Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 89


__ADS_3

“Aku tanya mama papa ya supaya jelas? Benar atau nggak pernah ajak dia ke rumah,”


Shena menantang suaminya. Barangkali Dio berbohong, pasti Dio akan merasa ketar-ketir kalau Ia melibatkan ayah dan bundanya itu.


“Ya udah kalau nggak percaya. Emang beneran kok, aku nggak pernah ngajak dia ke rumah,”


“Bohong nih,”


Shena menusuk pinggang suaminya dengan jari telunjung dan itu membuat Dio berjengit kaget. Cepat-cepat Ia bergegas menjauh dari Shena dengan Shofea yang masih Ia gendong.


“Beneran lah, Bee. Aku nggak bohong. Emang seingat aku belum pernah dikenalin apalagi diajak ke rumah,”


“Aku nggak percaya ah,”


Dio tertawa dan Ia tidak mau ambil pusing bila istrinya mau percaya atau tidak. Yang penting Ia sudah berkata jujur. Itu yang Ia ingat, dan itu yang Ia sampaikan pada Shena.


“Jujur aja deh, Mas,”


“Ya aku udah jujur, Sayang,”


Shena akan menggelitik suaminya lagi namun Dio kembali memberi jarak. Shofea yang merasa dibawa berjalan cepat justru terkekeh.


“Lah ketawa dia,”


“Dikiranya kamu lagi ngajakin dia bercanda kali,”


“Iya kayaknya, gemes banget masa ketawa padahal nggak diapa-apain ya,”


“Shofea, suruh Om kamu itu jujur. Buruan, Shofea, biar dia jangan bohong. Udah berapa banyak yang dibawa ke rumah ini, Shofea? Cepat suruh Om jujur,”


“Buset, berapa banyak gimana maksudnya? Emang aku koleksi cewek?”


“Iya Mas ‘kan playboy,”


“Dih enak aja. Sok tau kamu nih,”


“Emang bener Mas tuh playboy, aku tebaknya begitu,”


“Bisa-bisanya nebak tapi pede banget,”


Shena tertawa dan Ia masih sambil makan serabi, cepat-cepat Ia menyelesaikan makannya supaya bisa lebih garang lagi menekan Dio.


“Buruan jujur!”


“Udah jujur,”


“Kalau nggak jujur, aku suruh tidur di luar nih,”


“Ya jangan dong, orang aku udah jujur kok. Beneran belum dibawa ke rumah, Bee,”


“Yaudah aku percaya kalau gitu,”


“Erghh dari tadi seharusnya percaya,”


“Kalau udah diteken sama aku jawabannya masih sama, berarti emang bener jujur berarti,”


“Aku mana pernah bohong sih, nggak pernah, Sayang,”


“Ya udah jangan banyak omong, buruan sini kasih Shofea, aku mau gendong lagi,”


“Eh belum cuci tangan habis makan,”


“Oh iya, okay bentar ya. Habis aku cuci tangan, Shofea kasih ke aku,”


“Emang dia mainan di kasih-kasih,”


“Ih pokoknya gantian, Mas,”


“Iya bawel. Ya udah sana cuci tangan, aku kasih Shofea nanti,”


Shena mengangguk puas mendengar jawaban sang suami. Setelah itu Ia segera bergegas membasuh kedua tangannya sampai bersih sebelum mengambil alih putri cantik Sehan dan juga Tania yang menjadi rebutan antara Ia dan Dio.


Shena kembali mendekati suaminya yang masih menggendong Shofea yang nyaman sekali. Dengan manja anak itu menyandarkan kepalanya di bahu sang paman sambil Dio menggerakkan sedikit badannya.


“Sini Aunty gendong lagi,”


“Bentar-bentar,”


“Ih nggak mau, tadi katanya boleh aku yang gendong,”


“Erghh cerewet ya, nggak bisa banget liat suaminya seneng, udah tau masih belum rela jauh dari Shofea,”


“Jauh? Orang satu rumah juga,”


Shena tersenyum lebar begitu suaminya menyerahkan Shofea kepadanya. “Yeayy Shofea digendong Aunty lagi, berasa gendong boneka,”


“Kamu kalau diliat-liat agak mirip Shofea lho,”


“Nggak ah, mirip mama papa nya lah,”


“Iya itu udah pasti, tapi kamu sama dia juga agak mirip lho, Bee,”


“Yang ada juga kamu sama Shofea yang mirip, Mas. Alis sama hidung mirip, soalnya Abang sama Mas ‘kan juga mirip,”


“Halo kawan-kawan mari olahraga,”


Shena dan Dio sontak menoleh bersamaan ke arah sumber suara yang tak lain berasal dari mulutnya Sehan.


