
Dio berjalan hendak menyusul Shena yang berjalan pelan menyusuri satu persatu rak supermarket tapi yang Ia lihat adalah, Shena mengambil apapun. Dan troli juga masih ada di tangannya.
“Dia gimana mau ngambil-ngambil barang yang diperluin kalau troli aja sama gue,” gumam Dio sambil mempercepat langkah kakinya untuk mendekati Shena yang sebenarnya tenggelam dalam kesedihan sampai tak sadar kalau Ia tak membawa troli. Terlalu malas untuk mencari, akhirnya Ia peluk saja detergen yang akan Ia beli. Hanya itu yang Ia ambil. Shena benar-benar tidak fokus dengan kegiatan yang rutin Ia lakukan setiap awal bulan ini. Seharusnya memang Dio tidak ikut saja, sepertinya itu jauh lebih baik daripada membuat Shena jadi bersedih, dan akhirnya tidak fokus belanja.
Shena terlalu sibuk menghapus air matanya sampai tidak bisa benar-benar memilih apa saja yang Ia butuhkan.
“Dio kenapa ya nggak bisa banget nahan amarahnya di tempat umum kayak gini? Dia nggak ragu untuk bentak aku, dan aku yang malu karena diliatin sama orang, dan orang yang ngeliatin tadi adalah suami istri yang aku liat baik-baik aja hubungannya, nggak kayak aku sama Dio,” batin Shena.
Shena hanyalah iranga sing bagi sepasangs uaministri tadi, tapi kalau dilihat dari gerak gerik mereka, nampaknya mereka saling menyayangi satu sama lain, tak ada konflik apapun di antara keduanya, terbukti dari tak ragunya sang suami merangkul bahu istri, dan mereka sempat tertawa bersama sebelum akhirnya membeku beberapa saat ketika menyaksikan Dio membentaknya.
“Simpan di troli ngapain lo pegang kayak gitu,”
Shena buru-buru menghapus air matanya yang masih belum mau berhenti jatuh, ketika mendengar suara suaminya yang tiba-tiba sudah berjalan di sebelahnya. Shena langsung meletakkan detergen yang sudah Ia peluk tadi ke dalam troli.
“Mau beli apa lagi?”
Shena tak menjawab, tapi kakinya mengarah ke tempat bahan makanan mentah. Dio berdecak pelan karena pertanyaan yang Ia lontarkan diabaikan.
“Heh lo budeg ya? Gue nanya sama lo,”
“Terus aja, Dio. Terus aja ngomong yang keras ke aku, emang maunya kamu bikin aku malu ya? Kamu sengaja bentak aku, supaya orang-orang pada liat ke arah kita dan dalam hati mereka mungkin mereka ngetawain aku,” ujar Shena yang menatapnya dengan mata merah berair. Dio terdiam tanpa kata, seluruh tubuhnya juga terasa kaku melihat pasrahnya Shena dalam menghadapi sikap kasarnya yang tak kenal tempat.
Kini Shena memilih ikan salmon, udang, cumi, kepiting, buah-buahan, setelah itu tanpa pikir panjang Shena meraih troli hendak membawanya sendiri ke kasir. Dio berdecak dan tak mengizinkan Shena untuk membawa troli.
“Biar gue aja,”
“Aku—“
“Gue minta maaf, maaf gue udah kelepasan bentak lo. Mau nggak maafin gue?”
Dio rasa, Ia memang sudah keterlaluan. Shena wajar bereaksi seperti ini setelah sebelumnya Ia bentak diperhatikan oleh orang lain, dan barusan juga Ia kembali melakukannya hanya karena Shena tak menjawab pertanyaan yang Ia lontarkan. Oleh sebab itu Ia meminta maaf. Hatinya menyuruh Ia untuk minta maaf setelah Ia merasa bahwa apa yang Ia lakukan memang perbuatan yang salah.
“Shena, gue minta maaf. Lo jangan diam aja, sorry ya gue bentak lo, gue bikin lo malu di depan orang lain tadi,”
“Kamu bukan cuma bikin aku malu, kamu nggak pernah mikirin perasaan aku ya? Hmm?”
Dio menelan salivanya susah payah ketika melihat air mata Shena jatuh tidak tahu sopan santun di depannya dan itu membuat Ia terdiam beberapa saat.
“Shena, gue minta maaf,”
Dio langsung merangkul bahu Shena. Entah kenapa tiba-tiba ada dorongan untuk Ia melakukan itu dengan tujuan menenangkan Shena, meminta maaf pada Shena karena telah menyakiti hati Shena.
“Gue minta maaf, jangan nangis,”
__ADS_1
Dio mengusap bahu Shena yang cukup terkejut mendapat perlakuan lembut seperti itu dari suaminya. Pertama, Shena sudah terkejut mendengar permintaan maaf Dio, yang kedua Dio merangkul bahunya, ditambah memberikan sentuhan lembut. Kenapa setelah menyakiti, baru Dio bersikap seperti ini?
