
“Sayang, kenyang nggak?”
Shena mengangguk terang-terangan dia mengaku bahwa Ia sudah merasa kenyang. Beda dengan suaminya yang malah berdecak tak merasakan hal serupa.
“Aku masih lapar ah, nggak kenyang,”
“Ya ampun, bakso tadi masuknya kemana, Mas? Ke perut kamu ‘kan?”
Dio tertawa mendapat sindiran itu. Tentu saja bakso itu masuk ke dalam perutnya tapi masih merasa lapar.
“Kamu serius belum kenyang? Kok bisa sih?”
“Ya bisa lah, Sayang. Ayo kita cari makanan lagi, yang agak ringan aja, kayak cimol misalnya,”
“Itu mah nggak ringan,”
“Tapi aku pengen itu, Sayang,”
“Ya udah ayo cari. Kalau emang ada kamu bisa beli,” ujar Shena pada suaminya itu.
Mereka berdua beranjak dari meja dimana mereka makan berdua tadi. Dio segera memberikan uang untuk membayar, setelah itu Ia mengajak Shena untuk berjalan pelan-pelan saja karena Shena mengatakan bahwa perutnya begah.
“Aku kenyang banget lho, makanya bingung kok kamu masih lapar,”
“Ya nggak lapar sih sebenarnya, tapi belum puas makan aja gitu,”
“Ya sama aja, kayak nggak ada bekasnya itu bakso ya,”
Sebenarnya banyak sekali beragam jenis makanan, hanya saja yang sedang dicari Dio adalah cimol.
“Kalau nggak ada gimana, Mas? Kamu nggak marah ‘kan?”
“Ya nggaklah, Shen, masa iya aku marah?”
“Kamu ini ngidam atau gimana?”
__ADS_1
“Nggak deh kayaknya,”
“Terus kepengen banget sama cimol?”
“Iya kepengen sih, tapi emang itu namanya ngidam ya? Kayaknya nggak deh, eh tapi aku kan lagi hamil ya? Hmm bisa jadi,”
“Eh itu!“
Shena segera menepuk-nepuk lengan suaminya seraya menunjuk gerobak penjual cimol dan kentang goreng. Akhirnya mereka bisa menemukan cimol diantara banyaknya makanan lain.
“Wuidih akhirnya ada juga. Yuk beli yuk,”
Dio segera menarik lengan istrinya tak sabaran menghampiri penjual cimol sampai Shena berdecak dan mencubit tangan suaminya.
“Bisa pelan nggak sih? Jangan ditarik-tarik dong aku nya, aku udah kayak domba aja,”
“Okay, maaf-maaf aku terlalu semangat,”
Dio tak lagi merangkul lengan istrinya melainkan merangkul hau Shena seperti sebelumnya. Memang posisi paling pas adalah seperti itu karena Shena tingginya hanya sebatas dada Dio.
“Berapa, Mas?”
“Dua porsi,”
Penjual segera menyiapkan pesanan Dio yang membeli dua porsi dan istrinya bingung yang satu lagi untuk siapa padahal yang ingin hanya Dio saja.
“Satu lagi untuk siapa, Mas?”
“Untuk kamu kali aja mau,”
“Aku nggak ah, udah kenyang,”
“Ya maksudnya kalau kamu nggak mau ya untuk aku aja,” ujar Dio yang sebenarnya tak pernah lupa membeli apa-apa itu selalu untuk dua orang. Terlepas mau atau tidaknya Shena nanti, yang penting Ia sudah beli dua.
“Aku mau makan gulali tapi malu,”
__ADS_1
Dio mengamati istrinya yang masih saja membawa-bawa dua buah gulali persis anak kecil. Dio tertawa melihat itu.
“Kamu kayak anak kecil, beneran lho,”
“Ya makanya aku malu. Emang kenapa sih kalau aku bawa gulali? Aneh ya?”
“Soalnya ya, kamu terbilang mungil terus bawa gulali jadi keliatannya gemes aja gitu lho,”
“Kok mungil sih? Ya nggak dong,”
“Mungil kalau kata aku mah. Soalnya tinggian aku,”
Penjual cimol langsung memberikan dua porsi cimol plus kentang kepada Dio dan Dio segera memberikan uang sebagai alat transaksi.
Setelahnya barulah mereka kembali menjelajah pasar malam lagi sambil sesekali mengobrol. Ketika melihat ada yang menjual boneka berjalan, Shena tanpa sadar menghentikan langkahnya. Ia menatap penasaran pada boneka-boneka yang sedang dipamerkan dan berjalan di depan banyak anak kecil.
“Ini dijual ya, Mas?”
“Ya iyalah, tapi lagi dikasih tau dulu kegemesannya supaya pada beli, kamu mau?”
“Ih mau, bisa ditaruh di kamar berarti ‘kan?”
“Ya bisa aja sih kalau kamu mau, tapi emang kamu beneran mau ya? Itu ‘kan buat anak kecil, Sayang, bukan untuk orang dewasa. Nggak malu sama umur apa?”
“Lah emang ada larangan orang dewasa nggak boleh beli itu dan punya itu?”
Dio menggaruk tengkuknya. Sebenarnya tidak ada larangan untuk hal yang satu itu hanya saja Ia tidak yakin Shena mau benar-benar membeli boneka tersebut. Padahal identiknya dengan anak-anak. Buktinya yang sekarang mengelilingi penjual adalah anak-anak kecil bukan orang seusia Shena.
“Aku mau beli ah, mau aku taruh di kamar,”
“Emang nggak takut? Nanti ada yang huni lho, katanya boneka tuh suka dihuni sama yang halus,”
“Lah orang aku aja punya banyak boneka tapi Alhamdulillah sejauh ini aman-aman aja terlepas ada yang huni atau nggak. Di rumah orangtua aku justru lebih banyak lagi lho, Ken,”
Dio mengangguk pasrah. Ia mempersilahkan istrinya bila memang ingin membeli salah satu boneka itu. Karena tampaknya Shena begitu menginginkannya. Kalau Ia larang belum tentu didengarkan.
__ADS_1