Datang-datang langsung nyanyi dengan riangnya. Kelakuannya itu mengundang tawa Shena sementara Dio mendengus.


“Apaan sih lo, nggak lucu ah,”


“Dih siapa yang ngelawak? Nggak ada yang lawak, lo aja nggak jelas,”


“Eh, gue mau kasih tau sama lo nih ya. Lo ‘kan udah jadi bapak, harusnya bisa dong pengertian sama anak. Lo tuh jangan suka iseng sama Shofea. Dia itu keponakan gue tau nggak? Lo kalau mau macam-macam, jangan sama dia deh mendingan,”


Sehan mengangkat satu alisnya bingung. Kini Dio berdiri di depannya dengan pose tolak pinggang.


“Lah dia yang galak, padahal anak siapa coba?”


“Anak lo lah, tapi lo ngapain bikin dia nangis? Hah? Udah tau anaknya tukang ngambek, eh masih suka cari masalah. Kalau dia lagi anteng tuh, anteng main kek, anteng tidur kek, atau anteng makan kek, lo jangan ganggu! Ngerti nggak? Masa lo tega banget ganggu ponakan gue? Akhirnya dia nangis ‘kan, terus kalau dia nangis dan ngambek sama lo, yang repot siapa? Emaknya lah,”


Sehan terbahak mendengar celotehan panjang lebar dari mulut adik satu-satunya itu. Dio serius memperingatinya tapi kelihatan lucu di matanya hingga membuat perutnya tergelitik.


“Kok lo yang galak sih?”


“Ya gimana gue nggak galak? Lo suka cari-cari perkara. Awas ya kalau lo masih suka gangguin Shofea lagi, biarin aja Shofea sama gue deh, dia nggak kenal bapaknya lagi nanti,”


“Enak aja, nggak boleh lah, dia harus kenal terus,”


“Ya makanya jangan nyebelin lo jadi bapak! Mau lo nggak diakuin sama anak?”


“Ih Mas Dio ngomongnya nih suka sembarangan. Ya nggak mungkinlah Shofea begitu,”


“Tau, mulutnya kadang-kadang emang nggak ada rem banget si Dio,”


“Biarin dia kapok, Tha,”


“Coba gue gendong dulu, dia emang masih ngambek?”


Sehan akan mengambil alih putrinya dari Shena namun anaknya itu merengek. Dio yang melihat itu tertawa.


“Noh ‘kan, dia nggak mau sama bapaknya sendiri,”


“Coba sama lo, emang mau?”


“Mau lah, barusan gue yang gendong,”


“Ya udah coba, nggak usah banyak omong,”


Sehan ingin membuktikan ucapan adiknya itu. Ia tidak yakin Shofea merengek ketika akan digendong olehnya tapi bila dengan Dio dia tidak merengek.


Dio membuktikan ucapannya. Memang Shofea tidka merengek sama sekali, justru dia tersenyum ketika lagi-lagi melihat wajah Dio.


“Yuhu, ada yang panas nih,”


Sehan terbahak dan mencubit lengan adiknya yang kurang ajar itu. Anaknya jadi rebutan. Harusnya Ia sebagai ayah yang lebih unggul, ini malah sebaliknya. Shofea justru memilih pamannya.


“Dia masih ngambek kayaknya, Bang,”


“Iya, Shen. Nggak apa-apa nanti juga balik lagi. Ini karena gue lagi nggak kerja aja jadi nggak manja, coba kalau gue nggak ada di rumah, pasti gue balik-balik langsung minta gendong, langsung senyum-senyum. Uh dasar Shofea, sekarang udah pinter ngambek banget ya,”


“Dia natap gue tuh kayak ngefans gitu lho. Berasa pangeran william gue nih,”


“Ya Allah, bangun woy bangun! Mimpi muluk lo,”


“Lah emang iya. Liat tuh tatapan sama senyumnya. Kayak ngefans banget sama gue. Emang gue seganteng itu sih sebenernya. Sayangnya dia belum bisa ngomong, kalau udah, mungkin dia bakal teriak-teriak bilang ‘Om Dio, aku ngefans banget sama Om soalnya Om ganteng kebangetan’ gue yakin dalam hati Shofea begitu,”


"Sini sama papa, Nak,"


Shofea merengek tidak mau diambil alih oleh Sehan. Akhirnya Dio makin menjadi-jadi meledek abangnya itu.


