
“Mas, aku mau beli asinan bogor deh,”
“Jadi aku harus ke bogor?”
Shena memutar matanya kemudian mengangguk. Ia punya keinginan yang aneh. Ingin asinan bogor tapi yang asli berasal dari bogor.
“Terus nanti kalau mau rendang, aku harus ke padang? Kalau mau martabak mesir aku harus ke Mesir?“
“Hmm Mas nggak mau ya? Capek ya?”
“Kamu nih suka mau aja tapi nggak dimakan. Aku udah capek-capek belinya, tapi ujungnya malah nggak dimakan, bahkan disentuh pun nggak, kayak waktu itu minta dibeliin martabak eh nggak dimakan sama sekali biasanya juga suka, terus minta dibeliin lontong sayur juga begitu nggak dimakan sama sekali. Jadinya aku males kalau kamu kayak gitu, aku sih mau banget nurutin ngidam kamu, Sayang. Tapi kamu suka nggak mau dimakan apa yang aku beli,”
“Ya udah deh kalau emang Mas nggak mau, nggak apa-apa,”
“Marah?” Tanya Dio sambil tersenyum lembut.
“Hmm? Nggaklah, masa aku marah?”
“Tapi dimakan ya, awas aja kalau nggak dimakan, aku kecewa,”
“Nggak usah, Mas, aku nggak jadi pengen itu,”
Shena merasa bersalah juga karena suaminya belum lama pulang bekerja dan langsung Ia mintai tolong menuruti ngidamnya.
Mungkin kalau Ia makan, Dio tidak akan keberatan. Masalahnya sudah beberapa kali Ia dituruti oleh Dio, tapi sikapnya malah tidak menghargai.
Tapi itu bukan kesalahannya. Memang tiba-tiba saja keinginannya musnah setelah Andra membelikan apa yang Ia mau. Akhirnya Ia biarkan begitu saja tanpa tersentuh.
“Marah ya? Aku beliin sekarang,”
“Nggak kok, Mas. Aku emang udah bikin Mas kesal, maaf ya kalau aku nggak hargai Mas kesannya tapi aku emang udah nggak mau lagi makanya aku biarin gitu aja, aku suruh Mas yang makan,”
“Nggak apa-apa, aku beliin, bentar ya,”
Dio yang sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur selepas mandi, akhirnya beranjak bangun karena ingin memenuhi keinginan istrinya.
“Mas, nggak usah, aku nggak jadi pengen itu,”
“Tadi minta itu, sekarang nggak jadi. Gimana sih maunya?”
Dio kedengaran kesal pada istrinya itu. Shena merengut dan menggelengkan kepalanya pelan. Ia semakin sungkan minta Dio untuk menuruti permintaannya karena Dio sudah kesal begitu.
“Udah buruan mau dibeliin atau nggak?”
“Nggak usah,”
“Nanti kesal kalau nggak aku turutin, tapi aku minta supaya kamu makan ya, jangan dianggurin ya,” ujar Dio seraya mengganti celananya sebelum bergegas pergi keluar meninggalkan Shena yang menangis. Tiba-tiba saja air matanya turun. Padahal Dio tidak marah-marah, Ia hanya diberi peringatan saja supaya makan apa yang dibeli Dio nanti. Tapi perasaannya sensitif sekali.
Ketika Dio masuk kamar karena kunci mobilnya tertinggal, dan Ia terkejut mendapati istrinya yang menunduk dan kelihatan menangis.
“Astaga, kamu nangis kenapa? Hei,”
Dio langsung menghampiri istrinya itu. Ia benar-benar tidak menduga kalau Shena tiba-tiba menangis.
“Kamu kenapa, Bee?”
“Maafin aku ya udah bikin kamu kesel, Mas,”
“Kamu ngomong apa sih?”
“Aku tau Mas kesel, dan aku minta maaf ya, jangan marah ya,”
“Aku nggak marah, renang yang barusan itu aku marah? Okay kalau memang menurut kamu begitu, aku minta maaf ya. Jangan nangis dong, aku nggak tega kalau kamu nangis begini,”
“Aku merasa bersalah, Mas. Jangan marah ya, “
Dio berdecak tidak suka istrinya meminta maaf terus dan mengatakan bahwa Ia dibikin kesal. Ia tidak keberatan sama sekali untuk memenuhi keinginan Shena tapi Ia tidak suka ketika Shena tidak menghargai usahanya untuk memenuhi permintaan itu.
“Maafin aku ya, Mas,”
“Udah, jangan minta maaf terus. Kamu nggak salah dan aku nggak marah sama sekali. Tapi maaf kalau memang kamu kira aku marah,”
“Mas nggak usah kemana-mana, aku nggak mau itu lagi kok,”
“Aku tetap pergi tapi kamu berhenti dulu nangisnya,”
Dio tak henti menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Shena. Baru ditinggal sebentar air mata Shena sudah keluar sederas itu.
“Jangan nangis lagi,”
“Mas nggak usah kemana-mana, maaf udah ngerepotin ya, aku sering banget bikin Mas repot,”
“Shena, nggak boleh ngomong begitu, aku nggak suka ah,”
“Emang bener ‘kan, Mas? Aku udah bikin Mas repot terus,”
“Nggak! Selagi aku bisa turutin semua keinginan kamu pasti aku lakuin,”
“Aku udah nggak pengen lagi, Mas, serius,”
“Aku pergi dulu ya, jangan nangis lagi,”
Dio tetap akan memenuhi permintaan istrinya itu sekalipun katanya tidak ingin lagi.
Dio tidak peduli istrinya lagi-lagi mengatakan bahwa Ia sudah tidak menginginkan asinan bogor.
“Mas, nggak usah ke bogor segala,”
“Tadi kamu maunya begitu,”
“Kamu polos banget, tinggal bilang kalau belinya di bogor padahal nggak ‘kan bisa, Mas,”
“Aku nggak mau bohongin kamu, takut ketauan,”
Shena tertawa karena ucapan Dio yang polos. Takut ketahuan bohong kalau kenyataannya tidak beli di tempat yang diinginkan, padahal sebenarnya bisa saja Dio bohong karena Ia tidak akan tahu.
“Beli di dekat sini aja, Mas. Nah kalau nggak ada Mas pulang ya, aku nggak mau Mas sana,”
“Beneran? Aku nggak apa-apa kok ke bogor untuk beli itu,”
“Nggak usah, Mas sampai sana semuanya udah pada tutup, ini ‘kan udah sore. Kalau emang Mas tetap mau beli itu ya udah beli di dekat sini aja, nggak usah jauh-jauh ke bogor. Okay?”
