
Pagi ini Dio dan Shena masih terlibat perang dingin. Seperti kata Ardina, nanti juga Dio baik sendiri. Jadi Shena ikuti apa kata Ibu mertuanya itu. Dio tak bersuara apa-apa, Shena pun akhirnya mengikuti.
Menurut Ardina Dio hanya cemburu karena Steven mengirimkan oleh-oleh untuknya. Tapi itu sudah berlalu tepatnya kemarin. Seharusnya Dio sudah kembali menjadi Dio yang biasanya di pagi ini.
Tapi ternyata itu hanya perkiraan Shena saja karena disaat mereka sholat bersama saja Dio masih tak acuh.
“Kamu mau kemana?”
Giliran melihat Shena mengambil baju dari dalam lemari, barulah Dio mengekuarkan suaranya.
“Aku mau sepedaan,”
“Aku ikut,”
Secepat kilat Dio menyambar ucapan Shena yang berniat untuk bersepeda pagi ini. Shena langsung mengernyitkan keningnya bingung. Ia tidak yakin suaminya benar-benar mau bersepeda dengannya.
“Kamu mau ikut?”
“Iya,”
“Yakin?”
“Yakin lah, kenapa aku harus ragu coba? Aku mau sepedaan juga. Tunggu bentar, aku ganti baju dulu,”
“Aku juga lagi mau ganti baju kok,”
“Tolong siapin baju aku,”
“Pakai apa kamu?”
“Kaos biasa aja sama celana joger,”
Shena bingung pakaian yang dikehendaki suaminya pagi ini untuk bersepeda. Tadinya mau mengambil baju khusus olahraga, tapi Ia ingin memastikan dulu dan ternyata Dio hanya mau mengenakan kaos dan celana joger saja.
Setelah berganti pakaian, mereka berdua langsung keluar dengan sepeda masing-masing.
“Ini kayaknya kepagian ya?”
“Nggak apa-apa, masih adem banget,”
“Adem sih adem, tapi maish gelap lho ini,”
“Nggak apa-apa, itu udah ada yang lari pagi kok. Udah tenang aja, aku jagain kamu,” ujar Dio menenangkan istrinya yang mungkin ada niat untuk kembali ke rumah.
“Jam setengah enam sepedaan,”
“Ya lagian kamu udah mau siap-siap aja, kirain mau kemana,”
“Abis sholat ‘kan aku bingung mau ngapain. Main handphone bentar aku bosan, akhirnya aku ingat aku punya sepeda, jarang juga dipakai. Ya udah aku pengen sepedaan. Lagian ngapain juga di kamar? Perang dingin sama kamu, nggak enak! Dicuekin, kayak aku punya salah besar aja,”
“Dih, emang siapa yang cuekin kamu sih?”
“Halah nggak ngaku. Tinggal bilang iya aja apa susahnya sih? Emang benar kata Mama ya, kamu bakal baik sendiri. Tadi tuh buktinya. Tiba-tiba udah negur aku duluan. Takut aku pergi dari rumah ya makanya langsung nanya pas aku tadi mau ganti baju,”
“Emang kenapa sih kok cuekin aku? Salah aku apa?”
Sambil bersepeda, Shsna bertanya pada Dio yang saat ini sepertinya sudah mencair. Semua ini karena bersepeda. Shena harus bersyukur dengan ide yang tiba-tiba hadir di pikirannya sendiri. Andai saja Ia tidak punya niat bersepeda, pasti Ia tidak akan ditegur lebih dulu oleh Dio.
“Nggak ada salah. Perempuan ‘kan prinsipnya nggak pernah salah,”
“Ih kok ngomongnya begitu?”
“Ya emang lo nggak ada salah. Yangs akah tuh gue,”
“Kamu cemburu? Kata Mama kamu cemburu. Emang iya?”
“Iya,”
“Hah? Kok cemburu? Kamu cemburu sama Steven ya?”
“Ya,”
“Kok bisa?”
“Ya bisa lah, namanya manusia tuh punya perasaan, jadi otomatis punya rasa cemburu,”
“Ya—maksud aku—gini lho, ‘kan kamu belum—belum cinta sama aku, kok cemburu?”