"Makanya, Bang, jangan maksa anak deh. Ntar dia makin kesel lho,"


"Eh bisa diem nggak? ketawa aja kerjaan lo ya,"


"Lah kalau kerjaan gue ketawa doang, bini gue makan apaan dong?"


"Udah sini pokoknya anak gue,"


"Ya udah ini ambil, Bang. Gue mah nggak pernah larang,"


Dio melepaskan badannya sedikit saja, Shofea langsung merengek. Bagaimana kalau benar-benar lepas. Bisa jadi dia menangis.


"Shofea kenapa sih, Nak? masa papanya ditolak?"


"Makanya jangan iseng, Pa," ujar Dio mewakilkan keponakannya itu. Sehan mendengus dan Ia segera mendaratkan bibirnya di tangan Shofea. Ia cium dengan gemas bahkan Ia selipkan kulit tangan Shofea di antara kedua bibirnya.


"Tuh 'kan lo iseng banget,"


"Tapi dia nggak nangis, Dio,"


"Ya iya tapi jangan digituin, gue tau tangan Shofea tuh udah montok tapi ya jangan digituin juga,"


"Eh lo merhatiin nggak sih? kakinya udah kayak roti sobek,"


Dio terbahak mendengar celetukan Sehan tentang kaki anaknya sendiri. Melihat dua orang laki-laki di dekatnya tertawa, Shofea tersenyum lebar. Seolah dia tahu atau mengerti dengan apa yang tengah menjadi pembahasan antara ayah dan pamannya itu.


"Iya bener, bawaannya pengen gigit. Tapi kalau digigit sayang, nanti jadi abis,"


"Alhamdulillah anak gue udah gemuk, Ndra,"


"Iya dong, dikasih makan sama emaknya. Lo nggak bisa ngasih makan,"


"Apa yang mau gue kasih? air apaan? air teh?"


"Ngeluh dia yang ada,"


"Eh ngantuk tuh. Abis diledekin kakinya kayak roti sobek, dia ngantuk," ujar Shena seraya tersenyum menunjuk Shofea yang membuka mulutnya karena mengantuk dan Sehan langsung menutup mulut mungil anaknya itu.


"Udah mau tidur. Ayo ke kamar, mama di kamar tuh,"


Sehan mengulurkan tangannya. Shofea tidak menolak lagi, artinya anak itu memang sudah benar-benar mengantuk.


"Giliran mau bobo nggak nolak papa gendong ya,"

__ADS_1


"Babay Shofea, selamat bobo,"


"Bang, nanti makan malam bareng jangan lupa,"


"Yoi, nanti gue turun lagi,"


Sehan segera membawa anaknya ke kamar untuk segera terlelap. Kasihan dia sudah menguap tadi, dan begitu ia gendong tidak menolak padahal sebelumnya menolak dan malah lekat sekali dengan pamannya seperti kertas dan lem.


"Nih, Ma. Dia mau bobo, udah nguap tadi. Awalnya nggak mau papa gendong maunya sama Om Andra aja eh setelah nguap baru mau,"


Sehan segera menyerahkan Shofea kepada Tania yang belum lama selesai mandi dan barusan tengah menata tempat tidur Shofea.


"Ngerti dia kalau ngantuk mau dibawa papanya karena dia tau bakal bobo,"


****


"Mas, Nada datang lagi ke kantor kamu?"


"Hah? nggak, Sayang. Emang kenapa? kamu kangen banget sama dia ya? kok tanyain soal dia,"


Dio mencium bahu Shena yang berbaring memunggunginya. Shena langsung bergerak tidak nyaman karena suaminya sekarang sudah mencium lehernya.


"Aku bukan kangen, tapi penasaran aja dia masih datang ke kantor kamu atau nggak. Kata kamu nggak ,kok nggak sih? kamu yakin?"


"Yakinlah, dia sama aku 'kan udah nggak ada urusan apa-apa lagi, Sayang. Jadi ngapain dia datang ke kantor aku lagi coba?"