“Aku tetap mau beli asinan itu untuk kamu tapi aku bakal denger apa kata kamu barusan, aku belinya di dekat sini aja ya, kalau nggak ada aku pulang,”
“Iya kayak gitu aja, Mas, jangan jauh-jauh belinya,”
“Okay, aku pergi dulu,”
Dio menepuk lembut puncak kepala Shena setelah itu Ia beranjak mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar. Sebelum itu Ia melambai pada istrinya dan berpesan agar Shena tidak boleh menangis lagi.
******
“Mas, Tari nggak cari masalah lagi ‘kan ya? Dia nggak suka lagi sama kamu?”
Sambil menikmati asinan yang sudah dibeli oleh Dii dan sempat dimasukkan ke dalam kulkas terlebih dahulu, Shena mengajak suaminya mengobrol, agar Dio tidak fokus saja dengan game nya.
“Kalau masih suka atau nggak, aku juga nggak tau ya, Sayang. Tapi dia sih udah nggak perhatiin aku diam-diam lagi, pokoknya udah aman lah, cuma kalau urusan hati dia ya mana aku tau. Aku juga nggak mau nanya, nanti yang ada dia salah tangkap lagi,”
Shena menganggukkan kepalanya merasa lega. Akhirnya Ia tidak dibuat terbayang-bayang terus dengan yang namanya Tari. Pegawai Dio yang sempat mengaku kalau menyukai Dio dan Dio berniat untuk memberinya pelajaran dengan cara dikeluarkan dari kantor atau, dipindahkan. Akhirnya Tari datang ke rumah menemui Shena untuk meminta bantuan supaya Shena bicara pada suaminya agar lebih berpikir matang sebelum mengambil keputusan sebab Tari merasa butuh sekali dengan pekerjaan yang Ia lakoni sekarang.
“Mungkin dia pikir aku sama kayak target-target dia sebelumnya kali ya. Dia itu ‘kan udah kerja di beberapa perusahaan, dan dengar-dengar juga emang doyan banget sama bos. Mungkin kebanyakan pada ngeladenin dia, nah kalau aku beda. Harusnya dari situ dia mikir sih,”
“Ada aja yang ngeladenin dia? Ih nggak ingat anak istri apa ya?”
Dio terkekeh mendengar istrinya menggerutu tidak habis pikir. Seharusnya Shena tidak heran lagi karena memang banyak yang seperti itu apalagi kalau merasa sudah punya banyak uang dan jabatan di atas.
“Ingat sih ingat, Bee, tapi bodo amat yang penting nafsu ya ‘kan?”
“Tapi untungnya masih ada tuh laki-laki baik dan setia. Aku yakin masih banyak didunia ini,”
“Iya, ‘kan nggak semua begitu. Contohnya aja aku,”
Shena tersenyum mendengar penuturan suaminya yang kini mengerlingkan matanya usai mengatakan bahwa dia termasuk salah satu dari banyaknya laku-laki baik dan setia di dunia ini.
Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh. Tanpa basa-basi Dio yang semula di balkon bersama Shena langsung keluar dari kamar untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya itu.
“Eh Mama, kenapa, Ma?”
“Itu ada Arun yang datang,”
“Arun? Mau ngapain lagi dia datang? Pengen ngobrol lagi sama Shena?”
“Iya katanya sih begitu,”
Dio berdecak pelan. Entah hal apa lagi yang mau dibicarakan oleh lelaki itu. Ada saja yang mau dia bicarakan dengan Shena seolah urusan mereka tidak ada habisnya.
“Ya udah biarin aja kalau dia mau ngomong sama Shena, kamu ikut aja temuin dia, biar nggak cemburu,”
“Maksud aku, kenapa sih dia ganggu mulu, Ma?”
“Nggak ganggu mulu ah, perasaan kamu aja itu. Cepat kasih tau Shena kalau Arun datang,”
Dio menganggukkan kepalanya malas-malasan. Sebenarnya enggan memberi tahu Shena tapi nanti Shena salah paham lagi. Dipikirnya Ia tidak mengizinkan Shena untuk berinteraksi dengan orang lain alias mengekangnya.
Dio menghampiri Shena di balkon yang masih asik dengan makanannya sambil bermain ponsel.
“Kenapa, Mas? Mama ngomong apa?”
Shena melihat sosok Ardina yang ada di depan pintu kamar tadi, akan tetapi Ia tidak tahu apa yang dibicarakan Ardina pada putra bungsunya itu.
“Itu ada Arun di bawah,”
“Arun? Emang ada apa? Kok datang?”
“Ya mana aku tau. Mau ngobrol sama kamu katanya. Butuh teman ngobrol lagi kali,” ujar Dio.
Shena segera beranjak dan langsung meraih tangan suaminya untuk Ia ajak keluar kamar menemui Arun juga.
“Kenapa ajak aku?”
“Ya biar enak ngobrolnya bertiga,”
“Kali aja dia mau ngobrol sama kamu aja, Bee,”
“Iya tapi aku mau ajak kamu masa nggak boleh?”
Dio dan Shena langsung duduk di kursi ruang tamu yang berhadapan dengan posisi Arun sekarang ini.
“Sorry ganggu waktunya. Gue ke sini mau balikin uang yang udah gue pinjam ke Shena,”
Dii menatap Arun dengan datar. Sudah dikatakan tidak perlu dikembalikan, tapi dia keras kepala rupanya.
“Nggak usah, lo pakai aja. Bukannya udah dibilangin sama Shena kalau itu nggak perlu dikembalikan?”
“Iya Shena udah ngomong sama gue. Kata dia, lo nggak mau gue kembaliin uangnya,”
“Iya memang, lo pakai aja. Lo nggak usah kembaliin, gue sama Shena tulus bantu lo kok,”
“Nggak lah, gue emang udah niat untuk bayar, itu ‘kan atas nama pinjam, gue minta nomor rekening nggak dikasih-kain sama Shena,”
“Run, dengar ya, kalau gue bilang nggak usah dikembaliin, ya udah nggak usah. Lo pakai aja untuk bantu biaya pengobatan nyokap lo, kami berdua memang tulus mau bantu. Menurut lo atas nama pinjam tapi gue sama Shena nggak mau lo kembaliin uang itu,” lugas Dio yang benar-benar tidak mau Arun mengembalikan uang yang telah dipakainya. Saat itu Ia pinjam, dan sekarang ingin dikembalikan, tapi Ia tidak mengizinkan.
“Kalau begitu terimakasih banyak,”
“Sama-sama, semoga nyokap lo cepat sembuh ya, gue titip salam,”
“Okay, thanks doanya,”
“Hmm lo mau ngobrol sama Shena? Gue minggir dulu,”
“Oh nggak-nggak! Gue mau langsung balik. Gue pamit dulu, Assalamualaikum,”
Dio dan Shena yang sedari tadi tidak banyak bicara, hanya menganggukkan kepalanya saja ketika suami bicara, kini turut mengantar Arun keluar bersama Dio juga.
“Hati-hati, Run,” pesan Shena pada temannya itu.
