
Dio baru saja mengadakan rapat dengan seluruh staf di kantornya. Rapat sudah berakhir namun dirinya masih ada di ruangan karena tengah merapikan dokumennya yang tadi digunakan dalam rapat.
“Pak, udah punya istri ya?”
Dio yang sedang sibuk dengan kegiatannya langsung mengangkat kepalanya untuk menatap pemilik suara perempuan yang barusan mengajukan pertanyaan padanya.
“Lah? Ini ‘kan yang ngeliatin gue muluk ya. Akhirnya dia kedengaran juga suaranya, biasanya cuma ngeliatin gue doang. Sekalinya keluar suara cuma buat tanya udah punya istri atau belum, masa iya dia enggak tau gue udah punya istri?”
Dio berdehem dan wajahnya masih datar menatap staf nya itu.
“Iya,”
“Oh, enggak apa-apa, Pak,”
Perempuan itu pergi begitu saja dari ruangan rapat. Dio pikir semuanya sudah keluar, tersisa Ia saja. Ternyata masih ada perempuan itu.
Dio berjalan keluar juga dari ruang rapat setelah semua dokumen yang rapi. Ia bergegas menuju ruang pribadinya.
Ia menghela napas lega setelah bisa duduk dengan santai di kursi kerjanya. Dio memejamkan matanya sejenak. Baru setengah hari, Ia sudah merasa sangat penat.
“Makan siang ah, lapar banget nih perut,”
Dio beranjak dari ruangannya, untuk mencari makan siang sebab perutnya sudah ribut minta diisi secepat mungkin sebelum benar-benar demo.
Dio berjalan ke basement ingin menghampiri mobilnya. Setelah tiba di basement Ia mempercepat langkah menuju mobil. Ketika hampir masuk mobil, ada yang memanggil dirinya.
Dio otomatis menoleh dan matanya membuat kaget karena lagi-lagi bertemu dengan perempuan tadi.
“Ih udah kayak hantu ini orang,”
“Kenapa panggil saya?”
“Pak, mau makan siang ya?”
“Hmm makan siang sendiri,” tekan Dio. Roman-romannya Ia tahu kemana arah pembicaraan perempuan itu.
“Tari, nama kamu Tari ‘kan ya?”
“Iya bener, Pak,” perempuan itu menganggukkan kepalanya cepat dengan senyum lebar.
“Kamu ini ‘kan terbilang masih baru kerja di kantor ini ya, nah kamu udah tau status saya, jadi jangan berharap yang gimana-gimana sama saya,”
__ADS_1
Tari menelan ludahnya gugup. Selama ini Ia menyukai Dii dalam diam dan baru sekarang berani, tapi langsung dihadang Dio. Rasanya seperti ditendang dari lantai lima sebuah gedung.
“Saya tau kamu punya perasaan ke saya ya? Saya bisa tau dari tatapan kamu. Tapi saya peringatkan sekali lagi sama kamu ya, jangan berharap sama saya, Tari. Saya ini udah punya istri, dan sebentar lagi saya juga punya anak, tolong jaga sikap kamu. Masih banyak laki-laki yang bisa kamu harapkan. Saya permisi,”
Dio puas sekali usai bicara tegas memperingati perempuan yang memang sejak awal sudah Ia duga punya perasaan lebih terhadapnya. Benar saja, awalnya diam-diam mengamati sekarang mulai berani beraksi. Sebelum lebih jauh, harus Ia peringatkan.
“Ada-ada aja cobaan orang ganteng ya. Disukain sama staf sendiri. Baru kerja aja udah berani begitu, duh ngeri banget,”
Dio melajukan mobilnya meninggalkan Tari yang mendengus. Ia pikir Dio sama saja dengan para petinggi di tempat-tempatnya bekerja sebelum di kantor ini. Kebanyakan dari mereka menyambut baik perasaannya. Bahkan ada yang rela meninggalkan istri demi dirinya. Kalau dari ucapannya, kelihatan Dio tipe laki-laki yang setia, tapi entah lah sebesar apa kesetiaannya itu untuk sang istri yang katanya sedang hamil.
*****
Sambil mengisi waktu luang, daripada diprotes suaminya karena baca novel terus, Shena lebih baik melihat baju-baju bayi yang sudah dibelinya sejak usia kehamilan lima bulan. Shena ingin memastikan semua telah siap untuk digunakan.
"Wuih Masya Allah banyak banget ya, Bee,"
"Bee, kata orang kalau mau beli baju untuk anak bayi yang lagi mau lahir itu belinya yang ukuran besar-besar supaya kepakainya lama. Tapi kalau aku perhatiin kamu nggak ya, Bee?"