"Barangkali aja dia kangen sama kamu,"


"Eh sembarangan kalau ngomong. Ya nggak lah, mana ada ceritanya dia kangen aku atau sebaliknya? urusan aku sama dia itu cuma sebatas teman yang dulu emang pernah dekat tapi ‘kan udah masa lalu. Lebih dari itu nggak ada kok,"


"Cie bohong,"


"Lah? beneran aku, kok bohong sih?"


"Memang benar ya kamu blokir nomor telepon dia? coba aku liat, aku nggak percaya kalau nggak ada bukti,"


"Okay, nih liat sendiri ya, Sayang,"


Dio terpaksa beranjak dari posisi berbaringnya demi mencari ponsel pintarnya yang ternyata tidak ada di nakas.


"Kamu liat handphone aku nggak, Sayang?"


"Nggak, aku nggak liat sama sekali. Memang kamu taruh dimana tadi?"


"Biasanya 'kan di nakas, Sayang. Kamu nggak pegang?"


"Nggak, ih nggak percayaan banget,"


"Bukan nggak percayaan, Sayangku. Tapi aku bingung dimana handphone aku, kali aja kamu pegang tadi,"


"Nggak sama sekali, ih cerewet banget ya. Nuduh aja kamu bisanya tuh,"


Dio langsung mencari-cari di sofa, di atas meja rias, di bawah-bawah bantal tidur dan bantal sofa juga tidak luput dari pencariannya tapi entah kenapa Ia tidak berhasil menemukannya.


"Kemana sih? kok nggak ada ya, Sayang,"


"Kamu lupa naruhnya kali, Mas,"


"Ya emang lupa. Kalau ingat mah nggak bakal kayak begini,"


"Terakhir kamu taruh dimana?"


Dio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar lupa dimana Ia meletakkan ponselnya sebelum hilang sekarang.


"Tapi kayaknya nggak jauh-jauh deh, Shen. Tadi seingat aku ada di nakas sebelah tempat tidur kok, kayak biasa,"


"Ya terus kenapa nggak ada sekarang? ketinggalan di kantor kamu kali,"


"Nggak ah, udah aku bawa pulang ke rumah, Shen. Masa iya ketinggalan di kantor?"


"Ya bisa aja. Kamu 'kan sibuk jadi sampai nggak sadar kalau handphone kamu nyelip dimana,"


"Tapi udah aku bawa pulang kok,"


"Tapi kok nggak ada. Pulang kemana dulu nih. Ke rumah ini atau ke rumah yang lain?" tanya Shena seraya menahan senyum gelinya. Dio langsung mengernyit menatap ke arahnya.


"Rumah lain gimana maksud nya, Sayang?"


"Rumah yang lain itu ya bukan rumah ini,"


"Cepat jangan muter-muter ngomongnya, Shen,"


"Rumah yang lain itu ya rumah orang lain,"


"Oh rumah Nada yang kamu maksud ya?"


"Iya barangkali ketinggalan di sana,"


Dio tertawa mendengar kelakar istrinya itu. Shena sekaligus menyindir. Shena ingin tahu reaksi suaminya. Kalau dia panik begitu Ia sindir, artinya memang ada yang ditutupi tapi sejauh ini Dio kelihatan aman-aman saja.


"Aku nggak ke rumah siapa-siapa lah. Kamu jangan ngarang ya, cemburu boleh tapi jangan nuduh, Sayangku,”


"Oh ya?"


"Iya beneran. Habis kerja langsung pulang ke rumah. Dan ke rumah ini ya, bukan ke rumah tetangga atau musuh. Aku jujur beneran,"


"Ya udah bagus kalau kamu jujur,"


"Jangan nuduh dong, Sayang,"


"Nggak nuduh, aku 'kan cuma asal ngeluarin celetuk aja,"


"Tempat aku pulang ya cuma kamu,"


"Aku juga bingung banget kemana handphone aku ya? apa benar-benar hilang?


"Coba cari dulu lebih teliti. Barangkali nyelip?"


"Nggak ada dimana-mana kayaknya,"


"Terus gimana? kamu mau nyerah?"


"Aku bingung mau cari dimana ya?