Shena menarik napas kemudian menghembuskannya dengan kasar. Ia tersenyum sambil melepaskan rangkulan tangan Dio.
“Aku maafin, mana pernah aku nggak maafin kamu? Walaupun rasanya sakit banget tapi aku pasti maafin semua perbuatan kamu yang udah nyakitin hati aku,”
“Gue kelepasan bentak lo, sekali lagi maaf ya,”
Shena menganggukkan kepalanya. Ia lagi-lagi memasang senyum terbaiknya. Sekarang Ia bisa tampil baik-baik saja. Secepat itu ‘kan? Tambah cepat karena Dio meminta maaf sekaligus membujuknya dengan cara yang kebanyakan lelaki lakukan ketika pasangannya sedih atau diterpa masalah.
“Ayo lanjut belanja lagi,”
“Kayaknya udah semua,”
“Lo yakin? Karena lo sedih, jangan-jangan masih ada yang ketinggalan nih,” ujar Dio.
Shena langsung mengamati isi troli, ternyata benar, shampo, pasta gigi, pembersih dan pengharum lantai, pelicin pakaian, belum Ia masukkan ke dalam troli. Dengan cepat Shena mengambil produk yang biasa Ia pakai, kemudian Ia memeriksa isi troli lagi.
“Kayaknya udah deh,”
“Emang lo nggak bawa catatan, Shen?”
“Nggak, ketinggalan. Aku lupa banget,”
“Oh iya saos sama kecap udah habis,”
“Ya udah ayo ambil,”
Dio kembali mendorong troli dan Shena berjalan di depannya mengambil apa yang Ia sebutkan tadi. Kesalahannya kali ini adalah tidak membawa catatan belanja. Ditambah lagi tadi suasana hatinya sempat tidak baik-baik saja. Jadi Shena semakin sulit untuk mengingat apalagi yang Ia butuhkan. Shena ingat saos dan kecap sudah hampir habis persediaannya, karena kebetulan rencananya nanti Shena mau membuat nasi goreng.
“Udah belum?”
“Kayaknya sih udah ya, mudah-mudahan aja deh nggak ada yang lupa,”
“Yakin?”
“Iya antara yakin nggak yakin,” ujar Shena seraya menggaruk pelipisnya bingung.
Dio berdecak pelan kemudian mengamati troli mencoba untuk membantu Shena. Kira-kira apalagi yang belum Shena beli. Tapi berhubung Ia adalah lelaki yang tak pernah ikut campur belanja bulanan jadi Ia tak menemukan barang apa yang sekiranya dibutuhkan.
“Udah kali, nanti kalau emang ada yang kurang tinggal beli lagi,”
“Ya udah gitu aja deh, cuma aku mikirin waktunya takut nggak sempat,”
__ADS_1
“Nanti gue temenin lagi, gampang. Udah ya? Sekarang kita ke kasir, ya mudah-mudahan aja nggak ada yang ketinggalan,”
“Okay kita ke kasir untuk bayar, kamu kalau mau duluan, duluan aja ke mobilnya,”
“Terus yang bawa belanjaan siapa?”
“Tinggal dorong pakai troli, dan biasanya ada yang bantuin kok pegawai supermarket nya,”
“Nggak, ke mobil bareng lo. Berangkat bareng, pulang juga bareng,”
“Makasih ya kamu udah perhatian sama aku,”
“Apaan sih? Siapa yang perhatian? Lo terlalu lebay,”
“Kok lebay sih? Kamu itu sebenarnya perhatian ‘kan ke aku?”
“Nggak, ‘kan lo tau gue terpaksa ngelakuin ini semua,”
“Oh gitu?”
Dio menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan membiarkan Shena jadi besar kepala karena merasa Ia perhatikan.
*********
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, Bu, Pak,”
Bibi menyambut kedatangan Ardina dan Sakti yang baru saja pulang bersepeda. Sepasang suami istri itu pulang dengan berkeringat.
Benar-benar kelihatan lelah sepertinya. Maka dari itu Bibi langsung menanyakan minuman atau makanan apa yang mereka inginkan.
“Nggak usah, Bi. Mau langsung mandi aja, oh iya itu Dio sama Shena belum pulang ya, Bi?”
“Belum, Bu,”
“Lama ya,”
“Paling lagi jalan-jalan dulu mereka berdua, Ma. Bagus kalau gitu, Papa senang,”
“Iya bagus kalau emang Dio ngajakin Shena pergi, tapi kalau ternyata Shena dibawa kemana gitu sama Dio gimana? Dibawa kabur saking dia nggak mau nerima Shena,”
“Eh Mama jangan ngomong begitu. Nggak mungkin Dio sejahat itu, Ma. Jangan mikir negatif,”
__ADS_1
“Ya abisnya Dio ‘kan tega, Pa,”