“Iya, sekali lagi terimakasih banyak ya,”
“Kalau bisa, setiap lo butuh bantuan lewat gue aja,”
Shena menoleh bingung mendengar ucapan suaminya. Apa bedanya minta tolong pada dirinya atau Dio? Sama saja sebenarnya, entah kenapa Dio malah meminta seperti itu pada Arun.
“Gue tau lo cemburu ya?”
“Ya ‘kan lebih enak juga minta bantuan sama gue. Nggak usah ke istri gue,”
“Lo masih anggap gue saingan?”
“Ya iyalah, lo kayaknya masih aja nggak nyerah nih,”
Arun terkekeh menepuk bahu Dio yang baru saja melampiaskan rasa kesalnya. Kelihatan sekali kalau Dio belum bisa menghilangkan rasa cemburunya, masih menganggapnya saingan.
“Lo itu hiar gimanapun musuh gue, Run,”
Arun justru merangkul singkat bahu Andra, Shena yang melihat itu agak kaget juga. Tapi jujur Ia senang karena dengan sikap Arun yang seperti itu, bisa membuat Dio luluh.
“Nggaklah, lo tenang aja,”
“Gue balik ya,”
“Ya, ingat kata gue barusan,”
“Jadinya lo nyuruh gue minta bantuan ke lo kalau butuh apa-apa karena lo cemburu?”
“Selain itu, gue lebih menjamin bisa nolongin lo, lah kalau Shena ‘kan belum tentu. Lagian ujung-ujungnya dia bakal ke gue dulu,”
“Kalau bisa, gue nggak mau repotin kalian lagi,”
“Jangan ngomong begitu. Dengar kata gue aja,”
Arun menganggukkan kepalanya dan memasang sikap hormat. Setelah itu Ia masuk ke dalam mobil usai melambai singkat pada sepasang suami istri itu.
******
“Anak kita yang lahir ‘kan Insya Allah laki-laki dan perempuan. Aku mau mulai cari-cari nama boleh nggak sih, Bee?”
Shena menganggukkan kepalanya. Dio sudah mulai mencari perhatian dengan berbaring di atas pahanya yang tengah membaca novel. Padahal baru juga membaca. Ia pun sibuk dengan novel karena suaminya yang tengah bekerja.
“Boleh aja untuk cari-cari yang bagus. Aku aja udah mulai cari kok, Mas,”
“Namanya yang hampir mirip atau gimana?”
“Ya…terserah kamu, Mas. Kalau aku sih carinya yang hampir mirip. Semuanya bagus jadi aku bingung pilihnya, Mas,”
“Iya emang milih nama itu bikin dilema banget sih,”
“Kok Mas tau?”
“Ya tau lah, soalnya ‘kan banyak pilihan sementara anak kita cuma dua. Pengen semua dipakai tapi ‘kan nggak mungkin ya,”
Shena terkekeh, mana mungkin semua nama yang menurut mereka bagus dijadikan sebagai nama anak mereka.
“Aku pengen nama anak kita nanti depannya huruf A, kira-kira kamu setuju nggak?”
“Hmm boleh aja, aku setuju, tapi kalau ada yang lebih bagus dan baik dari segi arti dan lain-lainnya pakai huruf lain, boleh ‘kan?”
“Iya boleh banget, tapi aku berharapnya sih dapat yang paling bagus huruf depannya A. Biar jadi empat A kita nanti,”
“Oh jadi aku A, Mas juga A, terus anak-anak kita nanti juga A?”
“Iya bener, lucu ‘kan jadinya? Ada empat A,”
“Setuju-setuju, semoga ada yang cocok ya,”
Aku mau minta sumbangan nama dari Ayah, eh Ayah nggak mau nyumbang katanya, Bee. Karena kita pasti pinter cari nama,” ujar Dio bercerita mengenai ayahnya yang malah mengomeli dirinya karena meminta tolong agar ayahnya itu menyumbang nama untuk anaknya nanti.
“Kayak nggak bisa cari nama aja kamu nih. Pasti kamu sama Shena lebih pintar lah cari nama untuk anak kalian. Jangan disumbang-sumbang begitu ah. Kayak nggak jago aja cari nama, ayah yakin apa yang dikasih sama kalian pasti bagus,” Dio ingat sekali dengan kata-kata dari ayahnya tempo lalu, ketika Shofea baru saja lahir.
“Ayah maunya kita aja yang kasih nama anak, ayah yakin pasti bakalan bagus, pokoknya begitulah intinya,”
“Padahal pengen juga ada campur tangan kakek atau neneknya ya, Mas,”
“Iya, tapi aku setuju sama kata-kata ayah. Lebih baik kita aja yang kasih nama, karena kita yang tau mana yang paling bagus,”
Dio mulai menjelajah internet untuk mencari nama-nama bayi. Ia mencari yang menurutnya menarik tapi yang paling penting adalah artinya.
__ADS_1
“Nanti kita beli buku nama aja biar makin banyak yang jadi pertimbangan,”
“Okay, ingetin ya, kalau kita ke mall dan lewat toko buku, langsung aja mampir. Biasanya ‘kan suka ada tuh buku-buku tentang bayi atau kehamilan,”
“Iya, sekalian aku nambah koleksi novel ya,”
“Iya boleh, apa sih yang nggak boleh untuk istri aku nih?”
“Yeayy baik banget Mas ya,”
“Kalau dari internet aja kurang menurut aku. Yang keluar kayaknya itu-itu lagi dari artikel satu ke artikel lain,”
“Nggak kok, Mas. Banyak juga di internet, cuma emang biar lebih banyak pilihan makanya kita beli buku nama bayi aja,”
*******
Dio berjalan dengan gagah seraya menggenggam tangan istrinya memasuki sebuah ballrooom hotel dimana sebuah acara pernikahan teman kuliah Dio dilaksanakan.
“Wuih rame banget, Mas. Di sini teman kuliah kamu banyak ya? Coba kamu liat wajahnya satu persatu, Mas,”
Dio segera mengamati sekitar dan ya, Ia menemukan banyak wajah yang masih Ia kenali, sampai sekarang.
“Iya ada beberapa yang aku kenal,”
“Ada mantan kamu nggak?”
“Hmm belum ketemu sih,”
“Hah? Belum ketemu? Jadi ada kemungkinan ketemu ya?”
Dio terkekeh melihat mata Shena yang sedikit membeliak kemudian bibirnya melengkung ke bawah. Sudah Shena duga sebenarnya. Baru kali ini sepertinya Ia diajak Dio ke acara teman kuliah Dio, dan pasti akan bertemu dengan orang-orang di masa lalu Dio, tidak terkecuali mantan kekasih Dio.
Mereka menemui pengantin. Agung, kini bersanding dengan Shandy, wanita pilihannya. Agung tampak senang melihat Dio datang.