"Makanya lain kali di kamar ini pakai cctv,"


"Ya jangan lah, Sayang. Itu namanya nggak ada privasi sama sekali dong,"


"Ya habisnya kok handphone kamu nyelip? di kantor kata kamu nggak ada terus kamu juga langsung pulang ke rumah, jadi dimana handphone kamu itu?"


"Kamu nggak iseng 'kan, Shen?"


"Iseng gimana?"


"Ya kali aja kamu ngumpetin,"


Shena langsung tertawa dan Ia beranjak duduk menatap geli suaminya yang berdiri dengan berkacak pinggang, Dio hampir menyerah mencari ponselnya.


"Kamu nuduh aku?"


"Feeling aku nih kamu lagi mau kerjain aku. Bener nggak?"


"Nggak salah ngomong? yang sering kerjain aku itu siapa? kamu 'kan?"


"Diri kamu sendiri kayaknya, Shen,"


"Ya kali aku ngerjain diri sendiri,"


"Kalau nggak ketemu, tinggal beli aja,"


"Ya elah beli handphone mulu kayaknya. Aku nggak mau ah, pemborosan tau, Shen,"


"Iya memang tapi 'kan kamu punya uangnya. Hitung-hitung menyenangkan diri sendiri lah, Mas,"


"Sayang banget beli handphone baru karena yang itu nyelip nggak tau kemana. Yah, padahal aku mau ngasih unjuk ke kamu, aku mau buktiin kalau aku emang beneran udah blokir nomornya Nada, Sayang,”


“Berarti aku simpulin, kamu bohong ya,”


“Bohong gimana? Beneran itu, Shen. Makanya aku mau kasih unjuk karena aku jujur, tapi sayangnya alat bukti nih nggak ada,”


“Nggak ada bukti berarti bohong. Udah gitu aja intinya,”


Dio berdecak tidak terima dikatakan bohong. Padahal Ia benar-benar jujur mengungkapkan bahwa dia memblokir nomor Nada. Ketika akan membuktikannya, ponselnya malah hilang entah dimana.


“Ya udah tidur deh kamu, nggak usah mikirin handphone lagi, besok aja,”


“Lah gimana nggak dipikirin, Sayang. Itu handphone terbilang masih baru. Orang belinya aja waktu kamu ngambek karena Nada, eh sekarang masa udah hilang?”


“Ya habisnya gimana? Biar selesai urusan handphone mending tidur. Besok lagi dicari, Mas,”


Saat Dio akan setuju, besok pagi Ia akan kembali mencari benda canggih dan pintar itu, Dio justru dikejutkan dengan suara denting dari ponselnya yang letaknya sangat dekat dengan posisinya saat ini. Begitu Ia teliti lagi ternyata ponselnya itu ada di bawah bantal Shena.


Shena tertawa melihat tatapan Dio yang garang mengarah padanya. Barusan yang bilang tanpa bukti berarti bohong adalah Shena, ternyata dia yang membuat Dio jadi kesulitan memberikan bukti.


“Ih ternyata sama kamu ya. Parah banget, aku udah nyariin kemana-mana, aku tanya juga ke kamu. Katanya nggak liat, eh nggak taunya malah diumpetin. Niat banget ngerjain suaminya ya,”


“Gimana? Panik nggak?”


“Panik sih nggak, justru aku kesal sama diri sendiri karena aku jadinya nggak bisa buktiin ke kamu kalau aku nggak bohong,”


“Ya udah mana coba liat. Katanya kamu blokir nomor Nada,”


“Cie masih cemburu,”


“Nggak bakal cemburu kalau nggak ada sebab. Kalau cemburu tanpa alasan berarti aku nggak percaya diri dong, aku mengakui kalau dia lebih daripada aku dong,”


“Nggaklah, istri aku yang lebih-lebih,”


“Udah buruan kasih unjuk mana dia buktinya, aku nggak yakin ah,”


Dio langsung mengutak atik ponsel pintarnya untuk memberitahu bahwa dia memang benar-benar memblokir nomor telepon Nada.


“Tuh ‘kan, emang bener ‘kan? Aku mah nggak pernah bohong, Sayang,” ujarnya setelah Ia bisa memberikan bukti bahwa apa yang dikatakannya itu memang benar kenyataan.


“Oh iya benar tuh, tumben,”


“Kok tumben,”


“Maksudnya tumben beneran sinkron mulut sama fakta,”


“Eh memangnya selama ini nggak? Kalau aku bilang cinta berarti faktanya nggak cinta begitu?”


