
“Hai Shena, wow nggak ada yang berubah dari kamu ya. Tetap keliatan cantik,”
Dio melirik sekilas ke arah dua orang lelaki yang baru saja menyapa Shena dengan hangatnya.
“Hai, Jujur aku lupa nama kalian,”
“Lupa? Ya udah nggak apa-apa kenalan lagi. Ini gue Aldo sama Refan,” ujar salah satunya seraya menunjuk teman di sebelahnya.
“Eh ngomong-ngomong ini siapa?” Tanya Refan penasaran menatap Dio yang hanya diam saja.
“Suaminya, kenalin gue Dio,”
Dio langsung mengulurkan tangan kanannya ingin bersalaman dengan Aldo dan Refan. Dio tak lupa tersenyum ramah usai memperkenalkan siapa dirinya.
“Oh—suami ya? Selamat menikah kalau begitu. Kami baru tau kalau Shena udah nikah,”
“Terimakasih, sekarang gue sama Shena nemuin pengantin dulu ya,“
“Okay-okay, ntar ke sana ya. Ada teman-teman kita yang lain juga, Shen,” ujar Aldo seraya menunjuk meja besar yang menjadi perkumpulan teman-teman Shena.
__ADS_1
“Siap, nanti aku ke sana,”
Aldo dan Refan bergegas pergi begitupun dengan Shena dan Dio yang merengkuh pinggang istrinya sampai membuat Shena canggung sebentar.
“Biasa aja kali,, jangan kaku gitu,” ejek Dio pada Shena yang Ia rasa sempat canggung ketika Ia rangkul pinggangnya dari belakang.
“Ya aku kaget lah, tiba-tiba ada yang megang pinggang aku dari belakang, aku kira siapa,”
“Lo ngiranya siapa, Shen?”
“Hmm nggak kepikiran siapanya sih. Cuma kaget aja gitu,”
“Makanya gue rangkul, nggak biasa dirangkul sih,”
“Lo nyindir gue?”
“Ya emang suami aku siapa lagi selain kamu, Dio? Nggak ada, suami aku cuma satu, nggak ada dua, tiga, atau lebih, satu aja dan itu kamu,” ujar Shena seraya tersenyum menatap suaminya.
“Oh kirain ada dua, soalnya tadi ‘kan nggak niiat ngajakin kondangan ya? Kirain mau ngajakin yang lain itu,”
__ADS_1
“Kok kamu ngomongnya gitu sih? Emang aku lounya siapa selain kamu? Nggak ada, ih jangan ngomong sembarangan deh,”
“Hahahaha bercanda. Senyum, jangan cemberut aja muka lo, masa mau ketemu pengantin muka lo merengut. Ntar dikira lo kepengen nikah lagi,”
Shena menggertakkan giginya kesal dan akhirnya tidak tahan untuk tidak mencubit pinggang sang suami hingga meringis.
“Makanya jangan sembarangan kalau ngomong,”
“Sesekali Dio emang harus dikasih pelajaran. Masa dia ngomong kayak gitu ke aku. Nggak sopan banget deh,”
“Eh tungguin gue. Kenapa buru-buuru banget sih,”
Dio menyusul langkah Shena yang ingin menemui pengantin alias si pemilik acara. Baik Shena maupun Dio sama-sama memberikan ucapan selamat untuk mempelelai.
“Makasih udah nyempetin mau datang, nggak langsung pulang ‘kan? Kita ngobrol dulu lah bentar, okay?”
“Iya siap, Rin,”
Konsep pernikahan Rini dan Arkana tidak formal dimana mereka hanya diam saja di atas pelaminan. Sengaja mereka memilih konsep dimana mereka bisa menghampiri satu persatu tamu. Dan kebetulan Dio juga Shena menghampiri pengantin yang sedang menyapa tamu dari pihak orangtua mereka.
__ADS_1
Setelah itu mereka langsung ke meja yang menjadi tempat berkumpulnya teman-teman SMP Rini dan Shena.
“Aku kangen banget sama kamu. Akhirnya kita ngumpul juga,”