Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 71


__ADS_3

Dio terkekeh melihat Shena yang keluar dari kamar mandi sambil meringis dan memegang pinggangnya.


“Aku pikir mandi bisa ngilangin capek ternyata nggak juga,”


“Hahahah, maaf ya, Shenaku sayang,”


Dio langsung meninggalkan ranjang dan merengkuh istrinya yang baru saja bergumam. Setelah memeluk, Ia langsung menggendong Shena ala bridal style kemudian Ia bawa ke atas tempat tidur.


“Dio, jangan macam-macam ya. Aku baru aja mandi,”


“Emang siapa sih yang mau macam-macam, ‘kan udah tadi. Aku pengen kamu istirahat,”


“Aku pikir kamu bakal—“


“Bakal apa hayo? Bakal ‘ngerjain’ kamu lagi? Ya nggak dong. Aku tau kamu capek. Kecuali kamu yang minta, aku nggak bakal nolak deh,”


Shena melotot dan memukul pelan lengan Dio yang saat ini melingkari pinggangnya. Dio terbahak puas. Kemudian Ia mengecup singkat pipi istrinya yang cantik menggemaskan itu.


“Nggak, Sayang. Aku cuma bercanda kok, jangan marah ya,”


“Aku pengen jalan-jalan di sekitar rumah cari jajanan. Tapi aku terlalu malas,”


“Ya udah aku aja. Mendingan kamu istirahat,”


“Tapi aku pengen ikut sebenarnya,”


Dio bergumam sambil memutar matanya berpikir. Istrinya enggan pergi, tapi ingin beli makanan secara langsung.


“Pake mobil gimana?”


“Iya tapi tetap aja malas,”


“Ya udah jalan kaki,”


“Makin malas, ditambah aku lagi pegal-pegal, Dio,”


Dio menahan tawa. Karena dirinya, Shena jadi pegal-pegal. Nampaknya dimanapun bis amenjadi tempat bukan madu mereka sekalipun itu di rumah.


“Jangan kaget ya, Sayang. ‘Kan emang aku udah bilang. Ini bisa dibilang honeymoon tapi bersi nggak jalan-jalan hahaha,”


“Udah stop jangan dibahas. Aku malu tau,”


“Kenapa malu sih? Orang bahasnya juga cuma berdua, nggak ada siapa-siapa,”


“Ya tapi—“


“Ssst udah diam kalau nggak mau aku cium,”


Shena langsung bungkam. Tapi Dio malah tetap menciumnya. Shena langsung mendorong suaminya yang curi kesempatan.


“Tadi bilangnya apa? Aku harus diam kalau nggak mau dicium. Lah aku ‘kan udah diam kenapa masih dicium sih?”


“Karena aku pengen, suka-suka aku dong, Shen,”


“Ini bibir siapa? Kok suka-sukanya kamu?”


“Bibir kamu sih,”


“Nah ya ud—hmppff,”

__ADS_1


Shena mencubit lengan Dio cukup kuat hingga membuat Dio yang semula mencium Shena lagi akhirnya mau tidak mau melepaskan tautan bibir mereka dan meringis sambil memegang lengannya yang dicubit oleh Shena.


“Awsshh sakit, Shen. Kamu nyubitnya pake niat dulu ya?”


“Ya lagian kamu sih cari gara-gara aja. Nyium mulu kerjaannya,”


“Biarin suka-suka aku,”


“Sekali lagi aku tanya, emang ini bibir siapa coba?”


“Ya bibir kamu sih cuma ‘kan kamu istri aku, jadi aku boleh lah ngapain aja,”


“Dih, bisa gitu ya,”


“Bisa, aku mau cium lagi dong, aku ketagihan nih,” ujar Dio seraya mengerucutkan bibirnya sambil mendekat ke Shena dan itu langsung membuat Shena berdecak sambil menutup bibir suaminya.


“Bener-bener tukang nyosor ya kamu,” gerutu Shena yang masih membungkam mulut suaminya.


“Diam atau nggak? Kalau masih mau nyosor, aku tutup mulu nih mulutnya,”


Dio menganggukkan kepalanya, “Apa? Jawab yang jelas,” ujar Shena yang tidak ingin suaminya hanya sekedar menganggukkan kepala saja.


Dio langsung menjauhkan tangan Shena dari bibirnya kemudian menatap Shena dengan kesal sambil berkata, “Ya gimana aku mau jawab jelas orang kamu nya aja nutup mulut aku udah kayak penculik,”


“Hahahaha oh iya aku nggak sadar,”


Shena baru sadar kalau Ia menutup mulut Dio otomatis menyulitkan Dio untuk menjawab bahwa dirinya siap diam.


“Pokoknya kalau nyosor lagi, aku tutup lagi mulutnya,”


“Iya,”


“Iya,”


“Jawab yang benar, itu mulut kamu ‘kan nggak aku tutup lagi,”


“Astaga, Iya sayangku, cintaku,”


“Emang kita udah saling cinta? Hmm?”


Dio langsung terdiam menatap lurus ke arah Shena yang baru saja melontarkan pertanyaan. ‘Apakah mereka sudah saling mencintai?’ Itu pertanyaan yang sebenarnya mudah untuk dijawab oleh Dio yang sekarang, tapi Ia takut tanggapan Shena nantinya tidak seperti apa yang Ia bayangkan


“Kok diam?”