“Bercanda, jangan ngegas gitu jawabnya. Udah malam nih, daripada banyak omong mending tidur deh,”


“Selamat malam, bestie,”


“Hmm malam,”


“Ham hem ham hem aja kamu. Balas yang romantis dong,”


“Nggak jago,” lugas Shena seraya menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya. Dio terkekeh merasa Shena malah mengajaknya bercanda, padahal sebelumnya dia disuruh tidur oleh Shena.


Dio turut menarik selimut sehingga mempertemukan mereka di dalam selimut. Dio tertawa melihat kebingungan Shena.


“Eh kamu dulu pernah main ini nggak sih? Ceritanya di dalam selimut ini rumah gitu, terus sama-sama ngumpet nanti ada monster,”

__ADS_1


“Iya, aku ingat,”


Dio tertawa dan cepat-cepat menutup mulutnya supaya tidak terlalu mengganggu. Karena pelototan tajam Shena juga Ia cepat-cepat menutup mulutnya.


“Jangan berisik! Udah malam tau,”


“Iya maaf, aku nggak sengaja, Sayang,”


“Kamu kebiasaan kalau ketawa suka nggak bisa direm. Ini ‘kan malam, emang nggak takut apa?”


“Nggaklah, ngapain takut. Aku punya Tuhan,”


“Tapi tetap aja jangan berisik soalnya ini udah malam, waktunya tidur bukan ngobrol apalagi ketawa,”


“Siap, Bu bos, saya laksanakan,”


Dio langsung memejamkan matanya untuk tidur, begitupun Shena. Saat mereka hampir terpejam, alarm dari ponsel Dio malah berdering hingga membuat Shena berdecak kesal sambil menggosok telinganya karena terlalu berisik.


“Maaf-maaf, Sayang, aku lupa juga kapan pasang alarm,”


“Buat apa sih nyalain alarm? Ini tengah malam kamu mau ngapain emangnya? Kok minta dibangunin alarm?”


Dio langsung cepat-cepat mematikan alarm yang berdering cukup membuat telinga terus padahal tadinya sudah mau terlelap.


Dio sendiri juga tidak tahu sejak kapan Ia mengatur alarm supaya bunyi pukul sebelas malam. Yang seharusnya tidur habis nonton berdua dengan Shena akhirnya malah ngobrol dan diganggu alarm.


“Kenapa nyalain alarm?”


“Aku aja nggak tau kalau alarm bakal bunyi,”


“Terus siapa yang gituin alarm nya?”


“Ya mungkin aku cuma nggak sengaja, Sayang,”


“Aku kirain kamu pakai alarm supaya kamu bangun mau ngelakuin ritual tengah malam,”


“Ya ampun, ritual apa?”


“Pesugihan,”


“Astaghfirullah, Shena suka ngadi-ngadi mulutnya ya. Mana ada pesugihan,”


Shena terkekeh sambil menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak meledak.


Dio kaget sekali Ia menduga kalau Ia akan melakukan ritual pesugihan.


“Alhamdulillah aku orangnya aman-aman aja, nggak mau pakai cara kotor untuk dapat apa yang dimau, entah itu harta, atau apapun itu,”


“Keren-keren, bagus itu,”


“Iyalah, siapa dulu dong,”


“Orang,”


“Ya emang orang, tapi aku siapa?”


“Mas,”


“Iya tau kalau nama. Maksud aku aku siapa kamu?”


“Suami,”


“Nah itu yang mau aku dengar dari tadi. Lama banget nggak paham-paham,”


Shena memejamkan mata tidak ingin bicara lagi dengan Dio. Tiba-tiba Ia merasa keningnya diusap-usap dengan lembut. Ia membuka sedikit matanya dan melihat Dio menatapnya serius sambil ibu jarinya bergerak mengusap kening Shena tepatnya di tengah-tengah kedua alisnya.


“Kamu kenapa bukannya tidur sih?”


“Aku mau tidurin kamu dulu,”


“Hah?”


“Maksud aku, aku mau buat kamu tidur dulu. Begitu lah intinya,”


“Nggak usah, kamu tidur aja. Besok ‘kan mau kerja,”


“Nggak apa-apa kok, aku iseng sambil nunggu ngantuk,”


“Kamu itu udah ngantuk dari tadi, mending tidur deh,”


Shena mengusir galak tangan suaminya agar tidak lagi mengusap keningnya. Dii akan bekerja besok pagi, harusnya sudah tidur sekarang. Ini malah tidak. Dia bicara terus, setelah itu malah bertingkah. Padahal Ia tidak minta pada Ken untuk mengusap keningnya.