“Gue nggak tau deh apa namanya yang jelas gue risih liat lo dekat sama laki-laki lain. Gue nggak nyaman, gue kesal, hati gue panas. Paham nggak?”
Nada bicara Dio ketus sekali mengungkapkan apa yang Ia rasakan bila Ia melihat Shena dekat dengan yang lain.
“Tapi aku nggak dekat sama siapa-siapa kok,”
“Lah itu sama si setipen apa namanya kalau nggak dekat?”
“Tapi dekatnya ‘kan sebatas teman aja, Dio. Nggak ada lebih. Kamu boleh ngomong gitu kalau misal kamu liat aku jalan sama dia, gandengan tangan, atau bahkan pelukan. Nah kamu wajar ngomong gitu. Aku pun tau diri tentang kesalahan aku. Nah masalahnya aku nggak ngelakuin yang berlebihan sama dia,”
“Tapi tetap aja, Shena,”
__ADS_1
“Ya udah terus aku harus gimana?”
“Lo emang bersikap biasa aja sama dia, tapi gue tetap risih. Kenapa? Lo nggak tanya kenapa ke gue?”
“Kenapa?”
“Gue tau dia suka sama lo!” Ujar Dio dengan ketus.
“Hah? Suka sama aku?”
Shena terkejut sekali mendnegar ucapan suaminya. Entah darimana Dio dapat informasi itu. Tapi jujur Ia tidak bisa percaya begitu saja.
“Kamu—“
“Dia sendiri yang bilang lewat chat,”
“Lho, kok aku nggak pernah baca pengakuan dia soal dia yang suka sama aku?”
“Ya iyalah lo nggak pernah baca, orang udah gue hapus kok. Kenapa gue hapus? Karena gue muak aja gitu bacanya. Dan gue nggak mau lo baca, karena nanti bisa aja bikin lo jadi naksir ke dia,”
“Astaga, jahat banget sih mikirnya. Kalau aku naksir sama dia, ya udah dari dulu lah aku bareng dia, Dio. Lagian ‘kan udah aku bilangin aku itu nggak tertarik sama dia, ditambah lagi dia beda keyakinan sama aku. Yang bikin aku tertarik dan yakin untuk sama-sama ya cuma kamu, nggak ada yang lain. Tolong deh jangan nyebelin,” ujar Shena dengan lugas dan Ia harap suaminya memahami.
“Ya kali aja ‘kan lo berubah pikiran setelah dapat pengakuan dia kalau dia naksir sama lo. Gue masih ingat banget apa yang dia bilang di chat itu. Dia senang bisa balik lagi ke Jakarta. Tapi dia sedih dapat kabar dari mamanya kalau lo udah nikah. Padahal dia udah semnagat banget mau balik ke rumah. Ya begitulah kira-kira isi chat dia ke lo. Setelah gue baca, gue jijik tau nggak? Udah tau lo itu istri orang, masih berani dia ngomong kayak gitu ke lo. Lewat chat lagi. Apa dia nggak mikir kalau gue liat gimana? Kalau gue salah laham gimana? Emang sakit itu orang. Pengen pernikahan kita hancur kali,” ujar Dio dnegan menggebu-gebu. Penjelasan Dio itu membuat Shena tidak menyangka kalau ternyata Steven sudah sejauh itu. Kalau dipikir-pikir, ya pantas saja sikap Dio jadi berubah setelah mendapatkan oleh-oleh itu kemarin. Rupanya Dio sedang menyimpan alasannya, dan dikeluarkan bagaiman bom pagi ini.
“Dio, aku minta maaf ya,”
“Bukan kamu yangs alah sebenarnya. Aku minta maaf udah kesals ama kamu,”
“Tapi wajar kok kalau misalnya kamu marah sama aku karena aku ‘kan istri kamu. Dan kamu udah tau soal perasaan dia ke aku, sementara aku nggak tau makanya terkesan aku cuek aja. Kenapa kamu nggak bilang dari awal sih? Jadi aku tuh nggak kesal sendiri liat tingkah kamu yang langsung beda gitu setelah aku dapat oleh-oleh dari dia,”
“Aku ragu ngasih tau ke kamu atau nggak,”
“Ya kenapa ragu?”
