
“Apa? kok Mama bilang gitu?”
“Lho, salahnya dimana? Mama ‘kan pengen Shena merasakan apa yang kamu rasakan juga. Kamu pasti happy banget puas-puasin pergi sampai malam, Shena barangkali juga pengen, bedanya Mama temenin, kalau kamu ‘kan pergi ya pergi aja tapi nggak mau ditemenin,”
Ardina tidak habis pikir pada anaknya yang nampak tidak senang ketika Ia mau memberikan kesempatan untuk Shena bisa melakukan hal yang dilakukan oleh Dio.
Dio saja bisa mencari kesenangan di luar rumah sesuka hati, Ardina ingin adil. Ia memberikan kesempatan untuk Shena melakukan hal serupa dengan suaminya tapi berhubung Shena perempuan, yang sudah Dianggap sebagai anaknya sendiri, jadi Ia ingin menemani Shena. Sehingga Shena tetap aman biarpun pulang ke rumah sudah malam.
“Mau ‘kan, Shen? Nanti ya kalau kamu udah sembuh,”
Shena hanya tersenyum. Entah bagaimana nanti tapi yang jelas Shena tipe orang yang lebih nyaman di rumah. Sekalipun pergi ke tempat yang menurutnya nyaman, Ia tidak bisa lama-lama. Karena tempat yang paling nyaman adalah rumah. Shena terbilang sangat jarang keluar rumah untuk bersenang-senang. Butuh keinginan yang sangat kuat, dan suasana hati mendukung kalau Ia mau pergi.
__ADS_1
“Aku biar di sini sama Shena. Mendingan Mama pulang aja biar Mama bisa istirahat, Ma,”
“Nggak, Mama mau di sini,”
“Tapi Papa gimana?”
“Papa ‘kan lagi pulang sebentar ambil keperluannya Shena yang udah disiapin sama Bibi,”
“Ya udah abis Papa antar keperluan Shena, lebih baik Mama pulang. Aku nggak ngusir tapi biar Mama mau istirahat,”
“Mama nggak percaya sama kamu, makanya Mama mau tetap di sini,”
__ADS_1
“Nggak percaya gimana sih, Ma? Aku nggak bakal ngelakuin apa-apa sama menantu kesayangan Mama, kenapa Mama harus sekhawatir itu sih?”
Ardina menatap Dio dengan sengit. Shena sedang sakit, dan Dio ini genar membuat menyakiti Shena dengan sikap dan ucapannya, jadi wajar saja kalau Ia takut Dio melakukan hal itu sekarang.
“Nggak usah ngatur Mama, kamu! Mama mau di sini, emang kenapa? Kamu nggak suka? Mama bisa istirahat dimana aja kok, gampang,”
“Mama, benar kata Dio. Kalau Mama sayang sama aku, Mama lebih baik pulang aja ya. Aku nggak tega Mama harus istirahat di sini, lagian ‘kan aku nggak bakal sendirian, ada Dio di sini yang temenin aku. Jadi nanti setelah Papa sampai sini nganter keperluan aku, Mama sebaiknya pulang aja ya, Ma. Biar Mama istirahat nyaman di rumah. Mama nggak perlu khawatir, ada Dio kok yang jagain aku,” ujar Shena yang tak mau merepotkan orangtua keduanya lebih banyak lagi. Sudah cukup mereka mengantarkan Ia ke rumah sakit, mengambil perlengkapannya. Lagipula sudah ada suaminya yang mendampingi, jadi Ia ingin Ardina dan Sakti tidak merasa khawatir lagi kepadanya.
“Memang kamu yakin Dio nggak bakal kemana-mana? Hmm? Barangkali dia mau kelayapan kalau Mama pulang nanti,”
“Astaga, aku nggak bakal kelayapan. Mama bisa pastiin langsung ke Shena deh. Mama takut banget aku ninggalin Shena,”
__ADS_1
“Oh ya jelas, kamu udah sering nggak menghargai Shena soalnya,”
Dio terdiam tak bisa lagi berkata-kata. Ia yang merupakan suami Shena sudah terlanjur mengecewakan hati Shena jadi sulit untuk dipercaya disaat-saat seperti ini. Padahal tanpa Ardina tahu, Dio sudah berjanji untuk kali ini Ia menjadi suami yang dapat diandalkan.