
“Aku tanya papa mama ya supaya jelas? Benar atau nggak pernah ajak dia ke rumah,”
Shena menantang suaminya. Barangkali Dio berbohong, pasti Dio akan merasa ketar-ketir kalau Ia melibatkan papa dan mamanya itu.
“Ya udah kalau nggak percaya. Emang beneran kok, aku nggak pernah ngajak dia ke rumah,”
“Bohong nih,”
Shena menusuk pinggang suaminya dengan jari telunjung dan itu membuat Dio berjengit kaget. Cepat-cepat Ia bergegas menjauh dari Shena dengan Shofea yang masih Ia gendong.
“Beneran lah, Bee. Aku nggak bohong. Emang seingat aku belum pernah dikenalin apalagi diajak ke rumah,”
“Aku nggak percaya ah,”
Dio tertawa dan Ia tidak mau ambil pusing bila istrinya mau percaya atau tidak. Yang penting Ia sudah berkata jujur. Itu yang Ia ingat, dan itu yang Ia sampaikan pada Shena.
“Jujur aja deh, Mas,”
“Ya aku udah jujur, Sayang,”
Shena akan menggelitik suaminya lagi namun Dio kembali memberi jarak. Shofea yang merasa dibawa berjalan cepat justru terkekeh.
“Lah ketawa dia,”
“Dikiranya kamu lagi ngajakin dia bercanda kali,”
“Iya kayaknya, gemes banget masa ketawa padahal nggak diapa-apain ya,”
“Shofea, suruh Om kamu itu jujur. Buruan, Shofea, biar dia jangan bohong. Udah berapa banyak yang dibawa ke rumah ini, Shofea? Cepat suruh Om jujur,”
“Buset, berapa banyak gimana maksudnya? Emang aku koleksi cewek?”
“Iya Mas ‘kan playboy,”
“Dih enak aja. Sok tau kamu nih,”
“Emang bener Mas tuh playboy, aku tebaknya begitu,”
“Bisa-bisanya nebak tapi pede banget,”
Shena tertawa dan Ia masih sambil makan serabi, cepat-cepat Ia menyelesaikan makannya supaya bisa lebih garang lagi menekan Dio.
“Buruan jujur!”
“Udah jujur,”
“Kalau nggak jujur, aku suruh tidur di luar nih,”
“Ya jangan dong, orang aku udah jujur kok. Beneran belum dibawa ke rumah, Bee,”
“Yaudah aku percaya kalau gitu,”
“Erghh dari tadi seharusnya percaya,”
“Kalau udah diteken sama aku jawabannya masih sama, berarti emang bener jujur berarti,”
“Aku mana pernah bohong sih, nggak pernah, Sayang,”
“Ya udah jangan banyak omong, buruan sini kasih Shofea, aku mau gendong lagi,”
“Eh belum cuci tangan habis makan,”
“Oh iya, okay bentar ya. Habis aku cuci tangan, Shofea kasih ke aku,”
“Emang dia mainan di kasih-kasih,”
“Ih pokoknya gantian, Mas,”
“Iya bawel. Ya udah sana cuci tangan, aku kasih Shofea nanti,”
Shena mengangguk puas mendengar jawaban sang suami. Setelah itu Ia segera bergegas membasuh kedua tangannya sampai bersih sebelum mengambil alih putri cantik Sehan dan juga Tania yang menjadi rebutan antara Ia dan Dio.
Shena kembali mendekati suaminya yang masih menggendong Shofea yang nyaman sekali. Dengan manja anak itu menyandarkan kepalanya di bahu sang paman sambil Dio menggerakkan sedikit badannya.