“Wey, seneng banget lo datang, Di. Thanks ya, udah lama banget kita nggak ketemu,”
“Iya, selamat ya, Gung, Shan. Semoga jadi keluarga yang samawa, langgeng terus dan cepat dapat momongan,”
“Thanks banget doanya,”
“Ajak bini nih,” ledek Agung seraya terkekeh dan menepuk bahunya.
“Iya, udah tau namanya belum?”
“Belum, siapa?”
“Aku Shena,” ujar Shena memperkenalkan dirinya dengan sopan dan hangat seperti biasanya.
“Oh, hallo Shena,”
“Okay, sekarang gabung aja dulu sama yang lain ya, gue masih harus temuin tamu,”
“You, gue cabut dulu,”
“Kok cabut sih, bro? Duduk-duduk sama makan dulu lah,”
“Iya maksud gue, gue mau duduk dulu, lo layanin tamu deh,”
“Iya silahkan,”
Konsep resepsi pernikahan Agung ini non formal. Agung dan Shandy kesana kemarin menyambangi tamu, sementara Dio dan Shena duduk.
“Kamu mau makan apa?”
“Aku nggak mau makan apa-apa, mau minum aja,”
“Minum apa, Bee?”
“Ice cream,”
“Okay, aku ambilin ya,”
Shena menganggukkan kepalanya. Ia duduk dengan tenang, sementara Dio beranjak mengambilkan ice cream. Ia melihat ice cream dan langsung kepingin.
Di meja yang Ia tempati sekarang sepi, hanya ada Ia saja. Sementara di meja-meja lain ada beberapa orang yang berkumpul menjadi satu dalam satu meja. Kelihatan, kalau mereka saling mengenal dan akrab satu sama lain.
Tidak lama kemudian Dii datang dengan dua cup ice cream di tangannya. Dio segera duduk dan memberikan salah satu cup pada istrinya itu.
“Cuma satu aja, Mas?”
“Iya, satu buat aku,”
“Coba aku diambilin tiga, Mas. Aku kalau es mah nggak pernah nolak, kalau cuma satu kurang deh, Mas,”
“Jangan banyak-banyak, nanti batuk kamu, udah minum itu aja,”
“Aku nggak batuk, Mas,”
“Ya takutnya begitu. Dari semalam minum yang dingin-dingin terus,”
“Tapi beda, Mas. Itu ‘kan es buah,”
“Tapi sama-sama dingin, Sayang, judulnya sama aja. Eh nggak deh, kamu juga minum ice cream semalam. Ngaku aja deh kamu,”
Shena tertawa, Ia pikir suaminya tidak ingat lagi, ternyata masih ingat juga.
“Ya udah aku nyerah deh,”
Shena segera menyantap ice cream dengan lahap. Tidak lama kemudian ice cream itu habis. Matanya langsung melirik ice cream milik suaminya yang dimakan dengan pelan-pelan oleh Dio sebab Dio sambil memainkan ponselnya.
“Kenapa, Sayang?”
“Aku mau ice cream punya Mas,”
“Jangan, tadi aku ‘kan udah bilang kamu minum satu aja, dengar omongan aku ya? Okay?”
“Tapi minta dikit boleh nggak?”
Melihat mata sayu istrinya yang meminta bagian lagi, Dio tidak tega. Akhirnya Ia menganggukkan kepalanya, Ia mengizinkan Shena untuk minta ice cream miliknya.
Shena langsung tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya. Tanpa basa-basi, Shena segera meraih cup ice cream milik suaminya dan Ia lahap juga.
Sudah Ia katakan sebelumnya, yang namanya es atau minuman dingin, Ia tidak akan menolak. Apalagi ice cream, itu favorit nya Shena.
“Sayang, jangan banyak-banyak ya, aku baru minum dikit lho. Aku bukannya pelit tapi takut kamu batuk. Sakit lho batuk kalau lagi hamil. Apalagi kamu sekalinya batuk parah banget,”
“Iya, aku nggak banyak, cuma lima suap aja,”
“Lima suap itu banyak, Shen. Ih kamu nggak kira-kira nih, mau sakit ya? Nanti udah batuk, pilek, kalau lagi hamil sakit-sakitan itu nggak enak lho, Sayang,”
“Emang Mas tau rasanya sakit pas hamil? Emang nggak enak?”
“Ya iyalah, yang nggak hamil aja kalau sakit nggak enak, apalagi kalau lagi hamil,”
“Ya udah nih, aku balikin,”
Shena mendekatkan cup ice cream ke suaminya lagi dengan wajah cemberut. Ia baru juga minta dua suap. Tadinya mau lebih tapi suaminya tidak mengizinkan.
“Ya udah, boleh minta lagi, sini aku suapin,”
“Nggak ah, Mas nggak suka kayaknya kalau aku minta lagi,”
Dio tertawa karena Shena merajuk hanya karena ice cream. Benar-benar menggemaskan sekali istrinya ini.
“Kata siapa aku nggak suka? Nih aku bagi lagi,”
“Beneran nggak apa-apa?”
“Iya beneran, aku suapin nggak?”
Shena kembali mengambil alih minuman dingin itu kemudian Ia menggeleng, menolak disuapi oleh suaminya.
“Nggak us—“
“Halo, Di,”
Shena membuka mulutnya dan sendok ice cream akan masuk ke dalam mulut tapi karena mendengar suara seseorang menyapa suaminya dan kini orang itu duduk di sebelah suaminya, Ia jadi mengurungkan niatnya untuk menyantap ice cream.
“Eh, Nada,”
“Baik, Alhamdulillah, lo sendiri?”
“Gue baik, ini siapa?” Tanya Nada seraya menatap wajah Shena.
“Shena, istri gue,” ujar Dio memperkenalkan Shena pada Nada.
“Bee, ini Nada, teman aku,”
Shena langsung tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya sendiri dan tangannya disambut baik oleh Nada.
“Aku Shena,”
“Hai, Shena. Gue Nada,”
“Ini teman sekelas di kampus,” kata Dio menjelaskan pada istrinya yang pasti masih bingung, Nada ini teman sekelas atau bagaimana, karena kelihatan Nada akrab dengannya, berarti sebelumnya memang mereka kenal dekat.
“Lo cuma sendirian aja?”
“Iya, gue udah nggak sama suami gue lagi, Di,”
“Lho, kenapa?”
“Gue ‘kan pisah, udah mau setahun sih,”
“Terus gimana sama anak lo?”
Nada terkekeh mendengar pertanyaan Dio yang menanyakan soal anaknya. Ia belum punya anak, makanya perutnya terasa tergelitik mendengar ucapan Dio.
“Gue belum punya anak, Di,”
“Oh sorry-sorry, gue nggak tau,”
“Iya nggak apa-apa, santai aja,”
“Gue duluan ya, soalnya ada acara lagi,”
Dio menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Nada yang pamit padanya dan juga Shena.