*****


-Lama banget balesnya, Dio. Duh sibuk banget kamu ya?-


DIO meringis membaca balasan direct message dari Nada yang sepertinya protes karena Ia baru saja membalas pesan terakhir Nada dengan mengirimkan nomor telepon temannya yang bisa membantu Nada dalam mencari tempat tinggal atau hunian baru. Ia menyesal sempat memberikan nomor ponselnya kepada Nada tapi sudah Ia blokir supaya Nada tidak bebas menghubunginya, ternyata Nada beralih ke direct message instagram.


-Emang kamu nggak tau soal rumah-rumah yang bagus gitu ya? Aku udah cari sendiri sih, udah ada yang aku taksir juga tapi nggak tau kenapa belum klik makanya aku minta rekomendasi kamu-


-Nggak, aku juga kalau beli rumah minta bantuan orang, mau desain atau renov juga minta bantuan orang. Aku nggak bisa mandiri, Nad- ketik Dio sebagai balasan lagi.


“Mas, sarapan dulu,”


“Iya, Bee,”


Dio segera keluar dari halaman instagram karena istrinya memanggil Ia untuk segera keluar dari kamar untuk sarapan.


“Kenapa senyum-senyum?”


“Nggak, emang siapa yang senyum?”


“Kamu lah, Mas. Kamu kenapa senyum-senyum sambil liat handphone?”


“Oh, nggak apa-apa. Aku lagi chat Nada tadi. Aku ‘kan balas chat dia lama terus dia ngeledek aku sibuk banget katanya. Jadi aku pengen ketawa,”


“Hmm, awas hati-hati, Mas,”


“Kok hati-hati, Bee?”


“Ya hati-hati aja. Ntar senyum lama-lama demen,” ujar Shena dengan datar setelah itu pergi meninggalkan Dio yang sedang menggunakan tali pinggangnya sebelum bergegas ke ruang makan.


Dio terkekeh pelan menyadari kecemburuan Shena. Setelah bicara seperti itu Shena langsung turun ke lantai bawah dan Dio tahu suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


“Ngambek dia? Ampun, jarang cemburu, sekalinya cemburu lucu juga,”


Dio mempercepat persiapannya sebelum berangkat bekerja. Setelah itu barulah Ia keluar dari kamar menuju ruang makan untuk makan pagi.


“Mana Dio?”


Dio menangkap suara mamanya yang bertanya pada Shena. “Masih siap-siap, Ma,” begitu jawab Shena pada ibu mertuanya.


Tidak lama kemudian Dio duduk di ruang makan, bergabung dengan orangtuanya dan juga abangnya.


“Dari tadi ditungguin lama banget nggak datang-datang kamu, Di,”


“Iya maaf, Ma. Baru selesai siap-siap,”


“Ya iyalah baru selesai orang dari tadi main handphone,” gumam Shena yang duduk tepat di sebelah Dio otomatis Dio bisa mendengar ucapan istrinya itu.


“Bentar doang buka handphone, Bee,”


“Aku juga nggak bilang lama,” ujar Shena seraya menoleh dan tersenyum padanya. Meskipun tersenyum, tapi Dio tahu kalau istrinya itu tengah jengkel.


“Ini abang kamu mau pindah lho, Di,”


“Hah? Bang Sehan mau pindah? Sekarang? Kok jadi balik ke Jepang sih? Di sini aja lah,”


“Ya nggaklah, Di. Diangkutin dulu barangnya barulah cabut,”


“Dih kok tiba-tiba sih? Ah nggak asik lo,”


“Kata mama lo tunggu Shofea gede, lah nggak pindah-pindah gue berarti dari sini, nggak enak lah,”


“Yah, kok mau pindah sih, Bang? Gue ‘kan mau sama Shofea terus,”


“Jadi cuma Shofea aja yang lo ingat, Di?”


“Iyalah, ngapain gue ingat lo,”


“Dasar adek kurang ajar,”


“Tiba-tiba banget, Abang. Berarti Shofea nggak di sini lagi nanti? Yah ampun, makin monoton aja hidup aku nanti, Bang,” ujar Shena yang turut keberatan dengan keputusan yang diambil oleh Sehan dan juga Tania.