“Sini Aunty gendong lagi,”
“Bentar-bentar,”
“Ih nggak mau, tadi katanya boleh aku yang gendong,”
“Erghh cerewet ya, nggak bisa banget liat suaminya seneng, udah tau masih belum rela jauh dari Shofea,”
“Jauh? Orang satu rumah juga,”
Shena tersenyum lebar begitu suaminya menyerahkan Shofea kepadanya. “Yeayy Shofea digendong Aunty lagi, berasa gendong boneka,”
“Kamu kalau diliat-liat agak mirip Shofea lho,”
“Nggak ah, mirip mama papa nya lah,”
“Iya itu udah pasti, tapi kamu sama dia juga agak mirip lho, Bee,”
“Yang ada juga kamu sama Shofea yang mirip, Mas. Alis sama hidung mirip, soalnya Abang sama Mas ‘kan juga mirip,”
“Halo kawan-kawan mari olahraga,”
__ADS_1
Shena dan Dio sontak menoleh bersamaan ke arah sumber suara yang tak lain berasal dari mulutnya Sehan.
Datang-datang langsung nyanyi dengan riangnya. Kelakuannya itu mengundang tawa Shena sementara Dio mendengus.
“Apaan sih lo, nggak lucu ah,”
“Dih siapa yang ngelawak? Nggak ada yang lawak, lo aja nggak jelas,”
“Eh, gue mau kasih tau sama lo nih ya. Lo ‘kan udah jadi bapak, harusnya bisa dong pengertian sama anak. Lo tuh jangan suka iseng sama Shofea. Dia itu keponakan gue tau nggak? Lo kalau mau macam-macam, jangan sama dia deh mendingan,”
Sehan mengangkat satu alisnya bingung. Kini Dio berdiri di depannya dengan pose tolak pinggang.
“Lah dia yang galak, padahal anak siapa coba?”
“Anak lo lah, tapi lo ngapain bikin dia nangis? Hah? Udah tau anaknya tukang ngambek, eh masih suka cari masalah. Kalau dia lagi anteng tuh, anteng main kek, anteng tidur kek, atau anteng makan kek, lo jangan ganggu! Ngerti nggak? Masa lo tega banget ganggu ponakan gue? Akhirnya dia nangis ‘kan, terus kalau dia nangis dan ngambek sama lo, yang repot siapa? Emaknya lah,”
Sehan terbahak mendengar celotehan panjang lebar dari mulut adik satu-satunya itu. Dio serius memperingatinya tapi kelihatan lucu di matanya hingga membuat perutnya tergelitik.
“Kok lo yang galak sih?”
“Ya gimana gue nggak galak? Lo suka cari-cari perkara. Awas ya kalau lo masih suka gangguin Shofea lagi, biarin aja Shofea sama gue deh, dia nggak kenal bapaknya lagi nanti,”
“Enak aja, nggak boleh lah, dia harus kenal terus,”
“Ya makanya jangan nyebelin lo jadi bapak! Mau lo nggak diakuin sama anak?”
“Ih Mas Dio ngomongnya nih suka sembarangan. Ya nggak mungkinlah Shofea begitu,”
“Tau, mulutnya kadang-kadang emang nggak ada rem banget si Dio,”
“Biarin dia kapok, Shen,”
“Coba gue gendong dulu, dia emang masih ngambek?”
Sehan akan mengambil alih putrinya dari Shena namun anaknya itu merengek. Dio yang melihat itu tertawa.
“Noh ‘kan, dia nggak mau sama bapaknya sendiri,”
“Coba sama lo, emang mau?”
“Mau lah, barusan gue yang gendong,”
“Ya udah coba, nggak usah banyak omong,”
Sehan ingin membuktikan ucapan adiknya itu. Ia tidak yakin Shofea merengek ketika akan digendong olehnya tapi bila dengan Dio dia tidak merengek.
Dio membuktikan ucapannya. Memang Shofea tidak merengek sama sekali, justru dia tersenyum ketika lagi-lagi melihat wajah Dio.