Setelah Nada bergegas pergi meninggalkan mereka berdua, Shena langsung menjawil punggung tangan Dio yang ada di atas meja.
“Itu teman satu kelas sama kamu, Mas?”
“Iya, mantan aku malah, tapi cuma setengah tahun aja pacaran,”
“Oalah, pantes aja akrab banget. Ternyata mantan ya,”
“Iya tapi cuma bentar aja pacarannya,”
Shena tidak pernah bertanya terlalu dalam soal masa lalu Dio. Yang Ia tahu benar soal mantan Dio ya hanya Shena, kakaknya saja. Lebih daripada itu Ia tidak pernah membahasnya, dan Dio sendiri juga begitu.
“Kamu nggak kontakan lagi sama dia, Mas?”
“Nggak, Bee, emang kenapa?”
“Di Whatsapp? Di instagram nggak sama sekali?”
“Nggak ada, orang setelah putus benar-benar jauh, nggak ada kabar-kabaran lagi, tapi hubungan terakhir tetap baik walaupun udah putus juga. Soalnya ‘kan teman sekelas, jadi nggak enak juga kalau diem-dieman ‘kan. Cuma memang lebih jaga jarak aja sih, soalnya nggak lama putus dari aku, dia juga udah langsung punya pacar,”
“Oh, terus kalau Mas sendiri langsung ada pengganti?”
“Nggak ada,”
“Jadi setelah putus dari dia Mas lama move on?”
“Aku memang nggak pernah cepat-cepat mutusin buat pacaran, Shen. Kalau pacaran juga lumayan lama. Dia aja bisa sampai enam bulan, kalau teman-teman aku dulu tuh ada yang cuma seminggu, udah kayak anak kecil pacaran aja ya,” ungkap Dio seraya terkekeh mengingat momen masa mudanya. Sekarang masih muda, tapi waktu masih sangat muda, tepatnya di bangku kuliah.
“Dia sebelum yang terakhir atau setelah terakhir nih?”
“Sebelum lah, setelah yang terakhir kan nggak sama siapa-siapa, udah nancep hati aku di kamu, Shen,”
“Oalah, okay-okay aku paham. Selesai sampai di sini pembahasan kita soal mantan Mas. Aku nggak mau dengar lagi ah,”
Dio terkekeh dan tangannya maju, bergerak untuk mengusap puncak kepala istrinya itu. Yang bertanya Shena tapi giliran Ia menjawab, Shena kelihatannya sedikit kesal. Memang aneh sekali istrinya ini.
“Ayo kita pulang,”
“Ini ice cream kamu belum dihabisin,”
“Ya udah habisin lah sama kamu,”
“Beneran?” Tanya Shena dengan semangatnya. Telinganya langsung lebar begitu mendengar ucapan Dio yang tidak masalah bila ice creamnya Ia yang menghabiskan.
“Iya nggak apa-apa, hanya sekali ini aja, nanti sampai rumah berhenti minum yang dingin, apalagi malam-malam,”
“Okay siap, beneran ini buat aku?”
“Iya, Sayangku,”
“Yeayy makasih, Mas,”
Dio tersenyum tipis melihat istrinya yang bahagia sekali diberikan ice cream. Kebahagiaan Shena memang sederhana. Salah satu contoh adalah ini. Diberikan ice cream saja bahagianya luar biasa.
“Sama-sama. Kamu habiskan ice cream, setelah itu kita pulang ya,”
“Okay siap, Mas,”
Shena menyantap ice cream yang harusnya punya Dio, tapi baru juga diminum oleh Dio, Ia sudah mengambil alihnya.
“Pelan aja minumnya,”
“Enak banget, Mas. Rasa strawberry itu memang paling enak deh, sama kayak vanila. Eh tapi sebenarnya ice cream rasa lain juga enak sih, kayak—-uhuk uhuk uhuk,”
“Tuh ‘kan, aku bilang juga pelan-pelan. Kamu sambil ngobrol juga sih makannya,”
“Aku ambil dulu air putih untuk kamu,”
Shena menggerakkan tangannya menolak namun Dio tetap bergegas cepat mengambil air putih supaya istrinya minum itu selepas menghabiskan ice cream yang manis rasa strawberry itu.
Dio datang dengan satu gelas air putih di tangan, Ia langsung mengulurkan gelas itu pada Shena lalu duduk menatap Shena dengan cemas. Shena masih diam menatap ke depan sambil memegang tenggorokannya.
“Gimana? Sakit ya?”
“Nggak, cuma kaget aja,”
“Hati-hati, Bee, kamu terlalu semangat,”
“Iya, maaf, padahal aku udah hati-hati lho, tapi emang semangat banget dapat ice cream. Mas, nanti beli yang banyak ya, kata dokter boleh aja kok biar dedek bayi besar—“
“Selalu pakai alasan kata dokter. Iya aku tau memang dibolehkan konsumsi ice cream supaya bobot bayi besar, tapi ‘kan nggak terlalu berlebihan juga, Sayang. Apapun yang berlebihan itu dampaknya nggak baik,”
“Iya-iya aku paham,”
“Ya udah terus kenapa masih dilakuin? Udah tau nggak baik, tapi tetap aja semalam minum ice cream sampai tiga cup lho, mentang-mentang ada di kulkas. Kamu kalau udah punya anak, bisa-bisa rebutan ice cream lho. Soalnya kamu nggak mau kalah pasti,”
“Aku suka, Mas, tapi ya nggak rebutan juga kali, Mas,”
“Habisnya kamu sampai keselek begitu, aku ‘kan takut kamu kenapa-napa,”
“Cuma keselek aja, Mas, bukan kejang,”
“Heh ngomongnya!”
Shena langsung melipat bibirnya ke dalam ketika Andra menatapnya tajam seperti ayah yang tengah mengomeli anaknya.
“Hmm enak,” ujar Shena mengalihkan obrolan, supaya tidak tersedak lagi yang dibahas.
“Pelan aja,”
“Iya, ini udah tinggal dikit, Mas. Kamu beneran nggak mau ‘kan, Mas?”
“Beneran, ambil aja,”
Dio membersihkan sudut bibir istrinya menggunakan ibu jarinya. Setelah itu Ia kecap dengan mulutnya sendiri.
“Ih Mas jorok, masa bekas aku di—“
__ADS_1
“Lah emang kenapa sih? Orang dari bibir kamu ini bukan dari bibir perempuan lain,”
Shena terkekeh dengan malu-malu Ia membersihkan seluruh permukaan bibirnya. Setelah itu Ia menyeruput air putih untuk menetralisir rasa manis di mulutnya.
“Dah, yuk kita pulang,”
“Okay, kuy balik,”
Dio meraih tangan istrinya setelah itu mereka jalan bersama keluar dari tempat berlangsungnya acara.
Hampir saja mereka masuk ke mobil, Dio dan Shena mendengar suara perempuan dan laki-laki ribut.