Sehan terkekeh mendengar penuturan adik iparnya. Memang Shena sudah dekat sekali dengan Shofea. Asal bertemu, pasti Shofea sulit bisa lepas dari Agatha karena terlalu nyaman.


“Nanti bisa ketemu terus kok, Shen, jangan khawatir, kan masih di Jakarta,”


“Tapi nggak bareng-bareng lagi di sini pasti kerasa banget bedanya. Biasanya kalau sore aku suka liat dia mandi, eh nanti berarti nggak lagi?”


“Gue tuh mau mandiri. Di sini selalu aja dibantu apapun itu. Kapan gue sama Tania mandiri? Tau nggak sih, setelah punya Shofea gue pikir bakal berat banget jadi orang tua ternyata nggak juga mungkin karena enjoy jalani nya, ada ayah bunda sama kalian berdua juga yang bantu gue sama Tania, dukung kami untuk jadi orangtua yang baik,”


“Kalau keluarga memang harus saling bantu dong, Bang. Lo jangan ngomong begitu, seolah-olah gue nggak pernah dibantu sama lo. Sama aja, lo dan kak Tania juga sering banget bantu gue sama Shena. Memang begitulah keluarga. Kita sama orang lain aja harus saling bantu, apalagi sama keluarga iya nggak?”


“Iya sih, tapi gue kapan mandiri nya kalau gitu terus ‘kan? Lagian udah punya anak lah, gue malu masih nebeng di sini,”


“Lah, apa bedanya sama gue? Bentar lagi gue juga mau punya anak, Bang,”


“Iya dan lo juga bakal cabut, gue yakin banget, alasannya sama kayak gue, biar hidup mandiri tanpa bantuannya papa mama,”


“Hadeh, dua-duanya memang udah punya rencana kayak begitu ternyata,”


“Sebenarnya udah dari lama ‘kan, Tante yang udah aku anggap jadi Mama? Hehehe,”


“Iya, dan Mama susah setuju dari awal,”


“Jadi Mama nggak izinin?”


“Izinin kalau memang itu yang abang mau. Mama juga nggak bisa melarang keinginan anak selagi itu masih hal positif. Kalau seandainya Abang mau tetap pindah rumah, ya nggak apa-apa. Tapi jangan lupa kalau perlu hal apapun, jangan sungkan ke sini, dan kamu perlu ingat untuk sering-sering ke sini, nggak ada alasan apapun,”


“Iya, Bang, lu jangan lupa sama yang di sini,”


“Eh sebenarnya gue sama Tania udah sempat pindah ke rumah baru kami berdua ‘kan, nah gue lupa sama yang di sini nggak? Buktinya dari Jepang ke sini,”


“Ya nggak sih, malah pas Kak Tania hamil dan dokter suruh banyak istirahat, mama nyuruh kalian tinggal di sini lagi sampai Kak Tania lahiran, dan lo nurut,”


“Nah itu, makanya lo tenang aja. Gue pasti sering datang ke sini,”


“Itu abang belum terlalu lama di rumahnya ya, udah keburu dipanggil mama ke sini lagi supaya boyong Tania lagi, karena mama emang pengen banget dampingi Tania yang lagi hamil,”


“Nah itu dia, Pa. Aku udah kangen banget sama rumah aku itu, Shofea juga belum pernah diajak ke sana,”


“Ya udah, pesan papa, meskipun sudah pisah rumah, tetap harus dekat hubungan kita ya. Mumpung orangtua masih ada, sepupu dekat yang udah kayak adek sendiri cuma satu, jadi jangan jauh-jauh hubungan kita,”


“Iya pasti, Pa. Aku itu butuh banget yang namanya keluarga,”


“Sering bawa Shofea ke sini, mama nggak mau tau,”


“Iya tenang, Ma. Nanti pasti sering diajak ke sini, dia ‘kan pasti kangen sama semuanya,”


“Sesekali boleh nginap sama gue nggak?”


“Lo mau direpotin anak gue, Di? Dia kalau malam suka rewel lho kalau haus. Lo mau kasih apa? Lo punya air apaan? Keringet?”


“Sembarangan mulut lo. Masa Iya gue kasih dia keringet,”

__ADS_1


__ADS_2