Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 81


__ADS_3

Dio sudah pulang dari Lombok. Dan sudah tidur dua jam di kamar. Tiba-tiba Ia lapar, tapi istrinya sedang di kampus. Akhirnya Ia memcari makanan yang ada saja, untuk sementara waktu tidak bisa request dulu pada Shena.


Dio duduk di meja makan. Ia melihat lauk untuk makan malam yang sudah siap. Kemudian Ia beranjak menghampiri lemari pendingin untuk mengambil air sekaligus melihat ada makanan apa di dalam kulkas.


“Ma, enggak ada kue?” Tanya Dio.


“Kue? Enggak ada, mau beli kue apa?”


“Enggak deh, Ma,”


“Tuh ada duren, Bang. Makan itu aja, Bang,”


Dio langsung mengambil durian kupas yang disebut bundanya. Sebelum makan berat, makan durian dulu.


Kelihatannya daging durian tebal dan manis. Entah ketika lidahnya mengecap nanti. Ia mencuci tangan sebelum mengambil durian dari wadahnya.


“Ughh mantap banget nih,”


Dio menggelengkan kepalanya pelan begitu menikmati durian yang Ia santap sekarang. Dagingnya benar-benar tebal dan manis ternyata.


“Enak enggak? Manis ya?”

__ADS_1


“Enak banget, untung Mama beli,”


“Iya, kayaknya udah lama enggak ada duren di rumah,”


Dio membawa durian itu ke meja makan. Mama mengikuti dan turut mencoba. Ardina setuju dengan apa yang Dio katakan tadi. Memang benar enak durian nya.


“Hueek huekk,”


Dio dan Ardina terkejut mendengar seseorang ingin muntah. Rupanya Shena sudah pulang dan akan menghampiri Dio di meja makan tapi tidak jadi karena aroma durian menghalanginya.


Ia segera berlari ke kamar mandi bawah tangga. Dio yang melihat itu segera berseru memperingati.


“Jangan lari, Shena! Pelan-pelan aja kenapa sih?!”


DIO mencuci tangan kemudian mengambil minyak aromaterapi di kamar dan bergegas menghampiri Shena yang masih ada di kamar mandi, tepatnya di depan wastafel.


“Ih kamu keluar aja sana! Aku enggak suka bau kamu, bau duren!”


Niat hati ingin membalurkan leher istrinya dengan minyak aromaterapi yang hangat, tapi malah diusir.


“Bau duren? Aku aja udah cuci tangan,”

__ADS_1


“Tetap aja baunya masih kecium, Mas! Keluar aja sana!”


Dio berdecak pelan. Ingin mulutnya mengoceh tapi tidak mungkin karena Shena dalam keadaan begini. Harusnya Ia yang marah karena Shena berlari tadi.


“Awas ya kalau kamu lari-lari lagi,”


“Ya wajar lah, Mas! Aku ‘kan mual tadi,”


“Tetap bisa jalan pelan-pelan, Shena. Kalau pun muntah di lantai juga enggak apa-apa, nanti aku yang bersihin,”


“Tuh kamu ngomong aja masih kecium bau durennya, udah lah kamu pergi aja sana,”


Shena mengusir suaminya lagi dari sisinya. Ia masih bisa menghidu aroma buah durian ketika Dio dekat dengannya.


Dio terpaksa meninggalkan Shena di kamar mandi setelah menyerahkan minyak aromaterapi pada Shena.


“Biasanya juga doyan duren,” gumam Dio yang bingung sekali istrinya tiba-tiba mual karena durian padahal yang Ia tahu, Shena itu menyukai durian, sama sepertinya. Bahkan terlalu suka sampai mereka pernah makan durian yang porsinya banyak hanya berdua. Sekarang tiba-tiba Shena mual karena durian. Dio benar-benar tidak tahu kenapa.


Dio memilih untuk kembali ke meja makan bersama mamanya lagi. Ardina yang melihat wajah suntuk anaknya langsung menegur.


“Jangan begitu, Bang,”

__ADS_1


“Ya abisnya aneh deh. Biasnaya juga dia doyan duren,”


Ardina menghembuskan napas kasar. Shena masih belum juga menyampaikan kepada suaminya bahwa Ia tengah mengandung.


__ADS_2