Keduanya langsung menoleh penasaran ke sumber suara yang ternyata adalah Nada dengan seorang laki-laki yang tidak dikenali oleh Dio.
Tadinya Dio mau masa bodo, tapi melihat Nada yang akan ditampar wajahnya, Ia langsung bergerak mendekat mengabaikan panggilan istrinya yang cemas dan tidak ingin suaminya ikut campur dalam masalah orang.
“Heh! Mau main tangan lo? Hah?! Laki bukan?”
Pria itu langsung beralih menatapnya setelah menurunkan salah satu tangan yang akan menampar wajah Nada hingga Nada sudah memegang pipinya sendiri dengan maksud melindungi. Nada pun ikut menatap Dio.
“Lo siapa? Gue nggak ada urusan sama lo,”
“Ya memang gue nggak punya urusan apa-apa sama lo, tapi tolong jaga sikap ya! Dia ini perempuan, lo kalau ada masalah sama dia, tolong selesaikan dengan cara baik-baik bukan dengan kekerasan,”
“Halah banyak bacot lo, njing!”
Dio hampir saja diberikan bogem mentah dari pria itu, tapi beruntungnya Dio berhasil menangkisnya. Shena yang melihat itu memekik kaget dan tanpa basa-basi Ia berlari ke arah suaminya seolah lupa di dalam perut itu tengah membawa dua jabang bayi.
“Eitss nggak kena nih, bro. Lo kurang jago mainnya,”
Dio paling pantang kelihatan takut kalau akan diserang seperti itu oleh orang. Justru Ia akan tampil percaya diri dan optimis. Apalagi ketika Ia berhasil menangkis tinju pria itu, senyum sinis dan menantang terpatri di bibir Dio.
“Lo harus bisa jaga sikap. Sekali lagi, dia itu perempuan. Lo ‘kan lahir dari seorang perempuan, jadi harusnya lo bisa perlakukan dia lebih baik, sama kayak lo memperlakukan ibu lo atau mungkin saudara perempuan lo,”
“Lo nggak usah ikut campur! Dia itu mantan istri gie! Jadi—“
“Nah, apalagi dia cuma mantan lo. Dia masih jadi istri aja nggak berhak lo gituin, apalagi kalau udah jadi mantan. Pintar-pintarlah jaga sikap. Biar bagaimanapun, dia pernah lo cinta,”
Pria itu bosan mendengar nasehat Dio terus, akhirnya Ia melayangkan tendangan tepat di ulu hati Dio. Ketika Dio terjatuh, Shena yang baru tiba di dekat mereka langsung memukul pria itu dengan tasnya.
“PERGI! JANGAN SAKITIN SUAMI SAYA! KANTOR POLISI DI DEKAT SINI, SAYA BAKAL LAPORIN KAMU KE POLISI!”
Bahkan Nada pun ikut melerai. Nada langsung menarik lengan pria itu ketika Ia akan meraih kerah baju yang dikenakan Dio. Dia sudah menginjak perut Dio hingga dia kesakitan, masih akan ditarik juga kerahnya. Benar-benar keterlaluan.
“PERGI! BAJINGAN!”
Shena terus mengusir lelaki itu agar berhenti menyakiti suaminya. Setelah Ia dan Nada mendorong-dorong pria itu agar pergi, barulah dia pergi. Tapi sebelum Ia pergi, Dio sudah dihadiahi tonjokan di bibirnya, dan Dio tak ingin kalah. Ia pun sempat melayangkan kepalan tangannya ke wajah pria itu ketika dia menunduk.
“Ya Allah, Mas! Aku nggak suka kamu ngorbanin diri kamu sendiri gini hanya untuk orang lain! Kamu seharusnya nggak terlalu baik!”
Shena terlalu khawatir sampai akhirnya Ia marah. Pelupuk matanya sudah buram karena kumpulan air mata yang sedari tadi Ia tahan.
Ia membantu Dio untuk duduk. Lelaki itu meringis sambil memegang perut dan juga sidir kanan bibirnya.
“Di, sebelumnya terima kasih lo udah bantu gue, tapi lo seharusnya nggak ngelakuin ini. Dia itu memang kasar, itulah sebabnya gue pisah dari dia, lo harusnya nggak usah ikut campur sampai jadinya malah luka kayak gini,”
“Ayo, Mas, aku antar ke rumah sakit,”
“Nggak-nggak, aku bisa istirahat di rumah, nanti pasti udah enakan kok,”
“Mas—“
“Nggak usah, Bee. Aku baik-baik aja, cuma sakit dikit,”
Dio beranjak bangun dengan dibantu oleh Shena dan juga Nada. Setelah itu keduanya memapah Dio masuk ke dalam mobil di bagian samping kemudi.
“Aku yang nyetir,” ujar Shena yang tidak mengizinkan suaminya mengambil alih kendaraan.
“Terimakasih, Nada,” ujar Shena pada perempuan yang tak lain adalah mantan kekasih suaminya itu.
“Shena, maaf banget ya, gue minta maaf atas nama pribadi dan mantan gue,”
“Ya, aku pamit pulang dulu ya,”
Shena langsung masuk mobil tanpa basa-basi sebab Ia tidak ada waktu lagi. Ia harus segera membawa Dio ke rumah sakit demi memastikan lelaki itu baik-baik saja.
“Ke rumah ya, Shen. Aku nggak mau ke mana-mana,”
“Mas, tadi kamu dihajar sama dia. Bahkan dia injak perut kamu dengan puasnya, aku takut kamu kenapa-napa, Mas!“
Shena kalap sampai dia menyetir sambil bicara dengan nada tinggi. Ia juga kesal dengan Dio yang tidak mau dibawa ke rumah sakit.
*****
“Ya Allah, Mas… Mas…aku nggak habis pikir sama kamu. Kalau aja kamu nggak ikut campur, keadaan kamu nggak akan kayak begini,”
Shena masih menjadi pengemudi mobil yang turut serta membawa suaminya yang baru saja dihajar oleh mantan suami Nada.
Shena kalap sekali dan sampai sekarang masih, walaupun tadi kata dokter Dio baik-baik saja. Dan lukanya juga sudah diobati. Beruntungnya hanya luka ringan saja yang di bibirnya, kemudian sudah diperiksa juga bagian perut yang sempat ditendang dan juga diinjak oleh lelaki itu, semua dipastikan baik-baik saja.
Sekarang Shena mengendarai mobil ke rumah. Hatinya sedikit tenang karena Ia sudah membawa suaminya ke rumah sakit. Meskipun Dio menolak, tapi tetap saja Shena bawa ke tempat perawatan orang sakit itu supaya semuanya bisa dipastikan baik-baik saja.
Sehabis dipukuli itu, Dio kelihatan lemah padahal sebelumnya tidak. Berangkat ke acara, kondisi Dio normal saja.