“Yuhu, ada yang panas nih,”
“Dia masih ngambek kayaknya, Bang,”
“Iya, Shen. Nggak apa-apa nanti juga balik lagi. Ini karena gue lagi nggak kerja aja jadi nggak manja, coba kalau gue nggak ada di rumah, pasti gue balik-balik langsung minta gendong, langsung senyum-senyum. Uh dasar Shofea, sekarang udah pinter ngambek banget ya,”
“Dia natap gue tuh kayak ngefans gitu lho. Berasa pangeran william gue nih,”
“Ya Allah, bangun woy bangun! Mimpi muluk lo,”
“Lah emang iya. Liat tuh tatapan sama senyumnya. Kayak ngefans banget sama gue. Emang gue seganteng itu sih sebenernya. Sayangnya dia belum bisa ngomong, kalau udah, mungkin dia bakal teriak-teriak bilang ‘Om Dio, aku ngefans banget sama Om soalnya Om ganteng kebangetan’ gue yakin dalam hati Shofea begitu,”
"Sini sama papa, Nak,"
Shofea merengek tidak mau diambil alih oleh Sehan. Akhirnya Dio makin menjadi-jadi meledek abangnya itu.
"Makanya, Bang, jangan maksa anak deh. Ntar dia makin kesel lho,"
"Eh bisa diem nggak? ketawa aja kerjaan lo ya,"
"Lah kalau kerjaan gue ketawa doang, bini gue makan apaan dong?"
"Udah sini pokoknya anak gue,"
"Ya udah ini ambil, Bang. Gue mah nggak pernah larang,"
Dio melepaskan badannya sedikit saja, Shofea langsung merengek. Bagaimana kalau benar-benar lepas. Bisa jadi dia menangis.
"Shofea kenapa sih, Nak? masa papanya ditolak?"
"Makanya jangan iseng, Pa," ujar Dio mewakilkan keponakannya itu. Sehan mendengus dan Ia segera mendaratkan bibirnya di tangan Shofea. Ia cium dengan gemas bahkan Ia selipkan kulit tangan Shofea di antara kedua bibirnya.
"Tuh 'kan lo iseng banget,"
"Tapi dia nggak nangis, Di,"
"Ya iya tapi jangan digituin, gue tau tangan Shofea tuh udah montok tapi ya jangan digituin juga,"
"Eh lo merhatiin nggak sih? kakinya udah kayak roti sobek,"
Dio terbahak mendengar celetukan Sehan tentang kaki anaknya sendiri. Melihat dua orang laki-laki di dekatnya tertawa, Shofea tersenyum lebar. Seolah dia tahu atau mengerti dengan apa yang tengah menjadi pembahasan antara ayah dan pamannya itu.
"Iya bener, bawaannya pengen gigit. Tapi kalau digigit sayang, nanti jadi abis,"
"Alhamdulillah anak gue udah gemuk, Di,"
"Iya dong, dikasih makan sama emaknya. Lo nggak bisa ngasih makan,"
__ADS_1
"Apa yang mau gue kasih? air apaan? air teh?"
"Ngeluh dia yang ada,"
"Eh ngantuk tuh. Abis diledekin kakinya kayak roti sobek, dia ngantuk," ujar Shena seraya tersenyum menunjuk Shofea yang membuka mulutnya karena mengantuk dan Sehan langsung menutup mulut mungil anaknya itu.
"Udah mau tidur. Ayo ke kamar, mama di kamar tuh,"
Sehan mengulurkan tangannya. Shofea tidak menolak lagi, artinya anak itu memang sudah benar-benar mengantuk.
"Giliran mau bobo nggak nolak papa gendong ya,"
"Babay Shofea, selamat bobo,"
"Bang, nanti makan malam bareng jangan lupa,"
"Yoi, nanti gue turun lagi,"
Sehan segera membawa anaknya ke kamar untuk segera terlelap. Kasihan dia sudah menguap tadi, dan begitu ia gendong tidak menolak padahal sebelumnya menolak dan malah lekat sekali dengan pamannya seperti kertas dan lem.
"Nih, Ma. Dia mau bobo, udah nguap tadi. Awalnya nggak mau papa gendong maunya sama Om Dio aja eh setelah nguap baru mau,"
Sehan segera menyerahkan Shofea kepada Tania yang belum lama selesai mandi dan barusan tengah menata tempat tidur Shofea.