“Tadi aku ‘kan udah bilang, aku takut kamu malah balas perasaan dia setelah tau kalau dia—“
“Ih jangan mikir gitu! Pokoknya udah aku tegasin ya, aku nggak tertarik sama dia. Aku anggap dia ya sebagai tetangga aku, sebagai teman aku aja. Kamu tolong percaya ya,”
“Aku percaya, setelah tau kenyataannya, aku harao kamu bisa jaga jarak ya. Jangan mikir aku over protektif, plis. Aku cuma pengen istri aku nggak diambil orang yang jelas-jelas udah nyimpan perasaan buat kamu,”
Shena menganggukkan kepalanya. Tanpa diminta, Ia sudah tahu apa yang harus Ia lakukan. Ia tidak boleh bersikap seperti biasa lagi pada Steven karena itu bisa saja dianggap Steven sebagai bentuk balas rasa darinya. Dan Ia tahu harus menghargai perasaan suaminya yang sekarang mulai terang-terangan mengaku cemburu, dan mengaku takut kehilangan dirinya.
Mereka bersepeda sampai ke taman. Tadinya mau lanjut terus tapi Shena langsung tertarik untuk menikmati bubur ayam yang kebetulan penjualnya sedang beristirahat.
“Dio, kita makan bubur yuk,”
Mereka langsung menghampiri penjual bubur dan minta disiapkan dua porsi. Shena dan Dio memilih untuk menunggu di kursi taman, yang tak jauh dari posisi penjual bubur.
Melihat ada kucing di bawah kursi taman, Shena langsung mencengkram tangan suaminya dan menghindar. Ia bersembunyi di belakang Dio.
“Kenapa sih?”
“Ada kucing tuh di bawah kursi. Aku takut ah. Tolong diusir bisa nggak?”
“Oalah, kirain kenapa. Kamu takut kucing? Iya, pernah dikejar sama digigit dulu,”
Dio langsung berdesis mengusir kucing dari bawah kursi taman. Dan tanpa disentuh kucing itu paham kalau kehadirannya tidak diinginkan.
Setelah kucing pergi, barulah Shena berani untuk duduk di kursi taman. Dio terkekeh sambil mengusap puncak kepala istrinya yang wakahnya kusut karena melihat kucing tadi.
“Kamu kesal saka kucing?”
“Aku takut. Pernah dikejar sampai digigit aku,”
“Kalan kejadiannya?”
“Pas masih sekolah,”
“Sekarang aku nggak bakal biarin kucing atau apalun gigi kamu deh. Jangankan gigit, nyenggol aja nggak boleh,”
“Ya elah bisa aja gombalnya, Pak,”
“Lah kok gombal sih? Aku nggak gombal. Emang ngomong serius ini,”
“Iya tau yang udah serius, buktinya udah merasa cemburu,”
“Yee malah ngeledekin ya? Emang nggak boleh aku cemburu?”
“Boleh kok, boleh banget malah,”
Disaat Shena sedang terkekeh tiba-tiba Ia merasakan kakinya disentuh oleh sesuatu. Ia spontan berteriak ketika melihat seekor kucing sedang menggosok-gosok kepalanya di kaki. Shena langsung mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan Ia mencengkram lengan suaminya cukup kuat.
”Shen, jangan begitu. Dia baik kok,”
“Ih kamu tau darimana dia baik? Untung aja kaki aku nggak digigit,”
Dio sudah berhasil mengusir kucing itu dan Ia langsung merangkul Shena guna menenangkan perempuan itu.
“Udah tenang aja. Kamu aman, aku ‘kan tadi udah bilang aku bakal berusaha untuk nggak ngebiarin apapun atau siapapun nyenggol kamu,”
__ADS_1
Shena terkekeh mendengar ucapan suaminya itu. Manis sekali, sampai Ia salah tingkah sendiri.
“Makasih ya,”
“Sama-sama,”
Sesaat setelah mereka mengobrol seperti itu tiba-tiba datang penjual bubur ingin menyerahkan dua porsi sesuai dengan pesanan Dio tadi.
“Makasih banyak ya, Pak,”
“Sama-sama, selamat menikmati,”
Mereka mulai menikmati bubur yang mereka beli itu. Nikmat sekali, ditambah lagi perut mereka masih kosong.