“Aku nih udah jarang berantem. Jadi lemah, padahal itu belum ada apa-apanya,”
“Belum ada apa-apanya gimana? Kalau tadi dia nggak pergi, kamu udah dihajar habis-habisan sama dia, Mas. Aku nggak mau ya kamu ulangi kesalahan ini lagi. Kamu itu nggak boleh ikut campur urusan orang, Mas,”
“Tapi niat aku ‘kan baik, Shen. Aku mau nolongin orang. Tadinya mah aku mau bodo amat aja, tapi karena dia mau ngelakuin kekerasan sama perempuan dan perempuan itu orang yang aku kenal, makanya aku tolong,”
“Iya aku tau niat kamu baik, kamu mau nolongin teman kamu, tapi aku yang khawatir sama kamu! Kalau kamu kenapa-napa gimana?! Hah?”
“Ssstt udah-udah, jangan kayak gitu, fokus aja nyetir,”
“Ya emang dari tadi udah berusaha fokus,”
Shena melajukan mobil sambil bicara dengan suaminya. Ia tidak ingin Dio mengulangi hal yang sama. Ia cemas sekali melihat Dio dihajar tadi, di lain sisi Ia juga marah pada lelaki itu karena dengan kurang ajarnya mencelakai sang suami.
Mobil yang dikendarai Shena memasuki komplek perumahan. Tidak lama kemudian roda mobil mendarat dengan selamat di garasi rumah.
Shena segera membuka pintu mobil dan keluar membantu suaminya yang sebenarnya bisa keluar sendiri walaupun dengan langkah yang agak sulit sambil memegangi perutnya.
“Kenapa perutnya?”
“Nggak apa-apa, kram kayaknya,”
“Ya udah makanya ayo istirahat,”
“Mas Dio kenapa?”
Security rumah yang menyambut kedatangan mereka langsung bingung melihat Dio yang dipapah oleh istrinya.
“Nggak apa-apa, Pak. Lagi cemen aja, padahal cuma digituin doang,”
“Ih kamu jangan terlalu meremehkan badan kamu. Bukan cemen, artinya memang dia itu keterlaluan nyerangnya,”
“Saya bantu,”
“Nggak apa-apa, Pak. Biar aku aja, makasih ya, Pak,”
“Beneran, Mba? Kan lagi hamil, agak susah bantu Mas Dio,”
“Aku bisa, tenang aja, Pak,”
Shena merangkul pinggang suaminya sementara Dio melingkarkan tangannya di bahu Shena. Ia sudah berusaha jalan dengan normal tapi memang sulit karena perut bagian atasnya masih sedikit terasa nyeri.
Sampai di dalam, rumah sunyi, sepertinya yang lain di kamar. Dio menghela napas lega mengetahui keadaan rumahnya yang sepi tanpa sang bunda yang berkeliaran. Nanti kalau Ardina tahu keadaannya dan tahu penyebab mengapa Ia jadi terluka, Ardina pasti akan khawatir berat dan banyak bicara padanya. Tadi Ia sudah puas mendengar Shena bicara menasehatinya, kali ini Ia ingin istirahat saja tanpa mendengar apapun lagi.
Sampai di kamar, Shena langsung membaringkan sang suami di atas ranjang. Setelah itu Ia membuka kancing kemeja yang dikenakan sang suami.
“Mau aku kompres, Mas?”
“Nggak usah, Bee. Aku baik-baik aja, cuma sakit dikit doang, dan nggak tau kenapa lemes, kayaknya sih karena ngantuk. Enak juga disetirin mobil sama kamu ya, nggak geradakan walaupun panik,”
“Aku kompres aja,”
Shena tetap akan mengompres perut bagian atas suaminya yang katanya masih sedikit nyeri, barangkali bisa membantu mengurangi rasa nyeri.
Shena tanpa mengganti baju merawat suaminya yang niat hati menolong orang tapi malah kena batunya.
“Memang kurang ajar banget laki-laki itu ya. Aku tandain dia, benci banget aku sama dia,”
Dio tersenyum tipis melihat istrinya yang sibuk mengompres sambil bicara. Sampai kapanpun Shena tidak akan terima suaminya diperlakukan seperti itu.
“Dia temperamental banget ya, Mas. Aku nggak bayangin deh jadi Nada yang hidup sehari-hari sama dia gimana. Habis terus kali badannya dia buat ya,”
“Aku juga nggak sangka sih kalau penyebab mereka pisah karena suaminya yang kasar begitu. Baguslah mereka pisah, jadi Nada bisa lepas dari orang kayak dia,”
“Dan untungnya belum punya anak, Mas. Coba kalau udah punya anak, kasian mentalnya. Pasti dia bakal nyaksiin pertengkaran orang tua, kekerasan ayah ke ibunya, terus perpisahan orangtuanya juga. Kasian banget kalau kayak begitu ‘kan,”
“Udah, Sayang. Aku mau tidur,”
“Jangan dulu, ganti baju supaya enak tidurnya,”
Dio menganggukkan kepalanya. Ia segera beranjak duduk dan menanggalkan kemejanya, sementara sang istri mengambilkan pakaian ganti untuk sang suami.
“Perlu bantuan aku ganti bajunya, Mas?”
“Nggak usah, aku sendiri aja,”
Dio akan berdiri dan Shena langsung menahannya. “Kamu mau kemana, Mas?” Shena berdiri di hadapan Dio menahannya agar tidak pergi kemana-mana, dan istirahat dengan nyaman di atas tempat tidur.
“Aku mau ke kamar mandi pipis sekalian ganti baju,”
“Oh, ya udah aku bantu sekarang,”
Shena mendampingi sang suami yang ingin ke kamar mandi. “Udah, sampe luar aja, jangan masuk,”
“Okay, hati-hati ya,”
“Iya, kamu tenang aja sih, aku itu sehat, Bee. Jangan khawatir gitu. Cuma lemes aja kok, bukan karena apa-apa,”
Dio memasuki kamar mandi dengan baju ganti di tangannya. Selain ingin mengganti pakaian yang Ia kenakan sekarang, Dio juga ingin buang air kecil. Supaya tidurnya nyenyak, memang harus melakukan dua hal itu.
“Mas, kamu mau aku bikinin teh hangat nggak?“
“Nggak usah, Bee, aku mau langsung tidur aja,”
Dio langsung keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian kemudian Ia meletakkan baju kotornya di laundry bag dan segera membaringkan badannya di atas ranjang. Shena berjalan menghampiri dan tiba-tiba saja di tengah langkahnya, Ia merasakan nyeri di bagian perut.
Ia meringis dan suaminya itu langsung menoleh. Seketika wajah Dio panik melihat Shena merunduk sambil memegangi perutnya sendiri.
“Bee, kamu kenapa?”
Dio bergerak cepat turun dari ranjang untuk menghampiri istrinya. Tanpa aba-aba Ia menggendong Shena dan langsung dibaringkannya di tempat tidur.
