
“Udah biar gue aja yang bawa,” ujar Dio setelah semua belanjaan bulanan mereka dibayar. Ia langsung melarang Shena yang akan membawa tas belanjaan.
“Aku bantuin, kita bagi dua,”
Akhirnya Dio membiarkan istrinya itu membawa satu tas belanjaan, sementara Ia dua. Masih tersisa dua lagi di dekat pintu masuk supermarket.
Akan Dil bawa setelah Dio simpan dulu yang ada di tangannya itu ke dalam bagasi mobil. Shena disuruh Dio untuk langsung masuk mobil, sementara Dio mengambil sisa tas belanjaan yang belum masuk ke bagasi.
Shena tersenyum mengamati gesitnya Dio ketika membawa dua tas belanjaan yang berat, masuk ke dalam bagasi.
Setelah itu Dio menutup pintu bagasi mobil. Ia akan masuk ke dalam mobil namun matanya malah teralihkan ke mobil yang parkir di sebelahnya dan beberapa detik kemudian keluarlah seorang perempuan yang tak asing di mata Dio.
“Amira,”
Dio memanggil perempuan berbadan dua itu dan berhasil membuatnya menoleh. Amira, yang tak lain adalah mantan kekasih Dio, langsung membelalakkan matanya kaget mendapati keneradaan Dio.
“Dio—hai,”
__ADS_1
“Hai, aku mau ngomong sama kamu sebentar bisa?”
Tiba-tiba ada yang menghampiri Amira, tak lain adalah lelaki pengemudi mobil yang barusan ditumpangi oleh Amira. Lelaki itu pernah Dio lihat juga beberapa hari lalu bersama Amira di rumah sakit ketika Ia menemani Shena yang dirawat di rumah sakit.
“Saya izin bicara berdua sama Amira boleh?” Tanya Dio dengan baik-baik tak ada emosi sedikitpun, dan ditanggapi juga dengan baik.
Dio kecewa, bahkan sangat. Ketika mendapati Amira hamil, Ia benar-benar kacau. Apalagi melihat Amira kelihatannya bahagia sekali dengan lelaki itu. Ternyata hanya Ia yang merasa terpukul setelah jauh dari Akira, sementara Amira kelihatannya baik-baik saja. Ia bahkan tidak bisa menerima kehadiran istrinya karena memang masih ada Amira di hatinya.
“Gimana kabar kamu, Ra?”
“Aku baik, kamu sendiri?”
Amira yang pergi tanpa mau mendengar penjelasannya soal perjodohan yang sebenarnya tidak Ia inginkan, lalu tiba-tiba Amira Ia lihat sudah mengandung. Dio ada di posisi yang berat sekali.
“Kamu sekarang udah nikah ya?”
“Ya, aku juga udah hamil sekarang, gimana sama istri kamu?”
__ADS_1
“Shena ada, dia di dalam mobil sekarang,” jawab Dio seraya melirik mobilnya senidri. Dio yakin did alam sana Shena melihat apa yang sedang Ia lakukan nersama Amira sekarang. Dio harap, Shena memberikan waktu untuk mereka bicara.
“Aku kaget liat kamu udah hamil. Padahal aku pikir kita bisa balik lagi kayak dulu,”
“Mana mungkin? Kamu ‘kan udah dijodohin,”
“Tapi kamu nggak pernah mau dengar penjelasan aku bahwa sebenarnya perjodohan aku sama Shena itu nggak pernah jadi kemauan aku,”
“Aku nggak peduli, intinya kamu sama dia dijodohin. Ya udah aku pergi lah. Lagipula ada Raka yang udah lama aku kenal, dan dia nggak kalah baik dari kamu,”
“Namanya Rafa? Dan kalian udah saling kenal dari lama? Apa Rafa itu yang benerapa kali mama papaku liat pergi sama kamu?”
“Iya, aku sama dia memang pernah jalin hubungan diam-diam di belakang kamu,”
Kenyataan apalagi ini? Kenapa Dio harus dapat kenyataan pahit untuk yang kesekian kalinya? Dio tidak pernah berharap jawaban itu keluar dari mulut Amira.
Tadinya, Ia selalu yakin pada hatinya sendiri bahwa Amira itu perempuan baik. Ia tidak pernah percaya pada apa kata orangtuanya tentang Amira. Tapi ternyata kenyataan menamparnya. Apa yang dikatakan oleh orangtuanya benar.
__ADS_1
“Setelah aku sama kamu berakhir, aku benar-benar seratus persen punya Raka, kami udah nikah, dan aku hamil anak dia. Udah dulu ya, Dio. Aku harus selesain obrolan kita ini. Nggak enak sama Rafa soalnya,”
Setelah bicara seperti itu Amira pergi meninggalkan Dio yang memaku di tempat. Tidak pernah ada dalam bayangan Dio bahwa Ia diselingkuhi oleh perempuan yang sialnya masih Ia cintai sampai sekarang.