abang dan kak Tania ya,”
“Itu kebanyakan hasil bentukannya Kak Tania. Abang tinggal kasih duit dan terima jadi,”
“Ya emang kebanyakan begitu, Mas. Istrinya yang ngatur ini itu, terus suaminya bagian keuangan sama tinggal terima beres deh, tau-tau rumah jadi dan bagus banget hasilnya,”
“Ya kayak kamu lah ya, tau-tau rumah kita yang nggak ditempatin itu udah ada perabotannya, rapi dna bersih, ternyata jerjaan kamu semua,”
“Nggak, bukan aku yang ngerjain, Mas,”
“Iya tau tapi yang punya inisiatif ya cuma kamu aja,”
“Aku senang nata-nata rumah baru gitu, selalu semangat,”
“Wajar, Sayang. Namanya juga rumah baru, pasti mau dandaninnya semangat empat lima banget,”
“Oh iya ngomong-ngomong rumah, Nada udah dapat rumahnya, Mas?”
“Nggak tau, Bee. Aku nggak mau nanya-nanya dan dia juga nggak pernah hubungin aku lagi deh kayaknya,”
“Hmm baguslah, jadi urusannya sama kamu udha selesai ya?”
“Sebenarnya nggak ada urusan, Bee, cuma dia minta tolong aja. Setelah itu dia nggak ngajakin ngobrol lagi, aku pun begitu dan aku nggak tau sebenarnya dia masih chat aku atau nggak, kalau aku nebak sih nggak, tapi nggak tau juga,”
“Kalau dia masih hubungin kamu padahal kamu udah kasih nomor handphone temannya yang akan bantu dia itu tandanya emang dia mau cari perhatian kamu ya, ‘Mas?”
“Eh jangan ngomong begitu. Ya nggaklah, dia ngapain cari perhatian ke aku. Nggak ada gunanya orang aku udah punya istri dan nggak bakal terpesona sama yang lain mau secantik apapun dia di mata orang,”
“Mas, kalau ternyata dia suka sama Mas gimana?“
“Kenapa tiba-tiba tanya itu sih, Bee?”
“Ya nggak apa-apa, aku penasaran aja gimana tanggapan kamu kalau seandainya Nada beneran suka sama kamu, Mas? Kamu bakal—“
“Aku nggak peduli apapun. Aku tetap fokus sama kamu dan calon anak kita aja, nggak mau ke lain-lain deh,”
“Ya mudah-mudahan aja dia nggak suka sama kamu ya, Mas. Aku nggak rela banget suami aku disukain sama perempuan lain,”
“Ya ampun, Sayang, emang siapa yang suka sama aku sih?”
“Waktu itu Tari, sekarang aku curiganya si Nada,”
“Nggak, kamu jangan mikir begitu dong,”
“Ya udah maaf, wajar aja ‘kan kalau aku takut, Mas,”
“Wajar tapi jangan berlebihan juga. Dia juga tau kalau aku punya istri,”
“Sampe datang ke kantor kamu gitu, aku ‘kan jadi mikir kemana-mana,”
“Iya itu karena chat dia nggak ada tanggapan dari aku, Bee,”
“Iya-iya, aku salah, aku minta maaf,”
“Kamu lagi hamil makin sering overthinking ya,”
“Iya kayaknya,”
“Biasanya juga jarang banget cemburu deh. Tapi aku senang banget kalau kamu cemburu, berasa dicintai banget gitu lho, Bee,”
“Gantian, biasanya kan Mas yang cemburuan,”
“Ya, dan kamu nya santai banget, kamu tuh jarang yang keliatan cemburu,”
“Kadang cemburu kok, Mas, tapi aku nggak nunjukkin aja,”
“Kamu cemburu sama siapa, Sayang?”
Dio tertawa mendengar pengakuan Shena. Selama ini Dio tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, dan entah kapan Shena cemburu.
“Sama siapa aja yang dekat berlebihan sama kamu,”
Dio terkekeh kemudian mengusap pipi Shena dengan lembut. Ia senang mendengar pengakuan sang istri.
__ADS_1