"Nggak, Mas. Untuk apa? baju untuk mereka besar nanti ya bisa dibeli nanti-nanti. Takutnya malah udah sengaja beli yang besar eh pas besar jadi kelupaan dipakai karena udah kelamaan disimpan,"
"Oh iya, bener juga kamu, Bee. Sayang-sayang kalau nggak kepakai ya,"
"Iya, karena udah keburu lupa. Mending yang dibeli sekarang ya untuk dipakai sekarang. Nah kalau dipakai nanti tinggal beli nanti aja, 'kan gampang,"
"Aku lagi pesan soalnya sekalian custom nama,"
"Oalah pantes aja belum ada. Aku pikir emang belum beli atau malah nggak beli. Aku bakal tegur sih kalau nggak beneran beli,"
"Pasti beli lah, Mas. Soalnya itu emang penting, bener kata kamu, Mas,"
"Anak aku harus punya semuanya sih, karena Alhamdulillah 'kan kita ada. Untuk siapalagi yang kita punya ini kalau bukan untuk anak 'kan?"
"Iya benar, Mas,"
"Selagi ada, yang kalau bisa harus maksimal demi anak. Cari duit kalau bukan untuk keluarga, terutama untuk anak istri, ya untuk siapa lagi? anak harus ngerasain yang namanya jadi prioritas. Soalnya aku pribadi tau banget gimana rasanya jadi prioritas. Enak banget, dan dari dulu aku punya keinginan dan harapan mudah-mudahan aku bisa ngelakuin hal serupa kayak papa mama ke aku, bahkan aku maunya aku bisa memperlakukan anak-anak aku lebih lagi daripada ayah bunda. Mereka udah maksimal ke aku, nah aku juga pengen maksimal ke anak aku kalau bisa lebih malah,"
"Iya sama, Mas. Aku juga Alhamdulillah selalu aja diutamakan sama papa mama, mereka baik banget ke aku, aku udah dianggap princess sama mereka,”
“Tapi sayang perempuan yang mereka anggap princess malah sempat aku sakitin. Aku minta maaf ya, Sayang. Eh panggil Bee aja deh lebih cocok buat kamu yang gemas,”
"Udah lah, Mas. Nggak usah dibahas lagi soal itu,"
__ADS_1
Shena tidak mau Dio terus menerus tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri. Sekarang Shena luka di hati Shena terbilang sudah pulih.
"Maafin ya, Bee,"
"Ih kok minta maaf lagi sih? aku nggak mau ah kalau kamu bahas itu terus selalu aja minta maaf ujungnya,"
"Ya karena aku salah makanya aku minta maaf, Sayang,"
"Iya aku udah maafin, ngapain kamu harus minta maaf lagi sih? nggak perlu, Mas. Kita 'kan udah saling memaafkan, dan udah sepakat juga untuk lupain masa lalu yang kurang enak. Kamu jangan mikirin itu lagi, okay?"
Shena mengusap dagu suaminya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus dan Shena risih sebenarnya.
"Mas, kenapa nggak dibabat habis itu bulu di dagunya?"
"Iya nanti aja sekalian mandi,"
"Mau aku bantu nggak?"
"Nggak usah, Bee. Banyak-banyakin kerjaan kamu aja,"
Dio tidak mau menambah kegiatan istrinya yang ruang gerak saja sudah semakin terbatas dan Ia tidak tega bila melihat itu.
"Ya nggak apa-apa, Mas. Lagian emang kerjaan aku apa sih? aku 'kan masih belum balik sibuk di toko gara-gara sakit kemarin,”
Shena tidak merasa sesibuk itu sampai membabat habis bulu halus di sekitar wajah bagian bawah suaminya saja Ia tidak bisa melakukannya.
"Ya tetap aja lah aku nggak mau ah. Biar aku aja, lagian aku lebih cepat. Kalau kamu mah terlalu hati-hati,"
"Aku kadang takut bikin Mas luka tau,"
"Ya nggaklah, Bee. Itu 'kan pisau cukurnya udah yang aman nggak bakal bikin luka atau kebeset sama siletnya,"
"Tetap aja lah kalau udah musibah, Mas,"
Shena terlalu hati-hati karena Ia belum terbiasa seperti Dio dan juga ada rasa takut dari dalam diri Shena kalau dia akan melukai suaminya bila tidak hati-hati ketika membantu Dio membabat habis bulu di sekitar wajahnya.
"Jadi kita udah saling memaafkan ya kata kamu tadi? lebaran dong ya. Maaf lahir batin,"
Dio kembali mengangkat topik pembahasan permintaan maafnya tadi dan meninggalkan persoalan rambut halus di bagian bawah wajahnya. Ia takut istrinya bersikeras ingin tetap membabat habis rambut di dagunya.
"Kita udah sepakat untuk lupain masa lalu yang kurang bagus dan udah saling memaafkan juga. Jadi Mas jangan merasa bersalah terus dan minta maaf lagi dan lagi. Aku sampai bosan lho, Mas,"
__ADS_1
"Masa dengerin aku minta maaf terus bosen sih, Bee? ya jangan dong. Jangan pernah bosen, karena kesalahan aku itu banyak banget ke kamu jadi wajar aja kalau aku sering minta maaf,"
Shena menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri kemudian Ia juga mendekatkan jari telunjuknya dengan bibir sang suami. Itu ada tanda atau peringatan dari Shena untuk Dio agar Dio tidak lagi membahas soal masa lalu dimana Dio merasa bersalah terus menerus dan tak henti juga untuk meminta maaf.