"Ngerti dia kalau ngantuk mau dibawa papanya karena dia tau bakal bobo,"
*****
-Lama banget balesnya, Di. Duh sibuk banget kamu ya?-
Dio meringis membaca balasan direct message dari Nada yang sepertinya protes karena Ia baru saja membalas pesan terakhir Nada dengan mengirimkan nomor telepon temannya yang bisa membantu Nada dalam mencari tempat tinggal atau hunian baru.
-Emang kamu nggak tau soal rumah-rumah yang bagus gitu ya? Aku udah cari sendiri sih, udah ada yang aku taksir juga tapi nggak tau kenapa belum klik-
-Nggak, aku juga kalau beli rumah minta bantuan orang, mau desain atau renov juga minta bantuan orang. Aku nggak bisa mandiri, Nad- ketik Dio sebagai balasan lagi.
“Mas, sarapan dulu,”
“Iya, Bee,”
Dio segera keluar dari halaman instagram karena istrinya memanggil Ia untuk segera keluar dari kamar untuk sarapan.
“Kenapa senyum-senyum?”
“Nggak, emang siapa yang senyum?”
“Kamu lah, Mas. Kamu kenapa senyum-senyum sambil liat handphone?”
“Oh, nggak apa-apa. Aku lagi chat Nada tadi. Aku ‘kan balas chat dia lama terus dia ngeledek aku sibuk banget katanya. Jadi aku pengen ketawa,”
“Hmm, awas hati-hati, Mas,”
“Kok hati-hati, Bee?”
“Ya hati-hati aja. Ntar senyum lama-lama demen,” ujar Shena dengan datar setelah itu pergi meninggalkan Dio yang sedang menggunakan tali pinggangnya sebelum bergegas ke ruang makan.
Dio terkekeh pelan menyadari kecemburuan Shena. Setelah bicara seperti itu Shena langsung turun ke lantai bawah dan Dio tahu suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
“Ngambek dia? Ampun, jarang cemburu, sekalinya cemburu lucu juga,”
Dio mempercepat persiapannya sebelum berangkat bekerja. Setelah itu barulah Ia keluar dari kamar menuju ruang makan untuk makan pagi.
“Mana Dio?”
Dio menangkap suara bundanya yang bertanya pada Shena. “Masih siap-siap, Ma,” begitu jawab Shena pada ibu mertuanya.
Tidak lama kemudian Dio duduk di ruang makan, bergabung dengan orangtuanya dan juga abangnya.
“Dari tadi ditungguin lama banget nggak datang-datang kamu, Di,”
“Iya maaf, Ma. Baru selesai siap-siap,”
“Ya iyalah baru selesai orang dari tadi main handphone,” gumam Shena yang duduk tepat di sebelah Dio otomatis Dio bisa mendengar ucapan istrinya itu.
“Bentar doang buka handphone, Bee,”
“Aku juga nggak bilang lama,” ujar Shena seraya menoleh dan tersenyum padanya. Meskipun tersenyum, tapi Dio tahu kalau istrinya itu tengah jengkel.
“Abang mau pamit pulang,” ujar Ardina.
“Dih nggak nginap di sini?”
“Nggak, lain kali deh,”
“Sering bawa Shofea ke sini dong, gue nggak mau tau,”
“Lah kurang sering aoalagi, Di? Udah keseringan malah gue ajak Shofea ke sini. Pindah rumah tapi sering ke sini malah kadang gue nggak enak karena sering nitipin Shofea di sini,”
“Apaan nitipin, orang dia perlu main kok, kalau di rumah lo kan nggak ada teman main. Biar Kak Tania ada teman juga lah kalau lo lagi kerja. Di sini kan ada Shena,”
“Iya tenang, Ma. Gue kan udah sering ngajak Shofea ke sini, lo boleh ngomong gitu kalau gue nggak pernah ajak Shofea main di sini, Di,”
“Sesekali dia nginap dong di sini, tidur di kamar gue sama Shena,”
“Emang lo mau direpotin?”
__ADS_1
“Dih ngerepotin darimana? Nggak lah,”