“Hmm enak banget ya, Dio,”
“Apalagi dimakan pas lagi lapar-laparnya,”
“Iya bener tambah terasa enak jadinya hahaha,”
“Jangan ketawa dulu, nanti lo batuk-batuk,”
“Iya maaf,”
“Sakit ‘kan tersedak itu,”
“Sakit, sesakit ngeliat dia sama yang lain,”
Dio mengernyitkan keningnya bingung dengan ucapan istrinya itu. “Maksudnya? Siapa ngeliat siapa?”
“Nggak, itu cuma bercanda doang,”
“Bohong ya?”
“Ih kok bohong sih? Aku cuma asal nyeletuk aja itu,”
“Kirain nyindir gue,”
“Udah bener ngomongnya aku kamu aja, sekarang balik ke lo gue,”
“Eh iya maaf aku lupa. Belum biasa aku, Shen,”
“Ya udah biasain dong,”
Dio inisiatif membersihkan sudut bibir istrinya yang terdapat noda dari kuah kaldu bubur. Shena langsung menutup mulutnya malu.
“Maaf ya, aku makannya celemotan,”
“Santai, wajar kok,”
“Malu-maluin banget ya,”
“Nggak lah santai aja kenapa harus malu? Gue juga sering makan berantakan,” ujar Dio dengan santai.
“Kayak anak kecil aja makan aku berantakan,”
“Nggak apa-apa, Shen. Orang udah dewasa juga bisa makan berantakan. Nggak cuma anak kecil doang,” ujar Dio.
“Steve itu udah kenal sama kamu berapa lama?” Lanjut Dio.
“Ya…nggak tau suh pastinya kapan. Kayaknya pas aku SMP deh, eh apa SMA ya? Intinya duluan aku yang tinggal di komplek itu, nah terus datang deh Steve sama orangtuanya. Mereka baik sih, dan akrab juga sama keluarga aku. Aku nggak nyangka juga kalau dia suka sama aku,”
“Ya wajar lah, orang dekat ‘kan sama kamu? Jadi wajar aja kalau dia naksir. Orang cantik kok, ramah ke siapa aja, positif mulu kalau mikir. Nggak tau aja diincar diam-diam,”
“Diincar sama siapa?”
“Ya sama dia lah,”
“Heheheh aku pikir sama siapa. Tapi biarin aja lah dia mau suka atau cinta ke aku. Yang penting aku nya nggak ngasih balasan,”
“Tapi kalau dia tetap ngejar kamu gimana?”
“Nggak, jangan ngomong begitu. Yakin aja dia nggak bakal ngejar-ngejar aku. Orang masih banyak perempuan lain di luar sana kenapa dia harus ngejar aku coba?”
“Ya karena kamu cantik, kamu baik, jamu ramah itu lho,”
“Biarin aja deh dia ngejar aku yang penting akunya nggak nengok,”
Dio terkekeh mendengar jawaban santai Shena. Entah kenapa Ia merasa tenanr karena Shena sudah tahu nagaimana perasaan Steve untuknya jadi Ia tidak perlu lagi merasa khawatir lagi. Shena sudah tahu kalau Steve menyukainya, Dio harap istrinya itu bisa lebih menjaga jarak, dan hati-hati terhadap Steve. Larena Steve itu juga egois. Sudah tahu istri orang maish juga berusaha didekati.
“Steve selama ini sikapnya gimana ke kamu? Kamu nggak nyadar kalau dia suka sama kamu?”
“Sikap dia baik. Tapi aku nggak nyadar kalau dia suka sama aku. Ya aku pikir memang dia baik aja gitu, nggak ada maksud apa-apa. Setelah aku tau dia suka sama aku, sekarang aku jadi paham. Mungkin dia memang aslinya baik, cuma baiknya itu ya ada tujuan juga,”
“Untuk deketin kamu,” tambah Dio.
“Aku nggak ada pradangka kalau dia suka sama aku,”
“Ya iyalah, kamu terlalu polos, terlalu payah untuk tau kalau orang itu suka sama kamu padahal ‘kan bisa dinilai lho dari sikapnya. Ya dia mungkin emang orang yang baik, bukan jahat, tapi kalau dia suka pasti baiknya itu beda. Ada yang beda antara kebaikan dia ke kamu, sama kebaikan dia ke orang yang nggak dia suka karena bagi dia, kamu itu istimewa,”
__ADS_1