“Sayang, kamu kenapa? Perut kamu sakit? Hah?”
“Iya, sakit, nggak tau kenapa tiba-tiba aja sakit banget, Mas,”
“Ya Allah, kenapa? Yaudah kita ke rumah sakit sekarang ya, itu mungkin efek karena kamu tegang tadi. Makanya aku bilang jangan khawatir sama aku, jangan panik, aku baik-baik aja,”
“Tadi aku bahkan lari datang ke kamu, Mas,”
“Ya Allah, Shena kamu kenapa ngelakuin itu?”
“Aku panik, Mas. Aku udah nggak ingat apa-apa lagi. Yang penting bagi aku cepat sampai di dekat kamu dan bantuin kamu. Aku minta maaf udah salah berbuat kayak gitu,”
Shena bicara sambil meringis. Hal itu semakin membuat suaminya kalut. “Ya udah, mau ke rumah sakit ya? Mau ‘kan?”
“Nggak, aku nggak mau kemana-mana. Tolong ambil minyak kayu putih aja, Mas, biar aku balurin,”
Dio langsung bergerak mengambil benda yang diminta istrinya untuk meringankan rasa sakitnya.
“Ini kram aja,”
“Aku nggak yakin, aku pengen kamu diperiksa dokter,”
“Mas, jangan apa-apa ke dokter,”
“Kamu sendiri aua tadi bawa aku ke rumah sakit padahal aku nggak kenapa-napa,”
“Tapi itu masalahnya beda, Mas. Kalau Mas ‘kan habis dihajar orang, kalau aku nggak, ini sakit kram aja,”
“Yang bener kamu? Jangan ada yang ditutupi dari aku, Tha,”
“Iya, tenang aja, Mas,”
Dio membantu Shena untuk membalur seluruh bagian perutnya yang mulai membesar karena usia kandungan.
“Jangan kayak gitu lagi dong, Shen. Kamu itu emang suka banget nggak ingat lagi hamil,”
“Iya emang aku nggak bisa jaga anak aku, Mas,”
“Gara-gara aku. Maaf ya, kamu jadi begini, padahal harusnya kamu nggak perlu cemas. Aku pasti baik-baik aja,”
“Aneh kamu, Mas. Kamu itu suami aku, gimana ceritanya aku nggak panik liat kamu dihajar begitu sama orang lain?”
Dio mengusap perut Shena dengan lembut setelah itu memperbaiki baju Shena yang sempat Ia singkap barusan.
“Tidur ya, makasih udah nolongin aku tadi,”
“Lain kali jangan begitu lagi, Mas, aku nggak suka kalau kamu nolongin orang tapi malah ngorbanin keselamatan kamu sendiri, kalau bisa nggak usahlah ikut campur masalah orang,”
Dio menganggukkan kepalanya. Shena bukan tidak suka suaminya menolong orang. Hanya saja Shena berpesan pada Dio secara tidak langsung agar Dio tidak lagi ikut campur dalam urusan orang yang tak ada sangkut paut dengan dirinya kemudian menolong tapi malah berakibat fatal untuk dirinya sendiri.
“Iya, aku paham. Sekali lagi makasih udah bolong aku, udah khawatir sama aku. Maaf juga udah bikin kamu panik. Tapi lain kali kamu juga nggak boleh lupa sama keadaan diri kamu sendiri. Harusnya, biarin aja aku mati sekalipun asal kamu baik-baik aja, Shen. Kalau seandainya tadi kamu lari terus jatuh dan kamu sama anak kota kenapa-napa gimana? Aku nggak mau banget kalian celaka, Shen,”
“Mas, jangan ngomong begitu. Semua harus baik-baik aja, Mas ataupun aku pokoknya nggak boleh kenapa-napa. Itulah sebabnya aku khawatir banget waktu liat kamu dipukuli,”
Dio tersenyum tipis. Kemudian Ia menunduk dan mencium kening istrinya itu dengan lembut. Ia berbaring di samping Shena yang sudah merasa lebih baik usia merasakan nyeri di perutnya tari. Nyeri yang tak bisa Ia gambarkan atau tebak penyebabnya apa. Tapi menurutnya itu hanya kram saja.
Dio cemas, Ia tidak akan bisa tidur setelah mengetahui istrinya merasakan sakit tadi. Meskipun sebenarnya Ia mengantuk dan lemah juga, tapi Ia takut terjadi sesuatu pada Shena ketika Ia tidur.
“Tidur, Mas, jangan cuma ngelamun aja,”
Rupanya Shena juga tidak bisa terpejam. Ia menoleh ke samping dimana suaminya tengah berbaring menghadap langit-langit kamar.
“Kamu sendiri kenapa nggak tidur? Masih sakit ya?”
“Nggak kok, udah hilang sakitnya,”
“Benar? Nggak bohong sama aku ‘kan?”
Shena menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya. Sakit semakin tidak bisa Ia rasakan dengan jelas lagi. Shena juga sempat takut sekali, mengingat sebelumnya Ia diserang kecemasan barangkali itu berpengaruh ke kandungannya, dan tadi Ia juga sempat menghampiri Dio dengan langkahnya yang cepat.
“Mas, kamu nolongin Nada hanya karena rasa kemanusiaan atau yang lain?”
Dio langsung mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Shena yang barusan bertanya. Pertanyaan Shena itu membuatnya bingung.
“Maksudnya gimana?”
“Iya aku tanya, kamu nolongin dia karena rasa kemanusiaan aja bukan karena yang lain ‘kan?”
“Yang lain tuh apa maksudnya, Bee?”
“Misalnya kamu masih suka sama dia dan nggak mau dia disakiti sama mantannya,”
Dio melipat bibirnya ke dalam. Ia berdehem sambil beranjak duduk. Shena menatap matanya dengan sorot mencari jawaban.
“Siapapun bakal aku bantu sekalipun dia bukan mantan aku dan kebetulan aku lihat kejadiannya kayak tadi,”
“Aku benar-benar nggak nyangka lho kamu bakal nyamperin mereka yang lagi ribut tadi. Niat kamu baik, Mas, tapi aku tetap nggak suka kalau kamu nolong orang tanpa perhitungan,”
“Iya aku nggak akan kayak gitu lagi,”
Dio mencium kening Shena setelah itu merengkuh Shena dan menyuruh Shena untuk segera memejamkan matanya.
“Kalau ngerasa sakit atau apa, bilang sama ku ya, jangan sungkan,”
“Okay, Mas. Mending Mas juga istirahat aja biar nanti enakan perutnya, nggak sakit lagi,”
“Peluk aku nggak?”
Shena terkekeh kemudian masuk ke dalam pelukan sang suami. Ia menenggelamkan kepalanya di dada Dio dan menghidu aroma yang membuatnya nyaman dan betah lama-lama di sisi Dio.
__ADS_1