“Kamu gimana? Udah cinta aku belum?”


“Hmm…udah song, kamu sendiri?” tanya Shena sambil tersenyum.


Dio menghembuskan napas lega. Ia lega, karena ternyata Ia tidak sendirian. Nyatanya, Shena juga sudah mencintainya. Bisa dibilang mereka sudah saling mencintai satu sama lain .


“Lega gitu kalau udah lampiasin isi hati,” gumam Dio.


“Iya, semoga nggak ada cinta bertepuk sebelah tangan,”


“Nggak lah ‘kan udah saling cinta kita nya,”


Shena tersenyum setidaknya jawaban Dio menenangkan hatinya dan sikap Dio juga semakin hari benar-bsnar memperkakukannya dengan begitu baik..


“Aku lapar, pengen jajan makanan,”

__ADS_1


“Ya udah ayo jajan, tapi kamu bilang tadi malas,”


“Iya emang,”


“Nah jadi gimana dong?”


Shena menghembuskan napas kasar, kemudian beranjak duduk. “Ya udah deh ayo kita cari makanan. Aku lapar soalnya,”


“Ya makanya aku aja, Shen. Kamu mendingan istirahat aja di sini,”


“Nggak mau, aku pengen ikut nyari. Karena aku juga pengen milih sendiri,”


“Kamu ngidam sesuatu? Hmm? Bilang aja nanti aku beliin,”


“Ih kok jadi ngidam sih? Aku nggak ngomong kalau aku ngidam ya,”


“Ya kali aja. Kalaupun ngidam juga nggak apa-apa. ‘Kan ada suaminya. Kamu mau apa aku turutin. Ayo tinggal bilang aja,”


“Kalau aku tiba-tiba pengen nasi padang tapi belinya di Padang langsung gimana? Kamu mau nurutin atau nggak? Waktu itu sih kamu bilang nggak masalah,” Tanya Shena yang tiba-tiba membahas ucapan Dio yang masih di telinga.


“Wah mau dong, kamu nggak perlu nanya lagi. Udah pasti aku turutin sih,”


“Ah masa iya? Seriusan?”


“Iyalah serius, masa aku bohong,”


“Kok mau?”


“Ya emang kenapa? Apa yang kamu pengen, hukumnya wajib bagi aku untuk nurutin,”


“Hahahaha ya kali kamu harus nurutin. Maunya aku ‘kan udah pasti ngerepotin, kenapa kamu turutin? Apalagi beli nasi padang di Padang langsung. Ya ampun, itu sih permintaan yang ngerepotin banget,”


“Nggak kok, aku turutin asal aku ada umur, sehat, dan ada uangnya. Sekalian jalan-jalan ‘kan ceritanya,”


“Ya ampun, jalannya jauh banget ya. Tujuan utama nya beli nasi padang,”


“Nah iya. Tujuan utama beli nasi padang, sekalian jalan-jalan,”


“Keburu basi nggak sih?”


“Itulah kenapa sebelum minta sesuatu dipikirin dulu, Sayang,”


Shena terbahak mendengar ucapan Dio yang tidak menolak, malah dengan tegas mengatakan bahwa dirinya siap menuruti keinginan Shena. Namun di akhir Dio juga menegaskan bahwa kalau punya keinginan baiknya dipikirkan dulu, apa baik dan buruknya.


Beli nasi padang di Padang langsung kemudian membawanya ke Jakarta adalah hal yang menyulitkan, benar kata Shena. Ketika sampai di tangan Shena yang ada juga sudah busuk makanan itu. Hal baiknya memang Dio bisa sekalian jalan-jalan, tapi hal buruknya Dio bisa saja jadi sakit hanya karena jauh-jauh beli nasi padang di Padang langsung kemudian balik ke Jakarta untuk mengantarkan makanan itu ke istrinya. Untuk apa cari yang jauh, kalau yang dekat saja ada.


“Kalau yang dekat-dekat okay lah, Sayang. Aku turutin, tapi kalau ke Padang ya terlalu jauh, ke Palembang juga jauh, kalau ke Bogor ya masih mending. Misalnya kamu mau talas bogor belinya di Bogor langsung nah itu masih masuk akal aku. Eh tapi kalau kamu emang ngidam ya nggak apa-apa sih, aku malah senang banget,”


“Hahhahaha,”


Shena tertawa lebar mendengar ucapan suaminya. Tidak bisa membayangkan sesulit apa ketika Ia benar-benar punya keinginan seperti tadi.


“Nggak, aku nggak mau ngerepotin kamu,”


“Eh jangan ngomong gitu dong, Sayang. Kamu kalau mau sesuatu ya boleh banget. Tapi yang wajar lah gitu. Jangan minta pizza belinya di Italia langsung. Atau kayak tadi beli nasi padang di Padang nya langsung. Aku gempor duluan yang ada tapi nggak apa-apa kok. Kalau ngidam jangan ditahan-tahan,”


“Ih lagian siapa yang ngidam sih? Aku ‘kan cuma bercanda aja, kamu nanggapin nya serius?”


“Ya kali aja beneran ngidam,”

__ADS_1


__ADS_2